2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Happy Wedding


__ADS_3

...🌷Selamat Mrmbaca🌷...


"Apa kalian sudah siap?" Radi berdiri di ambang pintu kamar yang ditempati Rina. Kebetulan pintu itu terganga lebar, jadi ia bisa melihat apa yang tengah dilakukan wanita itu di dalam kamar.


"Iya, Tuan. Sebentar lagi. Aku sedang menyisir rambut Nona Dira," sahut Rina. Wanita itu memang tampak sibuk menyisir rambut lebat anak majikannya, di atas kasur.


Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Radi langsung menyelenong masuk. Ia menghampiri Rina dan putrinya yang ada di atas tempat tidur.


"Hei, putri ayah cantik sekali!" puji Radi ketika melihat Dira mengenakan gaun kembang dengan kombinasi warna putih dan pink. Ada aksesori berbentuk bunga mawar di bagian pinggang gaunnya.


Dira yang mendapat pujian sang ayah, segera mengembangkan senyum. Bayi lima bulan itu menjulurkan kedua tangannya pada Radi, tanda ingin digendong.


"Sini, sayang..." Radi mengangkat tubuh berisi putrinya ke dalam dekapan. Diciuminya pipi gembil itu berkali-kali saking gemasnya. Dira sama sekali tidak risih diperlakukan seperti itu, justru ia terkikik geli mendapatkan ciuman bertubi dari sang ayah.


"Nona Dira, pakai bandonya dulu, Nak." Rina menyambar bando berwarna putih dengan bunga besar berwarna pink yang menjadi mainannya.


Saat Rina memasangkan bando untuk Dira, otomatis jarak antara tubuhnya dan Radi menjadi semakin dekat. Wanita itu tak sadar jika sang majikan tengah memperhatikan dirinya.


Sementara Rina sibuk mengurus rambut Dira, Radi justru fokus menatap wajah asisten rumah tangganya itu. Awalnya tak sengaja, tapi entah kenapa ia kebablasan sehingga memandang wajah ayu itu cukup lama. Mulai dari mata yang dihiasi bulu-bulu lentik dan panjang, lanjut ke hidung mungil yang tidak terlalu mancung, lalu terus turun ke bibir yang memiliki ukuran tidak lebar, namun cenderung terlihat penuh dan menonjol dan berpoles lipstik berwarna merah muda.


Deg


Radi segera mengalihkan pandangannya, wajah cantik Rina malam ini membuat darah dalam tubuhnya berdesir seketika. Sudah lama rasanya ia tidak merasakan hal yang seperti ini. Ada apa gerangan yang terjadi pada dirinya?


"Selesai, Nona Dira terlihat semakin manis." Rina tersenyum dan menoel pelan hidung mancung putri majikannya itu.


"Kita pergi sekarang." Radi berbalik dan mengajak Rina untuk segera pergi ke acara pesta pernikahan Ajeng, namun pria itu berhenti mendadak karena merasa telah melupakan sesuatu.


"Ada apa, Tuan?" tanya Rina bingung melihat Radi celingak-celinguk, memeriksa setiap sudut kamar.


"Di mana Reyhan?" tanya Radi. Sebab sedari tadi ia tidak melihat di mana keberadaan jagoannya itu.


"Reyhan sepertinya ada di ruang tengah, Tuan. Selesai berpakaian tadi, ia minta izin untuk menonton kartun kesukaannya," jawab Rina.


"Oh, baiklah. Ayo!"


Radi keluar dari kamar begitu juga dengan Rina. Tak lupa wanita itu menutup pintu biliknya.


Sampai di ruang tengah, dua orang dewasa itu bisa melihat jika Reyhan tengah berdiri tepat di depan televisi berukuran besar yang ada di sana. Batita itu terlihat fokus dengan tayangan animasi anak yang ditayangkan televisi.


"Reyhan! Bukankah sudah sering bunda bilang kalau nonton tv itu tidak boleh terlalu dekat. Nanti matamu bisa sakit." Rina menghampiri putranya dan memperingatkan.


Reyhan tersentak saat mendengar suara ibunya. Batita itu langsung cengengesan mendapat peringatan untuk yang kesekian kalinya dari sang ibu. "Maaf Buna..." ucapnya.


