2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
We are With You


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Ka-kalian?" sapa Cakra terbata. Ia menatap tiga wajah manusia dewasa itu bergantian. Ada yang menunjukkan raut wajah marah, penasaran, dan sumringah. Tatapan Cakra kemudian turun memandang balita menggemaskan yang sedang digandeng oleh sang ibu, perasaannya jadi damai seketika.


Namun, suara deheman membuat jiwa damai Cakra buyar. Ia kembali menatap pria paling garang di sana.


"Kalian datang?" tanya Cakra basa-basi.


"Iya, kami datang di waktu yang sangat tepat, karena bisa disuguhi pemandangan mengejutkan seperti ini. Apa ada penjelasan, Pak Cakra?" tanya Robi penuh penekanan, seraya mata memicing penuh kecurigaan.


Cakra menelan salivanya pahit. Apa yang harus dijelaskannya pada ketiga orang itu mengenai posisinya dengan Ajeng yang terlihat mesra ini.


"Ajeng..." Cakra memutuskan untuk membangunkan Ajeng terlebih dahulu. Nanti mereka berdua akan menjelaskan pada tiga manusia dengan wajah yang penuh keingintahuan itu.


"Enghh..." Ajeng melenguh karena tidurnya yang terganggu.


"Jeng, bangunlah! Lihat siapa yang datang?" bisik Cakra.


"Hm.... siapa yang datang?" tanya Ajeng yang masih enggan membuka mata, justru ia semakin erat memeluk lengan Cakra dan menyenderkan kepalanya malas ke bahu pria yang sudah tidak berkutik karena dipelototi oleh Robi.


"Bangun dan lihatlah!"


Akhirnya Ajeng menegakkan kepala, ia mengucek matanya sebentar untuk bisa menyesuaikan dengan kondisi cahaya yang ada. "Siapa sih, sayang?"


Deg


Suara parau Ajeng yang memanggilnya sayang, membuat Cakra serba salah. Ia senang, karena itu kali pertama Ajeng memanggilnya begitu, tapi di sisi lain, ia menjadi mati kutu karena kini tiga orang di sana memelototinya secara bersamaan.


"Jeng, lihatlah di belakang sana!" Cakra lebih memilih memandang wajah cantik kekasihnya dari pada melihat tiga manusia dengan mata besar di belakangnya.


Ajeng sudah membuka sempurna matanya, ia segera menoleh ke belakang.


"Eh?" Wanita itu terkejut bukan main melihat Robi, Bagas, dan Tania  sudah berdiri di sana menatapnya tajam.


"Eh? Begitukah responmu melihat kedatangan kami. Padahal aku sangat mengkhawatirkan dan juga merindukanmu loh, tapi ternyata..." Tania mulai mendrama.


"Ma-maafkan aku..." Ajeng bangkit berdiri dibantu oleh Cakra. Ia berjalan menghampiri Tania. "Aku senang bertemu dengan kalian. Aku merindukan kalian semua," ucapnya dengan mata berkaca-kaca karena terharu.


Melihat Ajeng menangis, Tania ikut menangis juga.


"Dasar cengeng..." ejek Bagas yang langsung mendapat death glare dari kedua wanita cantik di sana.


"Ups, sorry."


Mereka semua tertawa, tapi tidak dengan Robi. Sedari tadi ia terus menatap tajam pada Cakra, membuat pria yang sudah resmi menjadi kekasih 'gelap' Ajeng itu menjadi salah tingkah.


"Ayo kita ke vila!" ajak Cakra mencoba mengalihkan perhatian Robi darinya.


"Setelah ini, saya ingin bicara berdua dengan anda." Robi berbisik saat Cakra melewatinya.


"Tentu. Saya juga ingin mengatakan sesuatu kepada anda."


.......

__ADS_1


"Jeng, bagaimana keadaanmu. Baik-baik saja, kan?" tanya Tania. Kini mereka semua sudah duduk di ruang tamu, kecuali Robi dan Cakra yang meminta waktu berdua untuk bicara.


"Aku baik. Lihatlah! Keponakan kalian sudah tumbuh besar di dalam sini." Ajeng memamerkan perutnya yang membuncit.


Tania bahagia melihat kondisi Ajeng sekarang. Tubuh wanita hamil itu terlihat lebih berisi dari terakhir mereka bertemu.


"Sehat-sehat di dalam ya, Nak. Jangan merepotkan ibumu." Tania memberi nasihat sembari mengelus sayang perut Ajeng.


"Dia menendang." Tania langsung bersorak senang saat merasakan tendangan si kecil dari dalam perut Ajeng.


"Iya, si kecil sedang aktif-aktifnya menendang belakangan ini," beritahu Ajeng.


"Itu bagus, berarti dia tumbuh dengan baik di dalam sana. Sepertinya Pak Cakra sangat memanjakan kalian ya," goda Tania.


Semburat merah muda muncul seketika di wajah cantik Ajeng. Dua orang di sana langsung bisa menyimpulkan jika memang telah ada hubungan di antara Cakra dan Ajeng. Namun, mereka tak ingin bertanya lebih jauh. Takut jika nantinya akan menyinggung perasaan dua orang yang sedang kasmaran itu.


"Jeng!" panggil Bagas. "Apapun yang terjadi, apapun yang menjadi pilihanmu. Aku dan Tania akan selalu berada di pihakmu. Kami, selalu bersamamu."


