
...🌷Selamat Membaca🌷...
Baik Silvia maupun Dhika sudah menyelesaikan makan siangnya di sebuah restoran dekat kantor. Kini, dokter wanita itu akan memulai obrolan mereka.
"Dhika, apa benar kau memiliki adik yang bernama Maya?" tanya Silvia langsung pada inti permasalahan.
Dalam hati, Dhika mengumpat. Masalah apalagi yang sudah diciptakan oleh adiknya itu.
"I-iya, dia adik saya." Pria itu mengiyakan.
"Apa kau kenal dengan pria yang bernama Satria Dewangga?" Silvia kembali bertanya. Ia ingin memastikan jika Dhika benar-benar mengenal orang yang sedang atau pernah dekat dengan adiknya.
"Ya, kekasihnya. Atau mungkin, mantan kekasihnya. Aku tidak tahu pasti. Anak itu sudah lama kabur dari rumah."
"Kenapa dia kabur?"
"Kami tidak merestui hubungannya dengan Satria karena kami tahu kalau Satria bukanlah pria yang baik. Jadi, kami berencana menikahkannya dengan pria pilihan ayah, tapi anak itu justru memilih kabur," jelas Dhika mencoba kembali mengingat momen paling mengecewakan bagi keluarga besarnya. "Kemarin pak Cakra juga menanyakan masalah ini padaku. Katanya Maya telah merebut suami orang," beritahu Dhika.
"Memang benar. Dia bahkan menipu pria itu dengan mengatakan jika bayi yang dikandungnya adalah anak si pria padahal itu adalah anaknya Satria."
"Kau mengenal pria brengsek itu?" tanya Dhika. Ia sedikit kaget saat mendengar Silvia menyebut nama Satria.
"Ya, saat ini pria brengsek itu adalah kekasihku. Tidak akan lama lagi, kami akan menikah."
Wow. Dhika bergumam dalam hati. Ia berpikir, apa wanita di hadapannya ini masih waras. Meninggalkan pria sebaik Cakra demi pria bajingan macam Satria. Sungguh, ini di luar pemikirannya.
"Dan sayangnya, saat ini adikmu datang mengganggu kami."
Deg
Apa lagi ini? Dhika mendesah dalam hati. Kenapa adiknya selalu mencari masalah.
"Dia telah diusir oleh pria yang ditipunya itu dan sekarang dia tinggal bersama kami. Satria merasa bertanggung jawab karena bayi itu merupakan anaknya. Tapi, kedatangannya membuat hidupku tak tenang. Ia selalu menggoda Satria, aku tidak ingin pernikahanku batal karena saat ini aku juga tengah mengandung anaknya Satria. Jadi, ku mohon lakukan sesuatu, Dhik." Silvia memohon dengan penuh harap. Ia tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan Maya tetap tinggal di apartemen.
Dhika mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Kali ini ia harus mengambil tindakan, sebelum banyak orang yang merana akibat ulah adiknya itu.
"Sepulang dari kantor, aku akan menjemputnya," putus Dhika.
"Ya. Nanti akan ku kirimkan alamtnya padamu."
Silvia menghela napas lega. Akhirnya, lalat pengganggu akan segera pergi dari rumahnya.
.......
Radi dan Cakra memperhatikan bayi mungil yang berada di dalam inkubator. Air mata Radi menetes melihat kondisi bayinya yang berjenis kelamin perempuan. Dia terlihat kecil dan rapuh, tentu saja, putri cantik itu terlahir dengan berat hanya 2 kg saja.
Sementara Cakra hanya memandangi bayi itu dalam diam. Dia yang melihat sendiri bagaimana proses bayi itu hadir di dunia ini. Sempat tidak menangis saat keluar dari perut Ajeng, dan itu membuat semua yang berada di dalam ruang operasi merasa cemas. Tapi bersyukur, dokter bisa menanganinya dan membuat si kecil cantik yang mirip sekali dengan Ajeng itu akhirnya menangis kencang.
Ajeng juga menangis haru begitu dokter memperlihatkan bayi cantiknya. Namun, wanita yang baru saja menyandang status baru sebagai ibu itu tidak bisa terlalu lama melihat anaknya karena harus segera dimasukkan ke dalam inkubator.
.......
Radi dan Cakra masuk ke dalam ruang perawatan Ajeng. Wanita itu masih tertidur di atas ranjang pesakitannya.
"Cakra.." panggil Gaara pelan.
__ADS_1
"Hm?"
"Tolong jaga Ajeng, aku akan mengurus wanita sialan itu."
"Ya."
Cakra membiarkan Radi pergi. Toh, Ajeng dan anaknya sudah baik-baik saja.
.......
Sesuai perkataannya siang tadi, sore ini sepulang bekerja, Dhika langsung menuju alamat yang dikirimkan oleh Silvia. Kini, ia sudah berdiri di sebuah apartemen yang cukup mewah.
