
...πSelamat Membacaπ...
Sista Bar-barππ»
Kak, Pak Anto nggak bisa jemput. Katanya beliau lagi nemenin Syila ke mall sama temennya. Gue udah pulang duluan naik ojol. Maaf nggak bisa bareng, soalnya gue sakit perut. Lo naik taksi aja, Kak. Ok?π
Setelah membaca chat dari adiknya, Dira lantas membalas dengan dua huruf saja, yaitu "OK".
Pak Anto adalah sopir yang ditugaskan untuk mengantar jemput anak-anak. Jika pagi mereka akan berangkat bersama, namun saat pulang, Pak Anto akan menjemput si kembar terlebih dahulu, karena memang jam pembelajaran di SMP lebih cepat usai daripada di SMA.
"Naik taksi apa mesen ojol aja, ya?" pikir Dira. Sembari menimbang mana yang akan dipilihnya, gadis itu memutuskan untuk berjalan keluar gerbang terlebih dahulu. Jika kalian bertanya di mana Hanna dan Luna, mereka sudah terlebih dahulu pulang, bersama pacar masing-masing yang juga bersekolah di sana.
Dira melihat ke jalanan cukup lama, tapi tidak ada satupun taksi yang melintas. Karena tak ingin menunggu lama, ia langsung membuka salah satu aplikasi transportasi online.
Setelah mengetik alamat yang dituju, Dira bersiap akan memesan, namun suara motor yang berhenti di dekatnya disusul dengan suara seorang cowok yang bertanya, membuatnya jari telunjuknya tidak jadi menyentuh layar.
"Kenapa belum pulang, Ra?" tanya cowok yang tak lain adalah Lingga. Ia menghampiri Dira dengan motor sportnya. Helmnya sengaja dibuka agar Dira tahu jika itu ialah dirinya.
"Li-Lingga?" Dira kaget melihat kemunculan Lingga apalagi kalau harus mengingat kejadian di kantin tadi. Ia merasa canggung. untuk berhadapan kembali dengan cowok bermata tajam itu.
"Kok sendiri? Adik kamu kemana?" tanya Lingga lagi. Setahunya Dira selalu pulang bersama dengan adiknya yang masih kelas sepuluh itu.
"Hm, Eya udah pulang duluan. Pak Anto juga nggak bisa jemput, jadi aku mau mesen ojol aja." Dira menjawab setenang mungkin, matanya tak berani menatap si lawan bicara.
"Nggak usah pesan ojol, mending aku antar, ya?" tawar Lingga.
Deg
"Eh? Ng-gak usah. Aku bisa sendiri, kok. Kebetulan juga ojolnya udah ku pesan barusan," tolak Dira. Ia terpaksa berbohong, padahal belum memesan sama sekali.
"Hm, kalau gitu aku temani ya sampai ojolnya datang. Daripada kamu harus nunggu di sini sendirian."
Deg
Dira langsung mati kutu, bagaimana mungkin ojek onlinenya datang, toh belum sempat ia pesan pun.
"Kamu pulang aja, buat apa nungguin ojolku datang. Nanti lama, takut ngerepotin," usir Dira halus.
Lingga tersenyum. "Jangankan nungguin ojolmu datang, nungguin kamu bertahun-tahun aja aku sanggup. Nggak repot sama sekali, kok."
Deg
Jantung Dira berdegup kencang begitu mendengar penuturan Lingga. Namun, ia tidak ingin terlalu kegeeran, jadi memilih untuk menanggapinya dengan sebuah candaan.
"Kamu bisa aja, jangan-jangan sifat playboynya Om Satria nurun ke kamu, ya. Jago gombal. Hehe..." kata Dira berusaha tetap santai, walau dadanya berdegup tak karuan.
__ADS_1
Ekspresi Lingga sedikit berubah saat Dira menganggap jika ungkapan hatinya baru saja hanyalah sebuah candaan. Namun, ia tetap memaksakan senyuman itu bertahan di wajahnya. "Aku nggak pernah main-main untuk sesuatu yang ku anggap penting."
Deg
Lagi dan lagi, Dira dibuat tersentak dengan ucapan Lingga. Jantungnya di dalam sana bahkan masih belum berdetak normal, dan sekarang harus dibuat terkejut lagi.
"Hahahaha..." Dira tertawa canggung. Ia mengutak-atik ponselnya untuk segera memesan ojek online.
