2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Emotional


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Cakra tengah menunggu Ajeng di luar kamar mandi. Saat ini istrinya itu tengah melakukan tes kehamilan di dalam sana.


Cklekk


Beberapa menit kemudian, pintu terbuka, Ajeng keluar dengan wajah sendu, membuat Cakra penasaran hebat. Apakah saat ini wanita itu benar-benar hamil?


"Bagaimana, sayang?" tanya Cakra.


Tidak menjawab, Ajeng justru langsung menubruk tubuh suaminya. "Aku tidak jadi melakukan tesnya, Mas. Hiks..." ucap wanita itu diselingi isakannya.


"Ke-kenapa?"


"Aku datang bulan, Mas. Maafkan aku..." isak Ajeng.


Cakra terdiam, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Seharusnya ia merasa lega, karena masih bisa mengikuti saran dokter, tapi di sudut hati kecilnya, ia merasa sedih, karena buah hati yang diharapkan ternyata belum hadir juga.


"Sudahlah, sayang. Tidak apa-apa. Kenapa kau menangis?" Cakra menepuk-nepuk pelan punggung istrinya, menenangkan.


Ajeng masih terisak dengan kedua tangan melingkar di perut keras suaminya. Ia sedih, karena ia sendiri tahu jelas jika Cakra sangat menginginkan seorang anak.


Cakra melepas pelukan istrinya dan menangkup pipi berisi milik wanita itu. "Jangan sedih, kita 'kan memang belum merencanakannya." Disapunya air mata yang terus menetes di pipi Ajeng.


"Hm..." Ajeng hanya berdehem.


"Sudahlah, sekarang kita keluar, ya? Bibi sudah membuatkan sarapan untuk kita," ajak Cakra.


Ajeng mengangguk.


"Jangan menangis lagi!" pintanya. Cakra yang berusaha kuat menerima keadaan, jadi ikut sakit saat melihat air mata Ajeng.


Cup


"Aku mencintaimu..." bisiknya setelah mendaratkan kecupan cinta di kening sang istri.


"Aku juga mencintaimu, Mas..."


.......


"Rin, weekend ini kita jalan-jalan, yuk!" ajak Radi saat mereka tengah menikmati sarapan dengan santai.


"Jalan ke mana, Mas?" tanya Rina. Ya, semenjak mereka menjalin hubungan, Radi memaksa Rina untuk mengganti panggilannya dari "Tuan" menjadi "Mas" lagi pula, mana ada orang yang memanggil kekasihnya sendiri dengan sebutan tuan.


"Jagoan, mau jalan ke mana?" tanya Radi. Menatap calon putranya yang sibuk mengunyah sosis.


Mendapat pertanyaan, Reyhan tampak berpikir, matanya bahkan menerawang jauh, memikirkan akan ke mana mereka untuk jalan-jalan.


"Lehan au andi ola..." jawab bocah itu semangat. (Reyhan mau mandi bola). Ia pernah melihat anak-anak bermain mandi bola di televisi, dan ia juga ingin melakukannya.


"Ok, minggu besok kita mandi bola..." putus Radi.


"Leeee....." Reyhan langsung bertepuk tangan ria. (Horeeee)


Rina tersenyum melihat keceriaan sang buah hati. Ini semua berkat Radi yang sudah bersedia menjadi ayah bagi batita malang tersebut.


.......


Cakra berjalan memasuki kantornya. Ia baru sampai saat jam menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Di rumah, Ajeng masih terlihat sedih, makanya Cakra harus menghibur istrinya itu terlebih dahulu. Kalau tidak, ia tidak akan merasa tenang ketika bekerja di kantor.

__ADS_1


BRUKK


Cakra yang pikirannya kurang fokus, tak sengaja menabrak seseorang yang berjalan terburu-buru ke arahnya.