"Maaf, maaf. Nanti diulangi lagi, bunda malas kalau Reyhan tidak mau mendengarkan apa kata bunda," omel Rina. Wanita itu segera mematikan televisi.


"Dedek Dila tantik!" Reyhan langsung berlari ke arah Radi yang tengah menggendong Dira demi menghindari omelan sang ibu. (Dedek Dira cantik)

__ADS_1


"Hei, jagoan. Kau terlihat tampan malam ini!" puji Radi. Sebelah tangannya mengelus pelan kepala Reyhan.


Reyhan yang mendapat pujian hanya bisa tersenyum malu. "Om Adi uga ampan," balasnya. (Om Radi juga tampan)


Radi terkekeh. "Ya sudah, ayo kita berangkat!"


"Iya, Tuan." Rina mengekor langkah Radi di belakang sembari menggandeng putranya.


.......


Pesta pernikahan Cakra dan Ajeng yang diselenggarakan malam ini di sebuah aula hotel ternama terlihat begitu meriah. Tidak hanya dekorasinya saja yang mewah, tapi tamu undangan yang datang juga sangat banyak dan beragam. Mulai dari karib-kerabat, kolega bisnis, karyawan perusahaan, sahabat dan handai tolan. Bisa dikatakan, jika pernikahan kedua antara Cakra dan Ajeng, lebih mewah dan megah daripada pernikahan pertama masing-masing dari mereka, dulunya.


"Apa kau lelah?" tanya Cakra pada istrinya. Sedari tadi mereka terus berdiri dan hanya dapat jatah duduk sebentar saja. Para tamu undangan silih berganti naik ke pelaminan, menyalami dan juga memberikan selamat. Tak jarang ada yang meminta foto juga.


"Hm, lelahnya hanya sedikit, tapi kakiku sudah pegal sekali rasanya, Mas..." jawab Ajeng jujur. Lagi pula, siapa yang betah berlama-lama berdiri menggunakan high heels. Tak hanya kaki, pinggang pun akan terasa pegal.


"Aku akan minta seseorang membawakanmu flat shoes untukmu," kata Cakra. "Sebaiknya kau duduk dulu, mumpung belum ada yang datang," lanjutnya.


"Iya, Mas." Ajeng mendaratkan pant*tnya di kursi pelaminan, dan rasanya nyaman sekali.


Cakra segera merogoh ponsel dalam saku jasnya dan menelepon seseorang.


.......


Fadhil dan Maya memasuki aula pesta, mereka baru saja datang saat tamu lagi ramai-ramainya. Untung saja Kei dan Lingga tidak mereka bawa, dua bocah itu pasti akan merasa risih melihat kumpulan manusia sebanyak ini.


"Kita bergabung saja di meja itu, kebetulan ada dua kursi kosong di sana." Fadhil menunjuk sebuah meha yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Maya mengikuti arah tunjuk Fadhil. Mata wanita itu membola saat melihat jika meja yang ditunjuk Fadhil ternyata diisi oleh Radi dan Rina, beserta dua orang anak berbeda usia.


"Ayo, May!" ajak Fadhil. Maya ingin menolak, tapi ia takut suaminya tak suka. Pasrah, ia hanya bisa mengikuti kemana langkah kaki suaminya itu.


"Maaf mengganggu, apa kami boleh duduk di sini? Kebetulan sekali semua meja yang ada di ruangan ini sudah terlihat penuh." Fadhil bersuara begitu sampai di meja yang dimaksud.


Penghuni meja yang tak lain adalah Radi dan Rina langsung menoleh. Raut wajah Radi sedikit berubah melihat orang yang menyapanya itu ternyata adalah suaminya Maya. Ia juga bisa melihat jika wanita yang merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya itu tengah bersembunyi di belakang tubuh tinggi tegap suaminya.


"Silakan, kami juga sudah selesai..." jawab Radi. Ia bangkit berdiri dan langsung mengode Rina agar mengikutinya untuk meninggalkan meja tersebut.


"Terima kasih," ucap Fadhil. "Ayo, May. Duduk!"


Maya duduk dengan canggung. Ia merasa sedikit tidak enak pada Radi dan Rina. Karena kedatangan dirinya, dua orang itu memilih untuk pergi.


"Mau makan apa, May? Biar aku ambilkan," tanya Fadhil.


"Hm, samakan saja denganmu, Mas."


