
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Haikal sudah tenang di surgaNya, Mas..."
Deg
Pria yang sedang terbaring lemah itu membulatkan matanya, shock.
"Bohong! Katakan jika kau berbohong..." lirihnya dengan suara pelan dan serak.
Disa menitikkan air mata. "Jagoan kita sudah pergi, Mas. Ikhlaskan dia..." mohon wanita itu seraya menggenggam erat jemari suaminya, menguatkan.
"Ini semua salahku... aku yang membunuhnya." Air mata pria bernama Randi itu mulai bercucuran. Ia menangis tanpa suara. Rasa sesak di dada membuatnya tercekat. Hingga mata basah itu kembali terpejam, lelah.
"Mas!" pekik Disa begitu melihat suaminya menutup mata. Digoyangnya tubuh kurus itu berkali-kali, tapi nihil. Randi tak merespon. Disa segera keluar memanggil dokter.
.......
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Disa ketika melihat dokter yang baru saja memeriksa kondisi suaminya keluar dari ruangan.
"Syukurlah, pasien sudah tersadar dari komanya. Seharusnya jangan dibebani dulu pikirannya dengan hal yang berat, itu bisa berdampak pada kesembuhan pasien."
Disa terdiam. Seharusnya ia tidak memberitahu Randi mengenai kepergian putra mereka, tapi jujur saja ia tidak bisa berbohong.
"Baiklah, Dok. Terima kasih."
"Sama-sama, Bu."
Selepas kepergian si dokter, Disa duduk sejenak di bangku panjang yang ada di luar ruangan. Ia terpekur, memikirkan semua yang sudah terjadi sejauh ini di dalam kehidupannya. Banyak suka duka yang sudah ia lewati. Dan bulan kemarin, adalah hari paling menyedihkan baginya di sepanjang hidup. Kepergian sang jagoan untuk selama-lamanya, kembali ke pangkuan sang Ilahi.
"Haikal, Mama kangen, Nak." Teringat akan sosok pria kecilnya, membuat Disa kembali merasakan nyeri di dada.
.......
Enam setengah tahun yang lalu...
Hueekkk... Hueekkk....
Disa berlari ke kamar mandi saat merasakan sesuatu yang bergejolak di perutnya hendak keluar melalui mulut. Wanita itu memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel. Sarapan yang dimakannya tadi pagi, kini sudah berpindah ke pembuangan.
"Sudah beberapa hari ini aku selalu muntah..." pikirnya.
Disa segera membasuh mulutnya lalu berjalan pelan ke luar kamar mandi. Ia mendudukkan diri di ranjang. Kepalanya mendadak pening.
Memikirkan segala keanehan yang terjadi pada tubuhnya, Disa menarik satu kesimpulan jika saat ini ia tengah mengandung. Ada benih dari mantan suaminya yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
"Aku harus memastikannya..." Disa tak ingin menerka-nerka. Setelah mengumpulkan banyak tenaga, ia pun bangkit dan menyambar tas serta kunci motor. Tujuannya adalah rumah sakit terdekat.
.......
Disa sudah berbaring di ranjang pemeriksaan, seorang dokter muda berjenis pria tengah menggerakkan transducer di permukaan kulit perutnya.
"Selamat ya, Bu. Janinnya sehat dan usianya sudah 5 minggu..." ucap si dokter dengan senyum mengembang.
Disa terdiam. Dugaannya benar, saat ini ia tengah mengandung. Apa yang harus dilakukannya sekarang, pergi menemui Fadhil dan meminta pertanggungjawaban? Padahal dia sendiri yang waktu itu memohon untuk bercerai. Ia sudah tidak punya muka untuk melakukan semua itu.
"Apa anda baik-baik saja, Bu?" tanya si dokter begitu menyadari jika reaksi pasiennya seperti orang yang kebingungan.
Disa tersentak. "I-iya, Dok. Saya baik-baik saja." Perlahan, wanita itu bangkit dari berbaringnya dan duduk sejenak. Sementara dokter pria itu sudah kembali ke tempat duduknya dan tampak sedang menulis sesuatu.
"Bu, ini ada resep obat penghilang mual dan juga vitamin. Silakan ditebus di apotek." Dokter menyerahkan secarik kertas saat Disa sudah duduk di hadapannya.
