2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
The Caring Husband


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Mas, ini bajumu..." kata Maya pada suaminya yang tengah sibuk mengeringkan rambut di depan cermin.


"Letakkan saja di atas tempat tidur, May!" pinta Fadhil.


"Ya." Maya menaruh baju dinas suaminya di atas tempat tidur. "Aku keluar dulu, mau menyiapkan sarapan," lanjutnya.


"Hm." Fadhil hanya berdehem sebagai jawaban.


Seperti inilah rutinitas di pagi hari pasangan Maya dan Fadhil. Maya melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dan Fadhil yang selalu menerimanya tanpa pernah protes. Kehidupan rumah tangga yang seperti itu terasa hambar bagi Maya.


"Selamat pagi, Ma..." Sesampainya di ruang makan, Maya langsung disambut dengan senyuman hangat dari putri sambungnya, yaitu Kei.


"Selamat pagi, sayang. Sudah sarapan?" Maya mengelus kepala bocah perempuan yang sudah rapi dengan pakaian sekolahnya.


"Kei mau sarapan sama papa dan mama, dedek Lingga juga," jawab polos Kei.


"Sebentar ya, sayang. Mama mau melihat Lingga dulu, Kei tunggu papa dan oma di sini, ya?" pesan Maya.


"Iya, Ma."


Maya pergi meninggalkan ruang makan menuju kamar Lingga. Putranya yang sudah berumur satu tahun itu memang diajarkan untuk tidur terpisah sedari dini.


"Kau sudah bangun, sayang?" Saat memasuki kamar sang anak, Maya dapat melihat jika Lingga sudah duduk termenung di dalam boxnya. Bayi itu sama sekali tidak menangis saat terbangun dari tidurnya, pintar sekali.


"Mma..." Lingga yang melihat kemunculan ibunya langsung mengulurkan tangan minta digendong.


"Sini, Nak." Maya mengangkat tubuh gembul putranya. "Berat sekali anak mama yang tampan ini," ucapnya. Setelah menikah dengan Fadhil, Maya membiasakan Lingga untuk memanggil mama pada dirinya. Itu semua karena Kei yang juga memanggil mama padanya, agar terdengar kompak saja.


"Ganti popok dulu ya, setelah itu cuci muka." Maya membawa Lingga ke kamar mandi.


.......


"Mama... Kei sekolah dulu, ya. Makasih sudah membuatkan Kei bekal yang enak," kata Kei sesaat sebelum dirinya berangkat ke taman kanak-kanak diantar sang ayah. Tak lupa gadis kecil itu mencium punggung tangan ibu sambung yang sangat disayanginya itu.


"Iya, sayang. Hati-hati ya sekolahnya. Belajar yang rajin dan jangan nakal," pesan Maya.


"Siap, Mama." Kei langsung hormat seperti saat upacara bendera.


"Dadah dedek..." Kei melambaikan tangan pada Lingga yang ada di gendongan Maya.


"Da-da..." Lingga ikut menggerakkan tangannya persis seperti yang dilakukan Kei.


Saat Kei akan berbalik pergi, suara lembut yang terdengar sedih menghentikan langkanya.

__ADS_1


"Sedihnya, sejak punya mama baru, Oma jadi dicueki." Wajah Bu Maryam terlihat sedih, walau itu hanya akting.


Kei melihat neneknya yang baru muncul dari belakang tubuh Maya. "Oma..." Bocah itu berlari dan memeluk wanita yang sudah membesarkannya selama ini. "Maaf kan Kei ya, Oma. Tadi Kei tidak melihat ada Oma..." ucapnya merasa bersalah.


"Iya, sayang. Tidak apa-apa. Oma juga baru datang dari dapur. Sekolah yang rajin ya, Nak, agar kelak menjadi orang yang berhasil." Bu Maryam mengelus kepala cucunya.


"Iya, Oma. Kei pergi dulu, ya." Kei menyalami tangan neneknya yang mulai keriput.


"Hati-hati ya, sayang."


"Iya, Oma."


"Sudah belum, Kei? Nanti kita terlambat?" tanya Fadhil yang sedari menyaksikan drama sang putri yang tengah berpamitan ke sekolah.


"Sudah, papa."


"Bu, May, aku berangkat dulu, ya..." pamit Fadhil.


"Ya," sahut Maya dan Bu Maryam bersamaan.


Setelah melepas kepergiaan suami dan anaknya, Maya pun menutup pintu rumah.


"May, mulai besok biasakan untuk mencium tangan suamimu sebelum dia berangkat ke kantor," pesan Bu Maryam.


Maya menelan ludah. "I-iya, Bu." Bukannya ia tak ingin melakukannya, tapi melihat sikap Fadhil yang dingin kepadanya, Maya jadi tidak percaya diri. Ia takut ditolak.


.......


Saat ini pasangan pengantin baru itu sudah berada di ruangan salah seorang dokter spesialis kandungan. Ajeng sudah diperiksa dan kini mereka tinggal mendengar penjelasan dokter saja.


