2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 11. Kehilangan


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Mobil yang disupiri Pak Anto sampai di pelataran sebuah rumah rumah besar nan mewah. Dira dan Eya turun dari mobil dengan tergesa dan langsung berlari masuk ke dalamnya. Tanpa banyak berpikir, mereka langsung menuju ke satu ruangan yang mana diyakini sebagai tempat di mana semua orang berkumpul.


"Kakek!" Eya terpekik kecil begitu melihat tubuh renta sang kakek sudah terbaring tak berdaya di tempat tidur.


"Kalian sudah datang?" Ajeng menghampiri kedua putrinya dan berbisik sebentar di telinga keduanya.


"Tadi pagi kakek kalian pingsan. Saat akan dibawa ke rumah sakit, beliau tersadar dan menolak. Ia meminta untuk tetap di rumah saja. Dokter yang memeriksa keadaan beliau tadi mengatakan jika tidak ada sakit apapun yang dideritanya. Dokter hanya meminta seluruh keluarga berkumpul untuk mendampingi beliau."


Eya tak kuasa menahan air mata ketika mendengar sedikit cerita dari sang ibu. Ia langsung menaiki tempat tidur dan memeluk tubuh lemah yang sudah tak sanggup bergerak itu. Guntur tengah tertidur dan tak ada satu orang pun yang berani membangunkannya. Dilihat dari dadanya yang bergerak pelan, menandakan jika pria tua itu masih ada.


"Kekek..." Eya terisak. Ia sungguh sedih melihat keadaan kakeknya saat ini. Apalagi saat merasakan jika suhu tubuh pria tua itu perlahan mendingin.


Semua orang di sana berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata, dalam pikiran mereka, mungkin ini adalah waktu bagi tetua di keluarga Adibrata itu pergi meninggalkan dunia yang fana ini.


Dira melihat sang nenek yang setia duduk di samping pembaringan kakeknya. Ia lantas menghampiri wanita tua yang terlihat sangat terpukul itu.


"Nenek..." Dira menyentuh pundak neneknya. Tyas menatap Dira dan langsung memeluk cucunya itu.


"Dira, kakekmu..." Isak pilu Tyas.


"Yang sabar, Nek." Dira tidak tahu bagaimana cara untuk menghibur neneknya. Ia sendiri turut merasakan hal yang sama.


Tak lama kemudian, kelopak mata sayu Guntur akhirnya terbuka juga. Ia tersenyum melihat Cakra, Ajeng dan keempat cucunya sudah berkumpul. Namun, ia masih menanti kehadiran putra sulung dan keluarganya.


"Bu..." Guntur memanggil istrinya dengan suara lirih.


Tyas segera merengkuh tubuh suaminya. "Ayah, jangan tinggalkan ibu!" tangisnya.


"Bu... Rama di mana?" tanya Guntur.


Mendengar pertanyaan ayahnya, Cakra langsung berjalan keluar kamar. Ia hendak menghubungi kakaknya yang saat ini entah sudah sampai di mana. Dua hari yang lalu, Rama, Sinta dan Anjani pergi ke Singapura untuk menghadiri acara wisuda Arjuna. Menurut perkiraan, seharusnya mereka sudah sampai saat ini.

__ADS_1


Baru saja Cakra akan mendial nomor ponsel Rama, pria yang lebih tua darinya lima tahun itu datang tergopoh-gopoh bersama istri dan kedua anaknya.


"Cakra, bagaimana keadaan ayah?" tanya Rama.


"Ayah menunggu kedatanganmu, Mas."


Mereka akhirnya masuk ke dalam kamar orang tuanya. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana.


Semuanya mendekat dan mengelilingi Guntur, Tyas dan Eya setia menggenggam kedua tangan pria yang sudah berumur 76 tahun itu.


"Ayah..." Rama dan Cakra duduk bersimpuh di kaki sang ayah. Kedua pria itu tampak sangat terpukul.


Guntur tersenyum tipis. Ia menatap istri, anak, menantu dan keenam cucunya secara bergantian.


"Aku senang karena sekarang kita bisa berkumpul, walaupun ini adalah untuk yang terakhir kalinya..." ucapnya pelan dan lemah.


"Kakek!" Eya menjerit frustasi. Ia sama sekali belum siap jika harus kehilangan salah satu pelita dalam hidupnya. Memang, di antara mereka berenam, hanya Eya yang begitu dekat dan sangat manja pada kakeknya.


