
...🌷Selamat Membaca🌷...
Radi mengendarai mobilnya dengan kalut, saat ini tujuannya adalah untuk menemui Satria di rumah sakit tempat sepupunya itu bekerja.
Sampainya di rumah sakit, Radi langsung bertanya pada resepsionis di mana ruangan Satria berada. Ia pun menyusuri lorong sesuai arahan yang tadi diberitahukan padanya. Kini, Radi sudah berdiri di depan pintu ruangan bertuliskan dr. Satria Dewangga Sp.PD.
Tanpa basa-basi, Radi langsung membuka paksa pintunya. "Satria!" teriaknya.
Satria yang sedang membaca dokumen medis pasiennya, terperanjat kaget saat pintu ruangannya terbuka tiba-tiba. Ia melihat kemunculan Radi di ambang pintu yang ternganga lebar.
"Radi? Ada apa denganmu? Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, kau membuatku kaget saja!" protes Satria. Pria itu menutup dokumen yang tadi dibacanya lantas bangkit dari duduk dan berjalan menghampiri Radi.
Radi menatap nyalang pada anak dari bibinya itu. Rahangnya mengeras dengan gigi bergemeletuk.
Satria yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres kala melihat wajah bengis Radi langsung merasa was-was. "K-kau kenapa?" tanyanya memberanikan diri.
Radi tidak menjawab, dia melangkah mendekati Satria dan segera mencengkram kerah kemeja biru yang digunakan sepupunya itu. "Kau harus menikahi Maya!" desis Radi.
Deg
"Ada apa ini?" Silvia yang memang ingin berkunjung ke ruangan kekasihnya, terkejut melihat apa yang sedang terjadi. Ia masuk ke dalam dan menutup pintunya, takut jika kejadian ini menjadi tontonan orang yang berlalu lalang di luar sana.
"Lepas!" Satria menghempas tangan Radi yang mencengkram kerah kemejanya. Pria itu sangat bingung dengan tingkah Radi yang tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba datang dan memintanya untuk menikahi Maya.
"Kau gila! Untuk apa kau menyuruhku untuk menikahi Maya?" tanya Satria emosi.
"Apa?" Silvia yang mendengar kekasihnya diminta untuk menikahi Maya pun mulai bereaksi. "Kenapa Satria harus menikahi wanita itu?" Ia turut menuntut jawaban dari Radi.
"Karena saat ini Maya sedang mengandung anakmu!" kata Radi lugas.
Deg
"Apa?" Satria dan Silvia bersorak bersamaan.
"Jangan mengarang, Di! Bagaimana mungkin Maya bisa hamil anakku, aku tidak pernah menyentuhnya!" elak Satria.
Radi dan Silvia langsung memicing curiga ke arah dokter tampan itu.
Satria menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ya, aku pernah menyentuhnya... tapi itu dulu, saat dia masih menjadi kekasihku," jawabnya jujur.
Silvia masih menatap kekasihnya penuh selidik. "Bukankah waktu itu kau dan wanita itu terciduk olehku? Pasti kalian sering melakukannya di belakangku, kan?" tuduh wanita hamil tersebut.
"Sumpah, itu yang pertama kalinya semenjak Maya tinggal di apartemen kita dan kami juga hanya berciuman saja. Untung saat itu kau datang tepat waktu, jadi aku tidak sampai menidurinya," jelas Satria. Dilihat dari sorot matanya, pria itu memang berkata jujur. "Percaya padaku, sayang... aku tidak pernah lagi tidur dengan wanita lain selain dirimu."
"Baiklah, aku percaya..." ucap Silvia.
Satria mendesah lega, ia kemudian menoleh dan menatap Radi yang membeku di tempatnya. "Anak yang dikandung Maya bukanlah anakku, itu pasti adalah anakmu. Bukankah kau sering menidurinya?" ejek Satria, sinis.
Radi tercenung. Jika Maya dan Satria tidak pernah berhubungan lagi, berarti janin yang dikandung Maya saat ini adalah benar dari benihnya.
"Kalau kau masih tidak percaya, saat anak itu lahir, ayo kita lakukan tes DNA. Nanti kita semua akan tahu, anak itu adalah milikku atau milikmu. Namun, dapat ku pastikan jika itu bukanlah anakku." Satria kembali menegaskan.
"Maaf, sudah menuduhmu." Radi berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Satria. Pria itu berjalan gontai menuju tempat mobilnya terparkir.
__ADS_1
"Sial!" Saat sudah berada di kursi kemudi, Radi memukul stir mobilnya berkali-kali. Mencoba melampiaskan rasa frustasi yang kini dirasakannya.
"Tuhan... kenapa wanita itu harus mengandung darah dagingku. Aku sama sekali tidak ingin berhubungan lagi dengannya, apalagi kalau harus terikat seperti ini," jerit hati Radi.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Pria itu menyandarkan tubuh lemasnya di sandaran kursi kemudi. Kepalanya terasa panas karena pikirannya saat ini sedang kacau.
.......
Ajeng sudah sampai di rumah. Rasanya sudah lama ia tidak pulang ke rumah keluarganya ini. Sementara Radi memutuskan untuk tinggal di rumahnya sendiri, yakni rumah yang pernah ditinggalinya bersama Maya.
