2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 2. Black and Blue


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Selepas dari kantin, Dira dan kawan-kawannya langsung menuju kelas karena bel masuk sudah bergema semenit yang lalu. Saat melewati lorong, tak sengaja mereka melihat penampakan Alvin yang duduk bersama dengan Nadia di bangku panjang depan kelas.


"Ngapain tu anak sampai bonyok gitu?" bisik Luna begitu melihat Alvin dalam keadaan yang babak belur. Kedua sudut bibirnya pecah serta pipi dan matanya juga terdapat lebam.


"Nggak peduli!" jawab Dira cuek. Ia membuang muka, tidak berminat sama sekali melihat mantan pacarnya yang pengkhianat itu.


Hanna dan Luna merasa takjub mendengar ketidakpedulian Dira pada Alvin. Sebelumnya saja, sahabatnya itu lumayan bucin pada sang pacar.


Berbeda dari Dira yang terlihat cuek, Alvin justru memasang tampang memelas, minta dikasihani. Ia bangkit dari duduknya dan berlari mengejar Dira yang sudah berlalu dari hadapannya.


"Baby, tunggu sebentar!" Alvin meraih tangan Dira untuk menahan langkah gadis itu agar tidak pergi.


"Apaan sih?" Dira langsung menepis tangan Alvin sebelum berhasil menyentuh tangannya. "Jangan sentuh gue, jijik tahu nggak!" ucapnya kesal.


Alvin, Hanna dan Luna melotot tak percaya, mereka tidak menyangka jika Dira bisa berbicara seperti itu.


"Baby, aku butuh kamu..." ucap Alvin mengiba. Wajahnya dibuat semenyedihkan mungkin dan sesekali meringis kesakitan untuk bisa menarik simpati Dira.


"Giliran senang-senang, lo sama tu cewek, kalau udah sakit begini, lo carinya gue. Enak banget hidup lo!" ucap Dira. Gadis itu masih sakit hati atas pengkhianatan Alvin. Matanya menatap sinis Alvin dan Nadia bergantian.


"Baby, aku tahu kalau aku salah. Aku mohon maaf, aku janji nggak akan dekat dengan cewek lain lagi di belakang kamu," bujuk Alvin. "Tapi saat ini, aku masih pacar kamu loh. Kalau bukan kamu yang perhatiin aku, siapa lagi?" tanya Alvin dengan tidak tahu dirinya.


Dira tersenyum miring, ia tidak akan termakan bujuk rayu penuh dusta itu lagi. "Sorry ya, gue nggak sudi menjadi tempat kembalinya pengkhianat macam lo! Dan ya, mulai saat ini kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Lo, gue END!"


Alvin tersentak mendengar ucapan Dira. Seingatnya, gadis itu bukanlah gadis yang suka berkata kasar, tapi kini dia berubah. Bahkan Dira memutuskan hubungan mereka dengan sangat kejam.


"Aku nggak mau putus, Baby! Aku cinta sama kamu" tolak Alvin. Ia sadar jika ia sangat mencintai Dira, tapi kesenangan yang tidak bisa didapatkannya dari Dira justru dicarinya dari perempuan lain. Andaikan Dira mau memberinya, tentu ia tidak akan bermain di belakang seperti ini.


Hanna dan Luna yang mendengar semua bualan Alvin hanya bisa menggelengkan kepala.


"Eh, lo lihat tuh si Nadia!" tunjuk Hanna pada Nadia yang hanya bisa diam sedari tadi. "Mending lo sama dia aja sana!"


Alvin menoleh ke belakang dan melihat Nadia masih duduk di bangku yang mereka duduki tadi. "Gue nggak cinta sama dia! Kalau Dira mau maafin gue, maka gue akan tinggalin dia."


PLAKK


Sebuah tamparan keras dihadiahkan Dira di pipi Alvin. "Cowok modelan lo begini nih, yang membuat nama cowok di seluruh dunia menjadi jelek. Egois dan nggak berperasaan!" ucapnya emosi.


"Lo udah rusakin si Nadia, jadi lo harus tanggung jawab. Jangan hanya mau enaknya aja lo, habis manis sepah dibuang..." Luna menambahkan. Ia turut emosi.


Alvin terkekeh sembari memegangi pipinya yang nyeri. Tamparan Dira tepat di area lebamnya hingga rasa nyerinya dua kali lipat. "Gila! Lo bilang gue harus tanggung jawab sama tuh cewek?" Alvin melirik Nadia dengan pandangan remeh. "Hei, dia itu memang udah rusak! Ya kali... gue mau sama cewek bekas macam dia!"


BUGHH


Tanpa disangka, dari arah belakang Nadia menghantamkan tasnya yang berisi buku-buku tepat di kepala Alvin. Membuat cowok itu langsung mengaduh.


"****, sakit woi!" umpatnya. Kepalanya langsung merasa pusing. Ia menoleh dan menatap tajam ke arah Nadia.


"Dasar cowok si*lan!" pekik Nadia.


BUGHH

__ADS_1


Sekali lagi, sebelum pergi Nadia melayangkan kembali tasnya tepat di muka Alvin.


"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Luna. Mereka bisa terlambat masuk kalau terus berada di sini.


"Iya... ayo, Dir!" Hanna langsung menarik tangan Dira agar mereka bisa pergi meninggalkan tempat itu. Untung saja tidak banyak siswa-siswi yang memerhatikan, kalau iya, maka akan banyak gosip yang beredar.


"Han, Lun, kalian duluan aja ya ke kelasnya, gue mau ke toilet sebentar. Izinin sama guru ya, mungkin gue agak telat masuknya?" pinta Dira.


Hanna dan Luna saling berpandangan. Melihat air muka Dira, mereka merasa sedikit cemas.


