
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Via..." Satria menghentikan langkah kekasihnya yang ingin menuju tempat di mana mobilnya terparkir.
"Ada apa?" Wanita itu menyahut.
"Kau pulang sendiri saja ya, aku mau pergi ke suatu tempat dulu."
"Baiklah." Lekas Silvia berbalik arah dan berjalan menjauhi Satria. Ia menuju jalan raya dan menyetop taksi.
Satria menyaksikan kepergian Silvia dengan kening berkerut. Sudah dua hari ini, tingkah Silvia sangat aneh menurutnya. Wanita itu sudah jarang membantah, mengomel bahkan merajuk. Apakah itu bawaan bayi yang ada di dalam perutnya, pikir Satria. Entahlah...
"Nanti saja aku tanyakan langsung padanya, sekarang ada hal yang lebih penting untuk dilakukan." Satria memasuki mobilnya dan berlalu pergi.
.......
Radi terduduk lemas di sofa ruang tengah sementara Maya masih bersimpuh di bawah kaki pria berambut tersebut.
Sudah berjam-jam mereka berseteru tapi sampai saat ini belum ada keputusan yang keluar dari mulut Radi. Sedari tadi ia hanya mendengar permintaan maaf dari Maya yang merasa bersalah karena telah menipunya.
"Tega sekali dirimu, May. Karena kebohonganmu ini hubunganku dan Ajeng hancur!" lirih Radi kecewa.
"Maafkan aku, Mas. Ini semua ku lakukan agar anakku bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah, hiks."
"Ya, sekarang anakmu sudah mendapatkan kasih sayang seorang ayah sementara aku sendiri, telah menelantarkan istri dan calon anakku hanya demi anakmu itu!"
"Lupakan saja si Ajeng itu, aku ada di sini bersamamu. Aku mencintaimu, Mas. Anggap saja aku dan Lingga adalah pengganti Ajeng dan calon anakmu."
"Hah? Apa kau bercanda? Dengar! Tak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi istri dan anakku dari di dalam sini." Radi menunjuk dadanya. "Sekali pun itu adalah kau dan anakmu itu."
Hati Maya teriris mendengar Radi menyebut Lingga dengan kata 'anakmu'. "Apakah kau tidak lagi menyayangi Lingga?"
Radi tersentak, kebersamaannya dengan bayi kecil itu beberapa bulan ini telah menumbuhkan rasa sayang di hatinya, tapi mengetahui jika anak yang telah disayanginya dengan sepenuh hati ternyata bukan miliknya, rasa kecewanya mengalahkan rasa sayangnya.
"Dia bukan anakku." Radi membuang muka enggan menatap Maya. Ia tidak ingin terpedaya kembali oleh bujuk rayu wanita itu dengan mengatasnamakan Lingga yang bahkan tidak mengerti apa-apa.
"Mas, hiks."
"Aku akan mengembalikanmu ke tempat yang semestinya."
Radi bangkit dan berjalan menuju kamar Maya. Ia mengambil koper di atas lemari dan memasukkan semua pakaian wanita itu tanpa tersisa ke dalam koper.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Maya. Ia tak terima saat melihat Radi mengemasi barang-barangnya. "Aku tidak mau keluar dari rumah ini. Ku mohon jangan usir aku. Aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi, hiks." Maya mengambil pakaiannya dan memasukkan kembali ke dalam lemari. Namun, dengan cekatan Radi merebut dan menaruhnya ke tempat semula, yaitu koper.
Maya terduduk lemas di lantai. Ia meraung, memohon agar Radi tidak mengusirnya.
Rina yang mendengar keributan langsung menuju ke sumber suara sembari menggendong Lingga yang tidur tenang di pangkuannya. Ia tak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada majikannya itu, hanya bisa menyaksikan dari jarak jauh pertengkaran antara Radi dan Maya.
"Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu menjadi gelandangan di luar sana. Sudah ada seseorang yang akan menampungmu."
Radi yang masih sibuk mengemasi semua barang milik Maya terpaku sejenak saat akan mengemasi pakaian milik Lingga. Tangannya bergetar menyentuh baju mungil bayi itu. Ada rasa sesak menghinggapi dadanya kala teringat semua kenangan yang telah ia habiskan bersama si kecil.
