
...🌷Selamat Membaca🌷...
Tujuh bulan sudah usia kehamilan Ajeng. Hari-harinya dilalui dengan bahagia karena segala pikiran buruk telah ia singkirkan dari dalam benaknya. Kini, yang ia pedulikan hanya bayi dalam perutnya. Terserah saja apa yang mau dilakukan oleh ayah bayinya, ia sudah tidak memikirkannya lagi.
"Ini susunya datang, silakan diminum Tuan Putri." Cakra berjalan dari dapur membawa segelas susu untuk Ajenh yang tengah bersantai membaca majalah kehamilan di ruang tengah.
"Terima kasih, Mas." Ajeng menaruh majalahnya di meja dan langsung mengambil gelas berisi susu dari tangan Cakra dan meminumnya.
Ajeng memperhatikan Cakra sambil menyeruput susunya pelan-pelan. Saat ini pria itu tengah fokus membaca majalah kehamilan yang sebelumnya ia letakkan di atas meja. Sudah hampir tiga bulan ia tinggal di villa Cakra dan pria itu juga sering menghabiskan waktunya di sini. Ajeng merasa tidak enak, mengingat jika Cakra memiliki istri yang menunggunya di rumah.
"Apakah tidak apa-apa?" gumam Ajeng.
"Hm?" Cakra menoleh begitu mendengar suara Ajeng. "Kau mengatakan sesuatu?" tanyanya.
Ajeng meletakkan gelas kosong di atas meja. Ia menatap serius ke dalam mata Cakra yang duduk tepat di sebelahnya.
"Apakah tidak masalah jika kau sering menghabiskan waktumu di sini. Apa istrimu tidak keberatan?" tanya Ajeng.
Cakra menutup majalah dan meletakkannya kembali di meja. Ia beralih menggenggam kedua tangan Ajeng.
"Tidak masalah. Semuanya baik-baik saja," jelasnya sambil tersenyum.
"Tapi, Silvia?"
Cakra menghela napas pelan saat mendengar nama istrinya. Entahlah... hubungannya dengan Silvia saat ini sudah tidak jelas lagi akan mau dibawa kemana. Ia sibuk dan Silvia juga sibuk. Dalam kurun waktu tiga bulan ini saja, terhitung, hanya dua kali mereka berhubungan intim. Gairah Cakra sudah benar-benar hilang untuk istrinya itu. Jangan tanyakan tentang cinta, karena itu sudah terlebih dahulu habis tak bersisa.
"Sebenarnya..." Cakra memutuskan untuk menceritakan kisah rumah tangganya pada Ajeng. Ia takut wanita itu akan berpikiran buruk jika tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya dan sang istri. "Rumah tanggaku sudah lama berantakan," beritahu Cakra.
"Apa?!" Ajeng segera melepaskan tangannya dari genggaman Cakra. "Apa itu semua disebabkan olehku?" tanya Ajeng pucat.
Cakra menggelengkan kepala cepat dan kembali meraih kedua tangan Ajeng untuk digenggamnya. "Tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan dirimu, Jeng."
"Lalu, kenapa?" tanya Ajeng penasaran. Selama ini Cakra sudah sering menghiburnya, mungkin ini saatnya untuk ia membalas, dengan mendengarkan ceritanya, semoga hati pria itu bisa jadi sedikit lega.
"Dia telah melakukan satu kesalahan fatal dan itu sangat sulit untuk dimaafkan." Wajah Cakra mengeras saat mengatakannya. Ia kembali membayangkan saat di mana calon bayinya digugurkan secara paksa oleh Silvia.
"A-apa aku boleh tahu?"
Cakra menatap dalam mata Ajeng, genggaman tangannya pada wanita itu menjadi semakin erat. "Dia sudah menggugurkan calon anak kami yang sudah sangat lama aku nantikan."
