
...🌷Selamat Membaca🌷...
Pagi ini Cakra dan keluarga kecilnya tengah sarapan bersama, minus Ela yang sudah tidak tinggal di sana dan Ajeng yang belum keluar dari kamar. Cakra membiarkan istrinya tidur lebih lama karena wanita itu terlihat lelah.
Saat sedang khidmat menyantap makanan, terdengar bunyi langkah yang memasuki ruang makan. Semuanya menoleh dan menemukan Ajeng yang berjalan mendekat ke meja makan. Ia menyapa semua orang.
"Pagi, Mas. Pagi anak-anak..." sapanya.
"Pagi, sayang." Cakra membalas.
"Pagi mama..." balas serempak ketiga anak Ajeng, Dira, Arsha dan Arsy.
Ajeng duduk tepat di samping suaminya dan berhadapan dengan Dira, si anak sulung.
"Biar mas ambilkan makanannya," seru Cakra saat Ajeng hendak menyendok nasi goreng ke dalam piringnya.
"Makasih, Mas." Ajeng tersenyum manis mendapati perhatian suaminya. Begitu juga anak-anak yang bahagia melihat keromantisan kedua orang tuanya.
"Makan yang banyak, sayang. Supaya kamu dan dia sehat," ucap Cakra sembari menyodorkan piring ke hadapan istrinya.
"Iya, Mas."
Sebelum menyuap nasi ke dalam mulutnya, Ajeng terlebih dahulu membasahi kerongkongannya dengan air putih. Baru setelah itu memakan nasi gorengnya.
Satu suapan masuk ke dalam mulut Ajeng, saat mengunyah makanannya, tiba-tiba sesuatu yang bergolak di dalam perutnya membuat wanita itu mual.
"Hueekk..." Ajeng menutup mulutnya. Entah kenapa rasa nasi goreng kali ini membuatnya mual. Ia pun bangkit hendak berlari ke wastafel untuk memuntahkan makanannya.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Cakra yang melihat keadaan Ajeng ikut bangkit, niatnya ingin menemani sang istri yang sepertinya mengalami morning sickness. Namun, dengan cepat Ajeng menghentikan aksi suaminya.
"Nggak, Mas. Aku bisa sendiri. Mas lanjutkan sarapan bersama anak-anak!" Setelah mengatakan itu, Ajeng langsung berlari ke kamar mandi.
Cakra merasa sedikit was-was melihat istrinya berlari, takut terpeleset dan jatuh.
"Papa, mama kenapa?" tanya Arsy. Tersyirat nada cemas dalam suaranya. Tidak biasanya sang ibu muntah seperti itu.
Cakra beralih ke dalam mode tenang. "Hamil, mungkin..." jawabnya ambigu. Ia ingin melihat reaksi anak-anaknya sebelum ia memberitahukan yang sebenarnya.
"Hahaha..." Arsha langsung tertawa hingga semua orang di meja makan itu menatapnya ganjil. "Papa bercandanya bisa aja, mana mungkin mama hamil!" serunya tak percaya.
Cakra tersenyum penuh arti sembari menatap lekat putra satu-satunya itu. "Who knows?" ucapnya.
"Nggak mungkin!" Arsha menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Namun, jika melihat respon yang diperlihatkan sang ayah, membuatnya menjadi ragu. "Yang benar saja, Pa? Jangan nge-prank! Ini masih pagi," protesnya.
Arsy menatap kesal reaksi berlebihan yang ditunjukkan oleh saudara kembarnya. "Lo lebay banget sih, Ar. Kalau memang mama hamil, apa salahnya coba?" tanyanya tak habis pikir.
Arsha mendelik pada Arsy. "Ya kali, Syil. Kita udah besar masa harus punya adik bayi."
"Alah... bilang aja lo takut kalau gelar anak bungsu lo di keluarga ini bakal digeser ke calon adik kita," ledek Arsy. "Lagian ya, gue seneng kalau seandainya bakal punya adik. Maunya sih cewek, kalau cowok ntar kayak lo lagi, nyebelin!" tambahnya.
"Sudahlah, jangan berdebat di meja makan. Nggak baik. Sekarang habiskan makanannya!" Dira menengahi perdebatan kedua adiknya.
