2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Hesitate?


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Anak-anak merengek minta liburan, karena bertepatan dengan akhir pekan jadi aku membawa mereka kemari." Rama memulai pembicaraan saat dirinya dan Cakra sudah memisahkan diri dari yang lainnya. Kini kakak beradik itu ada di tepi kolam renang, duduk bersebelahan di atas kursi santai.


"Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu sebelum Mas datang?" tanya Cakra.


"Hanya karena vila ini milikmu, jadi aku harus minta ijin terlebih dahulu?"


"Bukan begitu, Mas. Ah... ya sudahlah." Memulai perdebatan dengan seorang dosen, sudah pasti Cakra akan kalah, jadi menyerah saja.


"Kalau aku memberitahumu jika akan datang kemari, pasti kau akan menyembunyikan wanita itu di tempat lain," tuduh Rama.


"Ah... bisa jadi." Memang itulah yang ada di benak Cakra. Ia bisa memindahkan Ajeng ke tempat lain sebelum kakaknya datang. Menurutnya, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengenalkan Ajeng pada keluarganya. Masalah mereka masih belum tuntas.


"Jadi, bisa jelaskan kepadaku siapa wanita cantik yang kau sembunyikan itu?" Selidik Rama dengan wajah yang terlihat penasaran.


"Hm? Apa kakak belum berkenalan dengannya?" Seingat Cakra, Ajeng dan Rama sempat duduk bersama di ruang tengah, tak mungkin jika mereka tidak berkenalan.


"Huh... sudah, dia bernama Ajeng. Katanya dia adalah temanmu yang menumpang di sini demi mencari ketenangan."


"Teman?" Ajeng mengatakan jika mereka berteman. Ah benar, teman tapi mesra maksudnya.


"Oh... jadi bukan teman? Apa dia selingkuhan yang sedang mengandung anakmu. Setahuku kau sangat menginginkan seorang anak. Apa karena Silvia tidak bisa memberikannya maka kau mencari wanita lain?" Kali ini pria yang berumur lima tahun di atas Cakra itu menuduh sang adik berselingkuh.


"Jangan seenaknya menyimpulkan!" protes Cakra tak terima. "Aku tidak sejahat itu," sambungnya.


"Lalu?" Pria berambut klimis itu menuntut penjelasan. Banyak sekali yang ingin tahu masalah asmara mereka, membuat Cakra pusing.


"Awalnya dia adalah istri dari rekan bisnisku. Hidupnya sangat menyedihkan dan kebetulan aku selalu ada saat dia sedang membutuhkan." Cakra mulai menceritakan proses kedekatannya dengan Ajeng.


"Lalu kenapa dia ada di sini, di mana suaminya?"


"Suaminya lebih memilih selingkuhannya. Di awal kehamilan saja, berulang kali Ajeng masuk rumah sakit karena terus dikecewakan oleh suaminya. Akulah yang selalu hadir untuk menemaninya saat itu. Dia sudah muak dengan semua yang terjadi dan memintaku untuk membawanya pergi jauh. Aku menyetujuinya, ini semua kulakukan agar kehamilannya dapat berjalan dengan tenang tanpa tekanan dan masalah seperti yang selalu dia hadapi."


"Sudah berapa bulan?"


"Apanya?" tanya Cakra kurang paham kemana arah pertanyaan sang kakak. Apakah menanyakan usia kehamilan Ajeng, atau sudah berapa lama wanita itu tinggal di vilanya.


"Dia bersembunyi dari suaminya?" kata Rama.


"Oh, tiga bulan."


"Apa benar suami wanita itu tidak mencarinya? Apalagi sekarang dia sedang mengandung."


"Di awal persembunyian, aku tahu jika suaminya sampai gila mencari keberadaannya. Namun, apa mau dikata, Ajeng tidak ingin melihat wajah suaminya lagi. Di sini dia merasa lebih nyaman dan tentram. Aku hanya ingin yang terbaik buat dia dan calon anaknya."


"Dan ya, bisakah kau jelaskan panggilan sayang yang kau ucapkan saat memanggil wanita itu tadi?"