Deg
"Ya Tuhan! Bagaimana bisa?" Shock. Ajeng begitu terkejut mendengar pengakuan Cakra. Bagaimana mungkin, ada seorang ibu yang dengan tega membunuh calon anak, darah dagingnya sendiri.
Sinar pada mata Cakra meredup. "Dia tidak siap untuk memiliki anak dan lebih mementingkan karir dokternya."
"Bisa-bisanya seorang dokter yang harusnya merawat, malah membunuh, janin yang tidak bersalah pula..." gerutu Ajeng dalam hati, ia tidak ingin membuat Cakra tersinggung dengan mengatai istri pria itu.
"Jadi kau jangan merasa sungkan lagi padaku. Untuk saat ini, semuanya masih baik-baik saja." Cakra meyakinkan.
__ADS_1
"Ya. Aku selalu mendo'akan yang terbaik untukmu. Semoga Silvia berubah menjadi lebih baik dan kalian akan segera dikaruniai seorang anak," harap Ajeng.
"Apakah itu bisa terjadi jika hatiku saja sudah terpaut erat pada pesona dirimu?" lirih Cakra.
"Apa kau mengatakan sesuatu? Aku tidak terlalu jelas mendengarnya?" tanya Ajeng. Pasalnya ia tidak mendengar dengan jelas ucapan lirih Cakra barusan.
"Tidak. Aku tidak mengatakan apapun," kilahnya. Ia antara siap dan tidak siap untuk mengungkapkan perasaannya.
"Arghh..." Ajeng merintih pelan saat merasakan tendangan tiba-tiba dari dalam Perutnya.
"Kenapa? Ada yang sakit? Apa perutmu sakit?" tanya Cakra panik.
Ajeng justru tertawa melihat reaksi berlebihan si pria. "Tidak apa-apa, bayinya cuma menendang," ucapnya.
"Benarkah?" Mata Cakra langsung berbinar. "Apa dia masih menendang? Apa aku boleh merasakannya?"
"Tentu saja, sepertinya bayiku juga ingin berkenalan dengan paman Cakra yang baik hati ini."
"Aku sentuh ya?" ijin Cakra.
"Silakan!"
Cakra sedikit menunduk, mensejajarkan kepalanya dengan perut Ajeng. Perlahan tangannya terangkat dan mendarat di perut buncit itu.
"Aku tidak merasakan apapun," ucapnya.
"Eh? Apa mungkin bayinya tidur?" kelakar Ajeng.
Selanjutnya, pria itu meraba-raba seluruh permukaan perut Ajeng, berusaha mencari bagian mana yang menjadi pusat tendangan si bayi. Cakra tidak sadar jika apa yang dilakukannya justru membuat Ajeng resah, sentuhan itu menyebabkan tubuhnya panas. Pernah dibacanya di majalah, jika wanita hamil memiliki gairah yang tinggi. Benar saja, Ajeng merasakannya.
"Ada!" Cakra berseru senang. Ia merasakan tendangan cukup kuat di bagian kanan perut Ajeng. Ia menaruh tangannya di sana dan bertahan cukup lama, merasakan tendangan-tendangan susulan yang berkekuatan kecil.
Tidak puas dengan hal itu, Cakra memutuskan untuk menempelkan telinganya di perut Ajeng. Jelas sekali terdengar suara detak jantung dari dalamnya. Entah itu suara detak jantung milik Ajeng ataukah bayinya, karena sesungguhnya saat ini jantung wanita itu juga tengah berdebar hebat.
"Hai, Nak!" sapa Cakra. "Apa kau baik-baik saja di dalam sana?" tanya Cakra yang tentu saja tidak mendapat respon apapun.
"Apa kau betah di dalam sana? Tidakkah sempit?" Cakra kembali bertanya. Walau tak ada jawaban, tapi bayi itu mulai meresponnya dengan tendangan kecil.
Ajeng merasa takjub melihat interaksi Cakra dan bayi dalam perutnya. Andaikan, Cakra lah ayahnya, mungkin si bayi akan merasa sangat senang.