Mata Radi terpejam, setetes cairan bening meluncur dari sana. Ia merasa sangat sedih karena akan berpisah dari Lingga, tapi apa boleh buat, bayi itu bukan miliknya dan ia tidak memiliki hak apapun atasnya. Dengan gerakan cepat, ia memasukkan baju dan semua perlengkapan Lingga ke dalam koper Maya. Tak lupa mainan-mainan kepunyaan Lingga yang mungkin muat dalam koper juga ia masukkan. "Maafkan ayah, Ngga."
Setelah selesai, Radi menggeret koper Maya sampai ke depan pintu masuk. Lalu ia kembali masuk ke dalam kamar dan menyeret wanita yang terus memberontak itu untuk keluar.
"Aku tidak mau." Maya mencoba melepaskan diri, tapi cengkraman Radi pada lengannya begitu kuat hingga ia tak sanggup melawan.
__ADS_1
"Rina, tolong buka pintunya!" titah Radi pada Rina yang sedari tadi mengekor di belakang.
Walaupun ragu, wanita yang sudah menemani Maya hampir setahun itu akhirnya membuka lebar daun pintu.
"Ayo, akan ku antarkan kau menemui ayah dari bayimu." Radi menyeret Maya keluar dari dalam rumah.
"Ada apa ini?" Sebuah suara datang menginterupsi.
Semua yang ada di sana menoleh dan mendapati seorang pria yang sedikit mirip dengan Radi datang menghampiri.
"Kebetulan sekali kau datang.." ucap Radi.
Rina memperhatikan pria yang baru saja muncul, lalu diperhatikannya pula Lingga yang sudah terjaga di pangkuannya. "Apa pria itu adalah ayah Lingga yang sebenarnya?" Ia berpikir.
Semenjak Lingga lahir ke dunia ini, Rina sudah tahu jika Radi bukanlah ayah biologis dari putra Maya. Sewaktu melahirkan Lingga, Maya memintanya berdusta, dengan mengatakan jika dia telah melahirkan bayi prematur, padahal kenyatannya bayi itu lahir cukup bulan, hanya sedikit lemah makanya harus masuk inkubator untuk beberapa jam saja. Selain itu, tak ada kemiripan antara Lingga dan Radi, hanya warna rambut saja yang sama. Hal itu semakin menguatkan dugaan Rina jika Radi bukan ayah biologisnya bayi mungil di pangkuannya.
"Rina, serahkan Lingga pada ayah kandungnya!" titah Radi.
Tanpa banyak berpikir Rina pun menyerahkan Lingga pada Satria.
"Jangan!" Maya berusaha merebut Lingga, tapi Radi menahan pergerakannya. "Pria itu bajingan, dia bisa saja membunuh Lingga. Kembalikan anakku!" Ia menjerit histeris.
"Ada apa ini, Di?" Satria menuntut jawaban pada sepupunya. Ia heran, baru saja sampai, tapi sudah disuguhi pertengkaran seperti ini.
"Maya ini mantan kekasihmu, kan?" Radi balik bertanya.
"I-iya..." Satria mengangguk.
"Apa kau tahu jika dia pernah mengandung anakmu?"
Hening, Satria mengalihkan tatapannya pada bayi di dalam pangkuannya. "Apa ini adalah anakku?" pikirnya.
"A-aku..." Dokter itu tidak bisa membantah, semua yang Maya katakan. Memang benar, waktu mengetahui kekasihnya hamil, ia meminta wanita itu menggugurkan kandungannya. Namun, semua itu batal karena Maya memilih kabur.
"Pengecut kau, Sat!" hardik Radi emosi. "Karena kekasihmu ini aku harus kehilangan istri dan anakku. Dia menjebakku dan mengatakan kalau bayi yang dikandungnya adalah benihku, tapi ternyata... kalian benar-benar pasangan Bedebah!"
"Di, aku sama sekali tidak tahu masalah ini." Bukan menyangkal, Satria hanya tidak tahu jika kehamilan Maya justru menjadi petaka bagi sepupunya.
"Sudahlah. Lebih baik kau bawa dia dan anakmu pergi dari rumahku. Aku tidak mau lagi melihat mereka," ucap Radi.
"Jangan lakukan ini, Mas!" Maya memohon.
"Rin, masuk! Lalu kunci pintunya!" Radi tidak menghiraukan permohonan Maya dan mengajak Rina masuk ke dalam rumah, meninggalkan wanita itu yang menjerit meminta pintu dibuka.
Satria menghela napas lelah. "Sudahlah. Sekarang kau ikut aku!"
