
...🌷Selamat Membaca🌷...
Arka dan Aleeya sampai di pelataran rumah sakit. Setelah memarkirkan motor, sepasang anak manusia itu berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Saat berada di lobby, mereka bertemu dengan Bagas dan Tania yang kebetulan baru sampai juga.
"Pa, Ma..." sapa Arka. Ia tidak terlalu kaget bertemu kedua orang tuanya karena memang mereka sudah janjian bertemu langsung di rumah sakit untuk melihat Ajeng yang baru saja melahirkan.
"Pesanan mama sudah kamu ambil, Nak?" tanya Tania.
"Sudah, Ma. Ini..." Arka menyodorkan sebuah bingkisan cukup besar pada ibunya.
"Terima kasih, Nak..." Tania mengambil alih bingkisan itu dan menyerahkannya pada Bagas untuk dibawa.
"Eh, ada Nak Aleeya. Tante baru sadar..." sapa Tania.
Eya segera mendekati ibunya Arka itu dan mengalaminya, begitu juga dengan Bagas.
"Tante dan Om apa kabar?" tanya Eya basa-basi.
"Kami baik. Oh ya, tadi kalian kemarinya bareng, ya?" Tania menatap putranya dan Eya bergantian.
"Iya, Ma. Kebetulan tadi bertemu dengan Aleeya di depan mall," jawab Arka.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Kita langsung masuk saja, tante nggak sabar untuk melihat adik bayi kamu..." Tania menggandeng lengan Eya dan mengajaknya untuk berjalan menuju kamar inap Ajeng.
Sementara dua orang perempuan beda umur itu berjalan di depan, para pria mengekori mereka di belakang.
"Nih, kamu yang bawa!" Bagas dengan seenaknya menjejalkan bingkisan yang dibawanya pada sang putra.
__ADS_1
"Iya, Pa." Arka hanya pasrah. Tidak apa-apa mengalah pada orang yang lebih tua.
.......
Empat orang itu tiba di depan ruang inap Ajeng. Eya mengetuk pintu beberapa kali. Tak lama berselang, seseorang membukanya.
Cklekk
"Kak Eya..." panggil Arsy yang membukakan pintu.
"Ini ada Tante Tania, Om Bagas dan Kak Arka. Ayo silakan masuk!" Eya mempersilakan tiga orang itu masuk terlebih dahulu.
"Kok bisa bareng?" bisik Arsy di telinga Eya, penasaran.
"Panjang ceritanya..." jawab Eya pelan.
"Ajeng, selamat! Kamu dianugerahi seorang anak lagi oleh Tuhan." Tania memeluk Ajeng dan mereka cipika-cipiki singkat.
"Iya, terima kasih... Tania," sahut Ajeng.
Arka meletakkan bingkisan yang dibawanya di atas sofa yang ada di dalam kamar inap itu. Kebetulan di sana juga ada beberapa bingkisan lainnya.
"Kak Bagas, lama tidak berjumpa, apa kabar?" tanya Ajeng.
"Baik, Jeng. Bagaimana kondisimu saat ini? Ku dengar dari Cakra, kamu sempat kritis karena alami pendarahan..." kata Bagas.
"Aku sudah semakin sehat..." Ajeng tersenyum.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong, di mana Cakra?" tanyanya setelah menyadari jika tidak tampak keberadaan Cakra di sana.
"Mas Cakra dan Arsha pergi membeli makan ke luar, sebentar lagi mereka juga balik..." jawab Ajeng.
Para orang tua asyik berbincang. Sedangkan Eya dan Arka saat ini tengah memandangi bayi lucu yang tertidur nyenyak di ranjangnya.
"Adik bayi tampan sekali, persis seperti papa..." celetuk Eya.
"Iya, mirip sekali dengan Om Cakra..." Arka pun mengakui.
"Mau gendong, tapi dia lagi bobok..." Eya rasanya sudah tidak sabar untuk menggendong adik barunya dan menghujaninya dengan banyak ciuman.
Tak jauh dari sana, Arsy tampak memerhatikan tingkah keduanya. Sang kakak beberapa kali terlihat melemparkan senyum pada Arka. Arsy tahu kalau Eya menyukai Arka. Jadi, ia selalu berharap jika kedua orang itu dapat bersama nantinya.
"Nama adik bayinya Atharrazka ya, Kak. Nenek yang memberikan nama itu..." beritahu Arsy.
"Nama yang bagus..." kata Arka.
"Ada dua pilihan untuk nama panggilannya. Athar dan Azka. Kakak setuju untuk memanggilnya sengan apa?"
Eya terlihat berpikir, sesekali ia melihat adik bayinya dan kemudian berganti pada Arka.
"Lebih bagus dipanggil Azka,deh..." katanya. Dalam hati, Eya membatin. "Azka dan Arka... nama yang hampir mirip.
...Bersambung...
Jangan lupa Like Vote dan comment 🙏🏻
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 😊