2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Comfort & Love


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Malam ini, Cakra tidak bisa tidur. Disamping karena kepalanya yang masih berdenyut, juga karena dirinya sibuk memikirkan bagaimana keadaan Ajeng. Apakah wanita itu baik-baik saja, mengingat wajahnya yang pucat saat bertemu di rumah sakit tadi.


Untuk mengurangi rasa khawatirnya, Cakra coba menghubungi ponsel Ajeng, tapi hanya suara operator yang menjawab, mengatakan jika nomor yang ditujunya sedang tidak aktif. Cakra semakin dilanda cemas karena tidak mengetahui bagaimana kabar wanita itu saat ini.


Rasanya ingin sekali ia keluar malam ini untuk menemui Ajeng, tapi kondisinya masih lemah. Pria itu hanya bisa bersabar sampai pagi, semoga di esok hari keadaannya sudah jauh lebih baik.


"Maafkan keegoisanku, Jeng."


Cakra sadar jika dirinya salah karena telah mengabaikan Ajeng dan hal itu justru membuat hubungan mereka semakin tidak jelas. Cakra bertekad untuk segera menyelesaikan permasalahan itu, apakah nantinya ia akan bisa bersama dengan Ajeng atau bahkan harus melepaskan wanita itu untuk kembali bersama suaminya. Apapun yang akan terjadi nanti, Cakra sudah membulatkan fekad. Namun, harapannya tetap sama, yaitu bisa bersatu dengan Ajeng dan membangun rumah tangga bersama sebagai dua orang yang pernah tersakiti. Luka telah mengajarkan mereka tentang bagaimana caranya untuk saling menguatkan.


.......


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ajeng tengah berbaring nyaman di salah satu ranjang yang ada di rumah sakit. Ya... setelah Cakra meninggalkannya sore tadi, Ajeng memilih untuk menginap di rumah sakit. Ia menyewa sebuah kamar untuk ia tempati malam ini. Walaupun keadaannya sudah baik-baik saja, tapi ia enggan untuk pulang ke rumah.


Ajeng menatap langit-langit kamar yang berwarna putih, saat ini pikirannya tengah berkecamuk memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Cakra. Pria itu memintanya untuk kembali memikirkan ulang akan hubungan mereka.


Jujur saja, selama beberapa bulan mengenal Cakra, Ajeng merasakan kenyamanan yang mungkin tidak pernah dirasakannya saat bersama dengan Radi. Kedua pria itu berbeda, Radi dengan kebaikan hati dan sikap romantisnya, sementara Cakra dengan perhafian dan kelembutannya yang selalu berhasil membuat Ajeng luluh.


Dulu, Ajeng begitu mencintai Radi. Namun, rasa cintanya pada Radi perlahan memudar seiring dengan luka dan kesedihan yang diberikan oleh suaminya itu. Saat ia terpuruk, terluka dan butuh sandaran, selalu ada Cakra yang sedia di sampingnya, mengobati luka, menguatkan hafi dan memberikan bahu untuknya bersandar. Ajeng merasa nyaman bersama Cakra, tapi yang jadi pertanyaannya saat ini adalah... apakah nyaman itu bisa diartikan dengan cinta? Hal itu yang masih membuatnya bingung.


"Mas Radi..." Ajeng mencoba memanggil nama pria yang pernah ia cinta dan juga pernah menorehkan luka padanya. Ajeng merasa perasaannya biasa saja, tidak ada yang bergetar di dalam hatinya. Berbeda jika ia memanggil nama itu saat mereka masih bersama dulu, hatinya pasti akan langsung berdebar.


Ajeng menghela napas pelan, entah apa yang kini tengah dilakukannya. Apakah dengan cara ini ia bisa memantapkan hati, kepada siapa sebenarnya cintanya berlabuh. Masih bertahan di pelabuhan yang sama, atau kapalnya sudah berlayar, pindah dan berhenti di pelabuhan yang baru.


"Mas Cakra..." Kini nama pria itu yang Ajeng gumamkan.


Deg


Benar saja, dadanya langsung berdenyut nyeri. Apalagi kala teringat kejadian tadi sore. Melihat kedekatan Cakra bersama mantan istrinya, ia sakit. dan terluka. Ia merasa tidak rela jika ada wanita lain yang begitu dekat dengan Cakra. Apakah ia cemburu? Bukankah cemburu itu tanda cinta?

__ADS_1


Ajeng memejamkan matanya, memikirkan semua kerumitan ini membuat dirinya lelah. Tak lama kemudian, terdengar dengkuran halus sebagai pertanda jika wanita itu sudah pindah dari dunia nyata ke alam mimpi.


.......


