2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 10. Cemburu?


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Sebulan berlalu, hubungan antara Lingga dan Dira semakin dekat. Semua mengalir begitu saja. Lingga dengan usahanya yang terus mendekati Dira, dan Dira yang mulai merasa nyaman berada di dekat Lingga.


"Ra, gue lihat Lo dan Lingga jadi makin deket. Lo ada rasa nggak sama dia?" tanya Hanna. Luna mendengarkan dengan serius karena ia juga merasa penasaran akan arti kedekatan sahabatnya dengan cowok tampan itu.


Dira diam, dalam benaknya mulai berputar rekaman momen-momen kebersamaan yang sudah dihabiskannya dengan Lingga selama satu bulan ini. Semua momen yang telah terjadi hanya mengambil satu latar tempat, yakni sekolah. Di luar sekolah, mereka tak pernah bertemu.


"Ra! Ditanyain malah melamun!" Luna menyenggol lengan Dira yang tampak bengong, entah sedang memikirkan apa.


"Han, Lun!" Dira menatap kedua sahabatnya bergantian. "Kalian tahu 'kan kalau aku dan Lingga itu sepupuan, jadi kedekatan kami hanya sebatas itu. Tidak lebih," jawab Dira. Walaupun lisannya berkata demikian, tapi hatinya justru tak sependapat. Ia merasa ada perasaan khusus untuk cowok itu, tapi label sepupu yang mengikat mereka membuatnya ragu.


Luna dan Hanna mengangguk paham, walau sejujurnya mereka tidak percaya dengan jawaban Dira, tapi begitu melihat wajah sahabat mereka yang seperti tak ingin membicarakannya lagi, maka keduanya memilih diam.


"Han, Lun, ke kantin, yuk! Bosan nih di kelas mulu, mumpung masih ada waktu setengah jam lagi sebelum guru selesai rapat." Dira mengajak kedua sahabatnya.


"Yuk!" Hanna dan Luna tak akan menolak, karena mereka berdua hobi ngemil.


Sampai di kantin, ternyata banyak siswa yang menghabiskan jam kosong di sana. Ada yang makan, ada juga yang duduk santai sembari berbincang riang.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Hanna. "Biar gue pesenin dan kalian cari tempat duduk aja!"


"Gue jus jeruk aja," jawab Luna.


"Ok. Kalau Lo, Ra?" Kini Hanna beralih pada Dira.


"Es teh manis."


Hanna segera pergi memesan sementara Luna dan Dira mencari tempat duduk. Mereka menemukan tempat kosong di pojok dan mulai melangkah ke sana.


Deg


Langkah Dira terpaku saat melihat di sebuah meja ada seorang cowok yang belakangan ini begitu dekat dengannya tengah duduk bersama dengan seorang cewek cantik berkacamata. Mereka terlihat tengah membahas sesuatu dan dipandangan Dira, kedua orang itu cukup dekat. Lihat saja jarak duduk keduanya yang seperti tak bersekat dengan kedua pundak yang bersinggungan.


"Kenapa berhenti, Ra!" Luna melirik pada Dira yang terdiam dengan pandangan mengarah pada satu titik. Ia pun mengikuti arah pandang sahabatnya itu.


Luna sedikit terkejut melihat Lingga duduk bersama dengan cewek lain. Keduanya tampak akrab. Sekali lagi, Luna melirik pada Dira dan ternyata sahabatnya itu masih melihat ke arah yang sama.

__ADS_1


"Apa Dira cemburu, ya?" pikir Luna. Melihat wajah Dira yang berubah murung, Luna lekas menarik tangan Dira dan membawanya pergi ke tempat duduk yang telah dipilih.


Tak berselang lama, Hanna datang dengan nampan berisi tiga minuman dan beberapa roti. Ia menaruhnya di meja. Setelah itu mendudukkan diri di samping Luna, dan berhadapan dengan Dira.


"Yuk, minum!" Hanna langsung meraih jus mangga miliknya dan meminumnya. "Ah... seger banget," ucapnya selesai menyeruput isi dari gelas.


Melihat kedua sahabatnya hanya diam, Hanna pun kebingungan. "Ra, Lun, kenapa belum diminum?" tanyanya.


"Eh? I-iya..." Luna yang tersadar langsung mengambil jus jeruknya.


Sementara Dira masih diam, bahkan ketika Hanna dan Luna memanggilnya, gadis itu tetap membisu dengan pandangan kosong.


Hanna menjadi semakin bingung, ia langsung menatap Luna dan bertanya melalui gerak gerik bibir. Dan akhirnya Luna pun membisikkan tentang apa yang ia dan Dira lihat tadi.


Mata Hanna melotot, ia langsung mengedarkan pandangan mencari dua orang yang dimaksud. Benar saja, ia melihat Lingga duduk berdua dengan seorang cewek. Gadis itu merasa kesal, karena yang ia tahu bahwa Lingga menyukai Dira, lalu kenapa cowok itu justru terlihat dekat dengan cewek lain.


