2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Remembrance


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Seminggu berlalu, malam ini Radi mengundang Ajeng dan Cakra untuk makan malam di rumahnya. Undangan makan malam itu adalah sebagai bentuk penerimaannya atas hubungan sang adik dengan kekasihnya. Seiring berjalannya waktu, Radi dengan cepat dapat menerima keadaan dengan lapang dada. Hidup terus berjalan, dan ia tidak akan selamanya berada di masa lalu, kehidupan di masa depan telah menanti dirinya.


"Selamat malam, Kak." Ajeng memberi salam begitu sampai di kediaman Radi. Pintu rumah itu terbuka lebar dan si pemilik rumah telah menanti kedatangan tamunya di teras.


"Selamat malam, selamat datang di rumahku, Ajeng, Cakra dan anak ayah yang paling cantik..." Radi langsung saja mengambil alih putrinya ke dalam gendongan.


"Silakan masuk!" ajaknya.


Ajeng memperhatikan rumah Radi yang besar dan mewah. Ini kali pertama ia menginjakkan kaki di sini.


"Duduklah dulu, Rina sedang menyiapkan makan malam untuk kita." Radi duduk di ruang tengah diikuti oleh kedua tamunya.


"Rumahmu bagus, Kak!" puji Ajeng. Ajeng memiliki bangunan rumah bergaya klasik, sementara rumah Radi berdesain klasik modern.


Rumah klasik modern menggabungkan antara unsur klasik yang identik dengan kesan elegan dengan unsur modern yang simpel. Sentuhan ala bangunan-bangunan di Eropa masih tampak di desain modern klasik namun hadir dengan tampilan yang lebih minimalis.


Radi tersenyum. "Aku pernah cerita 'kan, kalau ibuku adalah seorang arsitek?"


"Iya, aku ingat." Ajeng menyahut cepat.


"Rumah ini adalah salah satu rancangannya," ucap Radi bangga.


"Woah... hebat!" Wajah Ajeng nampak takjub. Sekali lagi ia memperhatikan ruangan itu dengan seksama.


"Ibuku seorang arsitek dan ayahku seorang kontraktor, mereka bekerja sama untuk membangun rumah ini."


"Hm? Jadi kau membeli rumah ini karena merupakan hasil pekerjaan orang tuamu, Kak?" tanya Ajeng.


Radi menggeleng. "Dua puluh tahun lalu, ini masih menjadi rumah kami. Namun, saat ayahku bangkrut dan meninggal, rumah ini disita oleh bank lalu dilelang pada orang lain." Wajah Radi terlihat sedih kala harus mengingat masa kecilnya dulu.


Ajeng dan Cakra menyimak.


"Dua tahun lalu, aku mendengar jika rumah ini ingin dijual oleh pemiliknya, tanpa pikir panjang aku langsung membelinya. Rumah ini penuh dengan kenanganku bersama dengan mendiang kedua orang tuaku, jadi aku tidak ingin melepaskannya pada orang lain lagi. Untung saja tidak ada yang dirombak oleh pemilik sebelumnya, jadi suasananya masih terasa sama," lanjut Radi.


"Berarti Maya dulu tinggal di rumah ini?" pikir Ajeng. Berarti ia sudah salah menduga, Radi membeli rumah ini bukan untuk Maya, tapi karena ini adalah rumah peninggalan orang tuanya. Hm... Ajeng merasa bersalah karena telah menunduh Radi waktu itu.


"Jeng!"


"Y-ya?"


"Waktu itu kau pernah mengatakan kalau kau penasaran dengan wajah kedua orang tuaku, sekarang kau bisa melihatnya, itu mereka!" Radi menunjuk sebuah dinding yang memajang figura foto yang cukup besar.


Ajeng menoleh pada arah yang ditunjuk Radi, karena ingin melihat dari dekat, ia memilih bangkit dan berjalan mendekat pada dinding tersebut. Radi mengekor di belakang, masih dengan Dira yang ada di gendongannya.


Ibu satu anak itu menatap pada dinding, di sana ada sebuah potret keluarga bahagia yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki.


"Dari kecil kau tidak banyak berubah, Kak..." kata Ajeng. Ia melihat wajah Radi kecil sangat mirip dengan Radi yang sekarang, hanya usia dan kedewasaannya saja yang berubah.


