2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
I'm Pregnant


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Ajeng sampai di pelataran kantor suaminya. Wanita itu tidak langsung pulang ke rumah sang mertua, melainkan menemui Cakra untuk memberitahukan kabar bahagia mengenai kehamilannya. Semua orang di kantor mengenal Ajeng sebagai istri bos mereka, jadi wanita itu bisa melenggang bebas keluar masuk tanpa harus izin terlebih dahulu.


"Dasar tidak becus! Jika kau memang tidak berniat bekerja, lebih baik berhenti saja!"


Samar-sama Ajeng mendengar suara teriakan lengking seorang wanita saat ia menyusuri koridor. Ia berhenti sejenak demi mendengarkan suara itu dengan seksama.


"Maaf, Buk. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi!" cicit wanita lainnya yang menjadi sasaran kemarahan si wanita pertama.


"Omong kosong! Kau itu karyawan baru di sini, jadi sadarlah dengan posisimu! Jangan bertindak sesuka hati!" Suara dengan nada tinggi itu terdengar lagi.


Ajeng yang ingin kembali melanjutkan langkah, jadi menghentikan niat. Ia merasa penasaran apa yang sebenarnya tengah diperdebatkan oleh dua orang wanita di dalam sana. Ia memutuskan untuk masuk.


"Sebaiknya kau mengundurkan diri saja dari perusahaan ini. Saya sudah muak melihat wajahmu!"


"Buk, maafkan saya..."


"Ada apa ini?" Ajeng melewati beberapa kubikel hingga sampai di sebuah meja yang terletak di sudut, terpisah dengan yang lainnya. Ajeng tahu jika pemilik meja tersebut memiliki jabatan lebih tinggi daripada pemilik meja lainnya di ruangan itu.


"Bu Ajeng?" Seorang wanita berumur awal 40an, mengenakan kacamata, berdiri dan menyambut kemunculan istri bosnya itu. "Apa ada yang bisa saya bantu, Bu?" Suara yang tadi berteriak lantang kini berubah menjadi manis dan lembut saat berhadapan dengan Ajeng.


"Aku mendengar suara keributan, ada apa?" tanya Ajeng tenang. Ia melirik wanita lainnya yang tertunduk lemah di samping meja kerja.


"Maafkan saya atas keributan ini, Bu. Ini semua karena bawahan saya yang tidak becus." Wanita berkacamata itu melirik sinis bawahannya yang setia menunduk.


"Sekarang coba jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi?" tuntut Ajeng. Ia ingin membantu, rasanya iba melihat wanita yang menjadi bulan-bulanan kemarahan si wanita berkacamata itu hanya bisa tertunduk malu. Apalagi dia dimarahi di depan semua karyawan yang ada di dalam ruangan.


"Baik. Silakan duduk dulu, Bu!" Wanita berkacamata bernama Sinta itu mempersilakan Ajeng duduk. Setelahnya ia juga turut duduk di kursi kebesarannya.


"Duduklah di sini!" pinta Ajeng pada bawahan Sinta.


"I-iya, Bu." Wanita itu mengangguk dan duduk perlahan di kursi yang terdapat di sebelah Ajeng.


"Jelaskan!" Bukannya Ajeng ingin ikut campur, tapi ia tidak bisa membiarkan jika terjadi ketidakadilan di kantor suaminya ini.


"Dia, Bu!" Sinta menunjuk wanita di sebelah Ajeng. "Dia baru bekerja dua minggu di perusahaan ini, tapi sering sekali melakukan kesalahan dalam bekerja. Selain itu, dia juga sering keluar kantor dan bahkan kemarin, dia pergi dari siang dan tidak kembali lagi. Dia pikir ini kantor nenek moyangnya yang bisa ia kunjungi kapan saja dia meninginkannya," jelas Sinta kesal.


Ajeng menghembuskan napas pelan. Ia merasa kata-kata yang dilontarkan Sinta itu sedikit kasar, tapi ia tidak ingin membahas hal itu sekarang. Kemudian ia melirik wanita di sebelahnya. "Siapa namamu?" tanyanya ramah.


Wanita itu mengangkat sedikit kepalanya. "Niken, Bu." Ia menjawab pelan.


