2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Finally...


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Sorenya, setelah Ajeng pulang dari kantor, Radi segera membereskan pekerjaannya yang tersisa, lantas melesat pulang setelahnya. Ia ingin menemui dua orang yang mulai mengisi hati dan hari-harinya.


Sampainya di rumah, Radi menemukan Reyhan sedang bermain sendiri di atas karpet berbulu di ruang tengah. Ia menatap sendu, biasanya ia akan menemani bocah itu bermain di saat jam seperti ini, sepulang dari kantor.


Radi berjalan pelan menghampiri tubuh Reyhan yang memunggungginya. "Hei, jagoan!" Sampai di belakangnya, ia menepuk pundak mungil itu.


Reyhan terperanjat saat Radi mengagetkannya, batita itu langsung menoleh ke belakang.


"Om Adi..." pekiknya dengan mata berbinar senang. Ia berdiri dan menubruk kaki Radi dan memeluknya erat. "Om Adi ana aja? Lehan tanen?" tanyanya. (Om Radi ke mana saja? Reyhan kangen)


Radi terenyuh, ia berjongkok dan membawa Reyhan ke dalam pelukannya. "Maafkan om ya, jagoan."


"I-ya, pi anan pegi ladi ya, Om?" pinta Reyhan yang sudah mengalungkan kedua tangannya di leher Radi, manja. (Iya, tapi jangan pergi lagi ya, Om)


"Iya, Nak." Radi melepas pelukan Reyhan dan memandang wajah bocah manis tersebut.


Deg


"Kok nangis?" Radi kaget saat melihat wajah Reyhan memerah dan dihiasi oleh air mata.


"Lehan tanen ain ma Om," ujarnya terisak. (Reyhan kangen main sama, Om)


"Om juga, Nak." Radi tersenyum dan menghapus air mata di pipi jagoannya. "Oh ya, bunda mana?" tanyanya ketika tidak melihat kehadiran Rina dimana pun.


"Andi..." jawabnya. (Mandi)


"Oh, ya sudah. Sembari kita menunggu bunda, ayo kita main!" ajaknya.


"Ayo...." sorak si kecil Reyhan semangat.


.......


Rina menatap penampilannya di cermin, ia ingin mengubah sedikit penampilannya yang kampungan itu agar bisa terlihat baik di mata Radi. Sungguh ia sangat malu saat bertemu dengan Ajeng siang tadi, dan kini ia bertekad untuk memperbaiki diri agar menjadi pantas mendampingi Radi. Sekarang loose dress berbahan jatuh sudah membalut tubuh mungil Rina sampai betis. Dress itu Radi yang membelikannya bersama dengan baju pesta beberapa waktu yang lalu.


Malam ini, Rina berencana menunggu Radi pulang. Ia ingin meminta maaf sekaligus mengklarifikasi jawabannya atas lamaran Radi seminggu yang lalu. Hampir sepuluh bulan tinggal bersama dalam satu atap, membuat sebuah rasa timbul di dalam hati Rina untuk Radi. Apalagi atas semua kebaikan yang sudah dilakukan pria itu padanya dan juga Reyhan. Di malam penolakan, Rina hanya terlalu shock hingga tidak bisa berpikir dengan jernih dan langsung menolak iktikad baik dari majikannya itu.


Rina duduk di depan meja Rias, ia meraih botol pelembab wajah dan mengoleskan krim lembut itu di wajahnya, hingga wajahnya yang kusam bisa terlihat lebih cerah. Tak lupa juga, wanita itu mengoles lip balm di bibirnya agar tidak kering seperti orang yang kekurangan air.


"Semoga Tuan Radi pulang malam ini." Rina memperhatikan wajahnya di cermin, ia merasa jika dirinya tidak terlalu buruk. Lumayan manis untuk ukuran perempuan kampung yang masuk kota.


Tiba-tiba teringat percakapannya dan Ajeng siang tadi, hal itu merupakan salah satu pemicu mengapa Rina ingin mengungkapkan perasaannya pada Radi malam ini.

__ADS_1


"Rin, jangan terlalu lama berpikir. Tadi kau mengatakan jika pria itu baik, kaya, pokoknya dia sangat sempurna, pasti di luar sana banyak wanita yang menginginkan dirinya. Kalau kau terlambat bertindak, maka nanti dia akan berubah pikiran atau bisa saja direbut wanita lain."


Rina menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin apa yang diucapkan Ajeng tadi terjadi. Jika Radi bersama wanita lain, bagaimana nasibnya dan Reyhan nanti? Mereka sudah lama bersama dan tidak ingin dipisahkan.


"Reyhan? Aku sudah terlalu lama meninggalkannya." Rina segera bangkit dan menyusul sang anak yang sedang bermain sendiri di ruang tengah.


Belum sampai di tempat yang dituju, sayup-sayup Rina bisa mendengar suara Reyhan tertawa. Nadanya terdengar sangat bahagia. Buru-buru Rina berjalan untuk mengecek keadaan putranya itu. Bersama siapakah Reyhan bermain?


Deg


Saat kakinya sampai di ruang tengah, jantung Rina langsung berdetak begitu melihat jika di sana ada Radi yang sedang bermain gembira dengan Reyhan. Permohonannya agar Radi pulang cepat malam ini terkabul sudah, tapi... ia belum sempat menyusun kata-kata yang akan diucapkannya pada pria itu nanti. Bagaimana in?


