2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 45. Ketemu Bule


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Malam ini Yovan mengajak Shane untuk jalan-jalan sebentar di sekitar kota Jakarta. Jarang-jarang sepupu bulenya itu datang berkunjung ke Indonesia.


"Ada tempat yang ingin lo kunjungi, nggak?" tanya Yovan sedikit berteriak pasalnya kini mereka tengah berada di atas motor sport yang dikendarai oleh Yovan sendiri.


"Hm, gue nggak tahu. Udah lama nggak pulang ke Indonesia. Gue ikut lo aja deh!" balas Shane ikut berteriak agar Yovan yang berada di depannya bisa mendengar. Biasanya, orang-orang ketika berada di motor akan menjadi pekak mendadak, apalagi kalau laju motornya sangat kencang.


"Lo laper nggak?" tanya Yovan lagi.


"Laper, cari tempat makan aja, deh!" putus Shane.


"Ok. Mau makan apa?" Lagi Yovan bertanya.


"Pecelele pinggir jalan aja, gue mau makan itu!"


"Ok." Yovan pun lebih melajukan motornya menuju warung tenda pecelele yang cukup sering dikunjunginya.


.......


"Udah semua? Ada yang mau dibeli lagi, nggak? Mumpung masih di luar..." Cakra bertanya pada putri bungsunya yakni Arsy. Mereka saat ini berada di kawasan kuliner kota Jakarta.


"Hm... aku mau beli kebab, boleh nggak, Pa?" tanya Arsy. Sangat jarang mereka jajan di luar seperti ini, jadi Arsy ingin memuaskan dirinya dengan berbagai macam makanan yang jarang dinikmatinya. Sang ibu lebih suka keluarganya memakan apa yang dia masak daripada harus membeli di luar yang belum tentu jelas kebersihannya.


"Tentu saja boleh, di mana penjual kebabnya?" tanya Cakra.


"Itu!" Arsy menunjuk salah satu tenda yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Ya sudah, ayo!" ajak Cakra.


Drrtt... drrtt... drrtt...


Baru saja dua langkah berjalan, ponsel Cakra tiba-tiba berbunyi. Ternyata ada panggilan telepon dari istri tercinta.


"Tunggu sebentar! Papa akan angkat telepon mama dulu," ucap Cakra.


Arsy melihat-lihat sekitar menunggu sang ayah selesai teleponan.

__ADS_1


"Nak, mama nambah pesan sate..." kata Cakra.


"Ya udah, Pa. Aku beli kebabnya sendiri aja, papa mending beliin sate pesanan mama biar cepat dan kita bisa segera pulang..." usul Arsy.


"Tapi..." Cakra berat harus membiarkan putrinya pergi sendiri.


"Deket kok, Pa. Kalau papa selesai lebih dulu, samperin aja nanti aku ke sana..." Arsyi berucap meyakinkan.


"Ya udah, hati-hati ya, Nak..." Cakra mengiyakan. Sebelum beranjak, terlebih dulu iya memastikan jika Arsy sampai dengan aman di tenda yang menjual makanan khas turki itu. Baru setelah itu ia melipir ke tenda yang menjual sate.


.......


"Lahap banget makan lo, Shan. Baru kali ini gue lihat bule doyan makan pecelele kayak lo!" ledek Yovan melihat kalau Shane telah menghabiskan satu porsi pecelelenya sedangakn dirinya baru habis setengah.


"Casing aja yang bule, tapi di dalam tetap Indonesia. Walaupun lahir dan besar di Amerika, tapi papa selalu mengajarkan budaya dan tradisi Indonesia ke anak-anaknya."


"Salut gue sama didikan om Yudhis..." puji Yovan yang ditujukan untuk adik ayahnya, yang tak lain adalah ayahnya shane.


"Benar banget. Pernah sekali Bang Dillon ketahuan masuk club malam bersama teman-temannya sampai pulang pagi dalam keadaan mabuk, papa langsung aja mengguyur tubuh Bang Dillon pakai air dingin. Terus, semua fasilitas disita selama tiga bulan. Wah, itu pelajaran banget, sih... sampai-sampai Bang Dillon nggak berani lagi lakuin itu, apalagi gue..." jelas Shane.


"Berarti lo nggak pernah minum dong?" tanya Yovan.