Deg


Memalukan. Jika ingat kejadian saat kedatangannya tadi, Cakra jadi geli sendiri. Bisa-bisanya ia bertingkah lebay dengan memanggil-manggil Ajeng dengan kata sayang.


Deg


"Jadi?"


Sudah ketangkap basah, mengaku saja sekalian. "Kami memutuskan untuk bersama setelah semua masalah ini selesai. Seiring dengan kebersamaan yang telah dilalui, perasaan cinta tumbuh di hati kami berdua."


"Apa itu salah satu alasan kau menceraikan Silvia?"


"Ya, salah satunya. Kakak pikir rumah tanggaku dan Silvia masih bisa diselamatkan? Dia selingkuh dan hamil anak pria lain. Aku tidak bisa menerima semua itu, apalagi rasa cinta untuknya sudah lenyap tak berbekas."

__ADS_1


"Huh, ya. Aku mendukung semua keputusanmu asal tidak melewati batas. Kau harus ingat, dia masih istri orang sebelum resmi bercerai dengan suaminya."


"Ya, aku tahu."


"Jadi sudah sampai mana proses perceraianmu dengan Silvia?"


"Suratnya sudah masuk di pengadilan, tinggal menunggu panggilan sidang."


"Oh, baiklah. Semoga semuanya lancar."


"Terima kasih, Kak."


"Mas Rama, Dik Cakra. Ayo makan malam!" Sinta memanggil keduanya untuk segera menuju ruang makan.


.......


Jam sepuluh malam, saat semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing. Cakra mengendap-endap menuju kamar Ajeng. Kedatangan keluarga kakaknya membuat ia tidak bisa dekat-dekat dengan kekasihnya. Padahal ia sangat merindukan wanita itu.


Tok... tok... tok...


Cakra mengetuk pelan pintu kamar Ajeng. Tak lama kemudian, pintu dibuka dari dalam. Pria itu langsung menyelonong masuk sebelum ada yang memergoki.


"Mas?" Ajeng terperanjat saat Cakra memeluknya tiba-tiba. "Kenapa?"


"Aku merindukanmu, tadi belum sempat memelukmu." Cakra berbisik.


"Aku juga merindukanmu." Ajeng pun balas memeluk Cakra.


"Bagaimana keadaan baby?" Pria itu membimbing Ajeng untuk duduk di atas tempat tidur, kemudian pria itu berjongkok dengan wajah tepat berada di hadapan perut buncit kekasihnya.


"Dia baik, masih rajin menendang." Ajeng menjawab.


"Benarkah? Coba paman rasakan..." Cakra lantas mengelus perut buncit itu, dan dibalas dengan sebuah tendangan dari dalam sana. "Baik-baik di dalam ya, Nak. Paman dan mamamu menunggu kedatanganmu." Ada sedikit rasa tak enak saat Cakra menyebut dirinya sendiri dengan sebutan paman. Andai, dia adalah ayah kandung dari bayi itu. Huh... andai.


"Jeng..."


"Hm?"


"Aku sudah mengurus surat perceraianku dengan Silvia."


Elusan di kepala Cakra berhenti. Pria itu mendongak demi melihat ekpresi sang kekasih. "Kenapa?" tanya Cakra.


"Tidak apa-apa," lirih Ajeng. "Apa Silvia baik-baik saja?"


Cakra mengangguk, pria itu kemudian berdiri dan menuntun Ajeng untuk rebahan di ranjang.


Mereka berdua duduk dengan punggung bersandar di kepala tempat tidur.


"Aku ingin menceritakan suatu hal padamu, tapi ku harap kau siap mendengarnya." Cakra menatap Ajeng serius. Sebelah tangannya mengenggam tangan wanita itu.


Ajeng mengangguk. Jantungnya berdebar tak karuan. Sedikit rasa cemas menyusup di hati, berharap semoga apa yang akan dikatakan Cakra bukanlah hal yang bisa kembali melukai hatinya.


"Silvia hamil."


"Apa? Silvia hamil? Lalu kenapa kau menceraikannya, Mas? Itu tidak boleh." protes Ajeng.


