
...🌷Selamat Membaca🌷...
Hari ini Maya diizinkan beristirahat di ruang perawatan karena kondisinya yang masih lemas karena tengah mengandung. Seorang polisi wanita setia menjaganya agar tidak kabur.
"Kenapa jadi seperti ini?" Maya melirih pelan. Ia mengusap pelan perutnya yang masih terlihat rata itu. Sungguh... jika ia mengandung saat dulu masih bersama Radi, mungkin ia akan merasa senang karena akan ada pengikat antara dirinya dan pria itu, tapi kalau sekarang... justru ini sangat tidak ia harapkan.
Maya sudah bertekad dalam hatinya jika akan memperbaiki diri begitu keluar dari penjara, tapi begitu mengetahui jika kali ini ia mengandung anak di luar pernikahan lagi, membuatnya stress. Kedua orang tuanya pasti akan kecewa untuk yang kesekian kalinya. Terlebih untuk ayah dari janin yang sedang ia kandung, Maya merasa sangsi jika Radi akan menerima anak itu nanti.
"Tuhan... kenapa ini harus terjadi lagi pada diriku? Aku menyesal... andai waktu dapat diputar, aku tidak ingin mengalami nasib yang menyedihkan seperti ini."
Malam itu Maya tidak tidur, ia terus mengingat semua kesalahan yang sudah ia lakukan dan merenunginya.
.......
Radi sampai di kantor polisi, ia tidak tahu ada hal apa sampai polisi kembali memintanya untuk datang.
"Selamat pagi, Pak..." sapa Radi pada petugas yang berjaga di sana.
"Pagi, Pak Radi. Maaf mengganggu waktu anda, kami punya kabar penting untuk diberitahu, tapi sebelum itu kita tunggu dulu kedatangan keluarga Bu Maya," kata kepala polisian.
Radi penasaran, apa sebenarnya yang telah terjadi sampai keluarga Maya juga turut diundang. Bukankah wanita jahat itu hanya akan menunggu waktu persidangannya saja.
Tak lama kemudian, ayah dan ibu Maya datang. Mereka datang hanya berdua, sementara Lingga dijaga oleh tantenya, adik Maya.
"Karena semuanya sudah berkumpul, mari kalian ikut saya." Kepala kepolisian itu menuntun jalan tiga orang di sana ke ruang perawatan di mana Maya berada.
Cklekk
Pintu ruangan terbuka, polisi yang berjaga di dalam sana segera berdiri dan memberi hormat pada atasannya.
"Maya, kau kenapa, Nak?" Bu Desi yang melihat Maya terbaring lemah di ranjang segera menghampiri anaknya itu. Raut wajah tuanya menampakkan kecemasan yang kentara.
"Ibu..." lirih Maya lemah. Wajah maya terlihat pucat, matanya bengkak dengan kantung yang menghitam seperti panda.
"Maya..." Bu Desi mengusap-usap kepala Maya dengan penuh kasih sayang. Hatinya sangat sakit melihat penderitaan putrinya.
Radi mengernyitkan kening melihat kondisi Maya. "Ada apa dengannya, Pak?" tanyanya penasaran.
"Itu yang ingin kami bicarakan pada Pak Radi dan juga orang tua Bu Maya."
"Anak saya kenapa, Pak? Apa yang terjadi padanya?" Bu Desi menghampiri polisi dan mendesaknya. Ibu dari Maya itu sudah berlinang air mata.
__ADS_1
"Tenang dulu, Bu." Pak Indra menenangkan istrinya.
"Kemarin Bu Maya pingsan, setelah diperiksa ternyata saat ini Bu Maya tengah mengandung."
Deg
Tubuh Radi limbung seketika, untung ia segera berpegangan pada dinding yang ada di belakangnya.
"Apa, Pak? Maya hamil?" Bu Desi tampak sangat shock. Sementara Pak Indra hanya mampu terdiam dengan wajah yang terlihat sudah putus asa.
"Pak! Kenapa nasib putri kita jadi begini?" Bu Desi mengguncang tubuh mematung suaminya. Wanita tua itu terlihat sangat frustasi. "Siapa yang telah menghamili anak kita, Pak? Orang itu harus bertanggung jawab!" pekiknya.
Bu Desi kembali menghampiri ranjang Maya dan menanyai anaknya itu mengenai siapa ayah dari bayi yang Maya kandung. Sementara Pak Indra, menatap Radi dengan tatapan menusuk. Pria tua itu tahu betul jika Radi lah yang harus bertanggungjawab atas kehamilan putrinya kali ini.
"Katakan pada Ibu, May! Siapa ayah dari bayi yang kau kandung itu?" desak Bu Desi.
