2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Lifting the Charge


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Ajeng sudah membicarakan pada Cakra masalah ia yang ingin mencabut tuntutan terhadap Maya. Pria itu mendukung Ajeng sepenuhnya. Sekarang yang harus dilakukannya adalah menemui Radi dan meminta pria itu mencabut tuntutannya, karena bagaimana pun juga, Radi lah yang telah melaporkan Maya.


Siang ini, ditemani Cakra, Ajeng mengunjungi perusahaannya yang sementara ini dikelola oleh Radi.


"Apa kedatangan kami mengganggumu, Mas?" tanya Ajeng berbasa-basi. Kini mereka bertiga sudah duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja Radi.


"Tidak, ada apa gerangan sampai kalian repot-repot datang kemari? Jika perlu sesuatu kalian bisa meneleponku saja," jawab Radi.


Ajeng melirik sekilas pada Cakra dan ia mendapat anggukkan dari pria itu. "Sebenarnya aku ingin membicarakan masalah yang penting Mas, makanya aku langsung datang kemari menemuimu."


Radi memperbaiki posisi duduknya, ia menatap dua orang yang duduk di hadapannya dengan serius. "Ada apa, Jeng? Apa ada masalah serius?" tanyanya penasaran.


Ajeng menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. "Aku ingin kau mencabut tuntutan kasus terhadap Maya, Mas!"


Deg


Mata Radi terbelalak, apa ia tidak salah dengar? Bagaimana bisa Ajeng ingin membebaskan seseorang yang sudah mencelakainya. "Kau serius? Jangan mengada-ada, Jeng! Wanita itu pantas mendapatkannya, kenapa harus dibebaskan?" tanyanya tak suka..


Ajeng memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali setelah beberapa detik. "Apa kau tak kasihan padanya, Mas? Dia baru saja keguguran, dan itu anakmu loh, Mas. Apa kau tidak merasa sedih setelah kehilangan calon anakmu itu?" tanya Ajeng sarkastis.


Radi terhenyak. Ingin sekali menjawab bahwa ia tidak merasa sedih saat kehilangan calon anaknya itu, karena memang ia tidak mengharapkan kehadirannya. Namun, ia tak bisa mengatakan hal tersebut karena rasanya terlalu kejam.


"Apa kau yakin? Kau tidak takut jika wanita itu berulah lagi?" tanya Radi memastikan. Sejujurnya Radi juga merasa kasihan melihat kondisi Maya kemarin, apalagi kalau sampai wanita itu mendekam di penjara dalam waktu yang lama, bagaimana dengan Lingga? Bayi itu masih sangat membutuhkan ibunya.


"Ya. Aku yakin dia sudah mengambil pelajaran dari apa yang telah menimpanya. Semoga saja dia bisa menjadi orang yang lebih baik lagi setelah ini."


Radi terlihat menghembuskan napasnya, pasrah. Jika Ajeng memang ingin tuntutan atas Maya dicabut, maka ia akan melakukannya. "Baiklah..." ucapnya kemudian.


Ajeng bernapas lega. "Kalau gitu, bisa kita pergi sekarang, Mas? Lebih cepat lebih baik," ajak Ajeng.


"Ok, baiklah." Radi akhirnya hanya bisa menurut. Ia berharap setelah semua ini usai, ia tak akan bertemu lagi dengan Maya.


.......


Maya masih dirawat di rumah sakit. Kondisinya masih lemah, jadi belum bisa kembali ke dalam sel. Dua orang polisi setia menjaga di depan pintu masuk ruang perawatannya.


"Selamat siang, Pak!" sapa Radi pada dua polisi yang berjaga.


Ajeng, Cakra dan Radi sudah sampai di rumah sakit. Sebelum mencabut tuntutannya ke kantor polisi, Ajeng ingin bertemu dulu dengan Maya.


"Selamat siang Pak Radi, apa anda ingin menjenguk Bu Maya?" tanya si polisi.


"Iya, Pak." Radi mengangguk. Pria itu lantas melirik Ajeng.


"Masuklah! Aku dan Cakra akan menunggu di luar."


Ajeng mengangguk. Sebenarnya ia ingin ditemani, tapi tak enak juga pada Radi maupun Cakra jika harus mendengarkan pembicaraannya dan Maya nanti.


Cklekk


Pintu ruang rawat Maya terbuka. Wanita yang tengah terbaring diam di tempat tidurnya itu seketika menoleh.


Deg


Mata sayu Maya membola saat melihat kedatangan Ajeng. Untuk apa dia kemari? Apakah wanita yang telah ia rusak kebahagiaannya itu datang untuk mentertawakan penderitaannya kini, pikir Maya.