"Mas Cakra?" panggil Ajeng.
"Hm?" Cakra menyahut, hanya saja ia tak menghentikan kegiatannya pada perut Ajeng. Ia terlihat nyaman menempelkan pipinya di sana dengan tangan sesekali mengusap perut buncit itu.
"Seandainya suatu saat nanti, kau dipercaya untuk memiliki seorang anak, kau ingin anak laki-laki atau perempuan?" tanya Ajeng untuk mengatasi rasa aneh pada dirinya akibat perlakuan Cakra.
"Diberi anak saja, aku sudah sangat berysukur. Namun, jika aku hanya diperbolehkan untuk memiliki satu anak saja, maka aku ingin seorang anak perempuan. Anak yang cantik seperti dirimu."
Deg
__ADS_1
"Anak yang cantik seperti diriku?" tanya Ajeng kaget. "Bukankah seharusnya cantik mirip Silvia istrimu?"
"Hm." Cakra akhirnya mengangkat kepalanya dan memandang Ajeng. "Anak perempuan yang cantik seperti dirimu, kalau bisa dia juga dilahirkan dari rahimmu."
Deg
"Mas?"
"Ajeng..."
Ajeng sesak napas saat wajah Cakra semakin mendekat ke wajahnya. Mata pria itu menatapnya tajam seakan siap menyantap.
"Jeng..." Hembusan napas beraroma mint itu membuat Ajeng mabuk. Ia terbuai dan kedua kelopak mata indahnya perlahan mengatup. Menyambut dengan suka cita apa yang akan dilakukan pria itu padanya.
.......
"Arrgggghhhh..." Radi mengerang panjang saat mendapatkan pelepasannya untuk yang ketiga kalinya malam ini.
Tubuhnya rebah menimpa tubuh wanita di bawahnya. Keringat membanjiri tubuh polos kedua insan yang baru saja mencari kepuasan batin itu.
"B*tch, kau begitu nikmat!" bisik Radi tepat di telinga wanita yang tak lain adalah Maya.
Maya tersenyum puas. Ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Radi kini sudah menjadi miliknya, takluk di bawah pesona memabukkan dirinya. Walaupun pria itu sering menyebutnya sebagai pel*cur saat mereka bercinta, tapi itu tak membuatnya bersedih. Justru, bagi Maya itu adalah sebuah pujian. Radi memuji dirinya yang begitu liar dan pandai memuaskan hasrat tinggi pria itu persis seperti jal*ng yang suka menjajakan sel*kang*nnya di luar sana. Tidak masalah, karena sejatinya, ia hanya bercinta dengan Radi untuk saat ini.
"Maafkan aku Jeng, kau terlalu lama meninggalkanku. Jadi jangan salahkan aku jika melakukan semua ini. Aku sudah lelah." batin Radi.
.......
"Sekarang kau yang di atas!" Pria tampan itu memerintahkan wanita yang bersamanya untuk bertukar posisi.
Silvia, dialah wanita itu, yang saat ini tengah menari indah di atas tubuh selingkuhannya, dalam sebuah kamar hotel yang bercahaya redup.
"Satria, ahhh... ini sangat nikmat... ughhh," Istri dari Cakra itu meracau tak jelas saat merasakan kenikmatan yang didapatnya kala menhentak-hentak kuat tubuh di bawahnya.
"Lebihh cepathh baby, akkhhh...." Pria bernama Satria itu menggeram dan mendesah merasakan miliknya yang dijepit erat dan dikeluar masukkan dengan cepat di dalam liang Silvia.
"Satria... ahh." Silvia semakin mempercepat gerakannya, hingga kedua manusia mesum itu mendapatkan klimaksnya.
"Shit, sekarang menungginglah!"
.......
Tiga pasang manusia meluapkan gairahnya pada pasangan yang tidak seharusnya.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1
Sengaja ku update malam karena isinya sedikit ya... you know, lah.