"Maaf," ucap pria itu. Matanya melihat banyak sekali kertas yang bertebaran di lantai, sepertinya milik orang yang baru saja ia tabrak. Merasa bersalah, Cakra berjongkok dan membantu orang tersebut mengumpulkan kembali kertas-kertasnya.


"Terima kasih, Pak Cakra..." ucap seorang wanita yang tadi sudah dibantu Cakra untuk memunguti kertas-kertasya. "Saya juga minta maaf karena tadi telah menabrak anda, saya berjalan terlalu terburu-buru," tambahnya.


"Ya, lain kali hati-hati!" Nasihat Cakra sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya.


"Pak Cakra!" panggil wanita itu kemudian.


Langkah Cakra terhenti, pria itu pun menoleh. Matanya menatap tajam wajah karyawan wanita yang memanggilnya. "Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Cakra datar.


Wanita itu terdiam sejenak, ia terlihat sedikit gelisah. Cakra mengernyit bingung melihat tingkah karyawan di perusahaannya itu. "Ada ap-"


"Apa anda tidak mengingat saya?"


Baru saja Cakra ingin pamit undur diri, wanita itu langsung mengeluarkan suara.


Cakra terdiam. "Kau siapa? Maaf, aku tidak ingat..." katanya. Ia meneliti wajah wanita itu, tapi tetap saja tidak dapat mengigatnya.


"Saya junior anda di kampus dulu, nama saya Niken. Apa sekarang anda ingat?" tanya wanita itu lagi. Entah kenapa, ia terkesan sedikit memaksa.


Cakra menggali semua ingafannya pada masa kuliah beberapa tahun lalu, dan setelah sekian lama flashback, ia baru ingat jika wanita di hadapannya ini adalah adik tingkatnya pada masa kuliah dulu.


"Oh, Niken yang menjadi koordinator di dapartement IV saat DPM dulu, kan?" tanya Cakra memastikan.


"Benar, Pak. Saya senang karena anda ternyata masih mengingat saya." Sosok wanita cantik bernama Niken itu mengangguk dan tersenyum.


"Oh, sejak kapan bekerja di perusahaan ini?" tanya Cakra basa-basi.


"Baru dua minggu ini, Pak. Saya salah satu staff di bagian accounting," jawabnya.


"I-iya, Pak." Wanita bernama Niken itu memandang punggung bosnya yang perlahan semakin menjauh. Sudah dua minggu bekerja, baru kali ini ia bertemu dengan bosnya itu. Seulas senyum terbit di bibir berpoles lipstik berwarna nude miliknya. "Dia semakin tampan saja..." batinnya.


.......


Di dalam kamar, terlihat Maya tengah menghubungi seseorang.


"Mas, boleh aku minta tolong?" tanya Maya pada seseorang di seberang telepon.


"Ya, ada apa, May? Kebetulan mas sedang tidak sibuk," sahut lawan bicara Maya di telepon yang tak lain adalah suaminya, Fadhil.


"Mas, bisa jemput Kei di TKnya? Aku merasa kurang enak badan, jadi tidak bisa menjemputnya. siang ini. Selain itu, ibu juga sedang tidak berada di rumah. Beliau ada acara bersama teman-teman arisannya," ucap Maya.


"Baiklah, biar mas yang menjemput Kei. Kau istirahat saja, ya."


"Iya, terima kasih ya, Mas sayang..."


"Sama-sama, sayang..."


Maya menutup sambungan teleponnya. Selang beberapa saat, ia merasakan perutnya melilit lagi, dengan berlari kecil ia langsung melesat menuju kamar mandi. Terhitung sudah tiga kali ia bolak balik kamar mandi, diare. Sepertinya ia salah makan hingga terserang diare. Badannya juga menjadi lemas, makanya ia tidak bisa menjemput Kei siang ini.


... ....


Fadhil sampai di taman kanak-kanak tempat putrinya bersekolah. Terlihat sepi dan hening, mungkin karena anak-anak belum keluar dari kelasnya.


