
...🌷Selamat Membaca🌷...
Maya dan Fadhil tidur saling memunggungi. Kedua orang itu langsung salah tingkah setelah mereka selesai mencapai puncak kenikmatan.
"Ya Tuhan, apa yang baru saja ku lakukan?" Fadhil merutuki dirinya yang telah menyerang Maya dengan membabi buta. Namun, tidak dapat dipungkiri jika percintaannya kali ini begitu hebat dan terasa nikmat, mungkin karena ia sudah menahannya selama hampir lima tahun ini. Selain itu, Maya sangat lihai menyeimbangi permainannya hingga rasanya penyatuan itu begitu mendebarkan.
Setelah melakukannya beberapa kali, Fadhil masih merasakan hasrat untuk bercinta dengan Maya. Ia ketagihan dengan rasa yang diberikan istrinya itu. Walaupun tubuhnya terasa lelah, tapi setidaknya Fadhil masih sanggup jika melewati dua ronde lagi setelah beristirahat sejenak. Sepertinya efek dari obat perangsang yang dibubuhi Bu Maryam di kopi putranya itu belum hilang betul.
Tak berbeda jauh dengan Fadhil, di sisi tempat tidurnya, Maya juga sedang merutuki tingkahnya yang terkesan murahan saat bercinta dengan suaminya tadi. Ia menyukai setiap sentuhan yang diberikan Fadhil pada tubuhnya hingga membuatnya lepas kendali dan bertingkah sangat liar. Ia khawatir pria itu akan menyesal atau bahkan jijik karena telah menyentuh tubuhnya yang bekas dijamah pria lain yang bukan suaminya. Walaupun hanya masa lalu, tapi Maya merasa kurang percaya diri karena kebodohannya itu.
Maya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos sampai sebatas leher. Entah kenapa, kali ini udaranya terasa cukup dingin. Wanita itu tidak tahu jika Fadhil telah menaikkan suhu pendingin ruangan.
"Aduh, kenapa jadi dingin sekali..." lirih Maya gemetaran. Ingin sekali dirinya bangun dan memakai baju, tapi ia takut kalau seandainya Fadhil masih terjaga. Ia merasa malu untuk bertatap muka dengan suaminya itu setelah apa yang mereka lakukan. Alhasil, wanita itu hanya bisa menarik selimut untuk menggulung tubuhnya agar hangat.
Puk
"M-may!"
Deg
Maya terperanjat saat merasakan tepukan di bahunya, disusul oleh suara Fadhil yang memanggil namanya.
"May, aku kedinginan..." bisik sebuah suara tepat di belakang Maya.
Maya merasa merinding di sepanjang badan, hembusan hangat napas Fadhil membuat bulu kuduknya berdiri.
"Mas Fadhil!" Maya memutar tubuh dan sekarang ia berhadapan langsung dengan Fadhil dengan jarak yang cukup dekat.
"May, kau menarik selimut terlalu banyak, aku tidak kebagian," protes Fadhil.
Maya melirik kain yang menutupi tubuh polos suaminya itu, memang hanya tersisa sedikit, cukup untuk menutupi tanpa bisa membalut.
"Ma-maaf, Mas..." Maya segera mengurai selimutnya dan membaginya pada Fadhil.
Setelah tubuh mereka berdua terbungkus oleh selimut, Maya berujar.
"Kenapa udaranya tiba-tiba dingin sekali ya, Mas?" tanyanya.
__ADS_1
Fadhil tersadar kalau tadi ia telah menaikkan suhu AC. "Maaf ya, tadi terasa gerah, jadi aku naikkan suhunya." Pria itu bangkit dan meraih remot AC yang terletak di atas nakas di samping tempat tidurinya.
Saat Fadhil bangkit, otomatis selimut yang menutupi tubuhnya melorot. Alhasil, Maya bisa melihat dengan jelas tubuh bagian atas suaminya sampai sebatas pinggang. Wanita itu menelan ludah, sekarang ia baru menyadari bahwa suaminya memiliki tubuh atletis yang sangat menggoda. Jemarinya terasa gatal ingin menggerayangi pahatan otot liat bak batangan coklat tersebut.
"Ku pikir suhunya sudah pas." Setelah menurunkan suhu pendingin ruangan, Fadhil kembali berbaring dengan posisi menghadap Maya.
