2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Wedding Party


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Cakra dan Ajeng menghadiri pesta pernikahan Silvia dan Satria yang diadakan di sebuah ballroom hotel ternama. Ijab kabulnya diadakan siang tadi, sementara malam ini adalah pestanya saja. Walaupun Silvia sudah pernah menikah, tapi tetap saja pernikahan ini adalah hal yang pertama untuk Satria. Jadi, keluarganya ingin acara yang mewah seperti sekarang ini.


Dalam acara tersebut, tidak hanya Cakra dan Ajeng yang diundang. Radi sebagai sepupu Satria, dan Maya sebagai ibu dari anak Satria juga turut diundang.


Ya... orang tua Satria, tuan Hendra dan nyonya Asti sudah mengetahui jika Satria memiliki seorang anak dari mantan kekasihnya. Awalnya kedua paruh baya itu begitu terpukul menerima fakta bahwa putra tunggal mereka benar-benar brengsek, tapi mereka hanya bisa pasrah menerima semua itu.


Cakra menggendong Dira yang juga dibawa ke acara. Ajeng sengaja membawa putrinya itu agar bisa bertemu dengan sang ayah.


"Selamat malam, Kak." Ajeng menyapa seraya menghampiri meja yang diduduki Radi. Cakra mengekor di belakangnya.


"Hai, Jeng, Cakra." Radi menyapa balik sambil memberikan senyuman memyambut kedatangan dua orang itu. Walau jujur saja dadanya sedikit sesak melihat kebersamaan mantan istrinya dengan pria lain. Namun hal itu tak berlangsung lama, saat ia melihat Dira ada di dalam gendongan Cakra, Radi langsung bangkit. Ia mengambil alih tubuh putrinya itu ke dalam pangkuan. Masih ada Dira di sini yang bisa menjadi pelipur laranya.


"Kalian... silakan menikmati hidangan terlebih dahulu. Biar aku yang menjaga Dira," kata Radi.


"Baiklah, Kak."


Ajeng mengajak Cakra menuju meja prasmanan. Mereka mengambil makanan yang diinginkan kemudian membawanya kembali ke meja bundar di mana Radi duduk. Pasangan itu fokus pada makanan mereka, sementara Radi sibuk bermain dengan Dira.


"Anak ayah bajunya cantik sekali, siapa yang belikan? Mama, ya?" Radi mengajak Dira bicara. Putrinya itu hanya bergumam tidak jelas dan sesekali tersenyum menanggapi ucapan sang ayah.


"Malam semua..." Tiba-tiba ada sebuah suara yang menginterupsi. Seorang wanita dengan gaun hitam selutut berlengan panjang datang menghampiri meja di mana tiga orang dewasa itu duduk.


"Maya?" gumam Ajeng. Wanita itu menghentikan sejenak suapannya.


"H-hai, Jeng!" sapa Maya yang terlihat kikuk.


"Hai, silakan duduk!" Ajeng mempersilakan. Wanita itu menyambut kehadiran Maya dengan hangat.


Cakra sedikit heran melihat sikap Ajeng yang begitu ramah pada wanita yang sudah merusak rumah tangganya. Namun, kemudian pria itu berpikir, jika Ajeng sudah bersikap demikian, berarti dia sudah bisa berdamai dengan masa lalunya dan itu adalah pertanda bagus untuk Cakra. Diam-diam pria itu tersenyum senang, sebentar lagi... ia akan membawa Ajeng ke hadapan kedua orang tuanya.


Maya duduk tepat di sebelah Ajeng, ia melirik sekilas ke arah Cakra dan tersenyum. Kemudian memandang ke arah Radi yang terlihat enggan menatapnya. Hati Maya sakit, karena jujur ia mencintai mantan suami Ajeng itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Ajeng. Wanita itu mengabaikan sejenak makanannya dan fokus berbincang dengan Maya. Terhitung, sudah tiga bulan mereka tidak bertemu.


"Baik, berkat dirimu aku bisa menjalani hidupku dengan lebih baik dari sebelumnya..." jawab Maya. Ia tak pernah berhenti bersyukur akan kebaikan dan kemurahan hati Ajeng yang mau membebaskannya dari penjara. Jika tidak, mungkin saat ini ia sudah menderita karena mendekam di balik jeruji besi yang menyedihkan itu.


Ajeng tersenyum. "Sykurlah... bagaimana kabar anakmu, apa kau tidak membawanya kemari? Ini kan hari bahagia papanya?"


"Aku membawa Lingga, cuma saat ini dia sedang bersama dengan orang tua Satria. Maklum, Lingga adalah cucu pertama mereka."


"Hm..." Ajeng mengangguk. "Kau sudah makan?" tanyanya pada Maya.


"Sudah."


"Kalau begitu, boleh aku melanjutkan makanku?" Ajeng ingin segera menyelesaikan makannya agar bisa lebih leluasa untuk mengobrol.

__ADS_1


"Silakan, jangan sungkan!"


Ajeng melanjutkan makannya, sementara Cakra sudah selesai dengan makanan di piringnya. Pria itu kini menatap Dira yang sedang bermain dengan ayah kandungnya. Ah... Cakra merasa cemburu melihat kedekatan ayah dan anak itu, tapi ia tidak ingin egois, Radi lebih berhak.


