2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
I Love Him


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Cakra berdiam diri di dalam mobilnya. Ia masih memikirkan akan kemana dirinya setelah ini untuk mencari keberadaan Ajeng.


"Cakra bodoh!" rutuknya pada diri sendiri. Ia menyesal karena kemarin telah meninggalkan Ajeng seorang diri dalam keadaan sakit.


Tiba-tiba, Cakra teringat akan Dira. Ia berpikir jika saat ini Ajeng pasti mengunjungi putrinya itu di rumah sakit. Tanpa membuang waktu, ia langsung melajukan mobilnya.


.......


Ajeng masih memperhatikan Radi dengan seksama. Ternyata benar, debar yang dulu dirasakannya pada pria itu kini tidak ada lagi.


"Kenapa menatapku seperti itu, Jeng?" Radi yang menyadari jika sedari tadi ada yang memperhatikannya pun bertanya.


Ajeng tersentak, kemudian menggeleng pelan. "Tidak apa-apa kok, Mas. Aku hanya senang melihat kau yang begitu perhatian pada Dira."


Mendengar itu, Radi tersenyum. "Dira adalah harta berhargaku saat ini, tidak mungkin aku tidak memperhatikannya. Selain itu, bayi kecil nan cantik ini telah berhasil membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya." Jatuh cinta yang pertama, tentu saat bersama dengan Ajeng.


Ajeng mengangguk. Tidak hanya Radi yang mencintai putri mereka, tapi ia sebagai ibunya pun begitu.


Melihat keakraban Radi dan Dira, tiba-tiba Ajeng mengingat seorang wanita jahat yang sudah mneghancurkan rumah tangganya. Siapa lagi kalau bukan Maya. Seperti yang ia dengar, saat ini wanita itu tengah mengandung anaknya Radi. Apakah sikap Radi akan berubah pada Dira begitu anaknya dengan Maya lahir nanti? Hal itu sedikit banyaknya membuat Ajeng khawatir. Takut putrinya akan kekurangan kasih sayang sang ayah.


"Mas!" panggil Ajeng.


Radi yang sibuk bermain dengan anaknya sektika menolehkan kepalanya pada Ajeng. "Ya, kenapa?"


Ajeng diam sejenak. Sebenarnya ia sedikit ragu menanyakan hal ini, tapi rasa penasarannya butuh dituntaskan. "Ba-bagaimana keadaan wanita itu?" tanyanya kemudian.


Mendengar pertanyaan itu wajah Radi yang awalnya ceria langsung berubah masam. Ia langsung tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Ajeng. "Dia masih di penjara," jawabnya malas.


"Apa tidak masalah jika wanita hamil hidup di dalam penjara?" tanya Ajeng lagi.


Deg


Mata Radi membola. "Kau tahu?" Ia menatap Ajeng tajam.


"Ya, aku tahu. Saat ini dia sedang hamil anakmu kan, Mas?" Ajeng menarik sedikit sudut bibirnya ke atas. Sepertinya, hal yang ia takutkan tidak akan terjadi. Terlihat jelas dari raut wajah Radi bahwa pria itu tidak senang dengan kehamilan Maya.


"Jangan ingatkan aku lagi tentang hal itu! Kau membuatku semakin menyesal karena pernah mengabaikan dirimu dan lebih memilih wanita licik itu!" protes Radi memelas.


Ajeng tersenyum miring, bukannya dia senang melihat pennderitaan Radi, hanya saja... mengingat pengkhianatan pria itu, memang seperti itulah yang pantas dia terima.


"Kau tak ingin bertanggung jawab, Mas?" tanya Ajeng kembali. Ia tidak menghiraukan peringatan Radi yang memintanya untuk berhenti membahas Maya.


Radi menghempaskan napas kasar. Ajeng benar-benar berhasil merusak suasana hatinya yang sedang baik pagi ini. Perlahan pria itu membaringkan kembali Dira ke dalam inkubatornya. Ia tidak ingin membuat bayi cantik yang telah tertidur itu terusik dengan pembicaraan mereka yang sepertinya akan sangat panjang.


"Kita bicara di luar!" ajak Radi.

__ADS_1


Mereka duduk di bangku tunggu yang terletak tak jauh dari ruang NICU. Ajeng menyisakan jarak yang cukup lebar antara dirinya dan Radi saat duduk, tak ingin terlalu berdekatan.


"Jadi?" tanya Ajeng, memulai pembicaraan.


Sekali lagi Radi menghempaskan napas kasar. "Apa aku harus bertanggung jawab?" Ia menatap Ajeng dengan wajah putus asa.


"Apa kau yakin anak yang dikandung wanita itu adalah anakmu, Mas? Kalau kau yakin, berarti kau memang harus bertanggung jawab!" tekan Ajeng. Sampai saat ini, mulutnya masih tidak sudi untuk menyebut nama Maya, cukup dengan kata "Wanita itu'.


"Dulu aku pernah bertanggung jawab, tapi pada akhirnya hanya mendapatkan kekecewaan." Dulu Radi sangat menyayangi Lingga, tapi ternyata bayi tampan itu bukan darah dagingnya.


"Iya, tapi jika memang benar wanita itu mengandung anakmu, kau tidak bisa lepas fangan begitu saja, Mas. Jangan jadi pria pengecut untuk kesekian kalinya!" Ajeng memperingati.


Radi mengusap wajahnya lelah. "Entahlah... biarlah waktu yang menjawab semua permasalahan ini. Aku sudah capek jika harus memikirkannya."


"Baiklah," angguk Ajeng. Ia tidak ingin ikut campur lagi. Biarkan saja pria itu menyelesaikan sendiri masalahnya.


