2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 42. Cinta Arjuna


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Hari itu, setelah makan malam, Arjuna menemui Rama di ruang kerja. Ada sesuatu yang ingin disampaikan pria muda itu pada ayahnya.


Tok ... tok ... tok ...


Diketuknya pintu yang terbuat dari kayu jati itu beberapa kali. Setelah mendapat sahutan dari dalam, barulah ia membukanya.


"Sedang sibuk, Pa?" tanya Juna. Ia tidak ingin mengganggu jika ternyata ayahnya itu tengah sibuk dengan pekerjaannya.


"Tidak, Nak. Duduklah! Ada apa gerangan kamu menemui papa?" Rama bangkit dari kursi kerjanya dan membawa Juna untuk duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu.


Setelah mereka saling berhadapan, Juna menghirup udara dan melepaskannya panjang pertanda bahwa ia sudah siap untuk memulai perkataannya.


"Pa, dulu aku pernah mengatakan jika ada seorang gadis yang telah menarik perhatianku ..." jeda sejenak. Juna kembali mengambil napas, lalu membuangnya perlahan. "Aku ingin meminta bantuan papa untuk bisa mendekati gadis itu," sambungnya.


Rama mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh putranya. "Bagaimana bisa papa membantumu jika gadis yang kamu maksud saja papa tidak tahu siapa orangnya," balasnya.


"Aku sudah pernah bilang bahwa papa mengenal baik gadis itu, dia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan kita ..." Juna tidak ingin mengatakan dengan gamblang siapa gadis yang ia maksud, ia ingin sang ayah menebak terlebih dahulu agar nanti ayahnya itu tidak terlalu kaget.


Rama nampak berpikir. "Gadis yang masih memiliki hubungan dengan keluarga kita?" pikirnya. Ia mengingat semua gadis dalam keluarganya yang sekiranya telah menjadi tambatan hati putranya itu.


"Apa mereka berdomisili di sini?" tanya Rama berusaha mengerucutkan pencarian. Jika tidak, tentu ia akan pusing mencari tahu siapa gadis yang disukai Juna, karena memang dalam keluarga besarnya, baik dari pihak ayah maupun ibu, itu sangat banyak.


"Iya..." Juna mengangguk.

__ADS_1


"Dari keluarga papa atau mama?" tanyanya lagi.


"Papa..." jawab Juna.


Akhirnya Rama kembali berpikir, kira-kira siapa kerabatnya yang berdomisili di kota ini dan sekiranya memiliki anak gadis yang masih lajang. Seingatnya, yang memiliki anak gadis masih lajang dan lebih muda dari Juna adalah anak-anaknya Cakra, tapi itu tidak mungkin karena mereka adalah sepupu dekat, kecuali satu orang.


Rama mendongakkan kepalanya dan menatap lurus pada mata Juna. "Nadira?" tebaknya antara yakin dan tidak.


Juna tersenyum dan mengangguk. "Iya, Pa. Tidak salah 'kan bila aku menyukainya, toh Dira juga bukan anak kandungnya Paman Cakra..."


Rama terdiam. Memang tidak salah jika Juna menaruh hati pada putri tiri Cakra itu, tapi bukankah Dira terlalu muda untuk menikah, apalagi dia juga baru saja masuk kuliah.


"Kamu yakin, Nak? Dira masih kuliah dan perjalanannya masih panjang..."


"Jika dia bersedia menjadi pendampingku, maka aku akan setia menunggu sampai dia siap, Pa."


"Baiklah, papa akan menemui pamanmu dan membicarakan masalah ini."


"Terima kasih, Pa. Aku sangat berharap bisa mempersunting Nadira dan menjadikannya istriku juga ibu dari anak-anakku kelak," harap Juna.


"Iya, Nak." Rama akan melakukan apa saja demi kebahagiaan anaknya.


...****************...


Kini, di sinilah Rama berada, berhadapan langsung dengan Cakra ditemani secangkir kopi. Kakak beradik itu memilih menepi di taman dekat kolam renang.

__ADS_1


"Ada apa, Mas?" tanya Cakra memulai obrolan. Agaknya ia sangat penasaran dengan hal yang ingin dibicarakan kakaknya.


Rama mempersiapkan diri sejenak sebelum memberitahukan hal penting yang ingin dikatakannya.


"Ini tentang keponakanmu, Dik..." kata Rama membuka topik.


"Juna dan Jani?" tanya Cakra.


"Lebih tepatnya, Juna..." jawab Rama.


"Ada apa dengan keponakan tampanku itu? Apa dia merasa tidak betah bekerja di kantorku dan memutuskan untuk mencari pekerjaan di tempat lain?" tebak Cakra, was-was.


Rama menggeleng. "Bukan tentang pekerjaan, tapi keponakanmu itu ingin mendekati seorang gadis yang ingin dia jadikan sebagai istrinya nanti."


Cakra antusias. "Benarkah? Siapa?"


"Putrimu..." jawab Rama, gamblang.


"Putriku? Bagaimana mungkin? Mereka sepupu, Mas! Lagi pula anakku masih kecil semua..." Begitulah semua anaknya di mata Cakra, masih kecil, padahal mereka sudah remaja kecuali Azka tentunya.


"Nadira. Juna menyukai Nadira, Dik. Dia ingin meminta izin darimu untuk bisa mendekati putrimu itu!"


"Dira?"


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like Vote dan comment 🙏🏻


Terima kasih sudah membaca 😊


__ADS_2