Mata gadis itu membulat kala mendapati jika ponselnya mati kehabisan baterai. Kalau begini, sudahlah... alamat ia tak bisa beralasan lagi. Mana sedari tadi tidak ada taksi yang lewat satupun.
"Kenapa?" tanya Lingga heran saat melihat Dira tampak panik.
"Hm, ponselku kehabisan baterai jadi..." Dira tak melanjutkan ucapannya. Ia sendiri bingung harus mengatakan apa.
"Ya udah, aku antar aja, yuk? Sampai kapan kamu mau nunggu di sini, lebih baik yang pasti-pasti aja," bujuk Lingga.
Mau tak mau, Dira akhirnya mengangguk juga. "Maaf ya, udah ngerepotin."
"Santai aja. Nih pakai helmnya!" Lingga menyerahkan helm berwarna putih pada gadis pujaannya.
Dira mengambil helm dari tangan Lingga dan segera memakaikannya ke kepala. "Kamu selalu bawa dua helm?" tanya Dira sembari naik ke atas motor.
"Iya, mencoba peruntungan. Dan sekarang baru terwujud."
Deg
"Kita jalan sekarang?" tanya Lingga.
"I-iya..." cicit Dira yang sudah duduk di belakang Lingga.
"Nggak mau pegangan? Aku takut nanti kamu jatuh," kata Lingga sebelum menjalankan motornya.
"Ng-gak, kok. Aku udah pegangan dengan baik ke motornya."
"Ok." Lingga langsung menggas motornya pergi meninggalkan area sekolah.
...----------------...
Saat ini Syila dan Kila berada di salah satu mall terbesar di kota mereka. Kila tidak tahu menahu apa tujuan Syila membawanya kemari, gadis itu hanya mengikuti.
"Kita masuk, yuk!" ajak Syila begitu mereka sampai di depan sebuah optik ternama.
"Kamu mau beli kacamata?" tanya Kila. Setahunya mata Syila baik-baik saja, untuk apa dia membeli kacamata.
"Masuk aja dulu, yuk." Syila menarik tangan Kila agar masuk bersamanya.
__ADS_1
Sampai di dalam, Syila langsung mengutarakan keinginannya. Ternyata, ia ingin memesan kontak lens.
"Sebaiknya kami memeriksa mata adik terlebih dahulu, sebelum membuatkan kontak lens yang sesuai," ucap karyawan optik tersebut.
"Baiklah." Syila mengangguk. "Ayo, Ki. Kita periksa mata kamu dulu," pintanya.
Kila terkejut. "Eh? Kok aku?" tanyanya bingung.
Syila tersenyum lebar. "Iya, kamu. Mataku sehat, jadi untuk apa aku pakai kontak lens. Aku bawa kamu ke sini agar kacamatamu diganti aja sama kontak lens."
"Tapi untuk apa? Aku udah nyaman 'kok pakai kacamata," sahut Kila menoak.
Syila cemberut. "Udah, periksa aja dulu. Nanti aku jelasin!" Ia menarik tangan Kila menuju tempat pemeriksaan.
Beberapa menit kemudian, pemeriksaan pun selesai. "Jadi adik mau kontak lensnya warna apa? Biar segera kami buatkan," tanya karyawan toko.
"Bening aja, Mbak." Syila menjawab.
"Baiklah. Adik-adik harus menunggu paling lama satu jam, tidak apa-apa, kan?"
"Tidak apa kok, Mbak. Nanti kami ke sini lagi untuk mengambilnya."
Syila tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu dia dan Kila keluar dari optik menuju destinasi selanjutnya.
"Salon?" Kila menatap salon di depannya. "Jangan bilang kalau kamu mau aku potong rambut?" tanyanya.
Syila terkekeh. "Nggak dipotong, kok. Cuma sedikit dirapikan aja."
"Tapi..."
"Oh ayolah..."
Lagi-lagi Kila hanya bisa pasrah saat Syila menarik tangannya untuk masuk ke dalam salon.
"Mbak, tolong dirapikan ya rambutnya," pinta Syila pada pegawai salon.
"Baik, adik manis."
Tidak ingin menunggu sia-sia, akhirnya Syila ikutan potong rambut. Kebetulan rambutnya sudah lumayan panjang dan membuatnya gerah.
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote & Comment
Terima kasih sudah membaca ππ»π
__ADS_1
Minta dukungannya buat cerita terbaru aku. Masih sepi soalnya... ππ»π