2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Mom's Advice (Fadhil-Maya)


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Tante cantik!" Gadis berumur empat setengah tahun itu berteriak memanggil nama sesosok wanita dewasa yang dikenalinya beberapa hari yang lalu di sebuah pesta.


Sosok wanita yang sedang mendorong troli belanjaan itu menoleh pada si pemanggil. Ia merasa familiar dengan suara imut yang memanggilnya dengan sebutan tante cantik.


"Kei?" Wanita itu tak lain adalah Maya. Ia berbalik saat gadis kecil bernama Kei berlari ke arahnya.


"Tante cantik, sedang belanja, ya?" tanya Kei. Ia menghampiri troli belanjaan Maya dan melihat isinya, karena tidak menemukan apa yang dicarinya, ia pun bertanya lagi. "Dedek Lingganya mana, Tante?"


"Oh, dedeknya di rumah, sayang." Maya menjawab. Ia menelisik penampilan Kei siang ini, gadis itu menggunakan baju seragam taman kanak-kanak, dan seperti biasa rambutnya diikat dua, kanan-kiri.


"Kei sama siapa kemari, Nak?" tanya Maya. Tidak mungkin kan, dari sekolahnya Kei datang ke supermarket seorang diri.


"Sama Oma," jawabnya.


"Lalu mana omanya?"


Kei menunjuk ke arah stan buah-buahan. "Itu di sana. Oma sedang memilih buah, Tante."


"Ayo kita ke sana, nanti oma mencarimu..." ajak Maya.


"Iya, Tante."


Maya meninggalkan troli belanjaannya sejenak, ia menemani Kei ke tempat sang nenek. Tanpa diduga, Kei menggenggam erat tangan Maya, ia menggandengnya.


"Oma!" panggil Kei.


Nenek Kei yang bernama Maryam itu pun menoleh. Ia menemukan sang cucu bersama dengan seorang wanita yang dikenalnya tempo hari. Mereka bergandengan hangat, persis seperti ibu dan anak.


"Kei, Maya?"


"Oma, tadi aku ketemu sama tante cantik di sana." Kei menunjuk arah di mana troli Maya berada.


"Selamat siang, Bu Maryam." Maya menyapa ramah, tak lupa tersenyum.


"Siang, May. Belanja juga?" tanya Bu Maryam.


"Iya, Bu. Kebetulan kebutuhan di rumah sudah menipis," jawabnya.


Kei melepas tangan Maya yang digenggamnya kemudian berlari menghampiri sang nenek. "Oma, belanjanya masih lama? Aku lapar, Oma..." rengeknya sembari menarik-narik jilbab panjang bu Maryam.

__ADS_1


"Iya... sabar, sayang. Sebentar lagi oma selesai." Bu Maryam mengambil beberapa buah secara acak dan memasukkannya ke dalam troli. "May, lanjutkanlah belanjamu. Setelah ini kita makan siang bersama, ya?" ajaknya.


"Ta-tapi Bu-"


"Tante, mau ya..." Kei yang memohon dengan wajah polosnya membuat Maya tak bisa menolak. Ia tidak ingin gadis kecil yang menggemaskan itu bersedih.


"Baiklah."


Maya meneruskan kembali kegiatannya. Saat akan membayar, bu Maryam langsung mencegahnya. Sebuah kartu debit diserahkan wanita bergamis itu pada kasir untuk membayar belanjaan mereka berdua.


Sampai di luar, Maya menyerahkan beberapa helai uang merah pada bu Maryam.


"Simpan saja uangmu, May!" tolak wanita paruh baya itu.


"Tapi, Bu..." Maya merasa tak enak hati.


"Saya iklhas, May."


Mendengar itu, Maya terdiam. Sepertinya bu Maryam adalah tipe orang yang sukar ditolak kemauannya.


"Terima kasih, Bu."


.......


Fadhil sedang menonton siaran berita di televisi saat ibunya datang membawakan secangkir kopi.


"Terima kasih, Bu." Pria itu tak pernah lupa mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang telah diberikan oleh wanita tercintanya.


"Apa Kei sudah tidur?" tanya Bu Maryam. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Sudah, Bu. Sebelum tidur dia bercerita kalau siang tadi bertemu dengan tante cantik. Apa itu benar, Bu?" tanya Fadhil setelah menyeruput sedikit kopi panas buatan ibunya.


"Iya, kami bertemu saat berbelanja di supermarket yang sama." Bu Maryam menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. Tubuh tuanya terasa sedikit penat.