"Baiklah, Dok." Disa membaca sejenak resep yang ditulis oleh si dokter. Tidak seperti dokter pada umumnya, tulisan dokter berwajah tampaj itu sangat rapi dan indah. Kalau begini tidak akan pusing membacanya. Ia tersenyum di dalam hati.
"Kalau begitu saya permisi, Dok."
"Baik, Bu. Jika ada keluhan, silakan datang lagi."
Disa pergi dan meninggalkan rumah sakit.
.......
Sebulan berlalu...
__ADS_1
"Nduk, ibuk perhatikan sebulan ini kau selalu muntah-muntah, badanmu juga jadi kurus. Apa kau baik-baik saja?" tanya ibu dari Disa yang bernama Jenar.
Disa yang tengah asyik melamun langsung tersentak saat mendengar pertanyaan dari ibunya. "Aku baik 'kok, Buk..." jawabnya bohong. Setelah mengetahui kehamilan dirinya, Disa memang tidak memberitahukan siapapun mengenai hal tersebut. Sampai sekarang ia masih memikirkan langkah apa yang harus diambilnya.
"Kita periksa ke dokter ya, Nduk? Ibuk 'kok merasa kalau saat ini kau terlihat seperti orang yang tengah mengandung."
Deg
Disa menelan ludah gugup. Ia tidak menyangka jika ibunya bisa menebak dengan benar tentang kondisinya saat ini.
"Nduk..."
"Buk, a-aku..." Wanita muda itu tidak tahu harus mengatakan apa.
"Katakan sejujurnya, apakah sebelum berpisah, kalian sempat melakukannya?" telisik Jenar.
Disa tak berkutik, cepat atau lambat, kehamilannya pasti akan terungkap juga, jadi dengan kepala tertunduk, ia mengangguk pelan.
"Kau pasti hamil, Nduk. Ayo, sekarang kita periksa ke dokter!" ajak Jenar.
"Ndak perlu, Buk. aku sudah memeriksakannya sebulan yang lalu."
"Jadi?" Jenar menatap lekat sang anak. Wanita paruh baya itu ingin melihat kejujuran di mata anak perempuan satu-satunya itu.
"I-iya, Buk. Aku hamil, sekarang sudah masuk usia 9 minggu," cicit Disa takut.
"Ini ndak bisa dibiarkan, Nduk. Kita harus memberitahu Fadhil dan keluarganya. Bagaimanapun juga anak dalam perutmu itu membutuhkan ayahnya," ujar Jenar.
Disa menggeleng. "Ndak, Buk. Aku ndak mau. Aku malu, di sini aku lah yang berkeras meminta cerai, tidak mungkin aku ke sana lagi dan minta kembali. Mau di taruh di mana mukaku, Buk."
Jenar menatap tajam putrinya. "Jangan gila kau, Nduk. Anak yang kau kandung itu membutuhkan ayahnya. Memangnya kau bisa membesarkannya seorang diri? Suatu saat nanti jika dia bertanya di mana bapaknya, apa yang akan kau jawab, hah?"
Disa terdiam, air matanya mulai bercucuran. Saat ini kepalanya penuh memikirkan semua ucapan sang ibu.
"Jangan egois, Nduk! Pikirkan nasib anakmu kelak!" tekan Jenar.
"Arghhh..." Tiba-tiba wanita itu merintih sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Nduk!" Melihat hal tersebut, Jenar panik.
"Ada apa ini, Buk? Putri kita kenapa?"
Di tengah kepanikannya, Jenar mendengar suara yang sangat dikenalinya bertanya. Ia menoleh dan mendapati sang suami baru saja pulang dari bekerja.
"Bapak, tolong anak kita, Pak. Bawa dia ke rumah sakit!" pekik Jenar.
"Iya, Buk." Bapaknya Disa yang bernama Anung langsung membopong tubuh anaknya yang sudah terkulai lemas menuju mobil.
.......
"Bagaimana, Dok?" tanya Jenar. Saat ini kedua orang tua itu sudah duduk berhadapan dengan dokter pria yang baru saja selesai memeriksa keadaan anak mereka.
"Pasien terlampau stress hingga menyebabkan tekanan darahnya meningkat. Ibu yang sedang hamil muda seperti anak bapak dan ibu tidak boleh terlalu banyak pikiran, hal itu akan berdampak buruk pada kandungannya," jelas si dokter.
