2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Rejection (Fadhil-Maya)


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Maya telah sampai di sebuah restoran sesuai dengan alamat yang di kirim oleh Bu Maryam siang tadi. Wanita itu memperhatikan restoran mewah yang ada di hadapannya. Restoran ala Eropa yang menyajikan menu masakan Italia. Dulu, Maya pernah datang sekali dengan Satria, saat mereka masih berhubungan dulu.


"Untuk apa Bu Maryam mengajakku makan malam di restoran mewah seperti ini. Bukankah kami hanya akan membicarakan masalah pengasuhan kei," gumamnya bingung.


Maya melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul enam lewat lima puluh lima sore, hanya lima menit tersisa dari waktu janji temu mereka. Wanita itu segera melangkah masuk.


"Sudah reservasi sebelumnya, Nona?" tanya seorang pelayan ketika melihat kemunculan Maya. Pelayan itu menyambutnya dengan senyuman ramah.


"Hm, ya. Reservasi atas nama Bu Maryam," jawabnya.


"Oh, baiklah. Mari saya antar."


Maya mengekor si pelayan yang membawanya menuju meja yang telah dipesan Bu Maryam sebelumnya.


"Silakan, Nona!" Si pelayan berhenti di sebuah meja yang sudah diduduki oleh seorang pria. Maya kaget ketika menemukan jika pria yang tengah duduk menunggu itu adalah Fadhil, anaknya Bu Maryam.


"Pak Fadhil!" Setelah si pelayan pergi, Maya tak langsung duduk. Ia menatap Fadhil dengan kening berkerut.


"Duduklah, Bu Maya!" pinta polisi tampan itu.


"Ah, iya." Maya duduk dengan kikuk. Ia memperhatikan sekitar dan tak bisa menemukan seseorang yang mengajaknya bertemu di restoran ini. Penasaran, lantas ia bertanya pada pria yang duduk di hadapannya.


"Di mana Bu Maryam, Pak?"


"Ibu? Beliau di rumah karena harus menjaga Kei," jawab Fadhil.


"Oh..." Maya hanya mengangguk dan suasana langsung berubah canggung.


Tak lama berselang, seorang pelayan datang dan membawakan hidangan pembuka makan malam mereka. Menu pembuka yang paling terkenal di Italia adalah Bruschetta. Makanan yang terbuat dari roti panggang yang di masak dengan bawang putih dan taburan rempah-rempah seperti olive oil, garam dan merica. Hidangan ini biasanya disajikan lengkap dengan tambahan saus tomat dan sayuran. Maya menelan ludah begitu melihat makanan lezat di depannya. Rasanya tak sabar untuk segera mencicipi.


"Silakan makan, Bu Maya!"


"Ah. Iya, Pak."


Hanya butuh waktu lima belas menit, makanan yang porsinya tidak terlalu besar itu ludes. Maya mengambil sapu tangan yang telah tersedia dan membersihkan mulutnya yang mungkin terdapat sisa saus tomat.


Maya menatap Fadhil yang sedang menikmati minumannya.


"Ada apa?" tanya Fadhil. Maya terciduk saat tengah memperhatikan pria yang bersamanya.


"Hm... kapan kita akan mulai membahas masalah pengasuhan Kei, Pak?" tanya Maya to the point. Ia tidak memiliki waktu yang cukup banyak untuk keluar karena ada sang anak yang menanti di rumah.


"Nanti, kita selesaikan makan malam ini terlebih dahulu." Fadhil menjawab dengan netra yang menatap lekat pada Maya.

__ADS_1


"Ba-baiklah." Maya tak dapat menyanggah, sikap pria itu sangat tegas dan tatapannya penuh intimidasi.


Kini menu utama sudah terhidang. Seporsi spaghetti varian carbonara. Untuk mempersingkat waktu, Maya segera melahap makanannya dengan cepat.


"Aduh, kenyang sekali." Maya bergumam dalam hati. Saat ini perutnya terasa penuh.


"Sambil menunggu dessert diantarkan, mari kita bahas masalah ini." Fadhil menaruh gelas yang berisi air putih yang tadi diminumnya, lalu menatap Maya intens.


"I-iya, Pak." Maya mengangguk mantap, inilah yang ia tunggu-tunggu.


"Ibu sudah memberitahuku bahwa kau bersedia menjadi ibu sambungnya Kei. Apa itu benar? Aku ingin kepastiannya malam ini."


Deg


"Ibu sambung? Maksud Pak Fadhil ibu pengasuh?" tanya Maya memastikan.


Sebelah alis Fadhil terangkat. "Ya, ibu untuk Kei."


"Oh. Iya, Pak. Saya bersedia menjadi ibu buat Kei. Kei adalah anak yang manis dan ceria, saya akan dengan senang hati merawatnya. Saya juga akan mengantar jemput Kei sekolah," jelas Maya.