"Baiklah, tunggu sebentar." Fadhil beranjak menuju bagian prasmanan.

__ADS_1


Maya menatap kepergian suaminya dengan pandangan sendu. Walaupun Fadhil terlihat seperti suami yang baik, yang tak sungkan melayani istrinya, tapi sesungguhnya semua yang terlihat tidak seperti kenyataannya. Sudah beberapa minggu mereka menikah, tapi Maya belum menjadi istri seutuhnya bagi Fadhil. Memang mereka tidur dan berbagi ranjang yang sama, tapi sampai sekarang Fadhil tak pernah menyentuhnya. Apakah pria itu jijik terhadap tubuhnya yang kotor, atau ada alasan lain, Maya tak mengerti. Tidak seperti pasangan suami istri lainnya, Maya merasa kalau ia dan Fadhil seperti dua orang asing yang dipaksa untuk hidup dalam satu atap. Entah sampai kapan semua ini akan berlangsung, jujur... Maya tidak mengharapkan pernikahan yang seperti ini.


.......


Radi dan Rina sudah berada di atas pelaminan. Mereka memberikan selamat pada pasangan pengantin yang berbahagia. "


"Selamat Tuan, Nyonya," kata Rina yang lebih dulu menyalami kedua pengantin.


"Terima kasih, Rina..." balas Ajeng sembari tersenyum. "Hai, Reyhan. Kau tampan sekali malam ini." Ajeng sedikit menunduk untuk bisa mengelus pipi Reyhan yang kemerahan.


"Maacih, Nte..." Senyum bocah itu mengembang. Reyhan sangat senang mendapatkan pujian. (Makasih, Tante)


"Cakra, Ajeng, selamat atas pernikahan kalian yang berjalan dengan sempurna. Semoga kelak kalian menjadi pasangan yang harmonis, pasangan yang akan dikaruniai keberkahan yang berlapis-lapis. Dan semoga dikaruniai anak-anak yang saleh dan salehah sehingga menyempurnakan kebahagiaan kalian. Aamiin." Radi memanjatkan do'a dan harapannya untuk pasangan itu.


"Terima kasih, Kak. Ku do'akan semoga kau segera menyusulku," harap Ajeng. Sekarang ia sudah bahagia dan ia ingin kakak angkat sekaligus mantan suaminya itu bahagia juga.


"Aamiin," sahut Radi. Tak munafik, ia juga ingin membangun kembali rumah tangga bersama wanita yang akan menjadi pasangannya kelak.


"Cakra, jaga adikku dengan baik. Jangan melakukan kesalahan seperti yang aku lakukan," pesan Radi untuk suami adiknya.


"Tentu, Bro." Cakra dan Radi bersalaman hangat.


"Dira, mama kangen!" Ajeng langsung mengambil putrinya dari gendongan sang ayah.


"Papa juga kangen, sayang..." Cakra mengelus pelan pipi putri sambungnya. "Cantiknya putri papa. Bajunya kembang-kembang, warna pink lagi."


Sementara Cakra dan Ajeng bercengkrama dengan Dira, Radi dan Rina bergeser ke pinggir.


"Dira tidak merepotkanmu 'kan, Kak?" tanya Ajeng.


"Merepotkan bagaimana? Dira itu putriku, tak mungkin seorang ayah akan direpotkan untuk mengurus putrinya. Lagi pula, Dira anaknya anteng, jadi senang mengurusnya," jawab Radi.


Awalnya Ajeng memang berat melepas Dira pada ayahnya. Namun, Radi terus meyakinkan jika dia bisa menjaga putri mereka selama Ajeng sibuk dengan pernikahannya. Wanita itu juga tidak ingin menjadi ibu yang egois, dengan tidak memberi waktu bagi ayah dan anak itu untuk menghabiskan waktu bersama.


"Nikmatilah waktu berduamu dengan Cakra, Dira biar aku yang mengurus. Jangan khawatir, ada Rina yang setia membantu," ucap Radi.


"Terima kasih, Kak."


"Terima kasih juga, Rin."


"Sama-sama, Nyonya."


Ajeng terdiam sejenak, ia memandang Rina dan Radi bergantian. "Sepertinya mereka cocok," batinnya.


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment

__ADS_1


Terima kasih😊


__ADS_2