2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Remorse


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Sakaaaaaaa!" Teriakan itu berasal dari mulut seorang wanita berambut sebahu. Ia pusing dan lelah menghadapi tingkah aktif putra nakalnya.


"Sayang, berhenti! Mama capek." Wanita itu adalah Silvia. Ia terus berlari mengejar sang anak yang berlarian di halaman belakang rumah.


Saka tertawa melihat ibunya yang tidak bisa menangkapnya. Bukan tanpa alasan kenapa bocah dua setengah tahun itu menghindari sang ibu, itu semua karena ia dipaksa memakan sayur dan jujur saja ia sangat benci makanan yang didominasi oleh warna hijau itu.


"Saka, ayo sini, Nak. Makanannya belum habis," teriak Silvia.


"Ndak mauuu.." Saka terkikik melihat ibunya yang terus berteriak.


"Ya ampun, kau ini nakal sekali. Awas mommy akan menangkapmu!" Silvia yang sudah kepalang kesal, meletakkan piring makanan Saka ke atas meja yang ada di halaman, dan langsung mengejar putra tunggalnya itu.


Saka kembali berlari menghindari sang ibu, namun apalah daya, kaki kecilnya membuat ia tertangkap dengan cepat.


"Dapat kau!" Silvia memeluk sang anak lantas menggelitikinya dengan gemas.


"Hahahaaa," Saka tertawa karena ulah Silvia.


"Rasakan! Nakal sekali, sih?"


"Hihihi, ampun, Mom."


"Tidak ada ampun, pokoknya kau harus menghabiskan makanannya. Ayo!" Silvia menggendong Saka yang mulai memberontak minta turun.


"Ndak mau, sayul na pait, Mom."


"Enak kok, sayur itu sehat, sayang."


"Ndak mau..." Saka menutup rapat mulutnya saat Silvia akan menyuapinya.


"Buka mulutnya, aaa..."


Saka menggeleng dengan mulut terkunci.


"Ayo lah, Nak. Sudah satu jam tapi makannya belum selesai. Mommy capek." Silvia rasanya ingin menangis saja. Punya satu anak saja rasanya sudah sangat melelahkan seperti ini. Apalagi kalau punya banyak anak, macam Cakra. Aduh, tak bisa dibayangkan.


"Saka..." Tiba-tiba ada suara yang memanggil Saka dari belakang. Bocah itu menoleh dan menemukan sang ayah.


"Daddy..." Ia turun dari kursi dan berlari menerjang Satria yang baru pulang dari urusannya di luar rumah.


"Siapa yang tadi katanya tidak suka sayur?" tanya Satria yang sempat mendengar keluhan putranya.


"Saka ngak suka sayul, Dad. Ndak enak," kadunya.


"Tapi sayur itu sehat loh, Nak. Nanti badan Saka bisa jadi kuat kayak superhero." Satria mencoba membujuk sang anak.


"Saka mau jadi supelhilo, Dad."


"Jadi mau ya, makan sayur?"


"Iya." Saka kembali menghampiri sang ibu. "Makan, Mom." Ia membuka lebar mulutnya minta disuapi.


"Harus sabar kalau menghadapi anak kecil seperti Saka," ucap Satria begitu duduk bergabung dengan istri dan anaknya.


"Sabar? Dia itu menjadi penurut dan patuh kalau bersamamu. Kalau denganku, dia nakal dan suka membantah," sanggah Silvia kesal.

__ADS_1


"Ya, mau bagaimana lagi? Memang anaknya begitu."


"Jadi, bagaimana?" tanya Silvia yang masih sibuk menyuapi Saka.


"Tidak apa-apa, dia hanya demam biasa."


"Syukurlah."


Satria baru saja kembali setelah melihat anak sulungnya Lingga yang sedang sakit. Saat ini anaknya itu tinggal bersama sang ibu, Maya dan juga ayah tirinya. Sesekali ia memang pergi mengunjungi sang anak, karena bagaimanapun juga Lingga adalah darah dagingnya yang tak bisa diabaikan begitu saja. Bahkan Saka dan Lingga juga sudah diperkenalkan sebagai saudara, walaupun kedua bocah itu tidak begitu paham kenapa mereka memiliki ayah yang sama, tapi ibu yang berbeda. Para orang tua berusaha memberikan penjelasan sederhana yang mampu dipahami keduanya.


