2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Perfect Woman


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Siang ini, Ajeng ditemani Cakra pergi ke ruang bayi untuk melihat putri yang kemarin dilahirkannya. Mata sayu wanita itu berkaca-kaca kala menatap sosok kecil yang begitu rapuh di dalam inkubator.


"Dia bangun..." bisik Cakra. Bayi yang sedari tadi terlelap itu mulai membuka mata.


Wanita yang baru menyandang status sebagai ibu itu menempelkan tangannya di kaca inkubator, seolah ingin menyentuh bayi yang saat ini sedang menatap penasaran pada dirinya.


"Dira... ini mama sayang," ucap Ajeng terharu. Ia memperhatikan wajah sang putri yang begitu mirip dengan dirinya. Mata, hidung, bibir, semuanya adalah milik Ajeng, tak ada satu pun yang menyerupai Radi, tapi entahlah nanti. Kata orang wajah bayi sering berubah dari waktu ke waktu.


"Apa Ibu ingin meny*sui bayinya?" Seorang perawat yang memang sudah sedia di sana menanyai Ajeng.


"Apakah tidak apa-apa jika dia keluar dari dalam inkubator?" tanya Ajeng. Ia ingin sekali memangku dan meny*sui putrinya, tapi jika hal tersebut akan membuat putrinya kesakitan, ia tidak akan mau melakukannya.


Perawat itu tersenyum. "Tidak masalah, Ibu. Keadaan putri anda sudah cukup stabil. Jika hanya untuk meny*sui, itu tidak akan jadi masalah. Terlebih anda juga belum memberikan ASI pertama untuknya. ASI pertama yang keluar mengandung kolostrum yang memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh si bayi," jelasnya.


Ajeng yang mendengar penjelasan itu, tersenyum lega. "Baiklah, Sus. Saya mau meny*suinya."


"Baik, Bu." Si perawat langsung bergerak untuk mengambil Dira kecil dari dalam tempat tidur hangatnya.


Ajeng menatap tidak sabar saat perawat itu mengeluarkan bayinya. Tangannya sudah gatal untuk bisa segera menyentuh putri cantiknya.


"Ini bayinya, Bu." Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, si perawat menyerahkan si bayi ke pangkuan Ajeng yang sedang duduk di kursi roda.


"Putriku..." Ajeng sungguh merasa takjub ketika bayi mungil nan rapuh itu berada di dekapannya. Ia merasa sedikit khawatir karena ini adalah kali pertama ia menggendong seorang bayi yang baru lahir. Takut jika salah bergerak, maka bayinya akan kesakitan.


"Rileks saja, Bu. Jangan terlalu tegang." Perawat itu mengingatkan.


"I-iya, Sus." Ajeng mengangguk. Sebelum menyusui, ia memperhatikan wajah putrinya sejenak. Dielusnya pipi lembut kemerahan itu dengan jari terlunjuknya. "Akhirnya mama bisa memelukmu, sayang..." Selanjutnya bibir Ajeng turun untuk mengecup singkat kening Nadira.


Cakra yang menyaksikan hal itu hanya bisa tersenyum haru. Ia juga berkeinginan besar untuk menggendong bayi yang sedari di perut dulu sudah sering diajaknya bicara, tapi saat ini ia tahan dulu keinginan itu karena ada Ajeng yang lebih berhak.

__ADS_1


"Kalau Ibu ingin meny*sui bayinya, ini ada celemek yang bisa digunakan." Si perawat membantu memasangkan celemek saat sudah mendapatkan persetujuan dari Ajeng.


Cakra membalik tubuhnya membelakangi Ajeng, ia merasa tidak enak jika harus menyaksikan Ajeng meny*sui bayinya walau sudah ada celemek yang menutupi.


Ajeng membuka kancing baju pasiennya dan mengeluarkan sebelah pay*daranya, ia mengarahkan p*ting itu ke mulut Dira kecil. Dengan cepat, bayi yang memang terlihat lapar itu menyed*t sumber makanannya.


"Minum yang banyak ya, Nak... supaya Dira bisa cepat sehat." Ibu muda itu tak henti menitikkan air mata saat sang putri begitu lahap meny*su. Saat ini ia merasa menjadi wanita yang sempurna karena telah berhasil melahirkan seorang putri yang cantik dan juga bisa memberikannya ASI.


.......


Setelah pulang dari rumah sakit, Radi langsung menuju ke perusahaan. Tidak terlalu lama ia duduk di ruang kerjanya, sebuah panggilan dari kepolisian masuk ke dalam ponselnya.


"Baik, Pak. Saya akan segera kesana." Pria itu menghela napas lelah. Baru saja sampai, ia sudah harus pergi lagi. Kali ini ia harus memenuhi panggilan kepolisian sebagai pelapor mengenai masalah penganiayaan yang dilakukan Maya terhadap Ajeng.