Maya tergugu, ia tidak menjawab pertanyaan ibunya, hanya ada air mata yang terus berjatuhan di pipi kurusnya.
"Siapa, May? Apa Satria?" tebak Bu Desi. Hanya ada nama pria itu yang terpikirkan di benak tuanya saat ini.
Maya tetap bungkam, membuat Bu Desi kesal sendiri. "Baik, jika kau tak mau mengatakannya. Ibu akan datang dan melabrak pria brengsek itu. Dia harus bertanggung jawab dan menikahimu. Sudah dua kali dia membuatmu hamil. Ini tidak bisa dibiarkan!"
"Tak perlu juah-jauh mencari pria brengsek itu, Bu. Saat ini ia sudah ada di antara kita," ucap Pak Indra.
Radi terbelalak, ia merasa tidak siap menerima amukan Bu Desi yang tengah kalap itu.
"Maksud Bapak apa?" Bu Desi masih belum menangkap maksud dari perkataan suaminya.
"Dia!" Jari telunjuk pak Indra langsung mengacung tepat di hadapan muka pucat Radi.
Deg
Jantung Radi berdetak semakin cepat, terlebih saat ia melihat Bu Desi mulai berjalan menghampirinya.
PLAKK
Satu tamparan keras mendarat dengan mulus di pipi Radi. Rasanya panas dan nyeri.
"Pria brengsek!" umpat Bu Desi.
"Ibu..." Maya yang melihat Radi ditampar ibunya pun langsung menjerit.
__ADS_1
"Apa benar pria ini adalah ayah dari janin yang kau kandung itu, May?" tanya Bu Desi memastikan.
Maya terpaksa mengangguk lemah. Ia tak bisa menyembunyikan kebenaran itu.
"Maya! Kau jangan mengada-ada! Tidak mungkin janin itu adalah milikku!" Radi mengelak. Ia tidak bisa percaya begitu saja pada apa yang dikatakan Maya. Ia ingat jika wanita itu sangat pintar bersandiwara.
Maya mencoba duduk dengan susah payah, untung ada polwan yang membantunya.
"Mas, aku tidak mengada-ada. Janin yang ku kandung ini adalah benihmu..." jawab Maya terisak.
Radi tersenyum kecut, lalu ia berjalan menghampiri Maya. "Oh... benarkah?" tanyanya sinis.
"Iya, Mas. Aku tidak bohong." Maya meyakinkan.
"Bagaimana aku bisa percaya jika dulu saja kau pernah membohongiku. Kau bilang Lingga adalah anakku, tapi ternyata dia adalah anaknya Satria, sepupuku. Lalu sekarang kau meminta aku percaya semudah itu? Bagaimana jika ternyata anak yang kau kandung itu bukanlah milikku tapi milik Satria, lagi?" desis Radi.
Maya yang dituduh seperti itu tidak terima, ia mengangkat tangan hendak menampar Radi, tapi pria itu lebih dulu menahannya. "Jangan berani kau tampar aku, dasar wanita murahan!"
"Laki-laki brengsek!" Bu Desi yang mendengar hinaan Radi pada Maya pun merasa murka. Ia memukuli Radi membabi buta.
"Bu Desi, tenangkan diri anda! Jangan melakukan kekerasan di sini. Semuanya masih bisa dibicarakan dengan baik-baik." Polisi yang stand by di sana menghentikan aksi anarkis ibunya Maya tersebut.
"Maaf Bu Desi, Pak Indra... saya tidak bisa mempercayai jika anak yang tengah dikandung Maya itu adalah darah daging saya. Ini pernah terjadi sebelumnya dan saya tidak akan tertipu lagi." Radi berkata tegas.
"Mas Radi..." lirih Maya. Hatinya sungguh tercabik saat mendengar jika Radi tak mengakui jika janin dalam perutnya ini adalah darah daging pria itu. Ia tahu ini akan terjadi, tapi menghadapinya ternyata sangat sulit.
"Maaf, Pak. Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya permisi." Radi berpamitan pada polisi di sana.
Polisi yang merasa jika suasananya sudah tidak kondusif lagi, membiarkan Radi pergi. "Baik, Pak. Terima kasih atas waktunya."
"Mas Radi!" Maya memekik melihat kepergian Radi. Saat ini wanita itu merasa sangat kacau. Tubuhnya perlahan jatuh tak sadarkan diri.
"Maya!"
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...
...Terima kasih...
Maaf jika ceritanya sudah sangat membosankan, tapi tenang, konfliknya akan berakhir sebentar lagi, dan tinggal penyelesaiannya saja.😉
__ADS_1