
...🌷Selamat Membaca🌷...
Fadhil masuk ke dalam rumah dengan lesu. Bu Maryam yang sudah menunggu kepulangan anaknya segera menghampiri.
"Bagaimana, Nak?" tanya wanita paruh baya itu.
"Apa Ibu tidak memberitahu Maya kalau untuk menjadi ibunya Kei, dia harus menikah denganku?" Fadhil menatap datar pada wanita yang telah melahirkannya itu. Bukannya kesal, ia hanya kecewa dan malu atas lamarannya yang telah ditolak mentah-mentah oleh Maya.
Bu Maryam tertunduk. "Maafkan ibu, Nak. Ibu pikir akan lebih baik jika kau yang mengatakannya langsung pada Maya."
Fadhil menyentak napas kasar. "Dia menolakku, Bu."
Setelah mengatakannya, pria itu berlalu masuk ke dalam kamar.
Bu Maryam menatap iba punggung tegap sang anak yang perlahan menjauh. Ia tak menyangka jika Maya akan menolak lamaran Fadhil. Salahnya juga yang tidak memberitahukan mengenai itu sebelumnya. Sekarang entah apa yang harus ia lakukan. Padahal tadi ia sudah sesumbar mengatakan pada Kei jika Maya akan jadi mamanya dan tinggal bersama mereka. Bagaimana kalau besok anak itu menagihnya? Wanita tua itu jadi pusing sendiri.
.......
Maya menatap Lingga yang tertidur lelap di sampingnya. Entah kenapa setiap melihat bayi itu, ia jadi teringat Radi. Padahal ayah kandung Lingga adalah Satria bukan Radi.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak bisa melupakanmu, Mas? Walau sudah berkali-kali kau menolakku, tapi hati ini masih menginginkan dirimu," gumamnya dengan hati pedih.
Wanita itu mengusap kening Lingga yang berpeluh. "Pada akhirnya ibu tetap tidak bisa memberikan seorang ayah padamu, Nak." Air mata Maya menitik. Ia merasa kasihan pada anaknya yang tidak bisa hidup bersama dengan Satria karena ayah kandungnya itu sudah menikah dengan wanita pilihannya dan akan memiliki anak. Selain itu, Maya juga menyayangkan bahwa Radi tidak bisa menjadi ayah bagi Lingga. Pria itu tetap berstatus sebagai seorang paman, walau Lingga memanggilnya dengan sebutan ayah sekalipun.
Tiba-tiba Maya mengingat momen di mana Fadhil memintanya untuk menjadi ibu Kei sekaligus menjadi istri bagi pria itu. Apakah dirinya terlalu sombong hingga dengan tak berperasaan menolak lamaran pria itu. "Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan?"
Malam itu mata Maya sulit terpejam. Ia sibuk memikirkan bagaimana kehidupannya dan Lingga ke depan. Apakah selamanya mereka hanya akan hidup berdua? Tidakkah dirinya menjadi ibu yang paling egois jika tak pernah menghadirkan sosok Ayah bagi Lingga karena terlalu terobsesi pada pria yang tak menginginkannya.
"Lingga, sayang. Ibu harus apa, Nak?"
.......
Di tempat lain, Fadhil juga tidak bisa tidur. Malam ini ia sungguh gelisah hingga matanya tak bisa terpejam. Perlahan ia bangkit dari berbaringnya, lantas berjalan ke luar menuju kamar sang putri.
Fadhil berjalan menghampiri dan naik ke ranjang Kei yang cukup besar. Ia memperbaiki letak selimut putrinya yang sudah tak beraturan.
"Kei, maafkan papa ya. Setelah membuatmu kecewa sekian lama, kini kau harus merasakan kecewa lagi. Tante cantikmu menolak papa, Nak. Dia tidak bisa menjadi ibumu." Dirapikannya rambut Kei yang menutupi wajah.
Melihat wajah Kei, mengingatkan Fadhil pada mendiang istrinya. "Alya, mungkin kau akan marah padaku karena telah membuat putrimu bersedih..." gumamnya.