Yovan berdecak kagum. "Salut gue sama lo. Kebanyakan orang yang ke luar negeri, pasti langsung hidup bebas mengikuti budaya di sana. Tapi lo, gue acungi jempol!"


"Hehe... biasa aja, sih. Lo berlebihan, gue jadi malu nih..." kekeh Shane.


Pembicaraan berakhir dan Yovan kembali fokus dengan makanannya.


"Van, gue keluar bentar, ya. Mau cari makanan yang lain, masih lapar, nih!" pamit Shane.


"Dasar! Pergilah, nanti gue susul!" balas Yovan.


Yovan memaklumi, Shane memiliki postur tubuh tinggi dan besar. Bayangkan saja, diumurnya yang baru 18 tahun, tinggi pemuda itu sudah mencapai 180cm, tentu makanan yang dibutuhkan tubuhnya lebih banyak dibandingkan orang dengan ukuran tubuh normal.


Shane keluar dari tenda pecelele dan berjalan pelan mengitari banyaknya tenda yang berdiri pada malam itu. Tiba-tiba, matanya tertarik melihat makanan khas timur tengah yang berisi daging juga sayuran. Rasanya, ia ingin memakan itu. Dan, tanpa pikir panjang, langsung saja ia menuju ke sana.


.......

__ADS_1


Saat ini Arsy sedang menanti pesanannya dibuatkan. Ia cukup lama menunggu karena ada beberapa orang sebelum dirinya yang lebih dulu harus dilayani.


Arsy memesan empat kebab, mana tahu nanti saudaranya ada juga yang menginginkan makanan itu, daripada nanti miliknya yang diminta, lebih baik dilebihkan saja membelinya. Biasanya Arsha akan selalu merebut makanannya, jadi antisipasi saja dari sekarang.


"Kebabnya dua ya, Bang..."


Arsy yang sedang asyik memerhatikan si abang yang membuat kebab, dikagetkan dengan sebuah suara berat disusul dengan aroma maskulin yang sedikit menusuk indera penciumannya. Rupanya, kini seseorang telah berdiri tepat di sampingnya.


Penasaran, Arsy pun menoleh. Pertama yang ia lihat adalah... dada bidang berbalut hoodie berwarna hitam. "Mana kepalanya?" batin Arsy. Perlahan, ia mendongakkan kepala demi bisa melihat wajah si pemilik suara berat dan dada bidang itu.


Deg


Arsy terperanjat saat mendapati jika sosok yang berada di sampingnya ternyata juga tengah menatap dirinya dengan mata biru terang yang sangat indah.


Untuk beberapa saat, Arsy terpukau. "Ganteng banget ini bule, apalagi matanya itu..." batinnya.


"Hello!" Bule yang tak lain adalah Shane mulai menggoyangkan tangannya di depan wajah Arsy yang mematung.


Shane yang melihat Arsy belum tersadar, langsung menepuk pundak gadis itu. Dan benar saja, kembaran Arsha itu langsung sadar dari keterpukauannya.


"Terpesona ya, Dek, sama mas bule sampai-sampai kebabnya dilupain," kelakar si penjual kebab yang ternyata sudah tiga kali memanggil dan Arsy melewatkannya.


Wajah Arsy langsung memerah malu. "Apaan sih, Bang! Saya cuma kaget, doang."


"Haha, ini kebabnya ya, Dek... " ucap si abang penjual kebab kemudian.


"Oh, iya. Ini uangnya ya, Bang. Kembaliannya ambil saja, makasih." Arsy mengambil kebab pesanannya dan segera melesat pergi.


Shane yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis. "Bocah yang lucu..." gumamnya.


Arsy berjalan mencari keberadaan sang ayah. "Malu-maluin aja, deh. Kenapa harus terpesona sama itu bule. Ini leher juga kenapa jadi pegal, pasti ini karena gue mendonggak tadi. Lagian berapa sih tinggi bule tadi itu. Gue jadi iri..." dumelnya sembari memijit tengkuk yang pegal. Pasalnya, Arsy hanya memiliki tinggi tubuh sekitar 150cm, maklum sih karena dia masih 14 tahun. Nanti juga bakalan tinggi, pikirnya.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote dan comment 🙏🏻


Terima kasih sudah membaca 🤗

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan memberikan 💐 dan ☕ agar author tetap semangat menulis.


__ADS_2