
...🌷Selamat Membaca🌷...
2 tahun kemudian...
Sebuah mobil Maserati hitam berhenti di depan rumah besar bertingkat dua. Sesosok pria dewasa keluar dari kursi kemudi. Ia terlihat gagah dengan Polo shirt hitam yang melekat di tubuh kekarnya, ditambah celana Chino yang membalut tungkainya yang panjang, dan jangan lupakan sepatu slip on semi formal yang semakin menunjang penampilan si pria.
Pria yang sekarang memasuki usia 33 tahun itu berlari memutari mobilnya untuk membuka kursi penumpang di bagian depan. Sesosok balita cantik berambut hitam sebahu tersenyum saat pria itu membukakan pintu untuknya.
"Ayo turun, sayang." Si pria membuka sabuk pengaman balitanya.
"Ndak mau gendong..." Balita itu memprotes saat sang ayah ingin menggendongnya.
"Kenapa, sayang?" Pria itu mengernyit heran. Tumben sekali putrinya tak mau digendong, biasanya selalu merengek memintanya.
"Dila udah besal," jawabnya dengan aksen cadel khas anak balita.
Pria itu tertawa, dia mencium gemas pipi bulat sang putri. "Ya sudah, papa gandeng saja, mau?" Katanya sambil mengulurkan tangan.
"Yaa..." Balita itu bersorak riang menyambut uluran tangan ayahnya.
Sampailah mereka di depan pintu kayu bercat putih. Si balita langsung mengetuk pintu itu dengan kepalan tangan kecilnya. Dilakukannya hal itu berulang kali. "Ndak ada yang buka, papa," kadunya pada sang ayah.
Si pria tertawa gemas melihat tingkah polos balitanya, bagaimana mungkin ketukan yang berasal dari tangan kecil itu bisa terdengar oleh si pemilik rumah, suaranya sangat kecil, ia yang berdiri di samping si balita saja hanya mendengar samar suara ketukan itu.
"Papa gendong, ya? Kita pencet belnya?" tanya si pria menunjuk bel yang ada di dinding samping pintu.
Mata bulat balita itu menatap bel yang ditunjuk sang ayah cukup lama, ia sekarang sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memencet bel yang letaknya cukup tinggi itu. Kini tatapanya beralih pada sang ayah, sepertinya memang tidak ada cara lain. "Gendong..." pintanya sembari mengangkat kedua tangan.
Tak menunggu waktu lama, si balita sudah berada dalam gendongan sang ayah. Telunjuk mungilnya langsung mengarah menuju bel dan menekannya. Merasa asyik saat menekan-nekan bel, balita itu melakukannya berulang-ulang. Sesekali cekikikan kecil keluar dari mulutnya.
Terdengar bunyi pintu terbuka, sepasang ayah dan anak itu langsung menoleh menatap si pemilik rumah, seorang pria dewasa dengan penampilan kasualnya.
"Ayahhh....." pekik si balita dengan tangan terulur pada si pria yang dipanggilnya ayah.
Pria itu tersenyum dan segera mengambil alih tubuh putrinya ke dalam gendongan. "Apa kabar, sayang?" tanyanya sembari mata menatap haru wajah putri sematawangnya yang sangat menggemaskan.
"Dila lindu ayah..." Balita itu langsung menyurukkan wajah ke perpotongan leher sang ayah.
"Iya, ayah juga rindu Dira." Pria itu mengelus-elus punggung putrinya.
Kini pria yang sedang memangku sang anak itu, menatap pria lain di depannya. "Apa kabar?" tanyanya.
"Baik. Kau?" Pria itu membalikkan pertanyaan pada pria yang tak lain adalah Radi- ayah kandung dari Dira.
"Seperti yang kau lihat." Radi tersenyum lagi. Sebelah tangannya masih sibuk mengusap punggung kecil sang anak.
"Syukurlah." Cakra balas tersenyum. "Dira merindukanmu. Ia bilang ingin tidur di rumah ayah," ucapnya kemudian.
Radi mengangguk. "Aku merasa sangat senang Dira mau menginap di sini, Reyhan dan Rayyan juga pasti senang karena ada teman bermain."
"Oh ya, aku ambil barang-barangnya dulu di mobil." Cakra berlari ke mobilnya dan kembali dengan menenteng sebuah tas yang cukup besar berisi perlengkapan Dira. Diserahkannya tas itu pada Radi.
"Kalau begitu aku pamit," ucap Cakra.
"Tidak singgah dulu?" tawar Radi.