"Ya, kakakmu ini sudah tampan sedari kecil," ucap Radi bangga.


"Narsis!" ledek Ajeng. Mereka berdua tertawa.


"Ibumu sangat cantik, Kak. Wajahnya ayu, dan dapat ku tebak jika dia memiliki hati yang lembut," kata Ajeng selanjutnya.


"Hahaha..." Radi tertawa. Ajeng menatapnya heran. "Kau salah, Jeng. Jangan tertipu dengan wajah ayu ibu, sebenarnya beliau memiliki watak yang keras, suka marah dan cerewet sekali."


"Haha, itu mungkin karena kau juga yang nakal Kak," sahut Ajeng.


"Hehe, mungkin juga."

__ADS_1


Pandangan Ajeng kembali pada foto. Kini ia menatap figur ayah dari seorang Radi Nugraha, yaitu Reksa Nugraha. Kalau diperhatikan, Radi menyalin hampir 80% rupa sang ayah. Mulai dari bentuk muka, rambut, alis, hidung, bibir, postur tubuh, sementara mata dan bentuk telinga, lebih mirip kepada ibunya.


"Ini foto saat aku berumur empat tahun, foto terakhir sebelum ibu meninggal," ucap Radi.


"Kenapa foto ini masih ada di sini, Kak? Apa pemilik sebelumnya menyimpannya?" tanya Ajeng. Ia ingin mengalihkan ingatan Radi dari kenangan saat ibunya meninggal, jujur ia sedih melihat raut wajah murung kakaknya itu.


"Tidak, foto ini baru saja ku ambil dari rumah bibi, ibunya Satria. Mereka menyimpan semua barang-barang peninggalan kedua orang tuaku," jawab Radi.


"Oh, syukurlah..."


"Sebenarnya, aku memiliki satu foto lagi yang seperti ini tapi dalam versi kecilnya. Namun sayang, foto itu tertinggal di panti asuhan dan aku tak sempat mengambilnya," lanjut Radi.


"Kenapa tidak kau ambil, Kak?" tanya Ajeng.


"Entahlah!" Radi berbalik dan kembali duduk. Jujur saja, ia merasa malu untuk kembali ke panti itu mengambil barang-barangnya yang tertinggal. Lagi pula, ia tidak tahu apakah barangnya masih ada atau tidak, karena panti itu sempat pindah tempat.


Melihat Radi kembali duduk, Ajeng pun melakukannya juga. Mereka lanjut mengobrol, Cakra yang sedari tadi hanya menyimak, kini ikut ambil bagian.


.... ...


Sepasang kaki kecil berlarian menuju dapur. Dia lah Reyhan yang baru saja bangun tidur dan langsung mencari ibunya ke dapur.


"Buna..." panggilnya.


Rina yang sibuk menata piring di atas meja, menyahuti panggilan putranya.


"Ada apa, sayang?"


"Oom, na?" tanyanya begitu sampai di hadapan sang ibu. (Om di mana)


"Om Radi sedang duduk di ruang tengah, Nak."


Setelah mendapat jawaban, Reyhan kembali berlari ke tempat yang disebutkan oleh ibunya tadi.


Reyhan sampai di ruang tengah. "Om Adi-" Bocah laki-laki itu terkejut saat melihat ada orang lain yang duduk di ruangan itu selain Radi.


Radi menoleh mendengar panggilan itu. "Hei, Nak. Kemarilah!" pintanya.


Reyhan menatap dua orang asing yang saat ini juga sedang menatapnya. Batita itu jadi takut.


"Kemarilah, Nak! Mereka adalah teman om."


Reyhan melangkah mendekati Radi, matanya tak lepas melirik ke arah Ajeng dan Cakra.


"Sini duduk dekat, om!" Radi menepuk sisi sofa di sampingnya.


Reyhan mengangguk dan memanjat naik. Sofa itu sedikit tinggi, jadi ia harus berusaha agar dapat duduk di atasnya.


"Reyhan mencari om? Ada apa?" tanya Radi lembut. Belakangan ini ia memang dekat dengan anaknya Rina itu. Reyhan sudah menjadi teman bermain bagi Radi, hingga pria itu tak lagi merasa kesepian.