Penjelasan dari dokter menuai tanda tanya di benak Anung. "Maksud dokter anak saya hamil?" tanyanya.
"Iya, Pak. Sudah jalan dua bulan."
Mata Anung terbelalak. Ia langsung menoleh pada sang istri. "Apa Ibuk sudah tahu kalau Disa hamil?" tanya pria tua itu.
"Ibuk juga baru tahu tadi, Pak."
Anung menghempaskan napas kasar. Ia tidak tahu mengapa putrinya menyembunyikan hal penting seperti ini.
"Pak, kita harus memberitahu Fadhil dan keluarganya bahwa saat ini putri kita tengah mengandung anak dan cucu meteka!" pinta Janar.
Sinar di mata Anung langsung meredup. "Untuk apa memberitahu mereka. Lagi pula putri kita juga sudah bercerai dari pria itu, jadi tidak ada hubungannya lagi!" sanggah pria itu. Sejak mengetahui jika Fadhil memperkosa putrinya sampai hamil, Anung memang tidak menaruh rasa hormat lagi pada mantan menantunya itu. Ia membenci Fadhil karena telah berhasil menghancurkan hidup anak gadisnya. Terlebih sekarang putrinya menjadi janda di umur yang masih terbilang cukup muda.
Selain itu, bisik-bisik tetangga di sekitaran tempat tinggal juga mengusiknya. Membuat kebenciannya pada polisi itu kian menjadi. Awalnya ia tidak memberi restu, tapi karena sang anak sudah terlanjur hamil, mau tak mau ia membiarkan Fadhil bertanggungjawab pada janin yang saat itu dikandung Disa. Sekarang, ia tidak ingin membuat hidup putrinya menderita lagi. Cukup sekali, dan kali ini biarkan ia yang akan menjaga Disa juga calon cucunya.
"Pak, ndak bisa begitu!" Jenar tak setuju dengan pendapat suaminya. "Anak itu membutuhkan ayahnya!"
"Tenang saja ,biar bapak yang menjadi kakek sekaligus ayah untuknya. Bapak ndak mau berurusan dengan pria bejat itu lagi!" Anung bangkit dan pergi meninggalkan ruangan terlebih dahulu.
__ADS_1
Jenar tampak frustasi. Entah bagaimana nasib Disa kedepannya.
"Maafkan kami, Dok. Sudah membuat gaduh di ruangan anda." Jenar tersadar jika kini ia masih berada di ruangan dokter, bahkan tepat di hadapan dokter itu sendiri.
"Oh, tidak apa-apa, Bu. Saya paham."
Tak lama kemudian, Disa memunculkan diri dari balik tirai. Wajah wanita itu tampak layu dan tak bersemangat. "Benar kata bapak, Buk. Biar aku sendiri yang akan merawat anak ini. Ibuk ndak usah khawatir. Aku bisa 'kok, Buk."
Jenar tak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika suami dan putrinya sendiri sudah mengambil keputusan, ia bisa apa.
Si dokter menatap kagum pada Disa. Ia baru kali ini menemukan wanita tegar macam pasiennya ini. Walau tidak tahu pasti apa masalahnya, tapi tetap saja wanita itu hebat bisa tetap berdiri sendiri dengan kekuatan yang dimilikinya.
.......
Hari berganti minggu, minggu berganti bukan, tak terasa kini kandungan Disa sudah memasuki bulan kesembilan. Sebentar lagi jagoannya akan melihat dunia. Setelah di USG ternyata bayi yang dikandungnya berjenis kelamin laki-laki.
Tidak hanya kandungan Disa saja yang semakin membesar, tapi hubungannya dengan dokter yang merawatnya juga menjadi semakin dekat. Dokter itu bernama Randi Septian. Seorang dokter obgyn di mana Disa selalu memeriksakan kandungannya dari saat pertama kali.
"Mas, apa akhir pekan ini kau sibuk?" tanya Disa saat ia memeriksakan kandungannya pada Randi.
"Hm, tidak. Kenapa, apa ada yang bisa ku bantu? Katakan saja!" ujar Randi. Pria itu memang memiliki perasaan khusus pada pasiennya, jadi apapun yang diinginkan Disa, pasti akan ia usahakan, seperti sebelumnya-sebelumnya.
"Apa mas mau menemaniku ke Jakarta?" pinta Disa.