"Begini Bapak, Ibuk. Setelah saya periksa, tidak terdapat masalah pada rahim Ibu Ajeng. Semuanya normal. Hanya saja, setelah saya mendengar jika lima bulan lalu Bu Ajeng baru saja melahirkan secara sesar, maka saya menyarankan agar Bapak dan Ibu menunda kehamilan terlebih dahulu," jelas si dokter.


Ajeng sudah mengira jika dokter akan berkata seperti itu, ia kemudian melirik ke arah suaminya. Ekspresi di wajah Cakra terlihat biasa saja, tidak tampak terkejut. Mungkin ia juga sudah memprediksinya.


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan, Dok?" tanya Cakra.


"Setelah menjalani persalinan dengan prosedur operasi sesar, sebaiknya seorang Ibu menunggu minimal 6–12 bulan sebelum memutuskan untuk hamil kembali. Namun, untuk mengurangi risiko yang mungkin akan membahayakan bagi ibu dan juga bayinya, jarak aman untuk hamil setelah operasi sesar adalah 24 bulan. Jarak aman ini juga disarankan bagi ibu dengan persalinan normal," jelas dokter wanita itu lagi.


"Berarti... untuk mengurangi risiko yang mungkin membahayakan ibu hamil, jarak aman untuk hamil kembali adalah dua tahun ya, Dok?" Cakra kembali memastikan. Ia terlihat lebih antuias dari pada Ajeng.


Dokter mengangguk. "Benar sekali, Pak. Jarak dua tahun bukan hanya mengurangi risiko saat persalinan saja, tetapi juga memberi kesempatan ibu untuk merawat anak pertama dengan lebih baik. Namun kembali lagi, memutuskan untuk hamil setelah operasi sesar adalah keputusan masing-masing pasangan." Dokter kembali menambahkan.


Setelah mendengar penjelasan dokter, Cakra menatap istrinya. "Bagaimana, sayang?" tanyanya.


"Mas, jika boleh jujur... aku ingin menunggu sampai dua tahun saja. Aku ingin mencurahkan seluruh kasih sayangku pada Dira sebelum dia memiliki adik nanti," jawab Ajeng.

__ADS_1


Cakra tersenyum. "Baiklah, sayang. Apapun keputusanmu, selama itu baik, aku akan mendukungnya."


"Terima kasih, Mas." Ajeng bersyukur karena dianugerahi suami pengertian seperti Cakra. Walaupun pria itu sangat ingin memiliki anak, tapi dia sama sekali tidak mendesak dan memaksa keinginannya itu.


Dokter hanya bisa tersenyum melihat keharmonisan pasangan di depannya.


"Oh ya, Dok!" panggil Ajeng.


"Ya, Buk?"


"Untuk kehamilan kedua nanti, apakah saya bisa melahirkan secara normal, Dok?" tanya Ajeng.


"Begini Bu Ajeng, persalinan normal setelah dulunya pernah melahirkan dengan operasi sesar mungkin saja dilakukan. Dalam bahasa medis, itu disebut dengan persalinan Vaginal Birth After Cesarean, alias VBAC. Walaupun saat ini tingkat keberhasilan persalinan normal setelah caesar cukup besar, tapi itu bukanlah tindakan yang sederhana dan tanpa risiko. Keputusan untuk melahirkan normal jika persalinan pertama adalah lewat operasi sesar membutuhkan pertimbangan yang matang dan juga persiapan yang lengkap," jelas Dokter.


"Apa ada syarat-syarat tertentu bagi saya agar bisa melahirkan secara normal, Dok?" Ajeng kembali bertanya.


"Setelah saya periksa, Bu Ajeng merupakan salah satu kandidat yang cocok. Namun, alangkah baiknya jika kita membahas masalah ini saat Bapak dan Ibu program kehamilan kedua nanti saja. Saat itu barulah saya bisa menjelaskannya dengan lebih detail," saran si dokter.


"Baiklah kalau begitu, Dok."


Tak lama kemudian, Ajeng dan Cakra pun pamit.


.......


Saat di perjalanan menuju kediaman Radi untuk menjemput Dira, Ajeng bertanya. "Mas, sungguh tidak apa-apa jika kita menunda kehamilan?"


"Iya, sayang. Tidak apa-apa."


Ajeng mendesah lega. Ia hanya khawatir jika Cakra masih berat untuk melakukannya.


"Jadi, apa aku harus meminum pil KB untu menunda kehamilan?"


"Tidak!" Cakra menggeleng. "Kau tidak boleh minum pil atau semacamnya. Setahuku meminum pil memiliki beberapa dampak yang tidak baik, biar aku saja yang melakukannya," jelas pria yang sedang menyetir itu.


"Maksudnya, Mas?"


"Aku akan memakai pengaman saat kita berhubungan, atau aku juga bisa mengeluarkannya di luar," jawab Cakra.


Ajeng tersenyum. "Baiklah, Mas."


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih sadah membaca😊

__ADS_1


Informasi seputar kehamilan di atas, saya temukan di google. Maaf jika ada kata-kata yang salah, atau tidak tepat.


__ADS_2