2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Fed Up


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Tok... tok... tok...


Cakra mengetuk pelan pintu kamar Ajeng. Ia membawakan Ajeng segelas susu hamil karena setahunya wanita itu belum meminumnya malam ini.


Tak ada jawaban yang didapatnya dari dalam. Perlahan Cakra menekan knop pintu dan berhasil, pintu yang ternyata tidak dikunci itu terbuka begitu saja.


"Jeng, aku membawakanmu susu." Cakra tercengang begitu masuk ke dalam kamar yang ditempati Ajeng. Ia menemukan wanita itu sedang duduk bergeming di atas tempat tidur. Tatapannya kosong dan wajahnya pucat seperti tak ada darah yang mengalir di sana.


Cakra yang panik langsung berjalan cepat ke arah Ajeng, ia meletakkan gelas berisi susu tadi ke atas nakas.


"Hei, ada apa?" Cakra mencoba bertanya, tapi Ajeng sama sekali tidak merespon pertanyaan itu. Ia seperti tenggelam ke dalam lamunan panjangnya.


"Ajeng!" Cakra menyentuh pundak Ajeng yang akhirnya membuat wanita itu sadar dan menoleh.


Pria itu terperanjat begitu melihat air mata Ajeng mulai merebak jatuh mengaliri pipi pucatnya yang perlahan memerah. Wanita itu terisak, seperti mencoba mengeluarkan kesakitan yang berkumpul dalam dadanya.


"Ada apa? Kau kenapa, Jeng..."


Mulut bergetar wanita itu tak sanggup berucap, hanya isakan pedih yang mampu dikeluarkannya.


Khawatir memikirkan hal apa yang terjadi pada Ajeng, tak sengaja mata Cakra menangkap benda dengan layar menyala tergeletak di atas tempat tidur. Tangannya menyambar cepat benda yang tak lain adalah ponsel itu dan melihat ada apa di sana.


Deg


Wajah Cakra merah padam saat melihat apa yang disuguhkan di dalam layar persegi panjang itu. Semakin ia menggulirnya ke bawah, semakin murka ia melihatnya.


"Brengsek." Ia meremas ponsel itu dengan kuat. Rasanya saat ini ia ingin memukul seseorang, siapa lagi kalau bukan suaminya Ajeng.


"Apa si brengsek itu yang mengirimkannya?" Saking emosinya, Cakra tak sengaja meninggikan suaranya pada Ajeng.


Wanita itu menggeleng, masih dengan tersedu.


"Apa selingkuhannya?"


Kali ini Ajeng mengangguk. Suara tangisannya semakin keras. Cakra segera menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


"Tenanglah! Tak perlu kau buang air mata untuk pria yang tak bermoral seperti itu." Cakra mengelus kepala Ajeng, menenangkannya.


Seiring dengan usapan Cakra di kepalanya, tangis Ajeng perlahan mereda, walau masih meninggalkan suara isaknya.


Setelah Ajeng merasa tenang, Cakra memilih melepas pelukannya. Ia takut Ajeng menganggapnya lancang karena telah memeluk wanita itu tanpa ijin.


"Jangan menangis lagi, nanti bayi dalam perutmu ikutan sedih," ucap Cakra sembari mengusap air mata yang membasahi pipi gembil wanita hamil itu.


Ajeng memperhatikan Cakra yang mengusap air matanya dengan lembut. Ia merasa sesuatu berdesir dalam dirinya dengan tiba-tiba, tanpa sadar ia sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Cakra.


Cup


Cakra terbelalak hebat saat merasakan benda kenyal sedikit basah yang tak lain adalah bibir Ajeng, telah menempel sempurna pada bibirnya. Pria itu bergeming, akalnya tak bisa mencerna apa yang saat itu tengah terjadi. Jantungnya bergemuruh hebat. Melihat Ajeng yang memejamkan mata, membuat sesuatu dalam dirinya tergugah. Tangannya yang masih terangkat, mulai menyusup masuk melewati helaian panjang Ajeng menuju tengkuknya. Ditariknya kepala itu lebih dekat, dan ia kini balik menginvasi bibir merah itu.