"Oh ya, tadi saat aku mampir ke rumah sakit, aku bertemu dengan mantan suamimu," celetuk Satria.


"Lalu?" tanya Silvia santai. Hubungannya dengan Cakra sudah lama usai, Silvia tidak terlalu peduli pada mantannya itu.


"Dia mengantarkan istrinya untuk memeriksakan kandungan," balas Satria.


"What? Emang gila itu laki, anaknya masih kecil dan dia sudah membuat istirnya bunting lagi!" pekik Silvia tak habis pikir.


"Apa salahnya? Rumah akan ramai kalau memiliki banyak anak."


"Tumben, bukankah dulu kau mengatakan jika tidak suka dengan anak-anak. Bahkan sempat memintaku untuk menggugurkan kandungan."


"Sssttt. Jangan diungkit lagi hal yang sudah berlalu. Aku sudah berubah. Semenjak Saka lahir, jiwa kebapakanku perlahan muncul. Aku bahagia memiliki kalian di dalam hidupku. Dan mungkin, akan semakin bahagia jika kau mau memberiku seorang putri yang cantik," jelasnya. "Tadi aku juga bertemu dengan anak Cakra yang kecil, dia sangat manis dan menggemaskan. Aku juga mau yang seperti itu," tambahnya.


Silvia melongo. "Lihat nanti saja, lah." Ia belum kepikiran untuk menambah anak. Satu saja sudah membuatnya darah tinggi.


"Saka, mau adik?" Saat keinginannya tak kesampaian, Satria mencoba mencari sekutu. Siapa lagi kalau bukan putra tampannya.


"Mau, Dad. Mau adik," dengan semangat Saka mengangguk antusias.


"Minta sama mom," suruhnya.


Silvia sudah melotot ganas pada suaminya.


"Nanti ya, sayang. Mom taruh piring di dapur dulu." Silvia bangkit dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Mau sekalang mom, minta adik." Saka membuntuti sang ibu dan terus merengek.


"Iya, Nak. Nanti, ya."


"Mau adik, Mom....."


"DADDYYY!" jerit Silvia. Ia merasa sangat kesal karena kelakuan suaminya itu.


Satria hanya tertawa. Ia tidak menyangka jika hidupnya akan sebahagia ini. Memiliki istri dan anak yang pintar. Entah apa yang akan terjadi jika dulu ia menolak Silvia dan anak yang dikandungnya. Mungkin, ia masih akan menjadi pria bajingan yang suka mempermainkan banyak wanita.


...****************...


"Reyhan, jangan lari-lari!" pekik seorang wanita pada sang anak yang sudah lebih dulu masuk ke dalam sebuah supermarket ternama.


"Bunda lama..." sorak seorang bocah yang mengenakan seragam taman kanak-kanak. Siapa lagi kalau bukan Reyhan, anak pertama Rina bersama suaminya terdahulu.


Rina menggeleng dan segera berlari menyusul sang anak, meninggalkan suami dan anak lainnya yang masih berada di dalam mobil.


"Kind*rjoy..." Reyhan berlari riang menuju rak yang memajang camilan kesukaannya. Dari dulu sampai sekarang ia tidak pernah bisa lepas dari makanan berbahan coklat tersebut.


"Eh, kok tidak ada?" Reyhan kebingungan saat sampai di rak yang biasanya mendisplay kind*rjoy, tapi tidak menemukan apa yang dicarinya itu di sana.

__ADS_1


Melihat seorang bocah yang kebingungan, seorang pramuniaga datang menghampirinya. "Ada apa adik kecil? Ada yang bisa dibantu?" tanya si pramuniaga ramah.


Reyhan mendongak dan mendapati seorang pria berseragam yang ia kenali sebagai karyawan di supermarket itu. "Iya, Om. Kok kind*rjoynya nggak ada, Om?" tanyanya polos.


Melihat wajah Reyhan, pramuniaga itu terpaku. Entah kenapa, ia merasa familiar dengan wajah kecil itu.


"Om!" panggil Reyhan kala melihat pria di depannya diam membisu.


