
...🌷Selamat Membaca🌷...
Maya menjalani hari-harinya di dalam sel dengan menyedihkan. Setelah mengetahui jika dirinya tengah mengandung anak Radi, wanita itu menjadi stress. Tubuhnya semakin kurus karena terus muntah dan tak bisa makan.
Hari ini adalah sidang pertama kasusnya Maya. Sejak pagi tadi wanita itu tak berhenti muntah, badannya lemas dan kepalanya pusing. Apakah ia bisa melalui sidang hari ini dengan baik atau tidak.
"Perutku rasanya sakit sekali..." Maya yang duduk bersandar di dinding sel hanya bisa merintih pelan. Ia memegangi perutnya yang nyeri luar biasa.
Tak lama kemudian, bunyi jeruji besi yang dibuka terdengar nyaring. Seorang polisi wanita datang dan menghampirinya.
"Bu Maya, sidang akan segera dimulai," kata si polisi.
Maya mengangguk lemah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba berdiri. "Arghhh..." Erangan keluar saat rasa sakit di perutnya semakin menjadi.
"Ada apa, Bu Maya?" Polisi tersebut membantu Maya yang tengah kesakitan. Ia memapah tubuh ringkih yang terlihat tak bertenaga itu.
"Perutku sakit sekali, arghh....." Tubuh Maya tak sanggup lagi untuk tegak. Ia jatuh terkulai ke bawah sembari meremas perutnya. Peluh dingin membanjiri seluruh tubuh. Wanita itu mulai menjerit kesakitan.
"Bu Maya!" Si polisi berteriak. Ia yang panik segera berlari keluar untuk memanggil rekannya.
Saat tiga orang polisi masuk, mereka menemukan jika Maya sudah tak sadarkan diri.
"Darah!" pekik si polisi wanita kala matanya menangkap ada cairan merah yang mengalir di paha Maya.
"Ayo kita bawa ke klinik!" Seorang polisi pria berbadan besar dan tegap langsung menggendong Maya ala bridal dan segera melarikannya ke klinik.
.......
Di ruang pengadilan, semua yang hadir mulai resah. Pasalnya, sudah lima belas menit berlalu, tapi tersangka yang akan disidang belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Ada apa ya, Mas? Kenapa wanita itu belum masuk juga?" Ajeng berbisik pada pria di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Cakra. Mereka berdua memutuskan untuk menghadiri sidang dan mengikuti prosesnya. Sementara Dira harus ditinggalkan di rumah bersama pelayan. Bayi kecil itu tidak mungkin dibawa ke tengah ruang sidang, takut menangis dan mengganggu jalannya persidangan.
"Kita tunggu saja." Hanya itu yang dapat Cakra katakan. Sedari tadi pria itu terus menggenggam tangan Ajeng, memberi ketenangan juga kekuatan.
Tak lama berselang, seorang polisi datang dan langsung menghampiri hakim. Mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius.
Suara riuh dari tamu yang hadir membuat hakim ketua mengetuk palunya untuk membuat keadaan tenang. Benar saja, ruangan menjadi hening seketika.
"Tersangka Maya Apriliani saat ini sedang tidak sehat jadi tidak bisa mengikuti persidangan, maka dengan sangat menyesal saya harus mengabarkan jika persidangan kasus ini harus ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan."
TUK
__ADS_1
Palu diketuk sekali. Semua orang kembali riuh, bertanya-tanya apa yang gerangan yang terjadi pada Maya.
"Maya sakit apa, Yah?" tanya Bu Desi pada suaminya. Suara wanita paruh baya itu terdengar cemas.
"Ayah tidak tahu, Bu. Sebaiknya kita keluar dan tanyakan pada polisi yang berjaga."
Kedua orang tua Maya langsung meninggalkan ruang sidang untuk menemui anak mereka.
"Ajeng, Cakra, apa kalian mau ikut? Aku mau melihat keadaan Maya..." tanya Radi yang sudah bangkit dari duduknya.
Ajeng dan Cakra saling berpandangan. Setelah mendapat anggukkan dari Cakra, Ajeng pun mengiyakan.
"Iya, kami ikut..." sahut Ajeng.
Mereka bertiga turut meninggalkan ruangan, diikuti beberapa tamu yang hadir.
.......
Salah seorang petugas kepolisian membawa orang tua Maya, Radi, Cakra dan Ajeng menuju klinik tempat Maya di rawat.