Pagi hari, Cakra merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik. Kepalanya juga tidak sakit lagi seperti kemarin. Setelah sarapan, ia berniat untuk langsung menyambangi kediaman Ajeng, ingin melihat keadaan wanita itu.


Setelah berkendara kurang lebih tiga puluh menit, Cakra akhirnya sampai di kediaman Ajeng. Ia menekan bel sebagai tanda kedatangannya. Tak lama berselang, seorang pelayan membukakan pintu.


"Selamat pagi, Tuan Cakra..." sapa si pelayan. Wanita paruh baya itu sudah mengenal Cakra karena pria itu sering datang ke rumah menemani majikannya yang masih dalam masa pemulihan pasca operasi, beberapa hari ini.


"Apa Ajeng ada, Bi?" tanya Cakra.


"Maaf, Pak. Semalam nona Ajeng tidak pulang. Bahkan supir yang mengantarkan nona ke rumah sakit kemarin pun belum juga kembali," beritahu si pelayan.


Deg


Cakra terdiam, apakah Ajeng masih di rumah sakit, pikirnya. Benarkah jika wanita itu sakit sampai harus menginap di sana.


.......


Setelah sarapan di kantin rumah sakit. Ajeng meminta sang supir untuk mengantarkannya ke sebuah butik. Wanita itu ingin membeli satu set pakaian sebagai pengganti bajunya kemarin yang sudah kotor.


Kini penampilan Ajeng sudah rapi dan bersih. Ia sudah siap untuk menemui bayinya di rumah sakit. Kebetulan rumah sakit tempatnya menginap semalam berbeda dengan rumah sakit di mana Dira dirawat.


Sampai di depan ruang NICU, dari kaca transparan ruangan itu, Ajeng melihat di dalam sana ada Radi yang sedang memberikan anak mereka susu. Memang, setiap hari Ajeng akan memerah ASInya, lalu Cakra yang biasa akan mengantarkannya ke rumah sakit untuk stok ASI bagi Dira.


"Mas Radi!" panggil Ajeng saat dirinya sudah berada di samping pria itu. Saking asik dan fokusnya Radi meberikan susu pada anaknya, sampai-sampai dia tidak menyadari kehadiran Ajeng. Setelah disapa, baru pria itu menoleh.


"Ajeng?" Radi mengulas senyum tipis setelah menyadari keberadaan Ajeng.


"Bagaimana keadaan Dira, Mas?* tanya Ajeng. Ia melihat bayi mungilnya yang tampak lahap menyedot botol susu yang isinya hampir habis.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja, berat badannya berangsur normal. Kata dokter, tiga hari lagi Dira sudah diperbolehkan pulang."


Mendengar penuturan Radi, Ajeng merasa sangat bahagia. Sebentar lagi putrinya sudah bisa dibawa pulang dan mereka tidak akan terpisahkan lagi.


Radi memberikan botol susu Dira yang sudah kosong kepada seorang perawat yang memang berjaga di sana. Pria itu tak langsung mengembalikan sang anak ke dalam inkubator, dia membuat Dira sendawa terlebih dahulu.


Ajeng terharu melihat perhatian Radi pada bayi mereka. Hanya saja, saat ia dengan sengaja menatap dalam wajah pria yang masih menjadi suaminya itu, Ajeng tak lagi merasakan getaran cinta. Apakah benar jika cintanya untuk ayah Dira itu sudah terkikis habis?


.......


Cakra sampai di rumah sakit, ia menanyakan pada bagian administrasi apakah ada pasien yang bernama Ajeng.


"Ada, Pak. Kemarin memang ada seorang wanita bernama Ajeng yang memesan kamar di rumah sakit ini, tapi sekarang beliau sudah pergi meninggalkan rumah sakit.*


Cakra menghembuskan napas kasar, sepertinya ia terlambat.


"Kalau boleh tahu, apa keluhan wanita itu hingga harus menginap di rumah sakit?" tanya Cakra penasaran.


"Pasien bernama Ajeng itu mengeluhkan sakit pada bekas jahitan pasca operasinya, Pak. Di data ini mengatakan jika bekas jahitan pasien berair."


Deg


"Terima kasih atas infonya."


Cakra berbalik dan berjalan gontai keluar dari rumah sakit. Ia merasa sangat bersalah karena tidak ada di samping Ajeng saat wanita itu sakit, bahkan dengan tega ia memilih pergi meninggalkannya bersama Silvia.


"Kau di mana, Ajeng?" lirihnya.


...Bersambung...


Semoga masih ada yang menunggu...

__ADS_1


Terima kasih buat yang masih setia membaca cerita ini😊


__ADS_2