
...🌷Selamat Membaca🌷...
"ALVIN!" pekik Dira saat melihat seorang cowok yang berstatus sebagai pacarnya tengah berciuman dengan seorang cewek di belakang gedung bioskop.
"Di-Dira?" Cowok bernama Alvin itu terperanjat saat mendengar teriakan dari seseorang yang dikenalnya. Ia mendorong kasar cewek yang bersamanya dan segera menghampiri Dira yang mematung tepat di depannya.
"Baby, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku tidak bersalah, yang salah itu dia!" tunjuknya pada cewek yang mengenakan baju kaus ketat dan hotpant. "Dia telah menggodaku!" tambahnya.
Dira menatap nanar cowok yang sedang berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jangan harap dia percaya begitu saja, karena kebenarannya sudah ia saksikan dengan jelas melalui mata kepalanya sendiri.
"Tega kamu, Vin!" Dira kembali bersuara, kali ini terdengar parau. Ia berusaha keras menahan sakit yang menekan dadanya. "Siang tadi aku mengajakmu nonton, tapi kamu menolaknya dengan alasan ada urusan penting yang harus kamu lakukan. Ternyata, ini urusan penting itu? Kamu pergi nonton dengan cewek lain. Pacar kamu itu aku atau dia, Vin?" ucapnya tersendat. Antara ingin menangis atau tetap tegar di depan orang yang sudah melukai hatinya.
"Baby, bukan begitu... i-ini hanya..." Alvin kembali berujar, tapi kali ini ia tidak tahu alasan apa lagi yang harus ia berikan.
"Pacar Alvin memang lo, tapi semua yang tidak Alvin dapatkan dari lo, ia dapatkan dari gue, jadi bisa dibilang gue ini lebih dibutuhkan oleh Alvin ketimbang lo yang berstatus sebagai pacarnya." Cewek yang tadi bersama Alvin mulai melangkah maju. Dengan tak tahu malunya ia langsung merangkul lengan Alvin di depan mata Dira.
"Apaan sih lo, Nad. Jangan memperkeruh suasana!" bentak Alvin sembari melepas tangan cewek bernama Nadia itu dari lengannya.
"Kan memang kenyataanya seperti itu, Babe. Kamu nggak lupa 'kan sama malam-malam romantis yang sudah kita lewati selama beberapa bulan ini?" bisik Nadia dengan nada sedikit mendayu.
Mendengaer ucapan cewek bernama Nadia itu, jatuh sudah air mata Dira yang sedari tadi berusaha di tahannya. "Beberapa bulan? Tega kamu, Vin! Jadi selama ini kamu sudah berselingkuh di belakangku, hiks."
"By, bukan seperti itu..." Alvin mencoba menggapai tangan Dira, tapi gadis yang sudah terluka hatinya itu memilih menjauh.
"Jangan sentuh tanganku dengan tangan kotormu yang bekas menyentuh cewek lain!" ucap Dira geram.
Mendengar ucapan Dira yang seakan menghinanya, emosi Alvin pun naik. Rahang cowok itu tampak mengeras. "Oh, baiklah. Aku tidak akan menyentuhmu, gadis sok suci! sindirnya tajam.
Deg
Mata Dira membulat mendengar sindiran dari Alvin. "Apa maksudmu berkata seperti itu, Vin?" tanyanya.
"Sudahlah, gue muak sama lo! Cewek sok suci yang baru dipegang tangannya aja udah marah-marah. Buat apa gue punya cewek kalau nggak bisa diapa-apain kayak lo. Nggak guna banget, cih! Mending bersama Nadia, walaupun cuma selingan, tapi dia memberikan semuanya buat gue, termasuk tubuhnya..." umpat Alvin dengan pandangan remeh menatap gadis yang sudah bersimbah air mata di depannya.