"Mau langsung istirahat?" tanya Cakra yang membantu memapah tubuh Ajeng.
"Iya, Mas. Badanku rasanya masih lemas."
Cakra mengantarkan Ajeng masuk ke dalam kamar. Ia membantu wanita itu untuk berbaring.
"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Cakra.
"Tidak, aku mau minum air putih saja."
"Baik, aku ambilkan dulu." Cakra mengusap kepala Ajeng lembut baru setelah itu berbalik.
Deg
Tak sengaja, mata Cakra menangkap bingkai foto pernikahan Ajeng dan Radi yang berukuran besar terpajang di dinding, berhadapan dengan tempat tidur. Rasa tidak suka langsung menyusup di hati pria berkepala tiga itu. Ingin sekali dirinya menurunkan foto pernikahan yang didalamnya terdapat foto sepasang pengantin yang tersenyum bahagia itu, tapi takut Ajeng akan merasa tersinggung jika ia sampai melakukannya. Untuk saat ini, ia biarkan saja dulu foto itu terpajang. Nanti, jika Ajeng telah resmi menjadi miliknya, semua barang-barang yang berhubungan dengan Radi akan ia singkirkan.
"Ada apa, Mas?" tanya Ajeng heran, melihat Cakra terdiam memandangi foto pernikahannya dan Radi.
Setelah Cakra keluar dari kamar, gantian Ajeng yang melihat potret bahagianya dengan Radi dalam bingkai yang terpajang apik di dinding. Wanita itu tersenyum miris, pernikahannya yang baru seumur jagung harus kandas karena masalah orang ketiga.
"Mas Radi, andai kau tidak mengkhianatiku, pasti saat ini kita akan menjadi pasangan berbahagia karena menyambut kelahiran putri kita."
Ajeng menekan dadanya yang tetiba terasa sesak. Semua kenangan manis antara dirinya dan Radi yang terjadi di kamar ini, mulai berkelebat di benaknya. Ia menyentuh ranjang yang saat ini ditidurinya, dulu ranjang ini adalah tempat mereka biasa menghabiskan malam-malam romantis penuh cinta, kini semua itu tidak akan terjadi lagi. Perpisahan mereka sudah di depan mata.
"Jeng, ini minumnya." Cakra masuk kembali ke dalam kamar dengan membawa gelas serta seteko air putih.
Ajeng tersenyum, berusaha terlihat biasa. "Makasih ya, Mas..." ucapnya.
"Sama-sama, sayang..."
Cakra mengisi air ke dalam gelas, lalu menyerahkannya pada Ajeng. "Minumlah!"
Ajeng meminum airnya sampai habis, ia sangat kehausan.
"Mas, apa Dira akan baik-baik saja kita tinggal di rumah sakit?" tanya Ajeng teringat akan bayinya.
"Tentu, di sana ada dokter dan perawat yang akan menjaganya."
"Tapi..." Walaupun begitu, Ajeng tetap mengkhawatirkan keadaan putrinya itu.
"Berdo'a saja, semoga Dira cepat sembuh dan bisa kita bawa pulang."
"Iya..." Ajeng mengangguk pasrah.
__ADS_1
"Sekarang tidurlah!"
Setelah menyelimuti Ajeng, ponsel dalam saku celana Cakra berbunyi. Ia segera mengangkatnya, sebuah panggilan dari Robi.
"Halo, Pak Cakra?" sapa Robi di seberang telepon.
"Ya, ada apa Pak Robi?" sahut Cakra.
"Saya mendapatkan kabar mengejutkan dari salah seorang polisi di tempat Maya ditahan," lanjutnya.
"Kabar apa?" Cakra sangat penasaran.
"Maya hamil..."
"Apa?" Cakra kaget mendengar berita itu.
"Ya, dan kemungkinan besar... anak yang dikandung Maya adalah anaknya Radi."
"Oh, begitu." Cakra tak tahu lagi harus menanggapi berita ini seperti apa. Jujur, ia merasa kasihan dengan Radi yang harus menghadapi masalah tersebut.
"Pak Cakra, bagaimana keadaan nona Ajeng?" tanya Robi kemudian.
"Sudah jauh lebih baik, saat ini dia sedang beristirahat di rumah."
"Ok, baiklah. Jika ada sesuatu yang terjadi, segera hubungi saya."
"Tentu, dan terima kasih juga atas infonya, Pak Robi."
"Sama-sama, Pak.
TIT
Sambungan terputus.
"Ada apa bang Robi meneleponmu, Mas?" Ajeng yang mendengar pembicaraan Cakra dan Robi pun bertanya.
Cakra terdiam, haruskah ia beritahu Ajeng akan masalah ini.
"Kenapa, Mas? Aku tidak suka ya, jika mas menyembunyikan sesuatu dariku!" kata Ajeng tegas.
Cakra mengalah, ia akhirnya memberitahu Ajeng.
"Maya hamil anaknya Radi."
Deg
Mata Ajeng membola mendengar empat kata yang keluar dari mulut Cakra barusan.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment...
...Terima kasih...
__ADS_1