
...🌷Selamat Membaca🌷...
Pak Indra memandang dua insan yang duduk di seberangnya. Fadhil nampak santai, sementara Maya gelisah luar biasa.
"Siapa namamu?" tanya pak Indra pada pria yang duduk di samping putrinya.
"Nama saya Fadhil, Pak." Fadhil menjawab lugas dan tegas, maklum dia adalah seorang polisi.
"Apa pekerjaanmu?" Pria tua itu bertanya lagi.
Maya merasa tak nyaman di tempat duduknya. Ia malu karena sang ayah mengintrogasi Fadhil seakan-akan pria itu adalah seorang terdakwa.
"Saya polisi yang waktu itu mengantarkan Maya ke rumah sakit," jawab Fadhil.
Pak Indra mengangguk-angukkan kepalanya. "Jadi kalian sudah berhubungan semenjak Maya ada di dalam sel tahanan?"
"Tidak. Waktu itu kami bertemu kembali di sebuah pesta." Memang kuat sekali mental Fadhil, dia tetap tenang menjawab semua hal yang ditanyakan ayahnya Maya.
"Oh, apa yang membuatmu menyukai Maya. Bukankah kau tahu dia bukan wanita baik-baik dan juga pernah masuk penjara karena kejahatannya?"
Maya menundukkan kepala dalam mendengar ucapan Pak Indra. Hatinya terluka karena sang ayah seperti mengumbar sisi buruknya yang sudah lama ia tinggalkan. Begitulah hidup, sekali berbuat kejahatan, maka orang akan sulit untuk mempercayai jika kita sudah berubah.
"Semua orang mempunyai masa lalu, begitu pun saya. Memang benar, masa lalu Maya tidak bisa dikatakan baik, tapi jika dia sudah berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, kenapa tidak? Masa lalu merupakan momen yang sudah terlewat dan tidak perlu selalu diingat. Kita boleh menengok sebentar ke masa lalu, hanya untuk membuatnya sebagai pelajaran agar tidak salah langkah pada masa kini dan masa depan," jelas Fadhil bijak.
Pak Indra tersenyum mendengar penuturan panjang pria muda di hadapannya. Dalam hati, ia merasa lega jika sang putri memiliki pendamping seperti Fadhil. Walaupun sering berkata ketus, sebenarnya Pak Indra masih sangat menyayangi putrinya. Orang tua mana yang tega melihat anak yang dulu dipangku dan dimanja menjadi menderita seperti sekarang. Semua sikapnya selama ini hanya untuk membuat Maya jera dan sadar, bahwa sebagai orang tua ia sudah terlalu dikecewakan oleh putrinya itu.
"Satu lagi, apa statusmu?" Pak Indra lupa untuk menanyakan pertanyaan penting ini. Ia tidak ingin jika Maya memiliki hubungan dengan suami orang lagi.
"Duda anak satu," jawab Fadhil tanpa ragu. Jika ia melamar seorang gadis yang masih perawan, tentu Fadhil akan malu dengan statusnya yang duda, tapi karena Maya juga sudah memiliki anak sama seperti dirinya, maka ia tak akan sungkan.
"Oh baguslah, jika kau pria lajang, maka akan kasihan dirimu."
"Apa aku sebegitu buruknya di matamu, Ayah?" batin Maya nelangsa.
"Jadi kapan kau akan membawa orang tuamu untuk melamar secara resmi?"
__ADS_1
Deg
Maya mendongak, ia tak pernah berpikir akan benar-benar menikah dengan Fadhil.
"Ayah-"
"Diam!" Pak Indra mengangkat telapak tangannya. Ia sama sekali tidak ingin mendengar bantahan dari Maya.
Maya melirik pada ibunya yang duduk di samping sang ayah. Bu Desi hanya menggelengkan kepala sebagai pertanda agar Maya menuruti semua yang diucapkan ayahnya.
"Kapan anda dan keluarga siap, maka kami akan datang," jawab Fadhil.
Pak Indra tampak berpikir. "Baik, kalau begitu minggu depan. Tepatnya hari Minggu."
"Tentu."