"Dek, tenanglah! Jangan seperti ini!" Anjani merangkul pundak Eya yang tampak bergetar menahan tangis.


"Iya ayah..." Jawab keduanya kompak.


Guntur memandang kedua buah hatinya dengan haru. Kilasan masa berpuluh-puluh tahun lalu mulai berputar kembali di benaknya. Saat untuk pertama kalinya ia menyambut kelahiran anak pertamanya, yakni Rama dan lima tahun setelahnya disusul dengan kelahiran Cakra. Ia merasa telah menjadi seorang pria yang paling bahagia di dunia ini karena dianugerahi seorang istri yang setia dan baik hati serta dua putra yang tampan dan membanggakan. Dan sekarang, ia juga telah memiliki dua menantu yang cantik serta enam cucu yang sangat disayanginya.


"Jika ayah telah tiada, tolong jaga ibu kalian. Jangan biarkan dia sendiri dan bersedih hati," ucapnya.


Mendengar itu Tyas kembali terisak. "Ayah... jangan tinggalkan ibu. Ibu masih butuh ayah..." lirih Tyas. Ia memeluk tubuh suaminya dengan sayang.


"Maaf karena harus meninggalkan ibu sendirian..." Setelah mengucapkannya, napas Guntur mulai tidak beraturan.


Merasa jika ini adalah saatnya, Rama berbisik di telinga sang ayah dan membimbing beliau untuk mengucapkan kalimat tauhid.


Beberapa saat kemudian, tubuh renta itu menutup usia. Tangan yang berada dalam genggaman Tyas dan Eya pun perlahan melamah dan jatuh terkulai kembali ke sisi tubuh. Guntur Adibrata telah telah kembali ke pangkuan sang pencipta diumur yang ke 76 tahun.

__ADS_1


Suara tangis dan raungan mulai bergema di dalam kamar. Tyas yang menyaksikan langsung kepergian dari sang kekasih hati, merasa tidak sanggup dan berakhir jatuh tak sadarkan diri.


"Nenek..." Arjuna mengangkat tubuh Tyas dan membaringkannya di atas kasur.


"Kak Eya!" Arsha menghampiri kakaknya yang terdiam bak patung, gadis itu terlihat sangat shock. "Ikhlas, Kak. Kakek pasti sedih jika melihat kita meratapinya seperti ini!" Remaja tampan itu memeluk Eya.


Sama seperti yang dilakukan Arsha, saat ini Ajeng juga tengah memeluk suaminya yang sedang terisak. "Mas, sebaiknya kita segera mengurus jenazah ayah. Tidak baik mengabaikannya terlalu lama."


"Iya." Cakra bangkit dan disusul oleh Rama. Dua pria itu segera melakukan pengurusan terhadap jenazah ayah mereka.


...----------------...


Dalam sekejap, rumah duka dipadati oleh orang yang melayat. Para sahabat, seperti Radi, Bagas dan Satria datang bersama dengan keluarga masing-masing.


Di sana juga hadir Lingga. Ia mendapat kabar dari Saka dan memutuskan untuk datang juga. Sekarang ia mengerti kenapa tadi Dira pergi terburu-buru.


"Mas, jenazah ayah sudah selesai dikafani, sekarang tinggal kita bawa ke masjid untuk dishalatkan," ucap Cakra. Kini pria itu sudah rapi dengan baju koko dan celana bahan. Siap mengantarkan sang ayah ke tempat peristirahatan terakhir.


"Iya, ayo kita pergi sebelum hari gelap." Rama dan yang lainnya mulai mengusung tandu yang membawa jenazah Guntur.


Semua anggota keluarga turut serta, kecuali Shinta yang tetap tinggal di rumah karena wanita itu sedang halangan. Sementara Tyas dan Eya yang sudah bisa menerima keadaan memutuskan untuk ikut.


...----------------...


Selesai dishalatkan, jenazah dibawa ke pemakaman umum yang terletak tak jauh dari rumah. Rama, Cakra, Arjuna dan Arsha turun ke liang lahat untuk menyambut jenazah Guntur, sementara Radi, Bagas dan Satria membantu dari atas.


Sepanjang prosesi pemakaman, para wanita kembali menangis. Kini, mereka akan benar-benar berpisah dengan sang ayah tercinta.


"Selamat jalan, sayang. Aku berharap, semoga kita bisa segera bertemu." Tyas membatin. Air matanya mengalir tiada henti ketika melihat jenazah suaminya mulai ditimbun oleh tanah.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote & Comment

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊


__ADS_2