
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Jadi bagaimana, Dok? Anak kami laki-laki atau perempuan?" tanya Cakra tak sabaran.
Nyut
"Sakit, Yang..." Cakra merintih kecil saat jemari Ajeng dengan lincah mencubit lengannya.
"Bisa tenang dulu nggak sih, Mas? Ini Bu dokternya juga baru mau nempelin transducer di perutku!" protes Ajeng.
"Maaf, habisnya Mas udah nggak sabar ingin tahu jenis kelaminnya si baby." Cakra menjawab dengan wajah cengengesan.
"Sabar, Pak. Babynya juga nggak akan lari kemana-mana, kok..." timpal si dokter.
"Iya, Dok. Silakan dilanjutkan."
Dokter tersenyum dan melanjutkan pemeriksaannya.
Dengan antusias, mata Cakra tak berkedip melihat pergerakan di layar monitor yang menampilkan kondisi jabang bayi di dalam kandungan istrinya.
Dokter menggerakkan transducer ke seluruh permukaan perut buncit Ajeng yang sudah menginjak usia kehamilan empat bulan lebih.
"Aduh, maaf sekali Pak, Bu, si kecil menyembunyikan diri. Tidak dapat dipastikan jenis kelaminnya untuk saat ini, mungkin bisa dilakukan pada saat pemeriksaan selanjutnya," ujar si dokter tak enak hati.
"Ya ampun, Nak. Tega sekali kau mempermainkan perasaan papamu ini," keluh Cakra mendrama.
Ajeng memutar mata malas. Belakangan ini sifat suaminya menjadi sedikit alay, ia sering geleng-geleng kepala melihatnya.
"Tapi bayi kami sehat kan, Dok?" tanya Ajeng tanpa memedulikan keluhan suaminya.
"Calon bayi ibu dan bapak sangat sehat, beratnya normal cenderung berlebih dan perkembangannya juga bagus. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas Dokter.
Ajeng mengucap syukur, baginya... apapun jenis kelamin anak mereka nanti, ia tidak mempermasalahkan, yang paling penting adalah, bayinya sehat dan berkembang dengan baik di dalam kandungan.
.......
Hari ini semua orang tengah berkumpul di kediaman Ajeng dan Cakra untuk merayakan ulang tahun Dira yang pertama. Tamu yang diundang dalam acara itu sangat terbatas, hanya ada keluarga, kerabat dan beberapa sahabat dekat.
"Cantiknya cucu nenek..." Tyas yang baru datang langsung mengambil alih tubuh gembul Dira dari tangan papanya.
"Kakek, mana hadiah untuk cucu kita, keluarkanlah!" Pinta Tyas pada suaminya, Guntur.
Guntur mengangguk dan merogoh sesuatu dari dalam kantong celananya. "Tidak ada, Bu..." Lirih pria tua itu.
Tyas menatap suaminya tajam. "Ayah ini bagaimana, sih. Itu kan hadiah yang sudah susah payah ibu carikan untuk kado ulang tahun pertama cucu kita, kenapa bisa hilang? Ayah ini ceroboh sekali!" dumel wanita yang masih terlihat menawan di usia senjanya itu.
Cakra hanya menyimak, ia tidak ingin ikut campur karena memang tidak tahu apa-apa.
"Sekarang cepat ayah cari, ibu nggak mau tahu, hadiah itu harus segera ditemukan karena ibu akan langsung memakaikannya pada Dira!" perintah Tyas.
__ADS_1
Guntur termenung sejenak. "Tunggu dulu! Seingat ayah, ibu tidak menitipkan hadiah itu pada ayah. Ibu pasti menyimpannya sendiri!" ucapnya membela diri.
"Eh?" Tyas mencerna ucapan suaminya. Beberapa detik kemudian, wanita tua itu terpekik kecil. "Ibu lupa, hadiahnya ada di dalam tas."
Cakra menepuk jidat, sementara Guntur mendesah lelah. Tyas beberapa kali memang sering melupakan sesuatu, sepertinya mulai pikun. Maklum, faktor umur yang sudah kepala enam.
"Cakra, tolong ambilkan hadiahnya di dalam tas ibu!" titahnya pada si bungsu.
"Tas ibu ada di mana?" tanya Cakra.
Pandangan Tyas menerawang sejenak. "Entahlah, ibu lupa di mana menaruhnya tadi. Coba kau cari di atas meja yang ada di ruang tamu!"
Cakra meringis, ingatan ibunya benar-benar sudah bermasalah. "Aku cari dulu, Bu."
"Hm, kalau tidak kau temukan di sana, coba cari di toilet!" pekik Tyas pada Cakra yang mulai berjalan menjauh.
"Toilet? Bagaimana bisa tas ibu ada di toilet, sedangakan sejak turun dari mobil tadi kita langsung menuju kemari?" tanya Guntur heran.
"Eh? Benar juga ya, Yah. Ah, masa bodohlah. Biarkan saja anak itu mencarinya. Hahaha..." Tyas tertawa membuat Dira yang ada dalam gendongannya juga ikut tertawa.
.......
Acara perayaan ulang tahun Dira yang pertama diadakan di halaman belakang kediaman Winata. Tempat itu sudah didekorasi sedemikian rupa dengan mengusung tema bunga matahari yang berwarna kuning cerah.
"Ya ampun, di mana tas ibu? Di sini tidak ada tas satupun," gerutu Cakra yang sudah berada di ruang tamu.
