
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Makasih banyak ya, Non..." ucap si mbok setelah Dira menyerahkan beberapa bungkus makanan pada pekerja di rumahnya itu.
"Sama-sama, Mbok... kalau begitu aku pamit ke dalam dulu ya, Mbok."
"Iya, Non."
Sebelum kembali ke ruang tengah, Dira masuk dulu ke dapur untuk membuat minum. Selesai membuat minum, saat ingin berbalik menuju tempat di mana semua anggota keluarganya berkumpul, tiba-tiba bunyi dering ponsel di saku piyamanya terdengar nyaring. Alhasil, Dira mengurungkan niat kembali dan memilih mengangkat panggilan itu terlebih dahulu.
"Halo, Bee..." sapa Dira dengan wajah sumringah. Ia merasa bahagia karena kekasih hatinya menelepon.
Dira menarik salah satu kursi yang ada di dapur dan mendudukinya. Gadis itu tampak asyik mengobrol melalui sambungan telepon, sampai-sampai ia tak sadar kalau ada seseorang yang mengintip di balik dinding.
"Kak Dira pasti lagi teleponan sama cowoknya, wajahnya terlihat berseri-seri..." gumam Eya. Ya, sosok yang mengintip itu adalah Eya yang kebetulan ingin mengambil minuman dingin dari dalam kulkas. Ia berhenti sejenak, menimbang apakah harus masuk ke dapur dan mengganggu kegiatan kakakknya, atau kembali ke ruang tamu saja.
"Eya, apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya mau mengambil minum?"
Deg
"Pa-pa?"
Eya yang masih sibuk mengintip dikagetkan oleh kedatangan Cakra. Pria paruh baya itu dibuat heran melihat gerak-gerik mencurigakan putrinya.
"Ada apa?" tanya Cakra. Melihat gelagat aneh Eya membuat ayah lima anak itu yakin ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh putrinya itu.
"Papa mau ngapain?" tanya Eya, sedikit berbisik. Ia menahan tubuh ayahnya yang ingin masuk ke area dapur.
"Mau ke dapur, papa mau bikinin mama kamu susu..." balas Cakra.
"Biar aku aja, Pa. Sebaiknya papa kembali ke ruang tengah. Nanti aku bawakan minuman untuk kita semua..." ucap Eya.
"Tapi..." Cakra masih penasaran dengan apa yang ada di dapur.
"Nanti mama cariin loh, Pa..." bujuk Eya.
"Baiklah, jangan lama-lama!" Cakra berbalik dan pergi, tapi baru beberapa langkah berjalan, pria itu berhenti dan berucap. "Kakak kamu di mana, ya? Masa ngantar makanan selama ini?" tanyanya sembari menatap sang putri.
Eya jadi gelagapan. "Ka-kakak tadi ke toilet, Pa... ya toilet," jawabnya.
"Oh begitu. Ya udah..." Kali ini Cakra baru benar-benar pergi meninggalkan Eya yang hanya bisa menghela napas lega.
Tak menunggu waktu lama, Eya langsung saja menerobos masuk ke dapur. Kalau dirinya yang masuk, itu tidak akan jadi masalah, tapi kalau orang tuanya yang masuk dan melihat Dira sedang bertelepon ria dengan kekasihnya, pastilah orang tuanya itu akan marah, karena mereka semua dilarang untuk pacaran.
__ADS_1
"E-eya?"
Benar saja, Dira terkejut saat melihat Eya masuk, ia bahkan langsung menjauhkan ponselnya dari telinga.
Eya tersenyum. "Santai aja, Kak..." ucapnya.
"Eh?" Dira melirik sebentar pada ponselnya yang panggilannya masih tersambung dengan Lingga. Kembali ia dekatkan ponsel itu ke telinga. "Nanti aku telepon lagi ya, Bee... Bye!" ucapnya berbisik kemudian langsung mematikan sambungan.
Eya yang sedang menyeduh susu untuk ibunya pun bertanya. "Kenapa dimatiin teleponnya, Kak? Kasihan loh Kak Lingga ditinggal begitu aja..." tanya Eya sedikit meledek.
Deg
Dira menelan susah salivanya. "Ka-kamu tahu, Dek?" tanyanya hati-hati.
"Hm, nebak aja, sih..." Eya berbalik dan berdiri tepat di hadapan sang kakak. "Jadi bener kakak dan Kakak Lingga pacaran?" tanyanya memastikan.
Dira mengangguk. "Tapi jangan bilang papa dan mama ya, Dek!" Ia memohon. Jika sampai kedua orang tuanya tahu, maka sudah pasti keduanya akan marah besar karena ia telah dengan sengaja melanggar aturan yang sudah dibuat.
"Iya, Kak. Tenang aja, aku nggak akan beritahu mama dan papa. Aku suka 'kok kalau kakak bersama dengan Kak Lingga. Dia baik, pintar dan nggak banyak tingkah seperti mantan kakak yang pecundang itu," jelas Eya.
