2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Such A Coward!


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Baiklah. KITA CERAI!"


Keputusan sepihak Cakra untuk bercerai membuat tubuh Silvia jatuh tak berdaya di atas lantai yang dingin. Wajah wanita itu pucat pasi karena aliran darahnya terasa berhenti mengalir.


"Secepatnya akan ku urus surat gugatan cerai untukmu." Cakra yang hendak meninggalkan kamar ditahan oleh Silvia. Wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya itu, memeluk kaki Cakra seraya meraung.


"Tidak. Jangan ceraikan aku, Mas. Aku mohon, maafkan aku. Beri aku satu kesempatan, tidak akan ku ulangi lagi kesalahan ini," jerit Silvia memohon.


Cakra memandang rendah Silvia yang bersimpuh di kakinya. Tidak ada rasa iba dalam hatinya melihat wanita yang telah dinikahinya lebih dari tiga tahun itu menangis, memohon belas kasihnya.


"Kesempatan yang ku beri waktu itu adalah yang terakhir dan tak akan ada kesempatan lainnya. Kau sudah berulang kali melakukan kesalahan dan kali ini tidak termaafkan," jelas Cakra. Hatinya sakit mengingat semua kesalahan Silvia. Walau cintanya pada wanita itu telah habis terkikis masa, tapi kenangan yang terukir di dalamnya tidak bisa dilupakan begitu saja.


"Semoga dengan perpisahan ini kita bisa menemukan kebahagiaan masing-masing."


"Tidak. Aku tidak mau, Mas. Aku sedang hamil dan kau tidak bisa menceraikanku."


Cakra tertawa mendengar perkataan Silvia. "Justru karena kau sedang hamil itulah, kita harus bercerai. Anak itu bukan milikku, bukan hak dan kewajibanku. Jadi, mintalah pada selingkuhanmu itu pertanggung jawaban."


Silvia tercenung memikirkan ucapan Cakra. Ia tidak tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya. Jika saja Satria mau bertanggung jawab, maka ia tentu tidak akan mengemis pada calon mantan suaminya ini


"Kenapa? Pria itu tidak mau bertanggung jawab?" ejek Cakra..


Silvia menunduk malu, bayangkan saja, betapa bodohnya ia karena telah berselingkuh dengan pria brengsek seperti Satria dan menyia-nyiakan suami sempurna seperti Cakra. Dalam lubuk hati terdalamnya, ia sangat menyesal, tapi apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur. Sekarang, apa yang mesti ia lakukan.


Melihat keadaan Silvia yang tak berdaya, timbul sedikit rasa kasihan di hati Cakra. Bagaimana pun juga mereka pernah hidup bersama, ia tak mungkin membiarkan wanita itu menderita seorang diri.


"Aku akan membantumu."


Silvia mengangkat kepalanya, ia melihat Cakra mengambil ponsel miliknya yang terletak di atas nakas. "Mas, apa yang akan kau lakukan?" Silvia berdiri untuk merampas ponselnya dari tangan Cakra, tapi sia-sia karena pria itu bisa mengelak dengan gesit.


"Apa nama kontak pria itu di ponselmu?" tanya Cakra dengan jemari sibuk bermain di layar.


"Untuk apa? Apa yang mau kau lakukan?" Silvia yang kembali ingin merebut ponselnya, dengan mudah digagalkan oleh Cakra.


"Bisa diam tidak!" bentak Cakra yang sontak membuat Silvia mematung di tempat.


"Ah, ketemu." Setelah menemukan kontak dengan nama Satria Dewangga, Cakra langsung mengetuk ikon pesan. "Wow..." sorak Cakra, takjub.

__ADS_1


Lihatlah! Betapa banyaknya pesan mesra yang ia temukan di dalam ponsel istrinya. "Sudah berapa lama kau berhubungan dengan pria itu?" tanya Cakra.


"E-empat bulan," cicit Silvia.


Ternyata sudah selama itu ia dikhianati, tentu Cakra merasa terluka harga dirinya sebagai seorang suami. Namun, lukanya tidak terlalu dalam karena pada kenyataannya ia juga melakukan hal yang sama. Jika Silvia, hati dan tubuhnya yang berkhianat, lain halnya dengan Cakra, hatinya telah lebih dulu berkhianat karena jatuh cinta pada wanita lain.