Dhika membunyikan bel dan tak lama pintu terbuka. Silvia mempersilakannya masuk. Sampai di ruang tengah, Dhika bertemu dengan Satria. Kedua pria itu saling menatap, Dhika tentu dengan tatapan bencinya.
"Aku akan memanggilkan Maya." Silvia terlihat begitu bersemangat. Inilah momen yang sudah ia tunggu-tunggu.
Sepeninggal Silvia, dua orang pria itu hanya diam tanpa berniat menyapa satu sama lain.
"Ada apa, sih?" Silvia menyeret Maya yang terlihat ogah-ogahan saat berjalan.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," kata Silvia.
"Siapa?"
Sampai di ruang tamu, Maya kaget bukan kepalang begitu melihat sosok kakaknya yang tengah duduk tenang di atas sofa.
"Ka-kak?" ucapnya terbata.
Dhika berdiri, dengan wajah mengeras dia langsung menghampiri adiknya.
"Aku tidak mau pulang!" pekiknya.
"Cukup Maya! Cukup! Jangan lemparkan lagi kotoran ke wajahku ini. Aku malu, malu sekali mempunyai adik sepertimu." raung Dhika.
Silvia dan Satria hanya mampu menyaksikan dari tempatnya. Mereka tak ingin ikut campur.
"Lepas! Aku mau tinggal di sini bersama dengan ayah anakku!"
Silvia ingin sekali mengumpat mendengar hal itu, tapi ia tahan. Sementara Satria merasa iba melihat Maya yang diseret oleh kakaknya. Bagaimana pun juga ia ikut andil membut Maya menjadi seperti itu.
Masih dalam suasana tegang dan gaduh karena perang mulut antara kakak beradik itu, tiba-tiba suara bel berbunyi mengejutkan mereka semua.
"Siapa? Apa Radi?" pikir Satria. Beberapa saat yang lalu Radi menghubunginya dan meminta alamat. Mungkin, sepupunya itulah yang datang. Satria membukakan pintu.
"MAYA!" Baru saja pintu terbuka, Radi langsung menerobos masuk, ia berteriak memanggil nama Maya.
"Mas Radi?" Kejutan sekali lagi bagi Maya. "Mas, kau datang? Kau mau menjemput kami, kan?" tanyanya penuh percaya diri.
Radi sudah berdiri di hadapan Maya. "Iya, aku mau menjemputmu."
"Mas Radi." Maya berniat memeluk Radi, tapi pria itu langsung mendorongnya.
"Menjemputmu bersama polisi," sambung suami dari Ajeng itu.
"APA?!" Semua yang berada di sana terkejut. Apalagi saat ada beberapa orang polisi yang masuk ke dalam apartemen.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Silvia bingung.
"Kami membawa surat penangkapan untuk saudari Maya Apriliani. Ia terlibat dalam kasus penganiayaan terhadap saudari Ajeng Winata." Seorang polisi menjelaskan berikut dengan memperlihatkan surat penangkapan.
"Apa? Tidak mungkin. Anda jangan mengarang ya, Pak." Maya mengelak. Ia ingin kabur, tapi dua orang polisi langsung menahannya.
"Semua bukti sudah lengkap, silakan ikut kami."
"Tidak mau." Maya terus memberontak, berusaha melepaskan diri dari pegangan dua petugas kepolisian.
"Apa-apaan ini, Mas? Kau mencoba memfitnahku, huh? Aku sama sekali tidak melakukan semua itu!" jerit Maya kesal.
"Oh, benarkah? Lalu apa ini?" Radi mengeluarkan ponselnya dan langsung memutar video bukti kejahatan Maya. Semua yang ada di sana menyaksikannya, termasuk Dhika.
"Itu kan bu Ajeng?" pekik Silvia tak percaya.
"Ajeng?" tanya Satria yang ada di sampingnya.
"Iya, Ajeng itu istrinya Radi."
"Oh."
"Bagaimana? Masih mau mengelak?" tanya Radi.
"Aku tidak salah, wanita sialan itulah yang salah!" Maya menjerit kesetanan.
"Pak, lekas bawa dia dan proses sesuai dengan hukum yang berlaku," pinta Radi.
"Siap."
Maya yang terus memberontak dibawa paksa oleh petugas kepolisian.
"Benar-benar memalukan." Dhika merasa pusing, tubuhnya limbung, untung ada Satria yang menahannya di belakang.
"Duduklah dulu, Dhika."
Silvia mengambilkan minum untuk Dhika yang masih terlihat shock.
"Bagaimana keadaan bu Ajeng?" tanya Silvia penasaran.
"Dia mengalami pendarahan dan bayi kami terlahir prematur," beritahu Radi.
"Ya ampun, aku tidak menyangka jika Maya bisa berbuat seperti itu." Silvia berucap miris.
"Kalau begitu aku pamit dulu, ingin menyusul ke kantor polisi," ucap Radi.
"Saya ikut," sahut Dhika. "Saya kakaknya Maya."
"Oh, baiklah."
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1