"Kembalikan anakku!" Maya ingat jika sang anak masih di tangan Satria dan berniat mengambilnya, tapi lagi-lagi pria itu menghindar.
"Ayo masuk mobil, jika tidak kau akan ku tinggal!" Satria masuk ke dalam mobil bersama sang anak.
Maya masih menggerutu di tempatnya. Mau tak mau, wanita itu akhirnya memutuskan untuk masuk. Ia tidak bisa jika harus berpisah dengan putra tersayangnya.
"Mau ke mana?" tanya Maya ketus.
"Apartemenku."
.......
__ADS_1
Silvia membuka pintu apartemen, ia baru saja kembali dari rumah Cakra untuk mengambil mobilnya yang ditinggal di sana. Sampai di ruang tengah, ia melihat wanita yang sudah tak asing baginya duduk manis di sofa panjang.
"Kau, apa yang kau lakukan di sini?" Silvia menghampiri Maya, wajahnya terlihat tak suka kala mendapati mantan kekasih dari calon suaminya ada di apartemen mereka.
"Tanya saja pada calon suamimu!" Maya menjawabnya sengit. Dua wanita itu saling melempar tatapan permusuhan.
"Satria!" Silvia berteriak sambil mencari keberadaan si pemilik Apartemen.
"Semua ini gara-garamu sialan! Kalau saja mulutmu itu bisa diam, Radi tidak akan mungkin curiga jika Lingga bukan anaknya." Maya menggerutu kesal karena harus bertemu dengan kekasih pria masa lalunya. Jangan bilang kalau dia akan tinggal di apartemen ini bersama wanita itu.
"Ada apa? Kenapa berteriak?" Satria baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Bisa kau jelaskan, kenapa wanita itu ada di sini?" Silvia menuntut penjelasan.
Pria itu mengeringkan sebentar rambutnya dengan handuk kemudian mendudukkan diri di atas tempat tidur.
"Dia diusir oleh Radi."
"Lalu? Itu tidak menjadikan alasan buatmu untuk membawanya kemari!"
"Lalu, aku harus apa? Anaknya itu ternyata adalah anakku, bukan anaknya Radi."
Silvia mengepalkan kedua tangannya, sial kenapa semuanya harus terungkap secepat ini, batinnya.
"Kau tidak akan menikahinya, kan?" tanya Silvia cemas.
Satria terdiam, hal itu membuat Silvia semakin cemas. Bayangkan, ada dua wanita yang memerlukan tanggung jawab Satria. Manakah yang akan dipilih pria itu.
"Tidak. Aku hanya akan bertanggungjawab pada anaknya saja."
Silvia menghembuskan napas lega. "Baiklah. Ku ijinkan dia tinggal di sini sementara waktu, tapi setelah itu kau harus mencarikannya tempat tinggal yang baru. Aku tidak mau jika wanita itu dan anaknya ada di apartemen kita."
"Ya, aku mengerti."
Diam-diam, Maya menguping pembicaraan Satria dan Silvia yang ada di dalam kamar.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan bertahan di apartemen ini. Aku dan anakku, atau kau wanita sialan."
.......
Radi memandang nanar kamar tidurnya dengan Ajeng. Ia memutuskan untuk kembali ke kediaman Winata dan meminta Rina untuk mengurus rumahnya yang di sana. Tiba-tiba, ia merindukan Ajeng. Bagaimana keadaan istrinya itu saat ini. Sudah berapa bulan umur janinnya di dalam kandungan wanitanya. Radi bertekad akan menemukan Ajeng dan meminta maaf. Memohon pada istrinya untuk melanjutkan kembali tali kasih mereka yang sempat terputus.
"Aku akan membawamu pulang, Ajeng.
.......
Hari yang ditunggu Cakra pun tiba, saat ini ia dalam perjalanan menuju Anyer. Sudah tidak sabar untuk bertemu Ajeng dan menyapa bayi dalam kandungan wanita itu.
Cakra menyelonong masuk saat mengetahui jika pintu vila ternganga lebar.
"Ajeng, aku datang..." teriaknya.
"Mas Cakra!" Ajeng menyahut. Wanita itu sedang duduk di ruang tamu.
"Hai sayang, aku datang." Cakra berjalan menghampiri Ajeng dengan gembira, hanya beberapa langkah sampai kaki pria itu kaku tak bisa lagi digerakkan saat matanya melihat siapa yang tengah duduk di hadapan kekasihnya.
...Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa Like & Comment...🙏🏻😊...
...Terima kasih...