Ajeng menghampiri Maya dan duduk di sampingnya. Raut wajah wanita itu tampak datar.


Maya sendiri sudah menyiapkan hati dan mental jika nantinya Ajeng akan mengejek atau bahkan mentertawakannya.


Ajeng mendesah di dalam hati. Tadi ia begitu yakin untuk bertemu dan bicara baik-baik dengan Maya, tapi kenapa setiap kali melihat wajah wanita itu ia merasa sangat kesal. Kilasan kenangan buruk yang telah dilakukan Maya kembali terbayang.


"Tenang, Jeng!" Ajeng mensugesti dirinya agar tidak emosi. Ia menghirup dan menghembuskan napas beberapa kali.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Ajeng membulai pembicaraan.


Deg


Maya kaget, ia tak menyangka jika Ajeng akan menanyakan kabar tentang dirinya.

__ADS_1


"Su-sudah lebih baik," jawab Maya gugup. Ia merasa canggung berhadapan langsung dengan Ajeng, terlebih jika mengingat semua kejahatan yang sudah ia lakukan pada wanita itu. Ia merasa malu dan rendah diri.


"Aku turut sedih mendengar jika kau keguguran, semoga kau tabah menerima cobaan ini," kata Ajeng selanjutnya.


"Hahahaha..."


Deg


Ajeng kaget karena Maya tiba-tiba tertawa. "Ke-kenapa dia tertawa?" pikir Ajeng heran.


"Hahaha, ini bukan cobaan, tapi ini adalah karma buatku. Pembalasan yang diberikan Tuhan karena telah menyakiti wanita sebaik dirimu!"


Deg


"Apa dia sudah menyadari semua kesalahannya selama ini? Kalau memang sudah, syukurlah..." batin Ajeng.


Tubuh Maya bergerak, ia mencoba untuk duduk. Karena sedikit kesulitan, Ajeng bangkit untuk membantu.


"Terima kasih," ucap Maya.


"Sama-sama..." Ajeng mengangguk dan ia kembali duduk di kursinya.


Hening...


"Ajeng!"


"Y-ya?" Ajeng terkesiap saat Maya memanggil namanya.


"Bagaimana kabar anakmu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Maya.


"O-oh, bayiku baik-baik saja. Dia cantik dan sehat," jawab Ajeng.


"Syukurlah... apa dia perempuan?" Maya kembali bertanya.


"Iya."


"Pasti dia cantik seperti dirimu."


Tiba-tiba Maya meraih tangan Ajeng dan menggenggamnya erat. Ajeng hanya diam, tidak menolak. Ia menatap wajah kuyu Maya yang mulai dibanjiri air mata.


"Maafkan aku, Jeng... hiks."


Deg


Ajeng diam, mendengarkan.


"Maaf karena sudah masuk dalam kehidupanmu dan mas Radi. Maaf karena sudah berusaha memisahkanmu darinya. Maaf karena telah membuatmu celaka dan hampir kehilangan bayimu. Tolong, maafkan aku Jeng, hiks." Maya tergugu.


Ajeng tersenyum, ia melepas tangannya yang digenggam Maya, lalu balik menggengam tangan wanita itu. "Aku senang, akhirnya kau sadar akan semua kesalahanmu. Ku harap setelah ini kau bisa menjalani hidupmu dengan lebih baik," ucapnya tulus.


Ajeng berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Permintaan maaf Maya memang tidak dapat mengembalikan semua seperti semula, tapi ia bersyukur karena wanita itu menyadari kesalahannya. Semoga suatu saat nanti, ia tidak kembali melakukan hal yang sama.


"Kenapa kau begitu baik? Padahal aku sudah sangat melukaimu, hiks..." Maya tidak percaya jika ia dapat maaf Ajeng secepat itu.


"Tuhan saja maha pemaaf, kenapa aku yang hanya makhlukNya harus begitu sombong dengan tidak memberi maaf pada orang yang sudah tulus meminta maaf," balas Ajeng. Ia memberikan senyuman manis agar Maya percaya jika dirinya tulus menerima permintaan Maaf Maya.


Tangisan Maya semakin keras, ia merasa sangat malu dan menyesal. Kenapa ia telah begitu jahat menghancurkan kebahagiaan wanita baik dan berhati mulia seperti Ajeng.


"Tenanglah!" Ajeng bangkit dan mengusap-usap punggung Maya, menenangkannya.


"Ajeng, apakah kau akan kembali pada mas Radi?"


