2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Not Mine


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Setelah sarapan, Cakra pamit pada Ajeng untuk kembali ke Jakarta. Sudah tiga malam ia habiskan di Anyer, dan ia masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikannya di kantor. Mungkin, akhir pekan berikutnya baru ia bisa kembali mengunjungi Ajeng. Hal itu membuat Ajeng merasa sedih, terlebih keluarga Bagas juga akan ikut pulang bersama Cakra. Pada akhirnya, Ajeng akan tinggal sendiri lagi.


"Jangan pasang wajah murung seperti itu, kau membuatku jadi malas pergi bekerja." Cakra mengelus pipi gembil Ajeng yang seketika membuat wajah wanita itu berubah merah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku tidak mau ditinggal sendiri lagi," rengek Ajeng. Semenjak mereka saling mengungkapkan perasaan masing-masing, Ajeng sudah tidak sungkan lagi untuk bertingkah manja di hadapan Cakra.


"Aku akan berusaha untuk kembali secepatnya." Cakra meyakinkan. Jika bukan karena pekerjaan yang mendesak, ia pasti akan lebih memilih menghabiskan waktunya berdua dengan Ajeng di vila.


"Apa aku pulang ke Jakarta saja, jadi kita tidak perlu berpisah lagi?" usul Ajeng yang spontan mendapat gelengan tegas dari Cakra.


"Itu bukan ide yang bagus. Bersabarlah, aku janji, setelah semua permasalahan ini selesai, kita akan kembali ke Jakarta."


Ajeng mengangguk. Untuk kali ini, ia hanya bisa mengalah, toh demi kebaikannya juga. "Jangan lama-lama..."


Cakra tersenyum. Ia senang melihat sikap manja Ajeng yang mana itu menunjukkan bahwa wanita itu sudah bisa membuka diri sepenuhnya untuk dirinya. "Iya sayang, aku janji. Kalau begitu, aku pamit dulu."


"Iya, hati-hati di jalan. Dan kabari aku jika kau sudah sampai."


"Pasti." Sebelum pergi, Cakra mengecup lama kening Ajeng. Beberapa hari ke depan mereka tidak akan bertemu, dan ia pasti akan sangat merindukan Ajeng juga bayi dalam kandungannya.


.......


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Cakra?" tanya Bagas yang duduk di kursi sebelah Cakra.


Cakra yang mengemudikan mobil menoleh sebentar ke arah Bagas. Wajah bingung ditunjukkannya setelah mendengar pertanyaan suami Tania yang mengambang.  "Maksudnya?"


"Aku tahu saat ini kau dan Ajeng tengah menjalin hubungan, walau masing-masing dari kalian masih memiliki pasangan yang resmi. Pertanyaannya adalah, bagaimana caramu untuk bisa membawa hubungan kalian ke arah yang lebih serius? Aku tidak akan tinggal diam jika kau hanya berniat untuk mempermainkan Ajeng. Aku mengenalnya hampir sepuluh tahun, jadi dia sudah ku anggap seperti adik sendiri."


"Aku akan segera mengakhiri pernikahanku," jawab Cakra mantap.


"Atas alasan apa? Kenapa kau lebih memilih Ajeng yang baru beberapa bulan kau kenal dibandingkan istrimu yang sudah lama kau nikahi?" tanya Bagas. Ia ingin menguji seberapa besar keseriusan Cakr terhadap hubungannya dengan Ajeng.


"Cinta." Jawaban singkat Cakra membuat rahang Bagas mengeras. Sementara Tania hanya bisa menyimak di bangku belakang.


"Cinta? Apa jika suatu saat nanti, kau bertemu dan jatuh cinta dengan wanita lain, maka kau juga akan meninggalkan Ajeng sama seperti kau meninggalkan istrimu?" tanya Bagas geram.


"Tidak."


"Lalu?"


Cakra tidak kesal ataupun marah dengan pertanyaan-pertanyaan memojokkan yang dilontarkan oleh Bagas padanya. Justru ia merasa senang, karena dari sana ia bisa tahu bahwa ternyata banyak orang yang peduli dan sayang pada Ajeng, kekasihnya.


"Rumah tanggaku sudah tidak bisa diselamatkan lagi." Akhirnya Cakra berkata jujur. Meskipun ia harus membicarakan masalah aib rumah tangganya, tapi tak masalah, asal orang-orang terdekat Ajeng bisa mempercayainya.

__ADS_1


Bagas dan Tania terkejut mendengar hal tersebut. Mereka tidak tahu, jika Cakra yang pembawaannya tenang ternyata punya masalah juga.


Melihat Bagas diam, Cakra pun melanjutkan. "Pertama, istriku lebih mementingkan karir daripada aku, suaminya. Kedua, dia dengan sengaja telah menggugurkan janin dalam kandungannya karena belum siap memiliki anak. Dan yang terakhir, dia berselingkuh dengan rekan seprofesinya di rumah sakit. Jadi, masih pantaskah ku pertahankan istri macam itu?"


Baik Bagas maupun Tania hanya bisa termangu mendengar kejujuran Cakra mengenai keadaan rumah tangganya.


"Maaf, karena harus membuatmu mengingat semua itu," ucap Bagas merasa tidak enak.


"Tidak masalah. Aku tahu kau melakukan itu semua demi Ajeng."


"Ternyata masalah yang dihadapi pak Cakra lebih berat dari pada Ajeng. Semoga mereka berdua bisa menghadapinya," batin Tania.