Dira terisak. Ia sungguh tak percaya jika cowok yang saat ini berada di depannya adalah cowok yang ia sayangi. Cowok yang setiap harinya bersikap lembut dan menatapnya penuh cinta, kini mendadak berubah menjadi seseorang yang tak ia kenali. Tatapan matanya pun berubah, penuh kekesalan dan penghinaan.
"Hiks... aku sayang kamu, Vin, tapi kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Apa kamu udah nggak sayang aku lagi, hiks?" isak Dira.
Deg
Mendengar tangisan Dira, Alvin seperti tersadar. Rupanya ia sudah berkata kasar hingga membuat gadis yang disayanginya menangis. "Baby, maafkan aku..." Ia berjalan menghampiri dan hendak memeluk Dira, tapi sebuah tarikan di bajunya membuat tubuhnya terdorong ke belakang.
"Udah puas lo bikin kakak gue nangis, cowok sialan!"
BUGHH
Tepat saat Alvin berbalik hendak melihat pelaku penarikan bajunya, sebuah bogem mentah langsung bersarang di wajah sok tampan cowok itu.
__ADS_1
"****, kenapa lo pukul gue?" teriak Alvin sembari mengusap hidungnya yang ngilu terkena tinjuan seseorang.
"Hidungmu berdarah, Vin..." Nadia panik lantas segera mengambil sapu tangan dari dalam tasnya. Ia membantu Alvin membersihkan darah yang mengalir di hidungnya.
"Aleeya? Sialan lo, kenapa lo mukul gue?" protes Alvin kesal. Ia menatap pelaku pemukulan atas dirinya yang tak lain adalah Aleeya, adiknya Dira.
BUGHH
Bukannya menjawab pertanyaan Alvin, Eya kembali melayangkan tinjunya tepat di pipi kanan cowok itu. Alvin sampai terhuyung.
"Alvin!" Nadia memekik dan membantu Alvin untuk berdiri tegak kembali. "Heh... cewek bar-bar! Bisa, nggak usah pakai kekerasan?" Ia menatap nyalang pada Eya.
Eya tersenyum miring. "Mau juga?" tanya gadis itu sembari menunjukkan kepalan tangannya. "Gue bisa loh, buat wajah palsu lo itu menjadi hancur," ancam Eya menakuti.
Nadia tersurut, ia mengambil jarak aman. Tak bisa dibayangkan jika Eya sampai memukul wajahnya yang mahal. Bisa-bisa uang puluhan juta yang digunakannya untuk perawatan menjadi terbuang sia-sia. Setahunya Eya merupakan salah satu anggota karate di sekolah dan ia merupakan pemegang sabuk hitam, alangkah lebih baik jika tidak berurusan dengannya.
"Minggir!" Eya menerobos paksa di antara Alvin dan Nadia. Dua orang itu sampai terdorong ke samping saking kuatnya ia menembus pertahanan mereka.
"Kak, ayo kita pulang!" Eya menghampiri sang kakak yang masih terisak. Digenggamnya tangan kurus itu dan dibawanya Dira pergi dari sana.
"Awas lo, Aleeya!" pekik Alvin kesal. Sudut bibirnya perih karena sobek akibat pukulan Eya yang tak main-main kuatnya. "Dasar, cewek bar-bar!" umpatnya.
...----------------...
Jam 5 sore, Cakra baru pulang dari kantor, Ajeng sedia menyambutnya di depan pintu dengan sebuah senyuman manis.
"Capek? Tadi sih iya, tapi begitu melihat senyumanmu, rasa capek itu menguap seketika," jawab Cakra sungguh-sungguh.
"Bisa aja, udah tua masih aja gombal!" Ajeng mencubit gemas perut Cakra yang sedikit buncit. Maklum, faktor usia membuat Cakra mulai malas untuk berolahraga.
"Oh ya, di mana anak-anak?" Cakra melirik sekelilinh ruangan, tak ada tanda-tanda keberadaan anak-anaknya di sana. Padahal di jam seperti ini, semuanya selalu berkumpul di ruang tengah.
"Si kembar ada di kamar mereka, kalau Dira dan Eya sedang keluar," jawab Ajeng.