Usapan tangan Ajeng di punggung Maya berhenti begitu mendengar pertanyaan tersebut.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Ajeng dingin.


"Mas Radi, dia sangat mencintaimu, Jeng. Dia tidak bersalah, semua ini adalah kesalahanku. Ku mohon, jangan berpisah darinya, kasihan dia jika harus berpisah darimu dan anak kalian," pinta Maya.


"Tidak usah kau memikirkan semua itu. Fokus saja pada kesehatanmu agar kau cepat pulih dan bisa pulang ke rumah. Anakmu pasti sangat merindukan ibunya," kata Ajeng mengalihkan topik pembicaraan.


Deg

__ADS_1


"Pu-pulang ke rumah? Bukankah seharusnya aku di penjara?" Maya menatap Ajeng lekat.


Ajeng tersenyum. "Aku dan mas Radi akan mencabut tuntutan kami terhadapmu. Kau bisa menjalani kehidupanmu seperti sedia kala, bersama anak dan keluargamu."


Mendengar itu Maya tertunduk. "Tidak bisakah jika aku tetap di penjara saja? Menjalani hukuman yang memang seharusnya aku dapatkan?" lirihnya pelan.


"Apa kau tidak memikirkan nasib orang tuamu? Anakmu? Mereka pasti sedih jika melihatmu harus mendekam di penjara," bujuk Ajeng.


"Tapi aku pantas mendapatkannya. Aku sudah membuat orang tuaku kecewa. Aku telah melempar kotoran ke wajah mereka. Aku sungguh malu..." Maya terisak.


"Kau bisa meminta maaf pada mereka dengan tulus. Berjanjilah bahwa kau akan berbakti kepada mereka berdua. Ubahlah kecewa mereka menjadi rasa bangga. Kau pasti bisa!" Ajeng memberi semangat.


"Apa mereka mau memaafkanku?"


"Tentu saja, kau adalah anak mereka. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya walaupun si anak itu sudah sering mengecewakan mereka."


"Terima kasih banyak, Ajeng. Aku sangat menyesal karena pernah menyakitimu. Semoga kedepannya kau diberikan kebahagiaan oleh Tuhan," ucap Maya terharu.


"Terima kasih, May." Untuk pertama kalinya, Ajeng menyebut nama Maya. "Cepatlah sehat, Lingga pasti sudah menantikan kepulangan dirimu."


Lingga? Ajeng merasa seperti menyebut nama anak sendiri, karena dari awal nama itu memang dipersiapkan untuk anaknya. Namun, kini semua itu tidak jadi masalah. Ajeng memiliki anak perempuan, dan namanya adalah Nadira.


"Iya." Maya mengangguk mantap. "Sekarang aku merasa sehat, tak ada lagi beban yang mengganjal di hati dan pikiranku. Terima kasih sekali lagi karena sudah memaafkan semua kesalahanku."


"Iya."


Kedua wanita itu saling melempar senyum. Dengan saling memaafkan, semua akan terasa lebih indah.


.......


Radi dan Cakra menunggu dengan gelisah di luar. Mereka takut kedua wanita itu bertengkar di dalam, tapi sejauh ini semua baik-baik saja. Tidak ada keributan yang terdengar.


Cklekk


Akhirnya pintu terbuka, Ajeng keluar dari kamar Maya. Dua pria yang memang menunggu kedatangannya langsung menghampiri.


"Bagaimana?" tanya Radi.


"Semuanya baik-baik saja, Mas."


"Syukurlah..." ucap lega kedua pria tampan itu.


"Mas, bagaimana jika kau saja yang pergi ke kantor polisi? Aku tidak bisa terlalu lama, kasihan Dira ku tinggal bersama pelayan di rumah," ucap Ajeng.


"Ya, tidak masalah. Biar aku yang mengurus semuanya."


"Terima kasih, Mas. Kalau begitu aku dan Mas Cakra pamit dulu."


"Ya." Radi mengangguk.


Tap


Tap


Tap


"Oh ya, Mas." Ajeng yang sudah berjalan beberapa langkah, kembali membalikkan tubuh.


"Ada apa?" tanya Radi.


"Apa kau sudah menerima surat undangan dari pengadilan agama?"


Deg


"Sidang pertama kasus perceraian kita akan diadakan lusa. Semoga prosesnya dapat berjalan dengan lancar ya, Mas." Setelah mengatakan itu, Ajeng beranjak pergi.


Radi menutup wajahnya. "Akhirnya aku akan benar-benar kehilangan dirimu, Jeng."


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment yaa...😊

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2