"Benar apa yang dikatakan oleh Bu Sinta?" tanya Ajeng memastikan.


Kepala wanita itu mengangguk pelan. "Maafkan saya, Bu."


"Apa ada alasan dibalik itu semua?" Ajeng tidak ingin menyalahkan ataupun menghakimi. Ia ingin memastikan semuanya jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Saya punya seorang anak yang berumur 4 tahun, Bu. Dia sudah duduk di taman kanak-kanak, tidak ada yang menjemput dan menjaganya selain saya.." jawabnya.


"Lalu, suamimu?"


"Dia di rumah sakit, sudah sebulan ini koma karena kecelakaan."


Deg


Ajeng terhenyak. Kasihan sekali wanita ini, pikirnya.


"Kenapa kau tidak fokus saja merawat anak dan suamimu, dari pada harus bekerja dan meninggalkan mereka."


Niken mendongak. "Saya butuh uang, Bu."


Deg


Ajeng tersentak. Ia merasa bodoh sendiri. Seharusnya ia tahu jika saat ini wanita itu membutuhkan uang yang banyak untuk biaya pengobatan suaminya. "Maafkan saya..."


"Ti-tidak apa-apa, Bu."


Ajeng berpikir sejenak. "Bu Sinta!" panggilnya kemudian.


"Ya, Bu?" sahut Sinta cepat.


"Apa anda akan memberikan kesempatan? Anda sudah mendengar sendiri 'kan alasan bawahan anda melakukan kesalahan, saya harap anda bisa memberikan sedikit keringanan mengingat kesusahan yang kini sedang dihadapinya."


"Iya, Bu. Saya akan mempertimbangkannya."

__ADS_1


"Dan Niken, saya harap mulai sekarang kau bisa lebih fokus bekerja. Tidak apa-apa jika kau ingin menjemput anak maupun mengurus suamimu, tapi jangan lupakan juga tugasmu di kantor. Jika memang terpaksa, beritahu dan jelaskan pada Bu Sinta agar beliau paham dan mengerti keadaanmu."


"Iya, Bu."


"Ya sudah, kalau kau butuh sesuatu, bisa menghubungiku. Aku akan membantumu..." ucap Ajeng.


"Terima kasih banyak, Bu."


"Sama-sama, kalau begitu saya pamit. Kembalilah bekerja!" Ajeng bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan tempat.


"Kembali ke tempatmu!" titah Sinta pada Niken. Wanita berkacamata itu sedikit tidak senang, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa jika istri bosnya sudah turun tangan.


"Terima kasih, Bu." Niken menghembuskan napas lega dan kembali ke kubikelnya.


Niken Ayudisa, orang yang baru mengenalnya biasa memanggilnya dengan panggilan Niken, tapi bagi orang-orang terdekat, termasuk keluarga, lebih suka memanggilnya dengan Disa, nama belakangnya.


"Untung saja ada Bu Ajeng, kalau tidak kau bisa habis sama si nenek lampir itu?" bisik teman wanita yang duduk di sebelah Disa. Semua bawahan Sinta memang sering dimarahi oleh atasannya itu. Baik itu masalah sekecil apapun, pasti akan jadi besar jika sudah berurusan dengannya.


"Omong-omong, Bu Ajeng itu siapa?" tanya Disa berbisik.


"Istrinya bos."


"Huh? Maksudmu istrinya Pak Cakra?" tanya Disa memastikan. Setahunya, dulu semasa kuliah Cakra menjalin hubungan dengan seorang mahasiswi kedokteran bernama Silvia. Apa mereka tidak menikah, ya? pikirnya. Soalnya, setelah pulang ke kempung halamannya, Disa sama sekali tidak mengetahui kabar dari orang-orang yang pernah dekat dengannya.


"Iya. Mereka baru menikah beberapa bulan yang lalu. Istri pertama Pak Cakra itu bernama Silvia. Mereka bercerai karena Bu Silvia ketahuan berselingkuh dan hamil anak dari pria selingkuhannya," terang wanita di sebelah Disa.


