2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 16. Romantisme Pasangan


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Dira termenung di depan jendela kamarnya yang terbuka. Semilir angin yang berhembus malam itu terasa mulai menusuk masuk melalui pori-porinya, menyisakan rasa dingin yang membuat tubuh sedikit menggigil.


Dira memeluk tubuhnya sendiri agar hawa dingin yang dirasa bisa sedikit berkurang. Sejurus kemudian, ingatannya kembali melayang pada kejadian tadi siang. Bagaimana eratnya Lingga memeluk tubuhnya.


Aneh, sebelumnya gadis yang sebentar lagi akan memasuki usia 18 tahun itu tidak pernah membiarkan lelaki manapun memeluknya selain keluarga, termasuk Alvin yang sudah menjalin hubungan sekian lama dengannya. Namun, kenapa saat bersama dengan Lingga, prinsipnya itu terpatahkan begitu saja. Justru, ia merasa sangat nyaman saat berada dalam pelukan Lingga. Terasa hangat dan terlindungi.


"Lingga..." Satu nama lolos begitu saja dari mulut Dira. Ada rasa berdebar dalam dadanya ketika menyebut nama pemuda tampan itu. Rasanya tak percaya bahwa kini ia telah menjalin cinta dengan sepupunya sendiri. Entah bagaimana tanggapan orang tuanya nanti, begitu juga dengan Satria, selaku ayah dari Lingga.


Jujur, Dira bahagia memiliki Lingga sebagai kekasihnya. Namun, pantangan Ajeng yang melarang semua anak-anaknya untuk berpacaran, membuat ia sedikit khawatir. Jika ibunya itu tahu, pasti beliau akan kecewa sekali. Dira tidak mau itu terjadi, so... saat ini ia dan Lingga menjalani hubungan diam-diam atau bahasa kerennya backstreet. Hanya teman-temannya di sekolah yang tahu. Dira berharap, hubungan percintaannya dan Lingga akan lancar sampai ia mendapatkan gelar sarjana nanti. Memang, butuh waktu kurang lebih empat tahun untuk mendapatkannya, tapi ia berharap hubungannya dan Lingga bisa bertahan selamanya.


Dira merasa jika udara menjadi semakin dingin, jadi ia memutuskan untuk menutup jendela dan mulai beristirahat. Tak lama setelah merebahkan diri di tempat tidur, dering ponsel yang tergeletak di atas nakas menyita perhatiannya. Dira meraih benda canggih itu dan melihat ada sebuah pesan di salah satu aplikasi chatting terpopuler, berasal dari seseorang yang sedari tadi dipikirkannya. Tanpa membuang waktu, ia langsung membuka pesan tersebut.


Lingga P. Dewangga


Good night, sleep tight and have a nice dream. Ily...❤️


Setelah membaca pesan itu, sebuah senyuman terbit di wajah cantik Dira. Hatinya berbunga-bunga. Tak lama setelah itu, ia mengetik balasan untuk kekasihnya.


Pesan terkirim dan selang beberapa detik langsung centang dua berwarna biru, yang artinya pesan itu sudah dibaca si penerima.


Dira melirik nama kontak Lingga yang tersimpan di ponselnya. Ia merasa sudah saatnya untuk mengganti nama kontak tersebut dengan nama yang lebih manis. Ia pun memikirkan nama yang bagus.


Beberapa saat kemudian, Dira sudah menemukan nama yang pas. Ia langsung menggantinya.


"Sekarang terlihat lebih manis." Dira tersenyum melihat nama kontak baru Lingga di ponselnya.


Beloved❣️


......................


Di lain tempat, Lingga tengah menatap ponselnya dengan senyum yang tak pernah pudar. Ia baru saja mendapatkan balasan pesan dari sang pujaan hati. Isinya sederhana, namun penuh makna untuk dirinya.


Mine💕


I love you, too. Good night.


Impian Lingga selama ini telah terwujud. Apalagi kalau bukan menjadikan Dira sebagai kekasihnya. Untuk saat ini, hanya status itu yang bisa ia berikan. Seiring berjalannya waktu, semakin bertambah usia dan kematangannya, maka Lingga akan segera melamar Dira untuk menjadi miliknya secara resmi, istrinya dan calon ibu dari anak-anaknya nanti.


Memikirkan semua itu, membuat Lingga tidak sabar untuk segera bertumbuh dewasa. Setelah lulus sekolah menengah atas, ia akan masuk akademi kepolisian untuk bisa meneruskan jejak ayah sambungnya, Fadhil yang berprofesi sebagai polisi.


"Nak, apa yang kamu lakukan di luar malam-malam begini?" Sebuah tepukan diberikan oleh sosok yang kini sudah berdiri di belakang Lingga.


Pemuda itu sedikit kaget, namun bisa menguasai diri dengan cepat. Ia menoleh ke belakang dan menemukan sang ayah.


"Pa..." sapanya. Baru saja dipikirkan, Fadhil sudah muncul saja.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanya Fadhil pada Lingga. Ia mendudukkan diri di samping putra sambungnya itu.


Lingga menggeleng. "Hanya sedang ingin menikmati angin malam, Pa. Suntuk berada di rumah."


"Angin malam tidak baik, nanti kamu masuk angin," peringat Fadhil.


Lingga tersenyum seraya menunjukkan jaket yang dipakainya. "Tidak terlalu dingin 'kok, Pa. Lagi pula aku sudah memakai baju hangat."