"Lain kali saja, Ajeng menunggu di rumah. Kau tahu, saat ini kondisinya tidak cukup baik."
"Kenapa? Apa dia sakit?" Jelas terdengar nada khawatir dalam suara Radi.
"Dia tidak apa-apa, hanya pusing dan mual di awal kehamilan," beritahu Cakra.
"Ajeng hamil?" Radi melotot tak percaya.
Cakra tersenyum bahagia. "Iya. Tuhan kembali mempercayakan kami untuk menambah anggota keluarga."
"Aku turut senang mendengarnya," sahut Radi.
"Dira, papa pulang ya?" Cakra berpamitan pada putri cantiknya.
Balita itu mengangkat kepala dan mengangguk. "Iya, papa. Hati-hati," ucapnya.
__ADS_1
"Ya, sayang. Jangan merepotkan ayah, ya?" Nasihat Cakra. Bocah perempuan itu hanya mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengerti.
"Bye-bye, Papa." Dira melambaikan tangan saat Cakra akan memasuki mobilnya.
"Bye-bye." Pria tampan itu balas melambaikan tangan pada sang putri. Ah... dia pasti akan sangat merindukan balita menggemaskan itu nanti.
...****************...
"Huaaaa............"
"Sayang, diam dong. Mama pusing." Wanita cantik itu mendesah lelah melihat putri kecilnya yang tidak henti menangis semenjak bangun tidur tadi.
"Huaaaaaaaa......" Tangisannya semakin melengking, membuat wanita yang berstatus sebagai ibunya itu kalang kabut.
"Cantiknya mama, tenang ya sayang..." Si wanita terus menimang-nimang sang anak dalam gendongan, berusaha meredakan tangisnya.
"Huaaaa..... Papaaaaa!" Kali ini bayi berusia 20 bulan itu menjerit memanggil ayahnya.
"Aduh, Mas Cakra lama sekali." Wanita yang tak lain adalah Ajeng itu menggerutu. Pasalnya, sampai sekarang suaminya itu belum kembali.
"Huaaa, papa..."
Mendengar jeritan bayinya, kepala Ajeng terasa semakin pusing. Perutnya kembali bergejolak. "Turun dulu ya, Nak. Mama mau ke kamar mandi dulu. "Diletakkannya sang bayi ke atas tempat tidur lalu ia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Hoekk...hoekk..."
"Papaaaaaaa, hiks hiks."
Kini, suara tangisan dan suara orang muntah saling bersahut-sahutan di kamar besar itu.
Cakra baru saja melangkah masuk ke dalam rumah saat ia mendengar suara gaduh dari lantai atas. Merasa cemas, ia langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Pintu kamar dibuka secara tiba-tiba, bayi yang sedang menangis di atas tempat tidur itu terlonjak kaget. Tubuhnya mendadak beku dengan suara tercekat.
"Sayang, kenapa?" Cakra berlari masuk menghampiri bayinya yang menegang. Dipeluknya anak pertamanya dengan Ajeng itu dengan erat.
Beberapa detik kemudian, suara tangisan kembali terdengar. "Huaaaa...... papa."
"Papa..." Bayi gembil itu memeluk leher sang ayah.
"Mama mana, Nak?" tanya Cakra.
Sebelum mendapat jawaban, Cakra terlebih dahulu mendengar suara berisik di kamar mandi. Ia lantas menuju ke sana.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Cakra menghampiri Ajeng dan mengusap punggung bergetar sang istri dengan sebelah tangannya yang bebas.
"Hoekk... hoek ...." Ajeng masih terus muntah di wastafel. Walau hanya mengeluarkan air yang rasanya sangat asam.
"Sayang, kepalaku pusing.." kadu Ajeng selesai dengan kegiatan muntahnya.
"Ayo, kita ke dalam kamar." Cakra memapah tubuh istrinya menuju tempat tidur. "Berbaringlah!"
Ajeng berbaring di atas ranjang, wajah wanita itu nampak pucat. "Aku minta pelayan buatkan teh hangat, ya?"
Wanita itu mengangguk lemah. Ia hanya memejamkan mata karena lelah.
Cakra keluar kamar dengan masih menggendong putri manjanya yang bernama Aleeya. Impiannya untuk mendapatkan anak perempuan lagi akhirnya terwujud juga.
"Anak papa mau es krim?" tanya Cakra pada putrinya yang masih betah bersandar manja di dadanya.
Bayi yang sebentar lagi berusia 2 tahun itu langsung menegakkan kepala dengan semangat. "Au papa...."