Fadhil melirik Maya yang nampak terguncang setelah kata kesepakatan tentang hari lamaran itu terucap. "Maafkan aku, May. Ini semua ku lakukan demi Kei," batinnya. Memang terdengar egois, tapi Fadhil tak punya cara lain untuk bisa membuat putri satu-satunya bahagia.
.......
Fadhil sudah meninggalkan kediaman Maya. Wanita itu hendak membicarakan masalah tadi dengan kedua orang tuanya, tapi Pak Indra menolak. Ia justru meminta Maya untuk masuk ke kamar dan merenungkan segalanya.
"Nak, ibu harus bagaimana?" isaknya.
Cklekk
Pintu kamar Maya terbuka, Bu Desi masuk ke dalam dan menghampiri Maya.
"Ada apa, Bu?" tanya Maya seraya bangkit dan duduk menghadap sang ibu.
"Apa yang kau pikirkan? Kesempatan ini tidak datang dua kali loh, May. Ibu lihat Fadhil adalah pria yang baik dan bertanggung jawab," kata Bu Desi.
"Tapi aku tidak mencintainya, Bu..." sanggah Maya.
"Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Fokuslah menjadi istri dan ibu yang baik. Cinta tidak selalu membuat kita bahagia, yang penting sekarang adalah pria itu harus bertanggung jawab dan setia. Itu sudah lebih dari cukup."
__ADS_1
Maya menggeleng, ia tidak ingin hidup berumah tangga tanpa cinta. "Asal ibu tahu, dia itu ingin menikah denganku hanya untuk mencarikan ibu pengasuh untuk anaknya. Dia itu tidak tulus, Bu. Dia hanya ingin memanfaatkan ku saja," protes Maya.
"Jika dia memanfaatkanmu, maka kau bisa juga memanfaatkan dia. Kau merawat anaknya, dan dia akan memberikanmu uang agar kau bisa membahagiakan Lingga. Selain itu Lingga juga bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah dari Fadhil."
"Bagaimana kalau dia tidak dapat menerima Lingga?" tanya Maya. Ia masih mencoba untuk membujuk ibunya agar lamaran itu dibatalkan.
"Dia bisa melakukan apa saja untuk anaknya, maka dia pasti akan menyayangi anakmu, yang akan menjadi anaknya juga."
"Tapi aku mencintai orang lain, Bu. Dan perasaan itu tidak dapat dipaksakan!" Maya tidak mengerti lagi, cara apa yang bisa dilakukannya untuk membuat orang tuanya mengerti.
Deg
Maya bergidik saat melihat Bu Desi menatap tajam dirinya. "Siapa? Siapa pria yang kau cintai?" tanyanya sinis.
"Satria? Pria brengsek yang sayangnya adalah ayah dari cucuku itu? Kau tidak ingat jika sekarang dia sudah menikah dan kesempatanmu untuk bersamanya itu sudah hilang!" Bu Desi menegaskan.
"Bu-bukan dia, Bu." Maya menggeleng. Untuk apa dia memikirkan pria macam Satria yang semasa berhubungan dengannya suka bergonta-ganti wanita. Dulu ia buta karena bisa terjerat oleh rayuan maut buaya darat itu.
"Lalu? Radi? Benar jika pria yang kau cintai itu adalah Radi?" tebak Bu Desi.
"I-iya, Bu."
"Hahaha, kau bodoh May!" ejek Bu Desi sembari tertawa.
Maya tercengang menatap ibunya.
"Walaupun dia sudah berpisah dari istrinya, dia tidak akan mungkin mau bersamamu. Apa kau lupa saat kau hamil anaknya, dia tidak mau bertanggung jawab dan malah menuduhmu main bersama pria lain. Pria seperti itu yang kau cintai? Buka matamu, May! Fadhil jelas lebih baik dari Satria maupun Radi. Ibu tidak mau tahu, Minggu besok lamaran harus tetap dilangsungkan, dan kau akan menjadi istrinya Fadhil!"
Setelah mengucapkan kata panjang itu, Bu Desi keluar dari kamar Maya.
"Kenapa tidak ada yang mengerti diriku..." Maya membenamkan wajah di bantal dan menangis sejadi-jadinya.
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah baca😊
In syaa Allah, nanti malam aku Up lagi kalau sempat ngetik.