"Aku berdo'a semoga kau dan Ajeng kelak bersatu. Kalian berdua berhak bahagia," harap Bagas.


.......


Pukul 9 malam, Cakra baru sampai di rumah. Pekerjaannya menumpuk karena ditinggal terlalu lama, terpaksa tadi ia lembur.


"Selamat datang, Mas." Silvia menyambutnya di ambang pintu. Wanita itu tersenyum manis membuat Cakra menatapnya curiga.


"Sini, biarku bawakan tasmu." Wanita itu mengambil alih tas dari tangan Cakra. Ia menggengam tangan sang suami dan membawanya menuju ruang makan.


"Aku sudah membuatkan makan malam untuk kita berdua."


Cakra menurut saja, toh perutnya juga lapar karena belum sempat makan malam.


"Hm." Cakra hanya mengangguk. Dalam hati, ia mentertawakan tingkah Silvia.  Apa tadi katanya, masakanku? Istrinya tidak bisa memasak, dan hidangan lezat yang sedang ia nikmati ini jelas sekali adalah makanan dari restoran ternama. Silvia pikir, ia akan mudah dibodohi.


Selesai makan, Cakra masuk ke dalam kamar. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya.


"Sayang..." Tiba-tiba Silvia yang entah sejak kapan sudah berada di kamar, langsung memeluk tubuh Cakra dari belakang. Tangannya dengan nakal turun menuju pusat tubuh pria itu yang hanya ditutupi handuk. "Aku merindukanmu..." bisiknya merayu.


Cakra melepas paksa tangan Silvia yang melingkar di perut kotak-kotaknya. "Aku harus memakai baju," katanya.


"Untuk apa memakai baju, toh nanti akan dibuka juga..." Silvia kembali mendekati Cakra yang sedang memilih pakaian di lemari. Ia tarik handuk suaminya sampai kain itu terlepas.


"Ayo sayang, aku merindukanmu, loh. Apa kau tidak merindukanku?" Silvia yang menggoda, justru dia sendiri yang merasa terangsang. Apalagi setelah melihat tubuh polos Cakra, napsu wanita itu menjadi tak terbendung lagi. "Mas..." Ia mengusap dada suaminya dengan sensual, berharap dengan rangsangan itu Cakra akan segera menerkamnya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Cakra melanjutkan memakai pakaian yang telah diambilnya dari lemari, tanpa memedulikan Silvia yang sudah kepanasan.


"Jangan bertingkah seperti jal*ng yang haus belaian!" ucap Cakra dingin.


Gairah Silvia langsung turun ke titik terendah begitu mendengar ucapan Cakra. Wajah wanita itu merah karena kesal, tapi beberapa saat kemudian, raut wajahnya berubah menjadi sedih.


"Padahal ini bukan kemauanku, loh. Anak ini yang menginginkannya..." lirih Silvia sambil mengelus perutnya yang terlihat masih rata.


Deg

__ADS_1


"Apa?" Cakra kaget bukan main mendengar kata anak keluar dari mulut Silvia. "Apa maksudmu?"


"Aku hamil, Mas. Aku mengandung anakmu."


Perkataan Silvia membuat Cakra pening. Apa tadi wanita itu mengatakan bahwa dia mengandung anaknya? Yang benar saja, Cakra tidak akan percaya begitu saja. Apalagi setelah mengetahui jika istrinya telah lama berselingkuh.


"Sudah berapa lama?" tanya Cakra.


"Su-sudah 10 minggu," jawab wanita itu gugup.


Cakra mulai berpikir, terakhir kali ia berhubungan dengan Silvia adalah dua bulan lalu, dan bisa jadi janin dalam perut Silvia adalah miliknya tapi melihat kegugupan yang ditunjukkan wanita itu, ia jadi sangsi.


"Besok kita akan periksakan kehamilanmu ke dokter," putusnya.


"A-apa?"


Semakin curigalah Cakra mendapati reaksi Silvia yang mulai ketakutan. "Kenapa?"


"Ti-tidak apa-apa, tapi aku baru saja memeriksakannya sore tadi. Semuanya baik-baik saja, kok." Saat berucap, Silvia sama sekali tidak berani menatap mata suaminya.


Cakra berjalan menghampiri Silvia yang gemetaran. "Kita periksa lagi saja. Aku penasaran melihat rupa anakku di dalam sini," ucapnya lembut sambil mengelus perut rata Silvia.


Wanita itu menelan ludah susah payah, otaknya tak bisa lagi berpikir. Namun, ia tak akan menyerah secepat itu.


"Ka-kata dokter tidak baik jika melakukan ultrasonografi terlalu sering. Bulan depan saja, bagaimana?"


Cakra tertawa sebentar, kemudian menatap Silvia dengan tajam. Tangannya terangkat mencengkram kedua pipi tirus istrinya. "Kau pikir bisa membodohiku, huh?" desisnya.


Silvia merengut takut melihat wajah mengerikan Cakra. Ia pasrah jika pada akhirnya Cakra akan tahu kebohongannya.


"Sekarang katakan padaku dengan jujur,  anak siapa dalam perutmu itu?"


"Anakmu, Mas..."


"Bohong!" Cengkraman Cakra semakin kuat, Silvia meringis dibuatnya. "Janin itu milik pria bernama Satria Dewangga, apa aku benar?"


"APA AKU BENAR!?" bentak Cakra.


"I-iya." Satu tetes bulir bening jatuh dari mata Silvia. Baru kali ini ia menghadapi sikap Cakra yang seperti ini.


"Baiklah. KITA CERAI."


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2