"Ajeng?" panggil Radi setelah suasana hening hampir semenit.


"Hm..." Ajeng menyahut, tapi pandangannya tetap lurus ke depan. Tidak menghadap pada lawan bicaranya.


"Apa kau yakin dengan keputusan kita untuk berpisah?"


Deg


Ajeng tersentak, ia langsung menoleh. "Maksudmu apa, Mas?" tanyanya tak suka.


"Jujur saja, aku tidak ingin kehilangan dirimu dan Dira. Aku mencintai kalian berdua..." ucapnya memelas.


"Jeng..." Radi melirih pilu. "Apa tidak ada rasa cinta yang tersisa sedikit lagi saja di hatimu untukku?" Pria itu masih terus berusaha. Selama palu pengadilan belum diketuk, ia akan coba untuk mempertahankan pernikahannya sekali lagi.


"Cinta itu masih ada, Mas. Sepuluh tahun kita bersama, tidak mungkin bisa aku menghilangkan rasa itu hanya dalam hitungan bulan."


Deg


.......


Cakra sampai di rumah sakit tempat Dira dirawat. Langkah kakinya harus berhenti saat melihat wanita yang dicarinya sedang duduk bersama dengan seorang pria.


"Ajeng dan Radi?" gumamnya. Pria itu tidak langsung menghampiri, ia memilih bersembunyi di balik dinding dan mendengarkan apa yang dua orang itu bicarakan. Untung saja dari tempatnya berdiri, pembicaraan Ajeng dan Radi terdengar, walau tidak terlalu jelas.


"Cinta itu masih ada, Mas. Sepuluh tahun kita bersama, tidak mungkin bisa aku menghilangkan rasa itu hanya dalam hitungan bulan."


Deg


Jantung Cakra serasa berhenti berdetak saat mendengar pengakuan Ajeng. Berarti selama ini perjuangannya untuk mendapatkan wanita itu sia-sia saja, buktinya Ajeng masih mencintai suami yang sudah mengkhianatinya itu.


Tak ingin mendengar lebih jauh lagi, Cakra berbalik pergi. Jika memang Ajeng ingin kembali pada Radi, ia rela.

__ADS_1


"Tapi rasa cintaku padamu saat ini sama seperti rasa cinta yang ku rasa saat pertama kali kita bertemu, yaitu sebagai saudara, Mas."


Deg


Mendengar sayup-sayup lanjutan kata Ajeng, membuat Cakra membeku, langkah kakinya terhenti.


"Saat ini ada seorang pria yang sangat aku cintai, dan aku ingin bersama dengannya."


"Ajeng..." liirh Cakra haru. Ia sangat yakin jika pria yang dimaksud Ajeng adalah dirinya, tidak salah lagi.


.......


"Cakra, kah?" Radi tertunduk lesu.


"Kau tahu benar siapa pria itu, Mas. Ya... dia adalah mas Cakra. Dia yang telah mengobati luka yang dihadirkan olehmu. Dia yang menghibur disaat aku bersedih karenamu, dan dia yang menguatkan disaat aku lemah tanpamu. Aku sangat mencintainya, Mas." Ajeng menitikkan air mata. Kini ia yakin pada perasaannya. Namun, mengingat sikap Cakra kemarin, mau tak mau membuatnya kembali sedih. Apakah masih ada harapan akan hubungan mereka?


"Ajeng!" Sebuah suara hadir tepat di belakang Ajeng. Wanita itu segera menoleh setelah mengetahui jika itu adalah suara Cakra.


"Mas Cakra..." Tak terasa cairan bening mengalir deras dari kedua netra Ajeng.


Mereka berdua berjalan mendekat. Saat jarak hanya tinggal satu langkah lagi, Cakra segera menarik Ajeng ke dalam dekapannya.


"Ajeng, maafkan aku..." bisik Cakra lirih.


"Seharusnya aku yang minta maaf, Mas. Aku sudah membuatmu bingung dengan hubungan kita," sela Ajeng.


"Sudahlah, itu tidak penting lagi." Cakra melepas pelukannya. Ia merangkum wajah Ajeng dan menatap penuh cinta pada mata indahnya.


"Apa kau baik-baik saja? Apa perutmu masih sakit? Apa jaitannya berair lagi?" tanya Cakra bertubi-tubi.


Ajeng tersenyum dengan air mata yang setia mengalir. Ia sungguh merindukan perhatian Cakra. "Aku merasa semakin baik saat kau tak lagi mengabaikanku, Mas. Rasanya sangat sakit disaat kau bersikap dingin padaku. Jujur aku tidak sanggup."


Cakra mengusap pipi Ajeng, menghalau air mata yang membasahinya. "Maaf, aku sangat menyesal melakukan semua itu."


"Bagaimana denganmu, Mas? Apa kepalamu baik-baik saja?" Tangan Ajeng terangkat untuk menyentuh kening Cakra yang diperban.


"Ini hanya luka kecil. Kau tidak perlu cemas."


"Apa tidak sebaiknya kita melakukan Ct-scan saja, Mas? Takutnya nanti ada penyakit yang muncul disebabkan trauma saat kecelakaan itu. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Iya kan, Mas?"


"Iya, sayang. Mau temani aku bertemu dokter?"


"Tentu, tapi aku ingin pamitan dulu sama Mas Radi...."


Ajeng berbalik, namun keberadaan Radi tak lagi tampak. Ternyata, suami Ajeng itu memilih undur diri disaat dua orang itu tengah berpelukan mesra.


...Bersambung...

__ADS_1


Semoga masih ada yang baca....


Terima kasih😊


__ADS_2