"Oh, ku pikir Kei hanya membual karena semenjak bertemu Maya beberapa hari yang lalu, dia terus saja membicarakan tentang tante cantiknya itu," timpal Fadhil.


"Putrimu itu sepertinya sangat menyukai Maya."


"Ya." Hanya itu respon yang diberikan Fadhil. Sebenarnya pria itu sudah sangat hapal apa yang saat ini tengah dipikirkan sang ibu. Pasti tidak jauh dari soal perjodohan. Niat ibunya yang ingin menjodohkannya dengan Maya sudah terbaca jelas.


"Ibu rasa, Maya itu cocok untuk menjadi-"

__ADS_1


"Bu... aku tak membutuhkan seorang istri. Cukup dengan kehadiran ibu dan Kei sudah membuatku merasa lengkap dan bahagia," sanggah Fadhil, memotong perkataan ibunya.


Bu Maya tersenyum kecut. "Ibu tidak bilang kalau ingin menjadikan Maya sebagai istrimu."


"Lalu?" Kening Fadhil berkerut bingung.


"Ibu bilang, kalau Maya itu cocok untuk menjadi mamanya Kei."


Fadhil menghembuskan napas lelah. "Itu sama saja, Bu. Kalau Maya ingin menjadi ibunya Kei, otomatis ia harus menikah denganku dan jadi istriku."


"Itu kau tahu, jadi mau ya?" Bu Maryam pantang menyerah. Sebenarnya ia sudah cukup lelah membujuk bahkan memaksa Fadhil untuk menikah kembali, tapi ia lebih tidak ingin melihat putranya menjadi duda seumur hidup. Bagaimana kalau nanti dia dipanggil yang maha kuasa untuk menyusul sang suami yang lebih dahulu berpulang, pasti Fadhil dan Kei akan kesepian karena akan tinggal berdua saja.


"Bu, kita baru saja mengenal Maya, tapi kenapa ibu begitu yakin untuk menjodohkanku dengannya? Apa ibu sudah tahu betul bagaimana kepribadian wanita itu?" tanya Fadhil tak habis pikir. Bukannya ia ingin menghakimi masa lalu Maya yang bisa dikatakan buruk, tapi Fadhil hanya ingin tahu pandangan ibunya terhadap Maya sehingga beliau memiliki keyakinan kuat untuk menjodohkan mereka.


"Entahlah, Nak. Ibu tahu kalau Maya memiliki masa lalu yang tidak cukup baik. Dia memiliki seorang anak di luar nikah, selain itu ia juga pernah masuk penjara karena terlibat kasus penganiayaan terhadap istri dari selingkuhannya, namun ibu lihat jika sekarang dia sudah bertobat."


Fadhil kaget mendengar penuturan sang ibu. "Jadi ibu sudah tahu semuanya?"


"Ya, ibu tidak mungkin gegabah untuk memilihkan calon istri untukmu dan calon ibu untuk Kei. Ibu meminta orang menyelidiknya."


"Lalu, apakah ibu yakin benar jika dia sudah berubah?" tanya Fadhil memastikan.


"Ya, kau tahu? Maya memiliki sifat keibuan, itu yang ibu suka darinya. Saat makan di restoran tadi siang, Kei merengek minta disuapi oleh Maya dan ya... Maya dengan telaten dan penuh kelembutan menyuapi putrimu itu makan. Selama perjalan pulang Kei tak henti tersenyum, dan saat ibu tanya di menjawab bahwa ia sangat senang karena hari ini makan disuapi Maya, putrimu itu merindukan sosok seorang ibu yang tidak pernah didapatkannya."


Fadhil terdiam. Apakah selama ini ia telah egois dengan mengabaikan keinginan putrinya?


"Nak, setiap orang pasti memiliki masa lalu, tapi yang lebih penting sekarang adalah bagaimana orang itu menjalani masa sekarang dan masa yang akan datang. Kau tidak lupa kan dengan masa lalumu dulu?" Bu Maryam mengingatkan.


Fadhil tersentak. Ibunya mengingatkannya kembali akan kesalahan bertahun-tahun lalu yang ingin sekali dilupakannya.


"Baiklah, Bu. Aku akan memikirkannya."


Fadhil mengalah, ia tidak ingin membuat ibunya kecewa untuk yang kesekian kalinya.


"Terima kasih, Nak." Bu Maryam mengusap kepala putranya, sayang.


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih buat pembaca yang setia mengikuti😊

__ADS_1


__ADS_2