"Keluar? Ke mana?" tanya Cakra penasaran. Ia sedikit over protektif pada semua anak-anaknya.
"Tadi siang pamit mau pergi ke bioskop, katanya ada film baru yang tayang."
"Hm, tapi kamu nggak lupa 'kan untuk mengingatkan mereka jika jam 6 sore sudah harus di rumah?"
"Iya, Mas. Aku sudah mengingatkan mereka."
"Baiklah, sekarang ayo kita ke kamar, bantu suamimu ini untuk mandi?" ajak Cakra.
"Apaan sih, Mas? Udah tua juga, masa masih mau dimandiin," ledek Ajeng.
Cakra mengerling nakal. "Sudah belasan tahun berumah tangga, masa kamu lupa sih sama kebiasaan suamimu ini?"
__ADS_1
Ajeng pasrah. "Baiklah, tuanku. Hamba akan melayanimu."
Cakra terkekeh, ia menciumi pipi istrinya dengan gemas. "Makin cinta sama kamu, Yang..."
"Ya sudah, ayo mandi. Nanti keburu malam," ajak Ajeng.
"Sudah tidak sabar rupanya, ayolah kalau begitu!" Cakra langsung membopong tubuh Ajeng.
Cklekk
"Kakak!" panggil Eya.
Setelah turun dari taksi online, Dira langsung berlari memasuki rumah. Ia menaiki tangga menuju kamarnya dengan cepat tanpa menyadari jika ada pasangan mesra yang dilewatinya begitu saja.
"Papa sama mama, ngapain? Main gendong-gendongan?" tanya Eya polos begitu melihat Cakra menggendong Ajeng.
Ajeng memberontak minta turun. "Ti-tidak apa-apa kok, sayang. Mama tadi terpeleset dan terkilir, makanya digendong sama papa," jawabnya dusta.
Cakra melirik istrinya yang terpaksa berbohong agar tidak malu di hadapan anak mereka karena ketahuan bermesraan di ruang terbuka.
"Oh ya, kakakmu kenapa? Kalian bertengkar, ya?" tanya Ajeng mengalihkan topik.
"Nggak, Ma. Kak Dira itu lagi patah hati karena pacarnya ketahuan selingkuh," jawab Eya apa adanya.
"Pacar?" Ajeng dan Cakra memekik serentak.
"Mama melarang kalian berpacaran untuk menghindari kejadian yang seperti ini. Kalau sudah begini, siapa yang mau disalahkan?" kata Ajeng.
"Ya cowok brengsek itulah, Ma. Kurang apa coba Kak Dira sampai dia berani selingkuh di belakang kakak. Mana bentukan selingkuhannya mirip ember plastik lagi. Kesel aku..." gerutu Eya.
"Sudah, biar nanti papa yang bicara sama kakakmu. Sekarang kamu masuk kamar, ya? Bersihkan diri karena sebentar lagi kita akan makan malam," pinta Cakra.
"Siap, Pa. Aku ke atas dulu, ya?" pamit Eya dan langsung melesat menaiki anak tangga.
"Kasihan Dira ya, Mas. Aku tahu betul bagaimana rasanya dikhianati, pasti saat ini hatinya hancur," ucap Ajeng iba.
"Kita mengerti betul bagaimana perasaan itu. Nanti pelan-pelan, mas akan berbicara dari hati ke hati dengan Dira. Kamu tenang saja, ya?" Cakra mengecup kening Ajeng, sebagai upaya menenangkannya.
"Iya, maksih ya, Mas."
"Sama-sama, sayang. Mas berjanji akan menjaga anak-anak kita dari hal-hal yang bisa menyakiti mereka."
Tanpa pasangan itu tahu, ada seorang remaja laki-laki yang mendengarkan perbincangan mereka. "Aduh, tanganku kok gatal, ya? Rasa ingin memukul seseorang," gumamnya dengan sebuah smirk tercipta di bibir merahnya.
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote & Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