__ADS_1
Mata Fadhil melirik sebuah figura foto yang berdiri di atas nakas. Itu adalah foto pernikahannya dengan ibunya Kei, yang bernama Alya. Di sana wajahnya terlihat sangat menyebalkan, tiada senyum seperti pasangan berbahagia lainnya. Pernah sekali Kei memarahinya karena tidak tersenyum saat berfoto bersama ibunya kala itu. Hampir semua foto yang bersama dengan ibunya Kei, Fadhil tak pernah tersenyum. Selalu menampilkan raut muka datar dan dingin. Pantas kalau putrinya itu sangat marah.
Alya, dia adalah seorang gadis manis yang sangat lugu. Dia dibesarkan di sebuah panti asuhan yang ada di kota mereka. Kebaikan, keramahan dan kesopanan gadis itu telah membuat Bu Maryam dan suaminya yang merupakan donatur tetap untuk panti itu, menjadi jatuh hati, hingga memutuskan untuk menjodohkan gadis itu dengan Fadhil. Awalnya Fadhil menolak menikah dengan Alya karena dirinya masih belum bisa move on dari wanita pertamanya, namun dengan segala paksaan kedua orang tuanya, akhirnya Fadhil pasrah dan menurut.
Di bulan pertama pernikahan mereka, Fadhil sama sekali tidak menganggap kehadiran istrinya, Alya. Ia masih belum bisa melupakan wanita masa lalunya, sampai mengabaikan hak dan kewajiban yang seharusnya di dapatkan oleh Alya. Bu Maryam yang menyadari hal itu hanya bisa menguatkan menantunya agar tidak menyerah. Dia juga tak lupa menasehati sang putra agar berubah dan mulai menerima Alya sebagai istrinya.
Di bulan keempat, Fadhil yang tak sengaja melihat Alya keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit tubuh sampai sebatas paha, tidak dapat lagi menahan hasrat kelaki-lakiaanya. Malam itu mereka melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya. Sejak saat itu, Fadhil merasa tubuh istrinya seperti candu, ia sering kali meminta Alya melayaninya. Dan sebagai istri yang baik, Alya menuruti semua permintaan suaminya. Perlahan... hubungan sepasang suami istri menghangat, sikap dingin Fadhil mulai mencair. Hal itu bisa terjadi karena Alya merupakan seorang istri yang baik, penurut, pengertian dan sangat tulus hingga Fadhil merasa nyaman.
Dua bulan kemudian, Alya dinyatakan hamil. Semua anggota keluarga bahagia mendengarnya, tak terkecuali Fadhil. Sebentar lagi ia akan menjadi ayah, dan rasanya sudah tidak sabar untuk menunggu kelahiran bayi mereka. Sebelum ini, Fadhil juga pernah merasakan hal yang sama, tapi itu tak berlangsung lama.
Semenjak kehamilan Alya, Fadhil menjadi semakin protektif. Perlahan rasa cinta untuk sang istri tumbuh di hatinya. Mereka melewati masa-masa kehamilan itu dengan bahagia. Sampai di suatu hari, Bu Maryam menjerit saat menemukan Alya jatuh di kamar mandi dengan genangan darah membasahi lantai.
Fadhil langsung menuju rumah sakit begitu mendapatkan kabar jatuhnya Alya. Nyawa pria itu seakan dicabut paksa dari raga ketika dokter menyatakan jika Alya kritis karena pendarahan hebat. Istrinya itu telah berhasil melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan, sangat cantik, wajahnya perpaduan antara Alya dan Fadhil. Pria itu memberi nama putrinya, Keinarra Asyakina Alfarendra.
Hanya semalam bertahan, keesokan harinya Fadhil harus berduka karena Alya memilih menyerah pada kondisinya. Pria itu benar-benar terpuruk hingga empat setengah tahun berlalu, ia tak mencari pengganti mendiang sang istri.
"Alya... aku sangat merindukanmu," lirih Fadhil. Tak terasa wajahnya sudah dibanjiri air mata saat harus mengenang masa lalunya yang begitu menyakitkan.
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih sudah baca😊