"Kak Bagas, Tania. Terima kasih banyak." Lagi-lagi Ajeng terharu hingga membuatnya menitikkan air mata. Wanita hamil memang sensitif sekali perasaannya.


"Rasakan kau Radi! Ajeng sudah menemukan pelabuhan yang baru. Aku turut berduka untukmu."


... ....


"Apa yang ingin anda katakan?" Robi membuka obrolan terlebih dahulu.


"Sesuatu yang membuatmu penasaran."


Robi mengangkat satu alisnya ke atas mendengar jawaban Sasuke. "Oh ya? Apa itu?" 


BRAKK


Robi menggebrak meja kecil di depannya. Dua pria itu kini berada di taman samping vila.


"Anda jangan main-main!" Robi memperingatkan.


Cakra berusaha tetap tenang, walau hatinya ketar-ketir, takut jika nanti Robi membawa Ajeng pergi. Ah... jangan sampai. Cakra tak bisa membayangkannya.


"Saya tidak main-main. Saya mencintai Ajeng dengan sepenuh hati, begitu pula sebaliknya."


Robi terkekeh. "Benarkah itu cinta? Atau anda hanya ingin mempermainkan wanita rapuh seperti nona Ajeng yang setelah mendapatkan apa yang anda inginkan darinya kemudian pergi mencampakkannya?" tuduh Robi.


Cakra menggertakkan giginya mendengar tuduhan asal Robi. "Saya tidak sejahat itu. Saya tulus mencintai Ajeng tanpa ada maksud tertentu seperti yang kau tuduhkan barusan!"


"Anda sudah memiliki istri, lalu ingin anda jadikan apa nona saya, Selingkuhan?"


Cakra mencoba menetralkan emosi yang ingin meluap. Pria tua ini benar-benar telah menguji kesabarannya. "Tenang saja, saya akan menceraikan istri saya," ucapnya tenang.


"Ck. Menceraikan istri yang sudah lama menemani anda demi wanita lain. Brengsek juga anda ternyata."


Ejekan Robi hanya dianggap angin lalu oleh Cakra, yang jelas untuk saat ini ia harus tetap tenang agar semuanya tidak menjadi semakin panas.


"Orang luar seperti anda tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, untuk lebih meyakinkanmu, akan saya katakan bahwa rumah tangga saya sudah lama berada di ambang kehancuran. Seperti bom yang hanya tinggal menunggu waktu meledaknya."

__ADS_1


Robi mengangguk. Ia sendiri sudah menyelidiki semua itu sebelum datang ke sini. Jadi, sedikit banyaknya, ucapan Cakra dapat ia percaya.


"Bagaimana dengan nona Ajeng, apakah dia mengatakan akan menceraikan si pengkhianat itu?" tanya Robi.


"Saya belum membicarakan hal ini lebih lanjut, toh jadiannya juga baru semalam."


Robi tersenyum mendengar suara Cakra yang menggumam.


"Oh ya, ada satu hal yang ingin saya katakan," ucap Robi.


"Apa?"


"Radi secara perlahan sudah mendekati kehancurannya. Saya telah berhasil menyingkirkannya dari perusahaan, sekarang saatnya bagi anda untuk bisa menyingkirkannya dari kehidupan nona Ajeng untuk selama-lamanya. Saya mendukung anda."


"Baiklah..." Cakra mengangguk. Akan ia pastikan Ajeng berpisah dari pria yang sudah menyakitinya itu. "Terima kasih."


"Sama-sama."


Robi bangkit dari duduknya. "Sebelum pergi, saya ada sedikit buah tangan untuk anda. Semoga suka." Robi menyeringai sembari menyodorkan sebuah amplop yang diambil dari dalam saku jasnya.


Cakra menatap Robi sejenak, baru ia meraih amplop yang disodorkan. "Terima kasih."


"Sama-sama." Setelahnya pria itu pergi meninggalkan Cakra yang masih setia duduk di taman.


.......


"Nona, saya pamit pulang." Robi menemui Ajeng di ruang tamu.


"Eh? Kenapa cepat sekali?" tanya Ajeng keberatan.


"Tugas saya hanya mengantarkan pasangan rusuh ini untuk menemui Nona."


Tania dan Bagas menunduk malu melihat Robi dan Ajeng yang menatap mereka bersamaan.


"Kalau begitu saya pergi dulu. Jaga kesehatanmu, Nona."


"Iya, hati-hati di jalan, Bang Robi."


Selepas Robi pergi, Ajeng memandang penasaran pada kedua orang tua Arka itu. "Apa maksud bang Robi yang mengatakan jika kalian adalah pasangan rusuh?"


"Hehe, tidak usah dipikirkan. Dia hanya bergurau." Tania berupaya mengalihkan pembicaraan.


Bagas tertawa dalam hati mengingat apa yang sudah ia dan Tania perbuat. Mereka merecoki hidup Robi sampai pria itu memberitahu di mana keberadaan Ajeng. Jangan dibayangkan bagaimana rusuhnya mereka, membuat Robi akhirnya menyerah dan mengantarkan mereka kemari.


.......


Cakra meremas amplop pemberian Robi yang sudah ia lihat isinya. Kini ia semakin yakin untuk melakukannya.


"Kalau begini, rencanaku akan berjalan dengan mulus." Seringai tampak menghiasi wajah tampan itu.


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2