
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Sayang, ayo kita sembunyi dulu!" Disa menarik tangan Aqilla untuk bersembunyi di balik dinding. Niatnya ingin menjenguk Randi tampaknya harus ditunda dulu karena ada mertua dan iparnya di depan ruang perawatan suaminya itu.
Sayup-sayup, Disa mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh ketiga orang tersebut.
"Bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan tanda tangan Randi? Ku pikir dia akan mati lalu seluruh harta itu akan jatuh ke tangan kita, tapi ternyata dia masih bertahan. Menyebalkan!"
Deg
Disa terbelalak ketika mendengar ucapan kakak iparnya. Mana mungkin ada seorang kakak yang menyumpahi adiknya sendiri untuk mati. Ia tidak habis pikir.
"Kau tenang saja, mama sudah menyiapkan semua berkas yang diperlukan, dan nanti mama akan menjebaknya untuk mau menandatangani surat pengalihan harta itu."
Disa terhenyak. Keluarga seperti apa yang dimiliki oleh suaminya ini. Licik dan gila harta.
"Sekarang saja, Ma. Mumpung dia belum pulih betul, jadi kita bisa dengan mudah mengelabuinya." Kali ini suara berat seorang lelaki terdengar.
"Baiklah, kebetulan semua suratnya mama bawa. Kita bisa segera menjalankan aksi!"
"Hahaha, sebentar lagi kita akan kaya, Ma."
"Iya, adik tirimu itu memang bodoh. Dia sama sekali tidak menanyakan harta warisan yang ditinggalkan mendiang ayahnya. Jadi ini kesempatan kita untuk mendapatkan semuanya, setelah itu mama tidak akan peduli lagi padanya, toh... dia cuma anak tiri!"
Deg
Jantung Disa berdetak kencang. "Anak tiri?" lirihnya tak percaya. Jadi selama ini, mama yang dikiranya adalah ibu kandung dari Randi ternyata hanyalah ibu tiri, pantas saja dia kejam dan tak punya hati. Kenapa suaminya tidak pernah menceritakan hal ini padanya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian berhasil dengan rencana licik itu!" batin Disa. Ia mengepalkan tangannya, geram.
Beberapa menit kemudian, Disa melihat ketiga orang busuk itu bangkit berdiri dan berjalan memasuki ruang rawat suaminya. Saat itu juga, ia keluar dari persembunyian dan membawa putrinya untuk ikut masuk demi menghentikan rencana licik dari ibu dan saudara tiri suaminya itu.
Disa mengentikan langkah sejenak, ia melihat jika pintu ruangan tidak tertutup sempurna. Sebelum masuk, ia menyaksikan dulu apa yang sedang terjadi di dalam sana tepat dari ambang pintu yang menyisakan sedikit celah untuk mengintip.
"Randi, ini ada beberapa berkas yang harus ditandatangani. Ini dari orang kepercayaan ayahmu, dia membutuhkan tanda tanganmu selaku penerus semua usaha almarhum ayahmu dan aku harus menyerahkan berkas ini kembali secepatnya," ucap si ibu tiri, penuh tipu daya.
Disa melirik suaminya yang hanya diam dengan pandangan kosong. Semenjak sadar dari koma dan mengetahui kalau jagoannya telah pergi untuk selama-lamanya, Randi seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup. Dia sering bermenung dan mogok bicara.
__ADS_1
"Ayo tanda tangani, Ndi! Biar ku bantu kau untuk duduk." Si pria berwajah culas langsung membantu Randi agar bisa bangkit dari berbaringnya.
"Tanda tangani di sini, Nak!" Si ibu tiri membuka lembaran yang harus dibubuhi tanda tangan dan meletakkannya di pangkuan Randi. "Ini penanya." Ia juga memberikan pena langsung ke tangan Randi.
Randi menurut, ia sudah seperti robot yang dikendalikan. Tangannya perlahan bergerak hingga mencapai kertas putih yang bertuliskan entah apa. Ia tidak tahu dan tak peduli. Saat akan menggoreskan pena di helaian putih tersebut, suara lantang Disa langsung mengagetkan semuanya.
"Berhenti, Mas!" Disa menerobos masuk diikuti oleh Aqilla di belakangnya. Bocah perempuan itu tidak mengerti apa-apa, ia hanya mengikuti ke mana langkah ibunya.
"Heh wanita pembawa sial, mau apa kau kemari, hah?" pekik si wanita tua emosi. Ia menghadang jalan Disa yang hendak menghampiri suaminya.
"Papa!" Aqilla berteriak memanggil ayahnya. Bocah itu dengan bebas melenggang dan melewati penjagaan neneknya.