"Apa di toilet, ya?" pikirnya. Pria itu langsung bergerak menuju toilet yang ada di dekat dapur.
Cakra keluar dari toilet hendak kembali ke halaman belakang tempat semua orang sudah berkumpul, di jalan ia bertemu dengan Ajeng.
"Dari mana, Mas? Acara sebentar lagi sudah akan dimulai, sebaiknya kita ke sana sekarang!" Ajak Ajeng yang kebetulan memang sedangmencari keberadaan suaminya.
"Ini, ibu lupa menaruh tasnya di mana. Sudah mas cari kemana-mana, tapi tidak ketemu," kadu Cakra.
"Tas? Seingatku tadi pas ketemu ibu di pintu masuk, beliau tidak membawa tas apapun," beritahu Ajeng.
"Apa?" Cakra menganga. "Ya sudah, sebaiknya kita pergi sekarang!"
.......
Sampai di halaman belakang, Cakra dan Ajeng langsung menuju ke tempat keluarga mereka berkumpul. Di sana juga sudah bergabung Rama beserta istri dan kedua anak kembarnya.
"Ibu, kau mengerjaiku!" protes Cakra ketika sampai di hadapan wanita yang sudah melahirkannya itu.
Mendengar protesan sang bungsu, Tyas tertawa kecil. "Maaf, Nak. Ibu lupa kalau hadiah itu ibu titipkan pada Sinta, takut hilang jika ibu yang menyimpannya sendiri. Sekarang lihatlah, hadiahnya sudah melingkar indah di leher cucu cantik ibu," ucapnya sumringah.
Mata Cakra dan juga Ajeng langsung tertuju pada leher putih putri mereka. Di sana, sudah melingkar sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian berinisial huruf N.
"Kalungnya sangat indah, terima kasih ya, Bu..." Ucap Ajeng. Ia merasa bahagia sekaligus terharu karena keluarga Cakra sangat menyayangi putrinya yang bahkan tidak memiliki hubungan darah sedikit pun dengan keluarga itu.
__ADS_1
"Tidak hanya di leher, kini kedua kaki putrimu juga sudah ada hiasannya!" Rama menatap Cakra sambil menunjuk kaki berisi Dira.
Cakra melotot melihat dua gelang kaki dari emas putih sudah melingkar di pergelangan kaki putrinya. Ia memejamkan mata lelah. "Putriku sudah seperti toko perhiasan berjalan," gumamnya. Semua orang tertawa mendengar ucapan pelan tersebut.
.......
Acara berlangsung meriah, Dira juga sangat anteng walaupun dirinya sering berpindah gendongan. Sekarang, ia sedang dipangku oleh ayah kandungnya, yakni Radi.
"Dedek Dila cantik ya, Yah..." kata Reyhan sembari mengusap pipi berisi Dira yang putih mulus.
"Iya, Nak. Reyhan harus sayang ya sama adiknya?" ucap Radi.
"Lehan sayang adik." Batita itu tersenyum dan mengecup pipi Dira.
"Pintar!" Radi mengusak surai Reyhan yang memang dibiarkan panjang agar nantinya bisa dikuncir.
Tak lama setelah obrolan itu, Ajeng datang tergopoh-gopoh. "Kak, Rina pingsan!" beritahunya dengan napas tersengal-sengal.
"Apa?" Radi langsung bangkit dari duduknya.
"Sekarang dia ada di kamar tamu, Mas Cakra sudah menelepon dokter keluarga untuk segera datang kemari." Ajeng segera mengambil alih tubuh putrinya agar Radi bisa segera menemui sang istri.
.......
Rina sudah sadar, saat ini ia sedang diperiksa oleh dokter.
"Apa yang saat ini ibu rasakan?" tanya dokter setelah melakukan sedikit pemeriksaan.
"Hm, kepala saya pusing, Dok. Lalu, perut saya juga seperti diaduk-aduk," jawab Rina, lemas.
Radi setia berada di samping Rina sambil menggengam tangan wanita yang dicintainya itu. "Padahal sudah mas bilang agar kamu istirahat saja,tapi kamu tetap bersikeras untuk membantu persiapan ulang tahunnya Dira," ucap Radi. Memang, sudah sejak dua hari yang lalu Rina mengeluhkan ada yang salah pada tubuhnya. Ia selalu pusing dan sering mual dipagi hari.
"Kalau boleh tahu, kapan terakhir kali ibu Rina datang bulan?" tanya dokter wanita itu.
"Saya tidak ingat, Dok. Setelah menikah, saya hanya dua kali datang bulan," akunya.
Mendengar itu, si dokter tersenyum. "Hm... sepertinya ibu Rina saat ini sedang mengandung, tapi untuk lebih jelasnya, silakan periksakan ke dokter kandungan, atau menggunakan alat tes kehamilan terlebih dahulu," jelas dokter.
Deg
Jantung Radi dan Rina lansgung berdentum hebat, seulas senyum terbit di bibir keduanya.
"Sayang, kita langsung ke rumah sakit saja, ya?" ajak Radi yang sudah tak sabar ingin memastikan apakah Rina benar hamil atau tidak.
"Iya, Mas."
...Bersambung...
Sedikit dulu, ya...
__ADS_1
Maaf, lama sekali baru bisa update. Setelah ini akan saya usahakan rutin untuk update.
Jangan lupa Like, Vote & Comment🙏🏻😊