__ADS_1
Arsha dan Arsy langsung terdiam dan memilih melanjutkan sarapannya. Walau sebenarnya Arsha sudah tak selera, tapi ia tidak mungkin membuang makanannya. Cakra suka marah kalau anak-anaknya tidak menghabiskan makanan.
Awalnya, Cakra hanya berniat memancing reaksi dari anak-anaknya dan sekarang ia tahu kalau Arsha tidak terlalu suka jika memiliki adik. Berbanding terbalik dengan Arsy yang tidak mempermasalahkan hal itu, malahan sudah berharap untuk memiliki adik cewek.
"Kalau kamu gimana, Nak? Seandainya punya adik lagi, apa kamu keberatan?" Kini Cakra menatap si sulung.
Dira meletakkan alat makannya di atas piring yang sudah kosong, lalu beralih menatap sang ayah.
"Aku sudah memiliki empat adik, jika bertambah lagi pun, itu tidak masalah. Keluarga kita akan menjadi semakin ramai, itu menyenangkan." Jawaban Dira membuat Cakra dan Arsy tersenyum. Sementara Arsha justru mencebik tak suka.
"Umur kakak sekarang udah 18 tahun, jika orang zaman dulu di umur segitu udah punya dua anak. Memangnya kakak nggak malu, udah besar punya adik bayi? Ntar bawa adik main, dikira bawa anak main lagi." Arsya terkekeh, mengejek.
"Biasa aja, sih." Dira menyahut santai. Menurutnya Arsha sedikit berlebihan menanggapi masalah ini, toh belum pasti juga kalau ibu mereka saat ini sedang tengah mengandung.
"Kalian lanjutkan sarapannya, papa sudah selesai dan mau melihat keadaan mama." Cakra pamit dan segera meninggalkan meja makan menyusul sang istri yang kemungkinan berada di kamar mandi, di kamar mereka.
...****************...
Dira masih memikirkan kejadian pagi tadi. Ia merasa kalau saat ini ibunya memang sedang hamil. Dan, tadi pagi itu sang ayah sengaja memancing untuk melihat bagaimana respon dari anak-anaknya. Tak disangka kalau ternyata Arsha menentangnya. Entah apa salahnya memiliki adik bayi diumur yang sudah besar. Ia saja yang anak sulung bisa menerima, masa Arsha yang notabenenya adalah anak bungsu, sulit untuk menerima. Apa benar kaya Syila, kalau Arsha takut posisinya sebagai anak bungsu akan tergeser. Lagi pula, apa masalahnya dengan si sulung dan si bungsu, toh orang tua mereka sama-sama memberikan kasih sayang dan limpahan materi yang adil. Alasan Arsha terlalu mengada-ada, menurutnya.
"Ra, lo kenapa, sih? Dari tadi gue lihatin bengong aja. Tuh, Lingga udah duduk di samping lo, pasti lo nggak nyadar, kan?" sentak Luna.
Dira langsung menoleh dan menemukan Lingga sudah duduk tepat di sampingnya, menatapnya lekat.
"Kamu kenapa? Ada masalah? Ceritalah!" Lingga menggenggam tangan Dira yang ada di atas meja.
Dira termenung sesaat. Sepertinya ia bisa menanyakan bagaimana pendapat teman-temannya akan masalah yang terjadi tadi pagi.
"Adik? Hm... kalau menurutku tidak masalah. Anak adalah anugerah yang dititipkan Tuhan pada setiap orang tua, jadi kedatangannya patut disyukuri," jawab Lingga.
Dira mengangguk, kemudian ia beralih pada kedua temannya. "Kalau menurut kalian?" tanyanya.
"Woah, kalau gue punya adik, bakalan gue traktir anak-anak satu sekolahan ini, Ra. Lo 'kan tahu kalau gue anak tunggal. Sepi, Ra. Pengen punya adik, tapi nyokap udah nggak bisa hamil karena rahim beliau udah diangkat setelah melahirkan gue." Luna yang menjawab pertama.
Dira mengerti betapa kesepiannya Luna, ia merasa iba dan berjanji jika sahabatnya itu mengajak main, akan ia turuti.
"Kalau pendapat lo?" Kini Dira menatap Hanna.