"Ain..." Reyhan memperlihatkan mobil-mobilnnya. Maksudnya ia ingin mengajak Radi main. (Main)


"Nanti kita main ya, Nak! Sekarang Reyhan sapa dulu dong om dan tante yang duduk di sana." Radi mengarahkan pandangan Reyhan pada Ajeng dan Cakra yang duduk di seberang mereka.


"Hm..." Reyhan menatap Radi bingung.


"Hei, sayang!" Ajeng yang melihat kebingungan di wajah pria kecil itu, memilih menghampirinya.


Reyhan beralih menatap wanita asing yang mengajaknya bicara. Ia tidak mengeluarkan suara apapun.


"Namamu siapa, sayang?" tanya Ajeng lemah lembut. Ia mengusap kepala batita itu dengan sayang. Anak kecil memang bisa membuat siapa saja menjadi suka.

__ADS_1


"Lehan..." jawab Reyhan yang mulai merasa nyaman dengan perlakuan Ajeng.


"Hai Reyhan, perkenalkan nama tante Ajeng dan om itu namanya Cakra." Ajeng turut memperkenalkan Cakra.


Reyhan menoleh pada pria yang diperkenalkan oleh Ajeng.


"Hai, Nak!" sapa Cakra.


Reyhan hanya menatap Cakra dengan mata berkedip-kedip lucu.


"Anak siapa, Kak?" tanya Ajeng penasaran.


"Anak Rina, asisten rumah tanggaku..." jawab Radi.


"Oh, dia manis sekali." Ajeng mencubit gemas pipi Reyhan yang mulai berisi. Seminggu tinggal bersama Radi, berat badan anak itu perlahan naik, mungkin karena dia diberi makanan sehat dan bergizi. Selain itu, Radi juga meminta Rina membelikan anaknya susu, mungkin itulah yang membuat tubuhnya semakin sehat.


"Sapa, Om?" tanya Reyhan saat melihat bayi manis di pangkuan Radi. (Siapa, Om)


"Hai, Kak Reyhan... aku dedek Dira, anaknya ayah Radi," ucap Radi persis seperti anak kecil. Ia juga mengarahkan tangan mungil putrinya ke hadapan Reyhan, dengan maksud mengajak bersalaman.


"De-dek?" tanya Reyhan.


"Iya, Nak. Ini dedek Dira."


Tangan Reyhan terulur, ia menyambut dan memegang tangan Dira yang mungil.


"Ay dedek..." sapanya. (Hai, dedek)


Dira tersenyum mendengar sapaan Reyhan, tangan mungilnya menggenggam telunjuk Reyhan.


"Dedek ntik..." ucap Reyhan. (Dedek cantik)


Tiga orang dewasa di sana tertawa mendengar pujian Reyhan pada Dira.


Tak lama kemudian, Rina datang dan mengatakan jika makanan sudah siap.


"Kau!" seru Ajeng saat melihat kehadiran Rina.


"I-iya, Nyonya?" kata Rina terbata-bata.


"Kau yang waktu di Bandung itu, kan?" tanya Ajeng.


Pertama kali mereka bertemu adalah saat Ajeng menemui Maya di Bandung tahun lalu. Rina adalah pelayan yang membukakan pintu untuknya kala itu.


"I-iya." Rina mengangguk. Ia merasa tak enak jika harus mengingat kejadian lalu. Di mana ia menjadi pelayan bagi seorang wanita yang merupakan perebut suami orang.


"Reyhan anakmu?" tanya Ajeng kemudian.


"I-iya..." Rina melirik anaknya yang terlihat bermain bersama seorang bayi perempuan cantik.


"Dia anak yang tampan dan pintar," puji Ajeng sambil tersenyum.


"Te-terima kasih, Nona."


"Nanti dilanjutkan ngobrolnya, sekarang kita ke ruang makan dulu!" Radi menengahi.


"Ayo!"


Mereka semua menuju meja makan dan menikmati hidangan makan malam bersama. tak terkecuali Rina dan Reyhan. Semua orang memintanya untuk bergabung.


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih sudah baca😊


__ADS_2