Dira tersenyum lega. "Makasih ya, Dek..."
"Sama-sama, Kak. Ya udah, kita balik ke ruang tengah, yuk! Tadi papa cariin kakak loh..." ajak Eya.
.......
Cakra keluar dari kamar mandi setelah cuci muka dan gosok gigi. Ia berkata sebentar, lantas segera menghampiri sang istri yang sedang meng-ASI-hi putra mereka di atas tempat tidur.
"Lahap banget anak papa minumnya, papa nggak disisain, Nak?" tanya Cakra sembari mencolek pipi merah Azka.
"Mas!" tegur Ajeng. "Jangan bicara aneh-aneh kalau deket anak!"
"Salahnya di mana, sayang? Yang diminum Azka itu 'kan juga punyanya Mas, jadi mas berhak dong..." ucap Cakra ngawur.
"Sebelum pikiran mas kemana-mana, mending mas tidur aja, deh!" suruh Ajeng.
"Nggak ah, mas mau nunggu kamu. Nanti kita boboknya barengan aja..." tolak Cakra.
"Terserah deh, Mas!" Ajeng memilih kembali fokus pada bayi tampannya.
Setelah Azka kenyang dan tertidur pulas, Cakra memindahkan bayinya itu ke dalam box dengan hati-hati.
"Kamu udah ngantuk?" tanya Cakra sembari merebahkan tubuhnya di kasur.
__ADS_1
"Belum... kenapa, Mas?" Ajeng merasa ada hal yang ingin dibicarakan suaminya, terlebih ketika melihat raut serius yang ditunjukkan Cakra di wajahnya.
"Ada yang ingin mas katakan kepada kamu. Ini hal yang serius dan akan berdampak besar untuk kelangsungan kehidupan keluarga kita..." beritahu Cakra dengan sedikit bumbu pemanis.
"Mas!" Mata Ajeng melotot. Dadanya berdebar tak karuan. "Jangan bilang kalau kamu selingkuh, Mas! Jika sampai itu terjadi, maka aku akan membawa semua anak-anak pergi dari sini dan kamu sama sekali tidak ku izinkan untuk menemui mereka untuk selamanya..." peringat Ajeng.
"Hahahahaha..." Cakra terbahak. Ia mentertawai pemikiran istrinya yang terlalu berlebihan. "Ya ampun, sayangku cintaku yang tidak ada duanya di dunia ini. Ya kali suami bucinmu ini selingkuh, sedangkan mata dan hatinya sudah tertutup untuk para wanita di luar sana," jelasnya.
Ajeng yang semula menggebu-gebu, kini mulai tenang. "Jadi apa yang ingin kamu bicarakan, Mas?"
"Ini tentang Arjuna..."
"Ada apa dengan Arjuna?" tanya Ajeng.
"Arjuna menyukai Dira, dan tadi Mas Rama meminta izin pada kita apakah Arjuna boleh mendekati Dira. Keponakanku itu ingin sekali menjadikan Dira sebagai istrinya."
"Tapi Dira masih terlalu muda untuk menikah, Mas!" ucap Ajeng kurang setuju.
"Dengar, sayang. Arjuna cuma minta izin untuk bisa mendekati Dira. Dia juga bilang akan siap menunggu Dira menyelesaikan sekolah dan menggapai cita-citanya terlebih dahulu..." jelas Cakra.
Ajeng mengangguk paham. "Kalau aku sih setuju saja, Mas. Kita sudah mengenal Arjuna, baik buruknya kita sudah tahu. Tapi, semuanya tergantung pada Dira, dia yang akan menjalani dan aku tak ingin memaksa..." jelasnya.
"Kamu, benar. Mas sudah mengatakan persis seperti yang kamu katakan ini pada Mas Rama. Jadi menurutmu, bagaimana cara kita menyampaikan masalah ini pada Dira?" tanyanya.
Ajeng diam memikirkan. Beberapa saat kemudian, ia kembali berucap. "Bagaimana kalau Arjuna saja langsung yang berusaha mendekati Dira? Jadi, biar kedekatan mereka terjalin secara alami dan bertahap..."
"Boleh juga. Ok, nanti biar mas sampaikan pada Mas Rama tentang masalah ini. Semoga ada hasil yang baik untuk kedepannya," harap Cakra.
"Semoga ya, Mas."
"Ya udah... kita tidur, Yuk!" ajak Cakra yang terlebih dahulu merebahkan diri dan merentangkan lengannya agar bisa menjadi bantal untuk Ajeng.
"Iya, Mas." Ajeng langsung merengsek masuk ke dalam pelukan suaminya.
...TAMAT...
Jangan lupa Like, Comment dan Vote 🙏🏻
Terima kasih sudah membaca 😊
Beri author semangat dengan cara hadiahkan 💐 atau ☕ agar tetap semangat.
Cerita sambungannya akan aku update di novel terbaru ya...
__ADS_1