"Hm, sebentar lagi ujian akhir. Setelah lulus, rencananya mau kuliah di mana?" tanya Fadhil.


Lingga terdiam, ia sama sekali belum membicarakan masalah ini pada kedua orang tuanya. Mungkin inilah saatnya.


"Aku akan masuk akademi kepolisian, Pa. Aku ingin jadi polisi seperti papa," jawabnya.


Fadhil tersenyum haru. Ia bangga memiliki putra seperti Lingga yang mau meneruskan perjuangannya.


"Yakin? Kamu nggak mau jadi dokter seperti Papa Satria?" goda Fadhil.


Lingga terkekeh. "Aku sama sekali tidak berminat di bidang itu, Pa. Lagi pula aku anak sosial, rasanya lebih cocok dengan profesi polisi daripada dokter seperti papa Satria."


Fadhil mengacak pelan surai lebat putranya. "Ya sudah, nanti kalau butuh saran, bicara langsung sama papa. Sebisa mungkin, papa akan membantumu."


"Makasih, Pa. Papa memang yang terbaik!" Lingga mengangkat jempolnya.


Fadhil terkekeh. "Masuklah! Sudah waktunya istirahat, papa ke dalam dulu. Mungkin mama sudah merindukan papa..." kelakarnya.


"Haha... baiklah."


Selepas kepergian Fadhil, Lingga hanya bisa geleng-geleng kepala. Orang tuanya itu memang selalu romantis, seringkali membuat iri jomblo sepertinya. Upps... tapi sekarang tidak lagi. Ia sudah memiliki Dira.


"Sebaiknya aku tidur sekarang. Semoga bisa bertemu Dira di dalam mimpi," gumamnya seraya bangkit dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Fadhil masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya sedang menyisir rambut di depan cermin. Langsung saja dihampirinya.


"Kamu cantik malam ini..." bisik Fadhil tepat di telinga Maya. Setelah berbisik, ia mengecup mesra pipi istrinya itu.


Maya menatap suaminya dari dalam cermin. "Jadi kemarin malam aku tidak cantik?"


Fadhil tersenyum dan menggeleng. "Bukan, maksudnya... setiap hari istri mas ini terlihat semakin cantik," ralatnya.


Maya mendengus. "Udah tua, masih juga suka gombal!"


"Tua-tua begini, mas masih sanggup membuatmu lemas, loh."


Deg


Dengan gerakan cepat, Fadhil langsung menggendong Maya ala bridal.

__ADS_1


"Mas!" protes Maya yang kaget dengan perlakuan mendadak suaminya. Ia melingkarkan tangan di leher kekar itu agar tidak terjatuh.


"Bikin adik buat Lian, Yuk!" ajak Fadhil.


Tangan Maya langsung memukul punggung suaminya. "Udah tua, Mas! Jangan aneh-aneh, deh!"


"Aneh gimana? Kamu 'kan belum menopouse. Jadi masih bisa melahirkan."


"Nggak mau ah, Mas. Anak-anak udah besar semua, nanti mereka malu. Masa udah gede malah punya adik bayi!"


"Ya udah, deh. Nggak usah bikin bayi, bikin suami bahagia aja." Fadhil segera membaringkan tubuh Maya di peraduan. Memulai malam mereka yang penuh gairah.


......................


Cakra tidur sambil memeluk tubuh Ajeng. Pria itu merasa sangat bahagia saat dokter mengatakan jika istrinya tengah mengandung buah cinta mereka untuk yang ketiga kalinya. Walaupun kehamilan di umur empat puluh ke atas sangat beresiko, tapi Cakra berjanji akan menjaga dan memastikan kesehatan ibu dan calon anaknya.


"Mas!" panggil Ajeng yang bersembunyi di dada Cakra. Wanita itu sedari tadi gelisah, memikirkan kehamilannya yang keempat ini, hingga membuatnya tak bisa tidur.


"Hm... kenapa, sayang?" tanya Cakra yang masih berupaya untuk memejamkan mata.


"Mas, aku takut..." lirih Ajeng.


Cakra membuka mata dan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Ajeng yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Takut kenapa, hm?" Cakra merangkum pipi gembil istrinya.


"Reaksi anak-anak nanti gimana ya, Mas? Aku takut mereka marah..."


Ajeng dan Cakra memang belum memberitahukan perihal kehamilan Ajeng. Rencananya, malam besok ia akan mengadakan makan malam di kediaman orang tuanya dan turut mengundang keluarga kakaknya. Di acara itu ia akan mengumumkan kabar bahagia ini.


"Sayang, dengar! Anak-anak nggak mungkin marah. Mereka pasti senang karena akan mendapatkan adik baru," jelas Cakra.


"Tapi mereka sudah pada besar, Mas. Mereka pasti malu kalau harus punya adik bayi lagi." Ajeng galau.


"Sudahlah, jangan berpikiran buruk! Kita tahu sifat anak-anak kita itu seperti apa. Mereka pasti akan senang. Percaya sama mas." Cakra memberi pengertian.


Ajeng menghela napas. "Hm... semoga saja."


"Ayo, tidur! Sudah malam, baby butuh istirahat."


"Ya, selamat tidur, Mas."


"Selamat tidur, sayang. Aku mencintaimu." Cakra kembali memeluk tubuh Ajeng. Mereka berdua perlahan masuk ke alam mimpi.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote dan Comment..

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊


__ADS_2