"Bagaimana kondisi anak saya, Pak?" tanya Bu Desi pada polisi yang tadi menggendong tubuh Maya menuju klinik.
Cklek
Pintu ruangan terbuka, seorang dokter wanita keluar dari sana. Bu Desi langsung mencecarnya dengan pertanyaan.
"Bagaimana dengan anak saya, Dok?" tanyanya.
"Kalau boleh tahu, anda siapanya ya, Bu?" tanya si dokter balik.
"Saya ibunya, dan ini ayahnya. Dia adalah anak kami, Dok..." jelas Bu Desi.
"Baiklah, Bu Maya mengalami pendarahan hebat hingga menyebabkan janin yang dikandungnya luruh. Saya menyarankan agar Bu Maya cepat di bawa ke rumah sakit untuk melakukan kuret, karena masih ada sisa janin yang tertinggal di dalam rahim. Klinik kami tidak memiliki fasilitas untuk melakukan kuretase."
Deg
Semua yang mendengar penjelasan dokter terkejut bukan main. Bu Desi langsung menangis, sementara pak Indra hanya tertunduk lesu.
"Janinnya luruh, berarti..." Radi bergumam lirih. Pria itu tidak tahu apakah harus merasa senang atau sedih di saat seperti ini. Senang karena pengikatnya dengan Maya telah lenyap, atau sedih karena ia kehilangan calon anaknya, anak yang tidak diharapkan tentu saja. Lebih baik anak itu pergi daripada saat lahir nanti dia harus menderita karena kedua orang tuanya yang tidak akan pernah bisa bersama.
Ajeng menggenggam erat tangan Cakra. Ia turut sedih begitu mendengar jika Maya keguguran. Ia seorang ibu, dan bisa mengerti betapa sakitnya saat kehilangan seorang anak walau masih dalam bentuk janin. Memang ia belum pernah mengalaminya, tapi ia mengerti betul rasanya karena pernah beberapa kali hampir kehilangan Dira saat masih di dalam kandungan.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang? Kasihan Dira jika ditinggal terlalu lama," ajak Cakra. Ia ingin mengalihkan rasa sedih Ajeng saat mendengar kabar keguguran Maya.
"Iya, Mas." Ajeng mengangguk.
Mereka berpamitan kepada Radi, lalu berlalu pergi.
Selepas kepergian Ajeng dan Cakra. Radi bersama orang tua Maya langsung membawa Maya ke rumah sakit, tentu kepergian mereka dikawal oleh beberapa orang polisi. Hal itu dilakukan karena Maya masih menjadi tahanan.
.......
"Sayang, aku harus kembali ke kantor. Tidak apa kan, ku tinggal?" pamit Cakra setelah mengantarkan Ajeng pulang ke rumah.
"Iya, tidak apa-apa Mas."
Ajeng langsung masuk ke dalam rumah setelah melepas kepergian Cakra.
"Bi Nur, Dira di mana?" tanya Ajeng pada pelayannya yang paling senior.
"Nona muda sedang tidur di kamar ditemani Tuti, Nona..." jawab si pelayan bernama Nur itu.
"Baiklah, Bi. Kalau begitu lanjutkan pekerjaannya."
"Baik, Nona."
Ajeng segera masuk ke dalam kamar. Ia sengaja menempatkan crib Dira di dalam kamarnya. Wanita itu tak ingin tidur terpisah dengan putrinya.
"Tuti, sekarang kau boleh lanjutkan pekerjaanmu!" kata Ajeng sesaat setelah memasuki kamarnya.
"Baik, Nona." Pelayan bernama Tuti itu segera pamit undur diri.
Ajeng memperhatikan Dira yang sedang bermain anteng di dalam cribnya. Dalam hati, wanita itu terus mengucap syukur karena telah diberi kesempatan untuk bisa melahirkan putrinya ke dunia ini.
"Mama sangat menyayangimu, Nak..." Ajeng mengusap kening Dira yang sedikit berpeluh.
Bayi kecil itu menatap sang ibu. Lalu, dia menjulur-julurkan lidahnya keluar, persis seperti saat menyusu . Ajeng yang sudah paham jika sang anak lapar, langsung mengangkat tubuh Dira dan membawanya ke ranjang. Ia segera menyusui bayinya itu.
"Kasihan Maya, bagaimana kalau tuntutan itu aku cabut saja?" pikir Ajeng.
...Bersambung...
Terima kasih udah baca😊
__ADS_1