2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 34. Bayi Laki-laki


__ADS_3

...๐ŸŒทSelamat Membaca ๐ŸŒท...


Satu jam telah terlewati, Cakra dan anaknya-anaknya masih menunggu dengan tenang di depan ruang operasi. Do'a tak putus-putusnya dipanjatkan demi keselamatan dua orang yang mereka sayangi. Cakra pun sudah sempat bersih-bersih dan berganti pakaian. Untung saja, tadi Arsyi berinisiatif untuk meminta sopir menjemput baju ganti dan perlengkapan si bayi.


Tak lama dari itu, pintu ruang operasi terbuka. Dua orang perawat keluar dengan mendorong sebuah inkubator.


"Pa, lihat! Adik sudah keluar!" ucap Arsyi.


Mereka semua bangkit dan berjalan menuju dua perawat yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"Sus, bagaimana keadaan bayi saya?" tanya Cakra pada suster. Sementara ketiga anaknya asyik memandangi si bungsu yang terlelap tidur di dalam inkubator.


"Bayi bapak lahir dengan sehat, Jenis kelaminnya laki-laki dengan berat 3.2 kg dan panjang 51 cm..." rinci salah satu suster.


"Lalu bagaimana keadaan mama saya, Sus?" Kini giliran Arsha yang bertanya. Ia sudah melihat adiknya lahir dengan selamat, tapi ia belum tahu bagaimana keadaan ibunya saat ini.


"Saat ini pasien sedang menjalani operasi pengangkatan rahim akibat pendarahan yang sulit dihentikan, terlebih usia pasien yang sudah di atas 40 tahun," terang si suster.


Semuanya terdiam, ketiga anak Ajeng baru tahu kalau rahim ibu mereka harus diangkat, tapi mereka berusaha ikhlas demi keselamatan sang ibu. Apalagi Ajeng sudah empat kali menjalani operasi sesar, jadi dinding rahimnya sudah sangat tipis.


"Kalau begitu, kami akan membawa anak bapak ke ruangan bayi terlebih dahulu," pamit si perawat.


"Boleh saya ikut, Sus?" pinta Dira. Ia ingin menemani adiknya sementara ayah dan adik-adiknya menunggu selesainya operasi sang ibu.


...****************...


Operasi telah selesai dilakukan dua jam yang lalu. Saat ini Ajeng mendapatkan perawatan intensif di HCU. Dokter harus terus memantau perkembangan kondisi Ajeng pasca operasi pengangkatan rahim.

__ADS_1


"Sayang, cepatlah bangun! Bayi kecil kita membutuhkanmu..." Cakra yang duduk di samping brankar Ajeng terus berbisik sambil menggenggam tangan istrinya itu.


Dokter mengatakan jika Ajeng paling cepat akan bangun besok pagi, karena dia memang sengaja dibuat tidur untuk memulihkan kondisinya pasca operasi.


Cakra terus membisikkan kata-kata penyemangat agar istrinya bisa segera siuman dan kembali berkumpul bersama, terlebih kini mereka sudah kedatangan satu anggota keluarga baru, yang sama sekali belum diberi nama. Cakra ingin nanti Ajeng lah yang memberi nama pada putra bungsu mereka.


.......


Di tempat lain, ketiga anak Cakra tengah berada di ruangan bayi. Mereka hanya bisa menatap bayi mungil itu dari balik dinding kaca. Seandainya ibu mereka sudah siuman, tentu saja sang adik bisa segera dibawa pindah ke ruang rawat, dan mereka bisa menggendong bayi tampan itu dengan leluasa.


Ckrekk


Arsyi mengambil foto adik bayinya dengan kamera ponsel untuk selanjutnya akan ia kirimkan pada Eya. Setiap saat mereka selalu bertukar kabar, menanyakan perkembangan kondisi sang ibu dan juga si bungsu Adibrata.


"Ais... padahal aku juga ingin menjenguk mama, tapi kenapa hanya satu orang yang boleh masuk," gerutu Arsha.


"Semoga mama segara sadar dan kita bisa kembali berkumpul..." ucap Dira.


"Ini semua karena papa yang lalai menjaga mama hingga mama harus mengalami hal buruk seperti ini. Seandainya aku ada di sana, tentu mama tidak akan bernasib seperti ini," lirih Arsha. Entah mengapa, perasaan kesalnya pada sang ayah masih belum hilang juga semenjak ia mendengar alasan kenapa ibunya sampai pendarahan.


"Jangan terus menyalahkan papa, ini namanya musibah. Kita tidak tahu kapan datangnya. Yang jelas, kita harus terus berdo'a agar mama cepat siuman dan kembali ke tengah-tengah kita. Kasihan adik bayi karena belum merasaka pelukan dari mama..." jelas Arsyi panjang lebar.


Arsha hanya diam. Perkataan kembarannya memang benar, tapi ia tidak ingin mengakui.


"Anak-anak..." Cakra yang sudah kembali dari ruangan Ajeng menghampiri ketiga anaknya.


Dira dan Arsyi menoleh, menatap sang ayah yang matanya memerah. Sepertinya di dalam sana, pria itu kembali menangis.

__ADS_1


"Arsha!" Karena remaja itu tidak menoleh, Cakra memanggilnya sekali lagi.


Dengan ogah-ogahan, Araha berbalik, ia menatap malas wajah ayahnya, membuat Cakra hanya bisa menghela napas pelan. Putranya itu benar-benar sedang marah, pikirnya


"Kalian pulang saja sama sopir, biar papa di sini yang menemani mama. Besok kalian juga harus sekolah, kan?" suruh Cakra.


"Iya, Pa..." Dira dan Arsyi menjawab serentak.


"Aku nggak mau sekolah, aku akan di sini sampai mama sembuh," ucapnya tak terbantahkan.


"Jangan begini, Sha. Ayo, sebaiknya kita pulang saja..." Dira menarik tangan Arsha.


Arsha bergeming, ia seolah memaku kakinya di lantai hingga tak bisa bergerak.


"Arsha!"


"Nggak mau! Lo ngerti nggak sih, kak!" bentak Arsha.


"Terserah Lo!" Dira yang muak memilih pamit pada ayahnya. Begitu pun dengan Arsyi.


Cakra menatap putranya sendu. "Nak..." panggilnya.


Arsha melengos, ia malah melangkah pergi entah kemana.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote dan Comment ๐Ÿ™๐Ÿป

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca ๐Ÿ˜Š


__ADS_2