"Kenapa, May?" tanya Fadhil melihat tingkah Maya yang seperti orang tertangkap basah melakukan kesalahan.
"Ti-tidak kenapa-kenapa kok, Mas." Maya tersenyum canggung.
Hening...
"May, apa kau menyesal atas apa yang kita lakukan tadi?" tanya Fadhil setelah hening yang mencekam beberapa saat.
Maya menggeleng. "Kenapa harus menyesal, Mas? Justru itu adalah kewajiban yang harus ku lakukan dan juga hak yang harus mas dapatkan," jelasnya.
"Tapi kau tidak mencintaiku, May."
"Mas, dulu aku melakukannya karena cinta, tapi apa yang aku dapatkan? Penyesalan dan rasa sakit. Sekarang aku melakukannya karena itu sebuah kewajiban, akan berdosa diriku jika menolak dirimu yang jelas-jelas adalah suamiku. Dan mengenai cinta? Aku tak lagi memikirkan dia, Mas. Untuk apa terus memikirkan dan mencintai seseorang yang tak menginginkan kita. Lebih baik aku membuka diri dan mencoba untuk mencintaimu yang merupakan suamiku," ucap Maya bijak.
Fadhil tersenyum, tangannya terangkat untuk mengelus pipi Maya. "Terima kasih, May. Mari kita sama-sama berusaha untuk saling mencintai dan menerima satu sama lain dengan sepenuh hati!"
Mereka berdua saling melempar senyum, akhirnya kebekuan yang selama ini mengurung keduanya mulai mencair.
"Mas, aku mau pakai baju dulu, ya." Maya hendak bangkit, tapi lengannya langsung ditahan oleh Fadhil.
"May, aku mau lagi..." pinta Fadhil yang terdengar seperti rengekan.
Maya yang mengerti mau suaminya langsung mengangguk. Memangnya siapa yang mau melewatkan kenikmatan yang ada di depan mata. Apalagi ia sudah berniat untuk menyentuh otot-otot keras terlatih milik Pak Polisi.
.......
"Mas, maafkan aku, ya?" ucap Ajeng yang saat ini berada dalam pelukan suaminya.
"Tidak apa-apa, sayang. Lagi pula kau juga sudah berhasil menidurkannya..." balas Cakra.
"Hm, si ungu jadi sia-sia ya, Mas?" tanya Ajeng jahil.
__ADS_1
"Sayang, jangan diingatkan lagi! Nanti dia bangun dan kau juga yang akan repot."
"Hahaha, maaf Masku sayang..."
"Kan... Aku jadi gemas ingin memakanmu!" rutuk Cakra.
"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kita tidur." Ajeng mempererat pelukannya.
Cakra hanya bisa menghela napas pasrah. Malam ini ia berharap akan melewati malam yang indah bersama istri tercinta, tapi bukannya si ungu yang didapat, malah si merah yang terlebih dahulu datang. Padahal hasrat untuk menyatu sudah sampai di ubun-ubun, untung saja Ajeng sangat pengertian hingga mau membantu suaminya mendapatkan pelepasan.
.......
Pagi ini Rina keluar kamar dengan perasaan galau yang belum hilang. Ia masih memikirkan cara bagaimana menghadapi majikannya yang telah ia tolak semalam. Jujur, Maya merasa khawatir. Apakah ia akan dipecat karena penolakan tersebut?
Saat sedang sibuk memasak di dapur, Radi muncul dengan penampilan rapi, bersiap pergi ke kantor. Pria itu mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Lalu, meminum isinya sampai tandas.
"Tuan sarapannya..." Rina datang tergopoh-gopoh membawa sepiring nasi goreng untuk Radi.
"Aku sarapan di kantor saja." Radi berlalu setelah mengucapkannya.
Deg
Rina termenung. Tiba-tiba hatinya mendadak nyeri mendapati sikap cuek dan nada dingin dari suara majikannya yang biasanya bersikap hangat.
"Apa aku sudah keterlaluan? Apa Tuan Radi sekarang membenciku?" lirih Rina sedih.
.......
Di dalam mobilnya, Radi menyandarkan sejenak punggungnya pada kursi kemudi. Rasa kecewanya atas penolakan Rina semalam masih terasa di hatinya, sehingga membuatnya bingung untuk bersikap seperti apa di depan wanita itu.
"Ah... menyedihkan sekali hidupku ini."
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih sudah membaca😊
__ADS_1
.