"Dia hamil, tapi janin itu bukan milikku. Itu adalah benih yang telah ditanamkan oleh selingkuhannya yang bernama Satria, rekan sesama dokternya di rumah sakit."


Ajeng menutup mulut tak percaya. Ia merasa miris, kenapa hidupnya dan Cakra begitu menderita. Masalah yang mereka hadapi tidak jauh dari perselingkuhan pasangan masing-masing.


"Mas, sabar ya..." Ajeng mengusap punggung tegap itu demi menenangkannya.

__ADS_1


Cakra terkekeh. "Kenapa? Aku tidak merasa sedih, kok. Biasa saja."


"Kau ini!"


"Tapi bukan itu kabar penting yang ingin ku sampaikan padamu?"


Deg


"Ada apa lagi?"


"Radi..." Cakra berhenti sejenak setelah menyebut nama suami Ajeng. Ia ingin melihat bagaimana reaksi wanita itu begitu dirinya menyebut nama suaminya.


Tubuh Ajeng menegang, mata indah itu langsung meredup.


"Dia telah ditipu oleh wanita bernama Maya itu."


Deg


"Ba-bagaimana bisa?"


"Anak yang dilahirkan wanita itu ternyata bukan anak Radi, tapi anaknya Satria, m antan kekasih Maya."


"A-apa? Aku tidak mengerti. Bukankah tadi kau mengatakan jika Satria itu adalah pria lain Silvia, lalu pria itu juga adalah ayah dari bayi Maya? Sungguh Ajeng tak percaya dengan semua kebenaran yang ia ketahui ini.


"Benar. Baru saja Silvia menghubungiku. Dia mengatakan jika Maya telah diusir oleh Radi. Sekarang ia dan anaknya tinggal bersama Satria."


"Tega sekali wanita itu. Dia telah menghancurkan rumah tanggaku. Dia memfitnah suamiku dan membuat kami berpisah." Wajah Ajeng mengeras.


Cakra terkejut mendengarnya. Pikiran buruk mulai berseliweran di kepala.


"Apakah setelah mengetahui jika Radi bukan ayah dari bayi Maya, kau akan kembali kepadanya?" tanya Cakra was-was.


"Mas Cakra, a-aku...."


.......


Maya terus mengumpat di dalam kamarnya. Untung saja tidur Lingga terlalu nyenyak hingga tidak terbangun karena kelakuan ibunya.


Wanita satu anak itu begitu kesal ketika mendengar kegaduhan dari bilik yang terletak tepat di sebelah biliknya. Suara erangan dan desahan terdengar bersahut-sahutan. Ia sangat tahu apa yang tengah dilakukan oleh pasangan itu di kamarnya. Menyebalkan, karena suara erotis itu gairah Maya timbul membuat badannya panas dingin. Ia juga ingin dipuaskan. Malam itu berakhir dengan Maya memuaskan dirinya sendiri dengan membayangkan Radi tengah bercinta dengannya.


GILA


.


"Mas Cakra, aku mau kembali ke Jakarta."


Deg


"Jadi benar, kau akan kembali padanya?" Suara Cakra tersendat.


Ajeng tersenyum, membuat Cakra semakin gelisah.


"Memang benar bayi itu bukanlah anak mas Radi, tapi kenyataan bahwa dia sudah sering tidur dengan wanita itu bukanlah sebuah bualan belaka. Jadi, maaf saja, aku tidak sudi kembali pada pria bekas wanita lain."


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment...🙏🏻😊...


...Terima kasih...


Pembaca semua...

__ADS_1


Maaf ya kalau cerita yang saya suguhkan ini menjijikkan dan bikin enek, bagi siapa yang nggak suka, saya nggak maksa baca kok😊 Bagi yang masih setia membacanya, Alhamdulillah...🤗


Maaf juga kalau cerita saya ini nggak ada pelajaran yang dapat dipetik di dalamnya. Tulisanku ini hanya untuk hiburan semata, bagi siapa saja yang terhibur...☺️


__ADS_2