"Buna..." Reyhan yang melihat penampakan sang ibu, langsung berteriak memanggilnya.


Rina terlonjak, apalagi saat Radi menoleh dan menatapnya, tubuh wanita itu langsung bergetar hebat. Ia malu sekaligus gugup.


"Rin..." Melihat kemunculan Rina, Radi bangkit dari duduknya di atas karpet berbulu. "Jagoan, main sendiri dulu, ya?" katanya pada Lingga.


Lingga mengangguk. "Ote..." ucapnya. (Oke)


Radi berjalan menghampiri Rina yang masih mematung di tempatnya. Ia menatap penampilan wanita itu dari atas sampai ke bawah. "Manis..." gumamnya. Bibir Radi menyungginggkan senyum kala menyadari jika Maya menggunakan dress pemberiannya. Padahal wanita itu selalu bilang jika kasihan jika baju bagus dan mahal itu harus dipakai di rumah, tapi kini dia memakainya. Radi senang. Apakah ini pertanda baik?


"Sudah selesai mandinya?" tanya Radi begitu sampai di hadapan Rina.


Rina menunduk dengan wajah merona. "Su-sudah, Tuan."


"Bisa kita bicara sebentar, Rin?" pinta Radi. Ia ingin membahas masalah tentang hubungan mereka. Pria itu ingin kejelasan.


"Bi-bisa, Tuan." Rina mengangguk dengan kepala setia tertunduk.


"Ayo, ikut aku!" Radi meraih dan menggenggam tangan Maya, lalu membawanya pergi menuju taman belakang.


Rina merasakan hangatnya tangan Radi yang menggengam tangannya, ini kali pertama mereka bersentuhan. Darah ditubuhnya berdesir hebat, rasanya mendebarkan.


Kini keduanya sudah duduk di bangku taman. Ada jarak di antara keduanya.


"Rin, maafkan sikap kekanak-kanakanku selama seminggu ini," ucap Radi memulai perbincangan.


"I-iya, Tuan. Saya juga minta maaf. Pasti Tuan sangat kecewa pada saya malam itu," balas Rina.


"Jujur saja, Ya. Kau menolakku tanpa memberikan alasannya. Jika boleh tahu, apa alasanmu menolakku waktu itu?" tanya Radi penasaran.


Rina meremas tangannya yang berada di pangkuan. "Ki-kita berbeda, Tuan. Anda majikan dan saya ini hanya pembantu. Saya merasa tidak pantas buat anda," aku Rina jujur.

__ADS_1


Radi memejamkan mata sejenak. "Jadi yang diucapkan Ajeng benar. Ini mengenai harta dan tahta," batinnya.


"Rin, aku juga bukan orang kaya. Aku hanya anak yatim piatu yang beruntung diangkat anak oleh orang tua Ajeng. Semua kemewahan ini, posisi ini, itu semua bukan milikku. Semuanya milik Ajeng dan aku hanya membantunya untuk mengurus semua itu," tutur Radi.


Rina terdiam, ia sudah tahu kalau Radi adalah kakak angkatnya Ajeng.


"Jika itu yang kau cemaskan, maka semuanya sudah jelas. Aku menerimamu, Rin... baik itu kelebihan dan kekuranganmu. Dan ku harap kau juga mau menerima semua kekurangan juga kelebihanku," lanjut Radi.


Rina tersenyum, ia bahagia mendengarnya. Namun, saat ini ia ingin mendengar hal yang lain.


"Tuan, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku?" Ya... Rina ingin memastikan bagaimana perasaan Radi terhadapnya. Apakah itu cinta atau hanya rasa kasihan atau hanya rasa ingin melindungi.


Radi memutar tubuh menghadap Rina. Ia menggemggam tangan wanita itu yang bertengger di atas pahanya. "Lihat aku, Rin!" pintanya.


Rina menoleh, ia memberanikan diri menatap Radi walau organ sebesar kepalan tangan di dalam dadanya berdisko ria.


Sepasang mata mereka bertemu. Radi terpesona saat melihat mata bening Rina yang dihiasi bulu-bulu panjang dan lentik.


"Entah sejak kapan, perasaan sayang muncul di hatiku untukmu dan Reyhan. Semakin lama, rasa itu berkembang menjadi cinta. Aku menginginkan dirimu karena aku mencintaimu, Rin. Lalu, bagaimana perasaanmu terhadapku? Adakah sedikit saja rasa cinta di hatimu itu untukku, Rin?" Radi balik pertanya. Sebagai pria, ia juga butuh kepastian.


Rina mengalihkan pandangannya dari wajah Radi yang terlihat sangat tampan di matanya. Wanita itu terlalu malu untuk menjawab.


"Rin!" Radi menunggu jawabannya.


"Sa-saya juga cinta......-


-sama, Tuan."


Deg


Senyum Radi mengembang, tangannya langsung terangkat dan menangkup kedua belah pipi Rina agar menghadap padanya. "Kau tidak bohong, kan?" tanya Radi memastikan.


Rina menggeleng dengan wajah merah padam.


Melihat reaksi Rina, Radi tak tahan lagi dan langsung mengecup singkat bibir mungil wanita itu.


Mata Rina terbelalak. Ia kaget mendapat serangan tiba-tiba.


Radi tersenyum. Ia kembali mendekatkan wajah dengan maksud mencium kembali pujaan hatinya, tapi...


"Buna, Om Adi, ladi apa?" Suara Reyhan datang menginterupsi.


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih sudah membaca😊


__ADS_2