"Aqilla..." Randi tersadar saat mendengar teriakan putrinya. Ia pun menatap gadis kecil yang terlihat sangat manis dengan rambut twin tail itu.
"Papa, Qilla kangen..." Bocah itu memanjat kursi dan naik ke ranjang ayahnya. Dipeluknya tubuh kurus itu begitu sampai di atas.
Semua orang yang sempat teralihkan oleh tingkah si kecil, kini kembali tersadar. Kakak tiri Randi maju ke depan dan mendorong tubuh Disa agar pergi meninggalkan ruangan.
"Tidak ada yang mengizinkanmu untuk masuk ke ruangan ini, wanita sial!" ujarnya.
Mereka bertiga terdiam, tidak menyangka jika sekarang Disa sudah berani melawan.
"Minggir!" Disa menggeser paksa tubuh ibu tiri Randi yang menghalangi jalannya. Ia menghampiri suaminya. "Mas, jangan tanda tangani berkas apapun yang diberikan oleh orang-orang licik itu, mereka punya niat yang tidak baik padamu, Mas!" Ia memberitahu.
"Apa maksudmu, Sa?" tanya Randi bingung. Ia tidak tahu apa-apa dan tiba-tiba harus menghadapi situasi seperti ini.
Disa menyentak napas kasar. Matanya kemudian tertuju pada lembaran kertas yang masih bertahan di pangkuan suaminya. "Ini maksudku, Mas!" Diambilnya kertas itu dan ditunjukkannya pada Randi.
"Orang-orang itu ingin menjebakmu, mereka ingin merebut seluruh harta yang ditinggalkan oleh almarhum ayah mertua!"
"Jangan mengada-ada, Sa. Mama tidak mungkin begitu!" sanggah Randi tidak percaya.
Disa memutar mata malas. "Baca saja kalau kau tidak percaya!" Disodorkannya berkas itu ke wajah Randi.
Randi meraih lembaran itu dan membaca isinya. Matanya membulat begitu tahu apa tulisan yang tertera di sana.
"Mama!" serunya tak percaya.
__ADS_1
Si ibu tiri merasa tak bersalah. Ia justru maju selanglah dan menantang dengan angkuh. "Kenapa? Mama juga punya hak atas harta peninggalan ayahmu, jadi jangan tamak dan menikmatinya seorang diri. Apalagi nanti sampai dikuasai oleh si wanita tak tahu diri itu!" Wanita tua itu melirik sinis pada Disa.
"Maaf, saya tidak gila harta seperti anda dan anak-anak anda!" protes Disa tak terima.
Dia mendecih. "Pokoknya pembagian harta harus adil untukku dan anak-anakku!" tekannya. "Sekian, ayo anak-anak kita pergi dari sini. Muak kalau harus berlama-lama berada satu ruangan dengan wanita pembawa sial itu, bisa-bisa kita nanti ketularan sialnya!"
Disa ingin melabrak ibu tiri Randi, tapi suaminya itu segera menahan tangannya. "Biarkan mereka pergi," lirihnya.
.......
Sudah seperempat jam berlalu, tak ada yang membuka pembicaraan. Disa duduk diam di sofa, begitu pula dengan Randi. Sementara Aqilla sudah tidur bergelung di ranjang pesakitan ayahnya.
"Mas, bagaimana keadaanmu sekarang?" Disa tak tahan untuk diam terlalu lama, ia pun bangkit dan menghampiri Randi.
"Tidak baik, Haikal tidak bersamaku!"
Deg
Jawaban yang keluar dari mulut Randi membuat Disa murka. "Mas! Haikal sudah bahagia di atas sana, jadi berhenti menangisinya. Aku ibu kandungnya, Mas. Aku sudah berusaha ikhlas, dan kau juga harus melakukan hal yang sama! Apa kau ingin Haikal tidak tenang di tempat peristirahatannya karena kau yang tidak bisa menerima kepergiannya!"
"Dia pergi karena kesalahanku. Andai waktu itu aku tidak mengajaknya, pasti saat ini dia-,"
"STOP!" pekik Disa. "Ingat, Mas! Kau masih punya aku dan Qilla, kami berdua membutuhkan dirimu! Jika kau terus seperti ini, bagaimana dengan nasib kami?"
Randi tersadar kembali, ia melirik putrinya yang terlelap. "Maafkan papa, Nak..." Dielusnya kening berkeringat bocah itu.
"Berjuanglah untuk kesembuhanmu, Mas. Lalu kita akan datang ke makam Haikal dan mendo'akannya."
"Maafkan aku, Sa..." Randi mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Disa.
Pasangan suami istri itu saling berpelukan, menumpahkan semua kesedihan yang menyesakkan dada.
...Bersambung...
Jangan lupa Vote, Like & Comment
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1