Deg


"Huh?" Disa terganga tidak percaya, mengingat jika zaman kuliah dulu, Cakra dan Silvia terlihat saling mencintai. Bahkan ia hanya bisa menahan rasa cemburu ketika melihat dua orang itu bermesraan di area kampus. "Sangat tidak bersyukur si Silvia itu, padahal apa kurangnya Pak Cakra," batin Disa geram.


"Benar. Aku juga mendengar jika Bu Ajeng berpisah dari suami pertamanya karena suaminya itu juga selingkuh."


"Sama-sama menjadi korban perselingkuhan dong," ucap Disa sedikit terkekeh.


"Ya, begitulah. Namun, aku senang karena Pak Cakra mendapatkan istri seperti Bu Ajeng. Selain cantik, baik dan juga ramah, Bu Ajeng itu adalah pemilik dari salah satu perusahaan besar di Jakarta ini. Bahkan perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaan beliau. Entah apa yang ada di pikiran mantan suaminya sampai tega menyakiti wanita sesempurna itu. Aku tak habis pikir."


"Ah, sudahlah. Memang jalan hidupnya seperti itu. Sebaiknya sekarang kita lanjut bekerja sebelum ketahuan bergosip oleh si nenek lampir," ucap Disa.


"Haha, kau benar."


.......


"Selamat siang, Bu Ajeng. Silakan masuk, Pak Cakra ada di dalam ruangannya," sahut Dhika.


"Terima kasih."


Ajeng menekan hendel pintu dan mendorongnya.


Cklek


Pria yang tengah sibuk menekuri berkas-berkas di atas meja langsung mendongak saat mendengar suara pintu terbuka.


"Sayang..." Cakra bangkit dari duduknya dan berlari kecil menghampiri Ajeng.


"Sibuk ya, Mas?" tanya Ajeng.


Cakra menggeleng. "Hanya mempelajari beberapa berkas. Tumben kemari?" Cakra mengajak istrinya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut .


"Kangen..." bisik Ajeng di telinga Cakra.


"Ya sudah, ayo!" ajak Cakra semangat. Ia berdiri cepat lantas mengulurkan tangan, mengajak.


Ajeng menautkan alis. "Ayo? Memangnya mau kemana, Mas?" tanya wanita itu bingung.


"Ke kamar, tapi katanya kangen..." sahut Cakra dengan wajah polosnya.


"Ya ampun, Mas!" Ajeng memukul gemas paha suaminya. "Bukan itu maksudnya!"


"Oh, hehe... Kirain sayangku ini kangen enak-enak," ujar Cakra cengengesan.


"Ish, aku bukan kamu ya, Mas!" protes Ajeng.


"Iya-iya..."


"Duduk sini, Mas!" Ajeng menarik tangan Cakra agar duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Ada apa, sayang? Mas merasa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan," tebak Cakra.


Ajeng tersenyum. "Hm... aku ngidam rujak loh, Mas. Beliin, ya?" pintanya.


Cakra sedikit terlonjak begitu mendengar kata ngidam keluar dari mulut istrinya, yang ada dibayangannya saat ini adalah Ajeng hamil dan tengah menginginkan sesuatu untuk dimakannya. Ah... andaikan semua itu terjadi. Namun, Cakra segera menghalau jauh pemikiran itu, karena yang ia tahu jika saat ini Ajeng sedang datang bulan, dan tidak mungkin hamil.


"Mas minta Dhika yang belikan, ya?" kata Cakra, bersiap memanggil sekretarisnya.


Ajeng langsung cemberut. "Tapi dedek ingin papa yang membelikannya rujak!"


Deg


Cakra menatap istrinya tajam. "Jangan membuat lelucon seperti itu sayang, aku tidak suka!" Ia memperingatkan.


Ajeng mencebik. Tangannya mulai mengusap-usap pelan perutnya yang masih rata. "Dek, papa nggak mau membelikan kita rujak. Nanti biar mama saja yang membelikanmu rujak. Sabar ya, sayang..." lirih Ajeng yang masih tertangkap jelas di indra pendengaran Cakra.


"Sayang, jangan bercanda! Ini sungguh tidak lucu!" protes Cakra.