[Temui aku di cafe xx malam ini, penting!]


Setelah mengirimkan pesan, Cakra meminta Silvia untuk berganti pakaian.


"Kita mau kemana?" tanya wanita itu.


"Ganti saja bajumu, jangan banyak bertanya!"


Dibentak untuk yang kesekian kalinya, membuat Silvia hanya bisa menurut apa yang diperintahkan oleh suaminya.


.......


Satria baru saja keluar dari kamar mandi saat ponselnya berdenting tanda ada pesan yang masuk.


"Untuk apa Silvia mengajak bertemu malam ini, apa ia sudah merindukan 'kesayangannya' ini?" Satria tersenyum mesum. Ia tidak tahu, jika pesan itu Cakra lah yang mengirimnya.


Sampai di cafe yang disebutkan, Satria langsung menuju meja di mana Silvia terlihat duduk seorang diri.


"Hei, Baby." Pria itu mencium pipi Silvia sekilas baru setelah itu duduk.


Satria mengernyit heran melihat wajah pucat kekasih gelapnya. "Ada apa? Apa kau sakit?" tanyanya.


Silvia menggeleng, ia tidak sakit, tapi takut karena Cakra sudah berdiri tepat di belakang Satria, menatap tajam dirinya.


"Sat..."


Silvia mulai bicara, di perjalanan tadi, Cakra sudah merancang kata-kata yang harus dirinya ucapkan bila bertemu Satria.


"Yes, Baby?"


"Aku... aku mau kau bertanggungjawab atas kehamilanku ini," pintanya.


Satria menghela napas kesal. "Bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya?"

__ADS_1


"Iya, tapi mas Cakra tahu tentang hubungan kita."


"Apa? Bagaimana bisa?" Satria memekik tak percaya.


"Aku tidak mau tahu, kau harus bertanggung jawab. Janin yang tumbuh dalam perutku ini adalah benihmu!" desak Silvia.


"Sudahku bilang aku tidak bisa. Kau itu istri orang, bagaimana mungkin aku bertanggung jawab pada istri orang." Satria mengelak, ia adalah tipe pria bebas yang hobi bersenang-senang. Tidak ingin terikat apalagi dengan kehadiran seorang anak.


"Kau tenang saja, aku akan segera menceraikan Silvia, lalu kau bisa bertanggung jawab."


Deg


Satria terperanjat saat mendengar suara dingin di belakangnya, bulu kuduknya sempat berdiri begitu merasakan kehadiran orang itu. "Kau?" tunjuknya kaget begitu melihat kemunculan Cakra yang langsung mengambil tempat duduk di dekatnya.


"Kau harus bertanggungjawab atas bayi yang dikandung oleh Silvia," ucap Cakra tegas.


"Aku tidak bisa," sahut Satria cepat.


"Kenapa?" tanya Cakra.


Sementara Silvia hanya bisa diam menunduk menunggu hasil dari pertemuan ini. Akan kemanakah dirinya nanti, tetap bersama Cakra (tidak mungkin) atau bersama Satria, ayah dari bayinya.


"Aku ini pria bebas, tidak ingin terikat dengan yang namanya wanita apalagi anak. Jadi maaf saja, aku tidak bisa."


"Brengsek!" Cakra geram dan langsung menonjok wajah tampan Satria. Pria bejat itu jatuh terjengkang dari kursinya.


Untung saja cafe saat itu telah sepi, jadi tak banyak yang menyaksikan kejadian tersebut.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus bertanggung jawab pada Silvia dan bayinya. Jika tidak, kau akan berurusan denganku. Dasar pecundang!" Cakra menendang tubuh Satria sebelum pergi meninggalkan cafe.


"Mas, tunggu aku!" Silvia tidak mempedulikan Satria yang masih tergeletak di lantai, ia justru berlari mengejar Cakra.


"Kau urus selingkuhanmu itu. Jangan kembali lagi ke rumah, semua barangmu akan ku kemas dan kirimkan ke rumah pecundang itu!" putus Cakra.


"Baiklah..." Silvia terpaksa menerima keputusan itu dengan berat hati.


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment 🙏🏻😊...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2