.......


Radi tersentak bangun saat silau cahaya matahari pagi mengganggu tidurnya. Maya lah yang telah menyingkap tirai hingga cahaya bisa menembus jendela kaca pada kamar yang mereka tempati.

__ADS_1


"Sudah bangun? Bagaimana tidurnya, apakah nyenyak?" sapa Maya dengan suara lembutnya.


Radi berusaha menyesuaikan matanya yang lama terpejam dengan pencahayaan yang ada.


"Kau!" Ia langsung duduk saat wajah Maya tersuguh di hadapannya. Wanita itu masih memakai pakaian seksi semalam.


Radi seketika menyadari jika saat ini ia tidak mengenakan sehelai kain pun pada tubuhnya. Ia teringat kejadian semalam. Ia telah mengingkari janjinya dengan kembali menyentuh Maya. Namun, jujur saja, semalam ia benar-benar puas. Maya sangat agresif hingga bisa membuatnya merasakan sensasi bercinta yang begitu liar. Sebelumnya, tak pernah Radi melakukan hal hebat seperti semalam bersama istrinya. Ajeng adalah tipe wanita anggun dan sedikit pemalu, sementara Maya sangat menggoda dan liar, bahkan terkesan murahan.


"Sial..." Radi merasakan pusakanya kembali bereaksi saat mengingat betapa menakjubkannya percintaan yang mereka lalui semalam.


"Kenapa?" tanya Maya yang sedang memilih baju di lemari.


"Tidak. Keluarlah, aku ingin mandi!" titahnya.


Tak ingin membuat Radi kesal, Maya pun keluar dari dalam kamar.


"Dasar j*lang, dia bisa membuatku kecanduan." Radi segera bangkit untuk membersihkan diri.


.......


Cakra terlihat asyik meng*lum kedua belah bibir merah muda Ajeng. Tak ada perlawanan apapun dari wanita itu, membuat ia semakin semangat melanjutkan aksinya. Perlahan, tubuh Ajeng didorongnya hingga terbaring di tempat tidur, masih dengan bibir yang bertaut mesra.


Ajeng sendiri sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Cakra. Sudah lama ia tidak berciuman, dan kali ini rasanya begitu nikmat. Jujur saja, ia merindukan sentuhan yang telah lama tidak didapatkannya dari Radi karena masalah yang membelit rumah tangganya. Kini, ia merasa lepas, meski lupa kalau pria yang bersamanya adalah suami orang.


Deg


Larut dalam buai kemesraan yang tercipta, Ajeng tersentak saat sesuatu di dalam perutnya menendang. Wanita itu buru-buru tersadar dari apa yang sudah ia lakukan.


"Mas Cakra!" Didorongnya bahu lebar pria itu agar menyingkir dari atasnya.


"A-ajeng, ma-maafkan aku." Gugup bercampur malu, Cakra meminta maaf atas apa yang sudah dilakukannya pada Ajeng.


Wanita hamil itu tertunduk malu dengan wajah memerah. "A-aku yang seharusnya minta maaf."


"Ti-tidak apa-apa. Tak usah dipikirkan, kalau begitu a-aku keluar dulu."


Ajeng hanya mengangguk, tak sanggup melihat wajah Cakra.


.


"Jeng... Ajeng!"


"Eh?" Lamunan Ajeng buyar saat suara Cakra mengagetkannya. "A-ada apa?" tanyanya bingung.


"Dari tadi kau melamun, makanlah!"


Ajeng memperhatikan piring di depannya. Sarapannya belum tersentuh sama sekali dan dia malah membayangkan hal memalukan semalam. "Ada apa dengan otakmu ini, Jeng!" rutuknya dalam hati. Akhirnya, ia menyuap makanan yang disuguhkan Cakra.


Cakra yang duduk di depan Ajeng, diam-diam memperhatikan wanita itu. Ia mengikuti gerak sendok berisi makanan yang masuk ke dalam mulut wanita itu. Berkali-kali, hingga kini fokusnya bukan lagi pada sendok melainkan pada bibir lembab Ajeng.