"Ya sudah, ayo!" Cakra mangajak Aleeya menuju kulkas setelah sebelumnya meminta pelayan membuatkan Ajeng teh hangat.
Cakra membuka kulkas, sontak hawa dingin langsung menerpa tubuh ayah dan anak itu. Kebetulan cuaca siang ini cukup panas, dan es krim adalah hidangan yang cocok untuk disantap.
"Mau rasa apa, Nak?" tanya Cakra.
"Omat..." Jawab Aleeya cadel.
Cakra hanya menggeleng. Aleeya adalah duplikat sempurna dari dirinya. Selain fisiknya yang serupa, kebiasaan dan juga kesukaannya sama persis. Seperti saat ini, Aleeya menyukai tomat seperti Cakra yang juga sangat menyukai sayur bulat merah itu.
__ADS_1
"Oke." Cakra mengambil satu mangkuk kecil es rasa tomat dan membawanya ke meja makan.
Untuk stok es krim yang ada di dalam kulkas, semuanya Ajeng yang membuat. Ia mengolah sendiri dari bahan-bahan yang disukai oleh anak-anaknya.
Saat sedang asyik memerhatikan Aleeya yang memakan es krimnya, suara bel berbunyi mengalihkan fokus Cakra. Ia meminta pelayan untuk melihat siapa yang datang.
"Halo cucu nenek...." Tak lama kemudian, terdengar suara seorang wanita menghampiri mereka.
"Ibu, Ayah..." sapa Cakra begitu melihat kedua orang tuanya yang datang.
Tyas menghampiri cucunya yang masih asyik menyantap es krim. "Makan apa, Nak?" tanyanya sembari menoel pipi gembil seperti bakpao milik Aleeya.
"Es tlim..." jawab Aleeya tersenyum, menatap sang nenek dengan wajahnya yang berlepotan es krim.
"Di mana Ajeng?" Guntur bertanya di mana menantunya kepada sang anak.
"Ajeng sedang istirahat, Yah. Dia sedang tidak enak badan." Jawaban Cakra membuat Tyas seketika terlonjak.
"Apa? Ajeng sakit?" tanya wanita paruh baya itu cemas.
"Iya, dia pusing dan mual."
"Jangan-jangan Ajeng hamil lagi?" tebak Tyas.
Cakra mengembangkan senyum. "Hehe, iya. Ayah dan ibu akan dapat cucu lagi."
"Selamat, Nak." Guntur menepuk bangga bahu Cakra. Sementara Tyas justru memukul gemas lengan sang putra.
"Kau ini bagaimana, sih. Aleeya kan masih kecil, sudah menambah anak lagi. Kasihan Ajeng repot mengurus anak-anak kalian yang masih kecil-kecil!" protes Tyas.
"Ya, mau bagaimana lagi. Salahkan saja menantu ibu yang subur itu!" jawab Cakra asal, membuat ibunya kembali menyerangnya dengan cubitan kecil.
"Salahmu yang terlalu rajin menanam benih," gerutu sang ibu.
"Sudahlah, tidak ada salahnya, kan? Cucu kita bertambah," Guntur menengahi. "Oh ya, di mana cucu cantikku satu lagi?" tanyanya kemudian.
"Dia di rumah ayahnya, kangen katanya," jawab Cakra.
"Oh, begitu. Sayang sekali, padahal aku sangat merindukannya."
"Nanti kami akan mengunjungi ayah dan ibu."
"Janji, loh."
"Hm."
"Ibu ke atas dulu, melihat menantu ibu."
"Ya."
"Papa, abisss..." ucap Aleeya sembari memperlihatkan mangkuk es krimnya yang kosong.
"Pintar.." puji Cakra. Ia mengambil tisu dan membersihkan pipi sang putri yang kotor karena es krimnya.
"Sudah cantik lagi..."
Bayi itu tertawa memperlihatkan giginya yang baru beberapa tumbuh.
"Tatek, ndong!"
"Aduh, bisa tidak ya? Aleeya 'kan berat?" canda Guntur ketika sang cucu minta digendong.
Bibir bayi itu mengerucut lucu, membuat dua pria di sana tertawa gemas.
"Ayo, Nak. Nanti kalau pinggang kakek encok, kau harus tanggung jawab, ya?" ucap Guntur sambil meraih Aleeya ke dalam gendongannya.
"Ayah ada-ada saja, Eya mana mengerti apa yang ayah katakan." Cakra geleng-geleng kepala.
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote & Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