"Sayang, papa nggak percaya kalau sekarang ada kau di dalam perut mama..." Ajeng kembali berbicara dengan pandangan tertuju pada perutnya.


Cakra mengerang frustasi. Apa istrinya stress karena belum kunjung hamil?


"Ajeng, tatap aku!" Cakra memegang kedua bahu Ajeng dan mengarahkan tubuh itu ke hadapannya. "Kau baik-baik saja, kan?"


Ajeng tersenyum lebar. "Baik, anak kita di dalam sini juga baik-baik saja." Lagi dan lagi, wanita itu mengusap perutnya.


"Sayang, dengarkan aku!" Cakra menatap intens mata Ajeng. " Jujur, aku tidak masalah jika kita harus menunda memiliki anak terlebih dahulu. Ini semua demi kebaikanmu. Jadi jangan bertingkah seperti ini, sayang. Mas khawatir!" Pria itu mendesah lemah.


"Mas kenapa? Apa Mas tidak senang mendengar kehamilanku?" tanya Ajeng sendu.


"Jika kau memang hamil, maka aku adalah orang yang paling bersuka cita untuk itu, tapi masalahnya adalah kau tidak hamil, jadi stop bertingkah seakan-akan kau itu hamil. Cukup, sayang. Mas sakit melihatnya!" mohon Cakra.


"Eh?" Ajeng melongo. Apa ia belum memberitahukan pada suaminya perihal kehamilan ini? "Dasar bodoh!" rutuknya seteah mengingat jika ia belum melakukannya.


"Kau mengatai suamimu, sayang?" Mata Cakra memicing.


"Sebentar, Mas. Aku lupa. Hehe..." Ajeng meraih tasnya dan merogoh sesuatu di dalamnya. Sebuah amplop putih yang diatasnya bertuliskan nama sebuah rumah sakit ternama. "Ini, Mas!" Ia segera menyerahkan amplop itu pada Cakra.


"Apa ini?" Cakra mengambil amplop yang disodorkan Ajeng dan membukanya.


Beberapa detik terlampaui. Ajeng tak sabar menunggu reaksi suaminya.


Tangan Cakra bergetar saat matanya membaca deretan kata yang ada di kertas dalam amplop tersebut. Selain itu ada juga foto hitam putih yang menyertainya. Ia sangat tahu foto apa itu, yaitu hasil print out USG.


"Ini apa, Jeng. Jelaskan!" tuntut Cakra. Ia tidak ingin salah paham dan berujung kecewa.


"Aku hamil, Mas. Aku hamil!"


"La-lalu datang bulannya?"


"Hehe, itu bukan datang bulan, Mas. Itu hanya flek yang keluar karena aku terlalu banyak pikiran."


"Jadi? Kau benar-benar hamil?" Sekali lagi pria itu memastikan.


"Iya, Papa. Saat ini ada adiknya Dira di dalam perut mama."


"Serius?" Mata Cakra mulai berkaca-kaca.


"Iya, Mas. Aku hamil." Ajeng jadi jengkel karena Cakra tidak mempercayainya. "Coba saja rasakan!" Ajeng meraih tangan Cakra dan menempelkan telapak tangan lebar itu di perutnya.


Cakra meraba perut istrinya. Walau perut itu masih datar, tapi ia bisa merasakan suatu getaran di hati saat menyentuhnya. Seperti ikatan batin.


"Ada calon anakku di dalam sini?" Cakra bertanya dengan air mata tumpah ruah dari netranya.


"Iya..."


PLUKK


Cakra langsung mendekap Ajeng dengar erat. "Terima kasih, sayang. Terima kasih banyak." Dilepasnya pelukan itu, dan berlanjut dengan memberikan banyak kecupan di wajah Ajeng. Dari kening, kedua pipi, hidung dan bibir.


"Ayo, sayang. Kita cari rujak! Tiba-tiba aku juga ingin makan rujak." Dengan semangat Cakra bangkit dan mengajak sang istri untuk berburu rujak.


Ajeng tertawa. "Ayo, Mas!" Ia menyambut uluran tangan sang suami. Pasangan itu keluar ruangan dengan wajah berseri-seri.


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih sudah membaca😊


__ADS_2