"Sayang, aku mau mengambil makanan pencuci mulut dulu, ya. Kau mau?" bisik Cakra pada Ajeng.


"Iya, samakan saja denganmu, Mas."


"Ok." Cakra meninggalkan meja.


Sementara Maya melirik Radi yang tampak asyik bermain dengan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Maya tahu jika bayi itu adalah anaknya Ajeng dan Radi. Terbesit rasa lega dalam hati Maya karena kejahatannya waktu itu tak sampai membuat si kecil menggemaskan itu kehilangan nyawa. Kalau sampai itu terjadi, entahlah... Maya mungkin akan mendekam di penjara seumur hidup karena Ajeng mungkin tidak akan pernah memaafkannya.


"May!" Panggilan itu membuat Maya tersentak dan menoleh. Ia melihat ibu Satria- nyonya Asti datang sambil menggendong putranya yang menangis.


Maya segera bangkit. "Ada apa, Bu? Kenapa kau menangis, sayang?" tanyanya sambil mengelus kepala putranya, sayang.


"Lingga mencarimu, dia menangis dan tak mau diam. Padahal ibu harus menyapa para tamu," kata Ibu Satria.


"Baiklah, Bu. Sayang, ayo sama Ibu." Maya pun mengambil alih tubuh anaknya dari sang nenek dan berusaha menenangkan tangisnya dengan membawa bayi itu berjalan-jalan.


Merasa lega karena sang cucu sudah aman bersama ibunya, nyonya Asti memutuskan pergi. Namun saat hendak berbalik, matanya tak sengaja melihat sang keponakan menggendong seorang bayi perempuan. Ia mengurungkan niat untuk pergi dan melangkah mendekati Radi.


"Radi, apa ini anakmu?" tanya nyonya Asti, menempuk pundak keponakannya.


"Iya, dia putriku. Namanya Nadira..." jawab Radi. Ia menatap sekilas pada bibinya kemudian kembali fokus pada sang anak.


Ajeng memandang wanita paruh baya yang menyebut Dira sebagai cucunya. Ia tahu jika itu adalah ibunya Satria, dan berarti dia adalah bibinya Radi. Benar, Nadira adalah cucunya.


"Apa kau istrinya keponakanku?" Nyonya Asti kemudian menatap pada Ajeng. Ia bisa melihat dengan jelas kemiripan cucunya dengan wanita yang sedang makan tersebut.


"Ah..." Ajeng segera meletakkan sendok makannya. Ia berdiri dan langsung mengulurkan tangan. "Perkenalkan, saya Ajeng... ibunya Nadira."


Nyonya Asti tersenyum melihat kesopanan Ajeng, ia lantas menyambut uluran tangan tersebut. "Aku Asti, bibinya Radi sekaligus ibu dari pengantin pria," balasnya.


"Iya, Bi. Salam kenal." Ajeng tersenyum ramah.


"Kau pinta mencari istri, sudah cantik, baik dan sopan." Nyonya Asti mencolek bahu putra kakaknya.


"Kami sudah berpisah..."


Deg


Pengakuan Radi membuat nyonya Asti terdiam. Ia tidak tahu jika Radi sudah bercerai dengan istrinya. "Maaf bibi tidak tahu," ucapnya tak enak.


"Hm, tidak masalah."


"Kalau begitu aku permisi, nikmati pestanya!" Nyonya Asti segera berlalu pergi.

__ADS_1


Ajeng kembali melanjutkan acara makannya. Hanya dua suap lagi saja dan dia selesai.


Tak lama kemudian, Cakra datang membawa dua piring kecil puding, lalu disusul oleh Maya yang sudah berhasil menenangkan Lingga. Mereka kembali duduk bersama. Kenapa Maya memilih duduk bergabung dengan mereka? Karena memang di acara ini hanya Radi dan Ajeng yang ia kenal selain keluarga Satria.


Hening, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tiba-tiba...


"Ya-yah..."


Deg


Empat orang dewasa di sana serentak menoleh ke arah bayi sepuluh bulan yang sedang memanggil seseorang.


"Ya-yah..."


Deg


Radi tersentak saat menyadari jika Lingga memanggil dirinya. Bayi tampan itu menatapnya dengan wajah polos menggemaskan. Ajeng dan Cakra melongo melihat hal tersebut, sementara Maya merasa tak enak.


"Nak, dia bukan-" Maya ingin memberikan penjelasan, tapi sang anak memotong ucapannya.


"Ya-yah..."


"Yah..."


Panggil Lingga pada Radi, tangannya kecilnya ikut terulur minta digendong.


Deg


Hati Radi bergetar mendengar panggilan itu. Ia jadi teringat kenangan lama semasa menghabiskan harinya dengan Lingga dahulu.


Ajeng yang paham langsung bangkit, ia mengambil Dira dari tangan sang ayah.


"Mas, Lingga memanggilmu. Mungkin dia merindukanmu..." bisik Ajeng. Ia tidak memiliki maksud apa-apa mengatakan itu, hanya dirinya tidak tega melihat Lingga yang terus memanggil Radi sambil mengulurkan tangan.


"Ya-yah..."


"Iya, Nak. Ayo sini sama ayah..." Radi mengambil Lingga dan menggendongnya.


Deg


"Mas Radi..." Maya menangis haru.


...Bersambung...


Terima kasih sudah baca...


Jangan lupa Like & Comment😊

__ADS_1


__ADS_2