"Ra!" panggil Luna. Ia menepuk pelan tangan Dira yang ada di atas meja.


Deg


Dira pun terperanjat. "Eh? Kenapa? Minumannya udah sampai?" tanyanya.


"Ya, makasih, Han." Dira mengambil minumannya dan langsung menyeruput isi gelasnya dengan rakus. Sampai isi gelas yang awalnya penuh itu menjadi kosong, menyisakan es batu yang masih dalam tahap mencair.


Hanna dan Luna melongo.


"Haus banget gue..." ucap Dira setelah selesai dengan minumannya. Gadis itu sempat-sempatnya menyengir pada kedua sahabatnya.


"I-itu juga ada roti, Lo makan aja!" kata Hanna.


Dira menggeleng. "Lagi nggak napsu," tolaknya. "Hm... gue ke toilet dulu, ya. Nanti Lo berdua langsung ke kelas aja, gue nggak balik ke sini lagi soalnya."


"O-oh, oke." Hanna dan Luna mengangguk. Mereka ingin ikut, tapi sadar bahwa sepertinya Dira sedang ingin sendiri. Jadi mereka biarkan saja.


Dira segera melangkah meninggalkan kedua temannya. Sebelum keluar dari area kantin, ia kembali melirik pada meja yang ada Lingga. Kedua orang itu masih tampak sibuk dengan kegiatannya. Cukup lama Dira memerhatikan, dan tanpa diduga Lingga menyadarinya.


Deg

__ADS_1


Dira dan Lingga bertatapan cukup lama. Cowok itu mengulas senyum pada Dira sementara Dira hanya menatapnya dengan wajah datar dan dingin. Beberapa detik kemudian, ia melengos dan segera pergi meninggalkan kantin.


Di tempatnya, Lingga tercenung. Ia merasa ada hal yang aneh yang terjadi pada Dira. Tak biasanya gadis itu menatapnya dingin seperti tadi.


"Fan, gue pergi sebentar, ya. Ada urusan mendadak." Lingga menatap gadis di sampingnya yang bernama Fanny. Ia tidak tenang sebelum mengetahui apa yang tengah terjadi pada Dira. Maka dari itu, ia berniat menyusulnya.


"Tapi, Ngga..." Fanny menahan lengan Lingga yang ingin bangkit dari duduknya. "Tugas kita hampir selesai sedikit lagi, kerjakan ini dulu, ya. Urusan kamu itu nanti aja, ini lebih penting dan mendesak," bujuk Fanny.


Lingga menghempaskan napas kasar. "Baiklah," balasnya pasrah. "Nanti aja sepulang sekolah aku bicara pada Dira," tekadnya.


Di sisi lain, Fanny merasa senang karena Lingga tidak jadi pergi. Ia sebenarnya tahu betul apa urusan mendadak yang dikatakan Lingga, tapi dengan sengaja ia menghalanginya. Fanny tak ingin jika Lingga, cowok yang disukainya semenjak mereka tergabung dalam organisasi OSIS itu dekat dengan cewek lain.


"Aku harus bergerak cepat sebelum keduluan sama cewek IPA itu," batinnya.


...----------------...


Baru saja Dira menginjakkan kakinya keluar dari ruang kelas, ponsel dalam saku roknya tiba-tiba bergetar. Ia langsung merogohnya.


Ada dua buah pesan dari dua orang yang berbeda, yaitu dari Ajeng dan Eya. Ia membuka pesan dari ibunya terlebih dahulu.


Jantung Dira berdetak cepat begitu membaca pesan yang dikirimkan sang ibu. Dan ketika beralih ke pesan dari Eya, ia langsung bergegas, berlari menuju tempat parkir. Adiknya itu sudah menunggu di mobil.


"Dira, tunggu!" Lingga yang sudah sejak tadi menanti kehadiran Dira langsung mencegat langkah gadis itu. "Aku mau bicara sama kamu," katanya.


"Jangan sekarang, aku lagi buru-buru." Dira menggeser tubuh Lingga yang menghalangi jalannya.


"Ini penting, Ra! Aku mohon!" Lingga masih belum menyerah. Ia menggapai tangan Dira dan menahannya.


"Ck!" Dira berdecak kesal dan langsung menghempaskan tangan Lingga yang memegang tangannya. "Ada yang jauh lebih penting dari pada Lo. Jadi jangan halangi gue!"


Lingga tercenung, ia hanya bisa menatap kepergian Dira dengan hati terluka. Baru kali ini Dira berkata seperti itu padanya.


"Kamu kenapa, Ra?" lirihnya.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote & Comment

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊


Lama banget nggak update karena kondisi kesehatan aku yang kurang baik. Semoga masih ada yang nungguin cerita abal-abal ini.😣


__ADS_2