Tak ingin membuat aparat menunggu lama, Radi segera bergegas menuju kantor polisi tempat wanita yang sudah menghancurkan rumah tangganya ditahan.


Sampai di sana, Radi dibawa oleh seorang petugas menuju ke sebuah ruangan di mana semuanya sudah menunggu.


Baru saja kakinya melangkah masuk, suara tamparan yang cukup keras memasuki gendang telinganya. Radi terkejut begitu melihat Maya baru saja ditampar oleh seorang pria paruh baya yang terlihat sangat emosi.


"Saya sangat malu memiliki anak tidak tahu diri sepertimu, Maya!" teriak pria itu menggelegar.


Radi terdiam di tempat, dari teriakan barusan, ia tahu jika pria tua itu adalah ayahnya maya. Tiba-tiba, ia merasa canggung untuk masuk menemui orang-orang di dalam sana. Apa tanggapan ayah Maya begitu melihatnya nanti, jangan-jangan ia juga akan disambut dengan sebuah tamparan.


"Ayo Pak Radi, silakan masuk!" Ingin sekali menghindar, tapi petugas malah memintanya masuk. Terpaksa Radi menurutinya.


"Mas Radi!" Maya yang melihat kedatangan Radi langsung berlari menuju pria itu. Ia menangis terisak sembari bersujud di kaki pria yang sudah ia hancurkan rumah tangganya.


"Apa-apaan ini, May?" Radi yang merasa risih, berupaya melepas pegangan Maya pada kakinya."Lepas!"


"Mas Radi, tolong jangan masukkan aku ke penjara. Aku mengaku salah, aku salah karena telah mencelakai wanita itu, tapi semua itu ku lakukan karena aku cemburu, Mas. Aku cemburu karena kau lebih mencintainya dari pada aku. Aku mau kau hanya melihat dan mencintai aku dan anak kita saja, Mas." Maya meraung-raung di bawah kaki Radi, semua mata yang berada di sana memandang ke arah mereka.

__ADS_1


"Kau sudah gila, May. Lepaskan aku!" Radi yang kepalang malu, terpaksa mendorong Maya dengan kuat hingga pegangan wanita itu di kakinya terlepas dan dia terjengkang ke belakang.


"Maya!" Seorang wanita paruh baya yang melihat hal tersebut, ingin menolong Maya, tapi segera ditahan oleh pria yang tadi menampar Maya. Kedua paruh baya itu adalah orang tua Maya yang datang untuk melihat sang putri yang sudah lama tidak mereka temui, Pak Indra dan Bu Desi.


"Tidak usah kau tolong anak yang memalukan itu!" peringat pak Indra pada istrinya. Mendengar itu, Bu Desi hanya bisa menangis dalam diam. Jujur, seperti apapun kesalahan yang telah diperbuat sang anak, ia tetaplah seorang ibu yang tidak akan tega melihat putrinya tersakiti.


"Bapak dan Ibu, silakan duduk!" Salah seorang petugas kepolisian menengahi kejadian itu. Maya dibantu berdiri oleh seorang polwan dan didudukkan di sebuah kursi.


Setelah semuanya duduk tenang, seorang polisi yang sedari tadi duduk tenang di bangkunya, mulai berbicara.


"Pak Indra, Bu Desi..." panggilnya. Kedua orang yang namanya disebut, menoleh.


"Perkenalkan, beliau adalah Pak Radi yang telah melaprokan putri bapak dan ibu karena istri beliau telah dianiaya oleh saudari Maya," jelas si polisi.


Pak Indra melirik Radi dengan tatapan tajamnya, pria berumur 50an itu tahu jika pria yang telah melaporkan anaknya adalah pria yang juga menjadi selingkuhan sang anak.


"Menurut bukti yang telah kami dapatkan, saudari Maya dengan sengaja mendorong saudari Ajeng yang mana adalah istrinya Pak Radi, hingga saudari Ajeng yang sedang hamil 30 minggu mengalami pendarahan hebat dan harus melahirkan anaknya secara prematur..." Si polisi kembali menjabarkan.


Bu Desi menutup mulutnya tidak percaya, ia tidak menyangka jika putrinya bisa sekejam itu terhadap sesama wanita.


"Kejahatan yang dilakukan oleh saudari Maya termasuk dalam kasus penganiayaan. Menurut pasal 351 KUHP Ayat 1 yang berbunyi bahwa penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah."


"Apa?" Maya melotot tak percaya mendengar hukuman yang bakal diterimanya.


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...


...Terima kasih...


Maaf jika penjelasan tentang kesehatan dan hukumnya tidak sesuai, karena saya tidak ahli di bidangnya. Saya hanya mencari referensi dari internet.

__ADS_1


__ADS_2