"Kayaknya seru kalau punya adik. Gue punya seorang kakak laki-laki, jarak umurnya juga jauh di atas gue. Dia menyayangi dan sangat memanjakan gue. Seandainya punya adik, gue juga pengen menyayangi dan memanjakan adik gue seperti yang kakak gue lakuin," ujar Hanna. "Tapi sayang, nyokap udah cukup berumur jadi nggak mungkin bisa hamil lagi," tambahnya.
Dira mengerti, mungkin ini masalah kedewasaan. Ia dan teman-temannya sudah cukup dewasa dan mengerti. Sementara Arsha masih remaja dan labil. Namun, ia yakin cepat atau lambat, Arsha bakal menerima jika seandainya punya adik.
...****************...
Malam ini, Cakra mengumpulkan seluruh keluarga di rumah mewah orang tuanya. Mereka akan makan malam bersama untuk pertama kalinya setelah sang ayah berpulang ke pangkuan yang kuasa.
Semua tampak menikmati hidangan lezat yang tersaji di meja makan. Tyas tersenyum melihat anak, menantu dan cucunya berkumpul. Rumah ini terasa lebih hidup. Namun, semua itu tidak bisa menutupi kerinduannya pada mendiang suaminya, Guntur. Setiap detik yang terlewati, bayang-bayang Guntur selalu menyertainya.
Selesai makan malam, mereka duduk bersama di ruang tamu. Shinta dibantu Ajeng, menyajikan teh untuk para wanita dan kopi untuk para pria serta jus untuk anak-anak.
"Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan, Dik?" tanya Rama membuka obrolan. Saat Cakra menghubunginya semalam, adiknya itu mengatakan bahwa ada kabar yang ingin disampaikannya.
__ADS_1
Cakra menatap Ajeng sebentar baru setelah itu melihat kepada semua orang yang duduk penasaran di tempatnya.
"Ibu..." panggil Cakra.
"Iya, Nak..." sahut Tyas sambil tersenyum.
"Ibu akan punya cucu lagi," beritahu Cakra.
Deg
Semua orang di ruangan itu terbelalak kaget, kecuali Ajeng. Dira juga tidak terlalu terkejut karena ia sudah menduganya.
Plakk
Tyas langsung memukul lengan kekar Cakra dengan cukup keras. Wanita tua itu tampak menggebu-gebu. "Suami kejam! Kenapa kau membuat istrimu hamil lagi, huh? protes Tyas.
Cakra tertawa cengegesan. "Ini nggak direncanakan, Bu."
Tyas memberenggut. "Seharusnya, diumur segitu, istrimu hanyal tinggal melihat anak-anak kalian bertumbuh besar dan menjadi orang sukses, bukan malah harus mengurus bayi lagi."
"Sudahlah, Bu. Namanya juga anugerah, tidak baik menolaknya seperti itu. Seharusnya ibu senang karena akan menambah cucu lagi," bela Rama.
"Ya... ya." Tyas mengangguk pasrah. "Lalu, anak-anak gimana?"
Kini pandangan semuanya beralih pada keempat anak Ajeng dan Cakra.
"Aku senang 'kok, Nek." Dira menjawab pertama. "Nanti aku juga akan membantu mama merawat adik bayi," sambungnya.
"Aku juga senang, nanti bersama-sama kami akan membantu mama mengurus adik." Eya sepertinya juga tidak keberatan.
"Aku berdo'a supaya nanti bayi yang dilahirkan mama adalah cewek. Aku udah punya adik cowok, sekarang aku mau yang cewek. Hehe..." Arsy terlihat begitu bahagia.
Terakhir, semuanya menatap si bungsu.
"Arsha..." panggil Cakra. Ia berharap putranya itu tidak mengeluarkan kata-kata seperti tadi pagi, takut itu akan melukai perasaan Ajeng.
"Nggak!" Arsha mendadak bangkit dari duduknya. "Aku nggak mau punya adik. Titik!"
Setelah menyuarakan penolakannya, Arsha berlalu dari hadapan semua orang.
"Jeng..." Cakra menyentuh bahu istrinya yang tertunduk lemas. "Mas akan coba memberi pengertian pada Arsha," ucapnya.
Ajeng menggeleng. "Tidak, Mas. Biar aku yang bicara dengan Arsha."
Wanita itu bangkit dan menyusul Arsha yang berlari ke arah halaman belakang.
...Bersambung...
No Edit...
Jangan lupa Like, Vote dan Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