"Oh, maafkan om. Display untuk kind*rjoy pindah ke sebelah sana, Dik." tunjuk si pramuniaga. "Mari om antar."


"Makasih, Om." Reyhan dengan senang hati menerima tawaran dari om pramuniaga yang baik hati.


"Reyhan!" Belum sempat kedua orang itu berjalan menuju rak yang dimaksud, sebuah suara panggilan, menghentikan langkah keduanya.


"Bunda!" Reyhan berbalik dan mendapati ibunya yang sedikit terengah-engah karena berlarian mencari keberadaannya.


"De...ni." Mata Rina melotot melihat pria yang bersama dengan anaknya. Kilatan masa lalu kembali terbayang membuat wajahnya gelap seketika.


"Reyhan... kemari, Nak!" titah Rina dengan suara lantang.


Reyhan yang merasa ada aura tak mengenakkan langsung berlari dan bersembunyi di belakang tubuh ibunya.


"Rina?" Pramuniaga bernama Deni, yang tak lain adalah mantan suami Rina itu terkejut melihat kemunculan mantan istrinya. Apalagi ketika melihat penampilan wanita itu sekarang, ia menjadi terpesona. Tentu saja, Radi menjadikan Rina sebagai ratu di rumahnya. Memberikan semua yang dibutuhkan dan diinginkan oleh setiap wanita.


Rina mendecih, ia terlalu malas berhadapan dengan pria itu hingga memutuskan untuk pergi. "Ayo, Nak. Kita pergi dari sini!" Ia menggandeng tangan Reyhan dan berbalik pergi.


"Rin, apa itu anakku?" Pertanyaan itu membuat langkah Rina terhenti. Dengan wajah sinisnya, ia berbalik menghadap pria pengkhianat itu lagi.


"Haha... anak? Maaf ya, anakku memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya, tapi itu bukan kau!" Dengan tegas Rina berujar.


Pria bernama Deni itu terhenyak. Sekarang ia yakin jika bocah lelaki itu adalah anak yang dulu ditelantarkanya. "Maafkan aku, Rin..." ucapnya lirih.


"Maaf? Memangnya apa kesalahanmu sampai kau meminta maaf padaku?" tanya Rina dingin.


Deni tertunduk malu. Kesalahannya sangat banyak. Salah satunya yaitu meninggalkan istri dan anaknya hanya demi kesenangan sesaat. Setahun lalu, janda yang dinikahinya itu mengusirnya karena telah menemukan pria lain. Huh, karma memang selalu datang bagi para pengkhianat.


"Kisah kita telah usai, jadi jangan ganggu kehidupanku lagi!" Rina menekankan.


"Tapi, anak itu harus tahu kalau aku adalah ayah kandungnya!" ucap Deni. Reyhan adalah satu-satunya anak yang ia miliki, karena bersama istri keduanya ia tidak memiliki anak.


"Berani sekali kau mengatakan jika kau adalah ayah dari anak yang tak kau pedulikan keberadannya selama ini!" Tiba-tiba Radi datang dengan wajah emosi. Sudah cukup ia mendengar perdebatan itu dari kejauhan. Tidak disangka juga jika ia akan bertemu dengan pria yang sudah membuang Rina beberapa tahun lalu. Sebuah kesempatan untuk membuat pria itu sadar akan posisinya.


"Ayah, om itu siapa? Kenapa bunda dan ayah marah-marah?" tanya Reyhan yang menangkap situasi tegang di antara para orang dewasa.


"Bukan siapa-siapa, Nak. Tidak usah dipikirkan." Radi menjawab. Ia tidak ingin putranya berpikir yang macam-macam.


"Aku adalah ayahmu yang sebenarnya, Nak. Bukan pria itu!" teriak Deni tak terima.


"DIAM!" Suara Radi menggelegar. "Biar ku tekankan, jangan pernah kau mengganggu istri dan anakku, jika kau masih berusaha untuk mengganggu keduanya, maka aku tidak akan tinggal diam! Camkan itu!"


"Ayo kita pergi dari sini!" Radi mengajak anak dan istrinya untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Sungguh, aku menyesal..." lirih Deni.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote and Comment

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca😊🙏🏻


__ADS_2