Deg


Jantung Cakra berdetak cepat ketika ingatan semalam melintas di benaknya. Ajeng menciumnya dan ia terbuai bahkan membalasnya dengan lebih. Ia sadar jika Ajeng melakukan semua itu dipicu oleh pesan berupa gambar dan video yang diterimanya. Di mana di sana diperlihatkan bagaimana suaminya menikmati hubungan dengan si selingkuhan. Mungkin Ajeng beranggapan, jika Radi bisa berbuat demikian kenapa dia tidak. Cakra memaklumi.


.......

__ADS_1


Selesai sarapan, Cakra pamit pada Ajeng. Ia akan kembali ke Jakarta karena ada pekerjaan yang menanti. Tak langsung menuju kantor, ia bertemu terlebih dahulu dengan Robi karena telah membuat janji sebelumnya. Mereka bertemu di sebuah cafe yang terletak tidak jau mh dari gedung perusahaan Winata.


"Jadi, apa yang ingin anda katakan?" tanya Robi. Ia mangkir dari pekerjaannya pagi ini karena Cakra ingin membahas masalah penting. Jika bukan menyangkut Ajeng, ia juga tidak akan melalaikan tugasnya di kantor.


Tanpa basa-basi, Cakra langsung menyodorkan sebuah ponsel ke hadapan Robi.


Tanpa diperintah, pria yang enam tahun lebih tua dari Cakra itu langsung memungut ponsel yang ia tahu itu adalah milik nonanya.


"Bagaimana?" Cakra menunggu reaksi pria di hadapannya.


"Aku akan membuatnya menderita." Cakra bisa melihat jika kini Robi menyeringai kejam dengan rahang yang mengeras.


.......


Pintu ruangan Robi terbuka lebar saat seseorang memaksa masuk ke dalamnya.


"Pak Robi, katakan di mana sekarang istriku berada!" Radi bertanya dengan nada tinggi begitu masuk ke ruangan wakil direktur.


Dengan santai Robi bangkit dari kursi kebesarannya dan berdiri dengan memangku kedua tangan di dada. Ia menatap datar direktur di perusahaannya itu.


"Seorang suami tidak tahu di mana keberadaan istrinya? Haha, lucu sekali." ucap Robi lengkap dengan nada mengejeknya.


"Jangan berkelit, aku tahu pasti kau yang telah menyembunyikan Ajeng," tuduh Radi.


"Coba pikirkan! Jika kau bisa menyembunyikan seorang wanita di belakang istrimu, mungkin saja saat ini seorang pria juga tengah menyembunyikan istrimu." Robi sengaja memanas-manasi Radi.


Suami Ajeng yang tersulut amarah, segera berlari menghampiri Robi. Ia cengkram kerah kemeja pria m itu. "Aku tahu, kaulah pria itu. Kaulah yang telah menyembunyikan istriku!"


"Siapa yang tahu?" sahut Robi tetap tenang.


"Jika kau tidak memberitahuku di mana Ajeng berada, maka aku akan memecatmu!" ancam Radi.


Robi melepas paksa cengkraman Radi hingga membuat suami Ajenh itu tersurut langkahnya. Ia merapihkan kemejanya yang sedikit kusut.


"Saya tidak tahu jika anda memiliki selera humor yang bagus, Pak Radi Nugraha?"


"Apa?"


"Kau ingin memecatku?" tanya Robi.


"Ya. Kau akan ku pecat jika tidak mau memberitahu di mana istriku kau sembunyikan."


"Itulah hal yang lucu menurut saya. Siapa anda berani memecat saya? Kedudukan anda dan saya adalah sama. Sama-sama bekerja untuk satu orang. Pemilik sah perusahaan ini adalah Nona Ajeng, jadi hanya dialah yang punya wewenang untuk itu."


Skakmat


Radi terhenyak. Walaupun menjabat sebagai direktur dan beristrikan seorang wanita kaya raya, tidak serta merta membuat kedudukannya terangkat. Ia masih dipandang sebelah mata oleh beberapa orang.


"SIAL!" Radi mengumpat dan setelah itu pergi meninggalkan ruangan Robi.


"Permainan baru dimulai, Radi Nugraha."


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2