"Ok, dan itu artinya kau juga bersedia untuk menikah denganku."


Deg


"A-apa?" Maya melongo— kata menikah tidak ada dalam pembicaraannya dengan Bu Maryam waktu itu.


"Ma-maaf sebelumnya, Pak Fadhil. Bu Maryam sama sekali tidak ada menyinggung masalah pernikahan. Beliau hanya memintaku untuk menjadi ibunya Kei, bukan menjadi istrimu!" bantah Maya.


Deg


Fadhil membeku, ternyata ibunya telah memperdaya Maya. "Oh, kalau begitu maafkan saya. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini."


"I-iya, Pak."


Pembicaraan berhenti saat makanan penutup datang. Menu untuk yang terakhir ini adalah Panna Cotta. Panna Cotta adalah hidangan yang terbuat dari krim yang sangat manis dan dihias dengan buah-buahan seperti ceri, karamel, saus cokelat, dan buah coulis.


Manisnya hidangan penutup ini sama sekali tidak bisa dirasakan oleh dua orang yang menyantapnya. Maya dan Fadhil sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


.......


Fadhil mengantarkan Maya pulang, awalnya wanita itu menolak karena tak ingin merepotkan, tapi Fadhil memaksa. Dia tidak bisa membiarkan Maya pulang sendirian malam-malam begini.


"Terima kasih, Pak." Mobil Fadhil sudah berada di depan gerbang rumah Maya. Selama di perjalanan, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut keduanya.


"Selamat malam, Pak Fadhil." Maya membuka pintu mobil, tapi belum sempat kakinya menginjak tanah, tangannya ditahan oleh Fadhil.

__ADS_1


"Sebentar, May!" pinta Fadhil. Ia bahkan sudah menghilangkan embel-embel 'Bu' di depan nama Maya.


"Ada apa ya, Pak?" tanya Maya. Ia memandang pria itu menanti jawaban.


"Apa kau sungguh menyayangi Kei?" Fadhil menatap tajam netra Maya, ia ingin melihat kejujuran di sana.


"Ya, sudah ku bilang 'kan kalau Kei itu anak yang baik dan ceria, tidak sulit untuk bisa menyayanginya." Jawaban Maya membuat Fadhil tersenyum. Ia senang jika putrinya disayangi banyak orang.


"Saat ibu memintamu untuk menjadi ibunya Kei, apa yang jadi pertimbanganmu waktu itu?" Fadhil kembali bertanya.


Maya menghela napas pelan. "Aku hanya ingin memberikan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tidak pernah didapatkan Kei."


Deg


Fadhil tercenung. Ya, dia sadar jika itu semua terjadi karena keegoisan dirinya. Andai dulu ia mau menikah dan memberikan sosok ibu pada Kei, pasti hidup putrinya akan jauh lebih baik. Mendapatkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tua.


Kali ini Fadhil tak ingin mengedepankan egonya lagi. Ia ingin membuat putrinya bahagia. Kalau dengan menjadikan Maya sebagai ibunya bisa membuat Kei tersenyum, maka Fadhil akan melakukannya.


"May, menikahlah denganku! Jadilah ibu sesungguhnya buat Kei!"


Deg


Lamaran mendadak Fadhil membuat tubuh Maya membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ini pertama kalinya ada seorang pria yang mengajaknya menikah. Ia terharu sekaligus bingung. Di satu sisi, ia ingin menjadi ibunya Kei, tapi kalau untuk menikah dengan Fadhil, ia sungguh tak bisa.


"Maaf, Pak Fadhil..." lirih Maya. Ia melepaskan tangan Fadhil yang masih memegang pergelangan tangannya.


"Saya bersedia menjadi ibu untuk Kei, tapi kalau menikah dengan anda, saya tidak bisa, maaf."


Deg


Bibir Fadhil bergetar, ini adalah kali kedua lamarannya ditolak. Dulu ia juga pernah merasakan hal seperti ini. Sekarang kejadian itu terulang lagi. Hatinya terluka untuk yang kedua kalinya.


"Kenapa, May? Kau lajang dan aku duda, kenapa kau tidak bisa menikah denganku?" tanya Fadhil serak.


Maya menatap mata Fadhil yang sayu. "Karena aku mencintai orang lain, dan aku sangat ingin bersama dengannya."


Fadhil mematung, kejadian ini persis sama seperti tujuh tahun lalu. Alasan kenapa lamarannya ditolak pun sama. Ada orang lain yang wanita itu cinta. Huh... menyedihkan.


"Berhati-hatilah di jalan!"


Maya keluar meninggalkan Fadhil yang terdiam di tempatnya.


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment

__ADS_1


Terima kasih sadah baca😊


Maaf kalau part ini rada-rada gaje...😅


__ADS_2