"Lo nggak apa-apa, kan?" tanya Luna memastikan.


Dira tersenyum. "Gue nggak apa-apa, kok. Cuma sakit perut karena tadi kebanyakan makan, hehe."


"O-oh, oke. Kalau gitu kami ke kelas duluan, ya..." ucap Hanna.


Dira mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Jangan lama, kalau terjadi apa-apa langsung beritahu kami." Luna mengingatkan.


"Ok."


Selepas kepergian dua sahabatnya, senyum yang tadi tersungging di wajah Dira langsung lenyap. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju toilet terdekat.


"Walaupun di dalam hati terasa hancur, tapi di depan semua orang, ia tetap tersenyum. Itu yang membuatmu menarik, Nadira." Seseorang di balik tembok, telah menyaksikan semua yang terjadi.


...****************...


Arsha yang ditanya langsung melihat ke arah buku-buku tangannya yang memerah dan lecet. Lantas ia pun tersenyum. "Biasalah..." balasnya.


"Lo berantem lagi? Gue aduin mama, baru tahu rasa lo!" ancam Arshi.


"Dasar cewek, bisanya ngancem doang..." ledek Arsha.


"Lo jangan macem-macem lagi deh, Ar. Lo nggak inget apa udah berapa kali mama dipanggil ke sekolah karena lo berantem," peringat Arshi.


"Cerewet! Sana lo masuk kelas, anak peringkat satu nggak boleh terlambat masuk!" sindir Arshi.


"Dibilangin ngeyel mulu lo, Ar!" Sebelum pergi, Arshi masih sempat-sempatnya menoyor kepala sang adik.


"Kakak jahara, udah tahu adiknya bodoh, pakai di tempeleng segala lagi kepala gue. Gimana nggak makin bodoh," gerutu Arsha.


"Lo nggak bodoh, Bro. Cuma males aja..." celetuk cowok yang sedari tadi duduk si sebelah Arsha.


"Tahu aja lo, Rel. Gue sebenarnya pintar, kalau gue serius mungkin gue bisa tuh ngalahin kakak beda menit gue," balasnya sombong.


"Gaya lo!" Farel mendengus. "Oh ya, gue masih penasaran. Siapa sih, anak SMA yang lo hajar tadi pagi? Sampai bolos pelajaran pertama lagi."


"Mantan pacar kakak gue," jawab Arsha santai.


"Lah, kok?" Farel belum paham masalahnya di mana.


"Dia nyakitin kakak gue, ya udah gue turun tangan dong. Gue nggak akan ngebiarin siapapun menganggu bahkan menyakiti ketiga kakak gue, kecuali gue."

__ADS_1


"Parah lo!" Kini giliran Farel yang menoyor kepala Arsha.


"Toyor aja lagi, sampai gue amnesia." Arsha mendelik kesal. Semua orang suka sekali menoyor kepalanya.


Farel tertawa ngakak. "Lebay lo!"


...****************...


Dira memerhatikan penampilannya pada cermin yang ada di toilet. Walau sudah mencuci wajahnya, tapi mata sembabnya masih kentara. "Kalau lihat gue seperti ini, pasti Luna dan Hanna bakal khawatir. Gimana, ya?" pikir Dira.


Benar, Dira baru saja menangis. Ia adalah tipe orang yang akan menangis untuk melepaskan rasa sesak di dadanya. Dan sekarang ia merasa lebih lega, siap untuk melanjutkan hari.


"Bodo amatlah, masuk kelas aja deh daripada bolos," gumam Dira. Ia pun akhirnya keluar dari toilet.


Sepanjang lorong, ia berjalan dengan kepala tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang mungkin sedikit berantakan. Malu kalau harus bertatapan dengan siswa atau guru yang lewat.


BRUKK


Terlalu dalam menunduk, tanpa sengaja ia justru menabrak seseorang di depannya. Wajah Dira persis menabrak dada seseorang yang rasanya lumayan keras.


"Auu..." rintih Dira spontan.


"Kamu nggak apa-apa?"


Mendengar suara itu yang ternyata adalah suara cowok, Dira langsung mengangkat kepalanya. Seketika, netranya bertubrukan dengan sepasang mata tajam yang menatapnya dalam.


"Kamu nggak apa-apa?" Cowok itu mengulangi pertanyaannya.


Dira terbius sesaat sampai kemudian ia tersadar dan langsung bergerak mundur. "Eh, nggak apa-apa, kok. Maaf ya, udah nabrak kamu."


Cowok itu tersenyum sangat manis. "Iya. Lain kali jangan jalan sambil menunduk, ya. Kalau cuma nabrak aku, nggak apa, tapi kalau nabrak dinding, kan bahaya," ujarnya mengingatkan.


Dira terdiam, suara lembut cowok itu begitu merdu terdengar di telinganya. "Iya, lain kali aku akan berhati-hati."


"Kalau gitu, aku duluan."


Deg


Dada Dira berdetak cepat saat cowok itu tersenyum sembari menepuk pelan kepalanya.


"Ada apa dengan jantungku?" Dira memegangi dadanya yang berdetak cepat. Ia menoleh ke belakang dan menemukan punggung lebar cowok tadi yang perlahan menjauh.


"Kalau nggak salah, dia 'kan mantan ketua OSIS, tapi kenapa wajahnya seperti tidak asing. Pernah bertemu di mana, ya?" Sepanjang perjalanan menuju kelas, hanya itu yang bisa Dira pikirkan.


Lain dengan Dira yang kebingungan, si cowok tadi justru merasa sangat senang. Ini adalah kali pertama untuknya bisa sedekat itu dengan gadis yang disukainya.


"Sekarang sudah tidak ada penghalang lagi."


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote & Comment


Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊

__ADS_1


__ADS_2