Dahi Randi berkerut. "Ke Jakarta? Untuk apa?" tanya pria itu. Pasalnya jarak Jakarta ke kota mereka saat ini yaitu Malang, memakan waktu yang cukup lama, hampir sepuluh jam.
"Aku... aku mau ke suatu tempat, Mas. Entah kenapa, sepertinya ini keinginan si bayi." Disa berkata sembari mengelus perut buncitnya.
"Hm, baiklah. Kita akan berangkat dengan mobilku. Tapi nanti di perjalanan kita akan beristirahat beberapa kali. Mas tidak ingin terjadi masalah pada kandunganmu."
Disa tersenyum. "Terima kasih banyak, Mas."
Wanita itu bahagia bisa dipertemukan dengan pria baik seperti Randi. Ia nyaman bersama dengan pria yang berprofesi sebagai dokter itu. Dan juga... rasa cinta perlahan menyusup ke dalam hatinya.
.......
Disa dan Randi sampai di sebuah rumah cukup besar. Mereka tidak mendekat, hanya memandang dari jauh, rumah yang saat ini tampak ramai. Ada tenda besar yang berdiri di halaman luas rumah tersebut.
"Kenapa rumahnya ramai ya, Mas?" tanya Disa bingung.
Randi memerhatikan dengan jeli. "Hm... sepertinya orang di rumah itu mengadakan pernikahan."
Deg
Dada Disa berdebar, dibarengi dengan tendangan kuat di perutnya. "Apakah Mas Fadhil menikah lagi?" lirihnya.
"Tunggu di sini sebentar, Mas coba tanya dulu pada tamu yang lewat." Randi langsung melangkah maju, mendekati kerumunan tamu yang hadir.
Di tempatnya, Disa mengusap pelan perutnya. "Nak... ternyata papa sudah menikah lagi. Tidak apa-apa, ya. Masih ada mama dan om Randi. Kami berdua menyayangimu."
Tak lama kemudian, Randi kembali. "Benar, Sa. Fadhil, mantan suamimu saat ini tengah melangsungkan pernikahannya."
Entahlah... Disa tidak tahu apa yang saat ini tengah dirasakannya.
"Jangan khawatir, di sini masih ada aku, kita akan membesarkan jagoan ini bersama-sama," ucap Randi. Ia membawa tubuh yang terdiam itu ke dalam pelukannya.
.......
Tiga bulan setelah melahirkan bayi tampan yang diberi nama Haikal, Randi melamar Disa. Walaupun pihak keluarga Randi tidak menyetujuinya karena Disa yang merupakan seorang janda beranak satu, ditambah dengan desas desus beredar yang mengatakan jika wanita itu pernah hamil sebelum menikah, tapi hal itu tidak menyurutkan langkah Randi. Ia tetap mempersunting sang pujaan hati.
Hidup Disa setelah itu diliputi kebahagiaan, tepat dua bulan pernikahannya dan Randi, wanita itu dinyatakan hamil kembali. Sembilan bulan penantian, akhirnya lahirlah bayi cantik yang diberi nama Aqilla.
Namun, satu kejadian nahas terjadi dan berhasil merenggut kebahagiaan mereka, menggantikannya dengan air mata. Randi dan Haikal mengalami kecelakaan dan jagoan kecil di keluarga itu pergi untuk selama-lamanya.
Disa histeris, ia sempat mengurung diri beberapa lama. Namun, kedua orang tua yang selalu berada di sisinya, menguatkan. Mengatakan jika ia masih memiliki Randi dan Aqilla yang butuh perhatian.
Setelah menyembuhkan dukanya, Disa dan Aqilla memutuskan pindah ke Jakarta. Kenapa Jakarta? Karena Disa ingin merawat suaminya. Randi memang berasal dari Jakarta dan keluarganya membawanya untuk dirawat di sana. Mertua juga iparnya terus menyalahkan Disa dengan apa yang telah terjadi. Ia dituduh sebagai wanita pembawa sial. Ia bahkan tidak diizinkan untuk melihat keadaan suaminya sendiri.
.......
"Huh..." Disa menghembuskan napas berat. Bagaimana caranya ia menghadapi Randi setelah ini. Semoga pria itu bisa menerima semuanya dengan lapang dada, seperti dirinya yang sudah ikhlas ditinggal pergi putra tercintanya.
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih😊