Lima menit kemudian, terdengar bel berbunyi. Pintu-pintu ruangan kelas yang awalnya tertutup, kini terbuka satu persatu, disusul dengan teriakan gembira dari anak-anak yang berlarian keluar.

__ADS_1


"Di mana, Kei?" tanya Fadhil pada dirinya sendiri. Pasalnya, semua anak sudah terlihat dijemput oleh orang tuanya, lalu di mana keberadaan putri nakalnya itu.


Fadhil pun menuju ke kelas putrinya. Ternyata Kei masih berada di sana, terlihat tengah berdebat dengan seorang bocah perempuan, teman sekelasnya.


"Ini 'kan punya Kei, kenapa Qilla ambil?" tanya Kei. Fadhil memperhatikan keduanya dari ambang pintu.


"Ini punya Qilla, mama yang belikan," sanggah bocah bernama Aqilla itu, ia tak terima karena dituduh telah mengambil barang milik Kei.


"Ini jelas punya Kei, warnanya biru dan ada gambar frozennya." Kei tak terima, ia langsung merebut serutan yang ada di tangan Qilla.


Wajah bocah berumur 4 tahun itu langsung memerah, mafanya berkaca-kaca. "Itu punya Qilla, bukan punya Kei, hiks..." Isakan mulai muncul dengan derai air mata yang perlahan membasahi pipi.


Kei cemberut. "Kata mama, tidak boleh mengambil barang yang bukan punya kita, itu namanya mencuri. Masa Qilla itu aja tidak tahu," sinis Kei. Ia mengamankan serutan itu ke dalam tasnya.


Seketika itu juga Qilla menjerit. "Huaaaaa......"


Fadhil langsung masuk. "Ada apa ini, Kei? Kenapa kau membuat temanmu menangis?" tanyanya.


"Kei nggak salah, Pa. Qilla yang salah, dia sudah ambil serutan frozen punya Kei," kadunya.


Fadhil menafap putrinya intens. "Yakin itu punyamu? Jangan-jangan serutan yang Kei punya tinggal di rumah, coba deh diingat lagi?" Pria itu tahu jika putrinya itu sedikit ceroboh.


Kei terdiam. Ia mulai memikirkannya. "Oh iya, Kei kemarin malam lupa masukin serutannya ke dalam tas. Berarti ini bukan punya Kei." Bocah itu tertawa cengengesan.


Fadhil geleng-geleng kepala. "Putri ayah ini kebiasaan. Sudah, kasih punya temanmu!"


Qilla berhenti menangis saat menyaksikan interaksi ayah dan anak di depannya.


"Qilla, maafin Kei, ya. Ternyata ini punya Qilla, punya Kei tinggal di rumah. Hehe..."


"Iya, Qilla maafin Kei..." Qilla mengambil serutan yang disodorkan Kei.


"Yuk sayang, kita pulang!" ajak Fadhil.


"Mama ke mana, Pa?" tanya Kei. Biasanya Maya yang menjemputnya.


"Mama sedang tidak enak badan, jadi papa yang jemput Kei."


"Oh, ya sudah. Ayo, Pa. Kei harus jagain dedek Lingga karena mama sakit." Kei langsung menggandeng tangan ayahnya.


"Qilla, Kei pulang dulu, ya?" pamit Kei pada teman sekelasnya.


"Iya..." jawab Qilla.


Fadhil dan Kei berbalik, namun kemunculan seseorang membuat aksi keduanya terhenti.


"Qilla!" Sesosok wanita masuk ke dalam kelas dan menghampiri Aqilla.


Deg


Fadhil mematung di tempat saat netranya menangkap jika sosok yang baru datang itu adalah seseorang di masa lalunya.


"Disa!" panggilnya.


Sosok wanita yang dipanggil Disa itu menoleh, dan matanya langsung membulat.


"Mas Fadhil...."


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Comment


Terima kasih sudah membaca😊


__ADS_2