
...🌷Selamat Membaca🌷...
Seminggu waktu berlalu, selama itu Radi selalu menyibukkan dirinya di kantor dan rumah sakit. Setelah semua pekerjaan di kantor selesai, ia akan pergi ke rumah sakit untuk melihat perkembangan buah hatinya. Masalah kehamilan Maya, ia singkirkan jauh-jauh dari benaknya untuk saat ini. Entah kenapa, ia sama sekali tidak mengharapkan keberadaan janin itu. Katakan lah ia kurang ajar, berani melakukan, tapi tak mau bertanggung jawab. Sungguh... ia sudah lelah akan semua permasalahan yang terjadi, kini ia akan lepas tangan.
Radi menyandarkan tubuh letihnya pada sandaran kursi yang ada di dalam ruangan kantor. Pekerjaannya hari ini akhirnya selesai juga, ia menengok jam di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.
Pria itu menghela napas panjang. Matanya memandang figura foto Ajeng yang berdiri kokoh di atas meja kerjanya. "Ajeng..." Sudah seminggu ia tidak bertemu dengan istri yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya itu, rasa rindu memenuhi rongga dadanya.
Dahulu, Radi selalu bersemangat kala akan pulang dari kantor. Sebab, di rumah sudah ada yang menantikan dirinya. Senyuman Ajeng saat menyambut kepulangannya adalah obat paling mujarab untuk menghilangkan segala penat yang menggerogoti tubuh. Kini, semua itu sudah lenyap akibat kesalahan yang sudah ia lakukan. Ia terlalu terlena dengan kesenangan semu hingga rumah tangga yang baru dua tahun dibangun itu berada di ambang kehancuran.
Nasi sudah menjadi bubur. Ajeng terlalu kecewa sampai tidak memberikannya kesempatan lagi untuk berjuang. Kesempatan? Bagaimana mungkin Ajeng akan memberikannya kesempatan jika saat ini wanita itu sudah ada pria lain yang lebih baik sebagai pengganti dirinya.
Memang penyesalan selalu datang di akhir, jika tahu akan begini jadinya, tentu ia akan lebih berhati-hati. Hah... andai waktu dapat diulang, andai ia tidak pernah bertemu dengan Maya, andai waktu itu ia berusaha keras mencari di mana keberadaan Ajeng, andai ia tidak langsung percaya jika Lingga adalah anaknya, andai... semua kalimat pengandaian itu membuat kepala Radi terasa mau pecah.
"Semuanya sudah terlambat..." Pria itu perlahan bangkit dari duduknya. Merapikan sedikit kemejanya yang kusut, dan bersiap untuk pulang. Hari ini ia absen menjenguk Dira karena terlalu lelah, besok setelah tubuhnya kembali fit, akan ia usahakan untuk melihat putri kesayangannya itu pagi sebelum berangkat ke kantor.
.......
Cakra menatap Ajeng yang termenung sembari mengaduk-aduk makanan tanpa ada niat untuk memakannya. Sudah sedari tadi ia perhatikan, wanita itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat hingga kurang berkonsentrasi pada hal yang sedang dikerjakannya.
Tidak hanya hari ini, kemarin, dua hari yang lalu, ah... tepatnya seminggu yang lalu, saat Cakra memberitahu jika Maya mengandung anaknya Radi, Ajeng mulai berubah. Ia menjadi lebih banyak diam dan sedikit cuek padanya. Apakah wanita itu masih memikirkan calon mantan suaminya itu? Cakra menyentuh dadanya yang terasa sesak, jika apa yang dipikirkannya itu benar adanya. Apa yang harus ia lakukan?
"Jeng!" Cakra sudah tak tahan lagi, ia menyentuh bahu Ajeng agar wanita itu tersadar.
Deg
Benar saja, Ajeng langsung terperanjat begitu merasakan tepukan di bahunya. Ia langsung menoleh dan menemukan Cakra sedang menatapnya datar.
"A-ada apa, Mas?" tanya Ajeng. Ia jelas melihat raut tak senang dari wajah Cakra.
"Lanjutkan makanmu! Aku sudah selesai dan mau pulang." Setelah mengatakannya Cakra berbalik pergi.
__ADS_1
Deg
Jantung Ajeng berdetak cepat, ia tahu kalau sesuatu yang salah baru saja terjadi. Dengan cepat, ia mengejar langkah lebar dari pria yang selama beberapa bulan ini sudah menemaninya dalam keadaan susah dan senang.
"Mas, tunggu!" Ajeng menarik lengan Cakra yang akan melewati ambang pintu.
Cakra hanya diam, tak ada niat untuk membalikkan tubuh melihat Ajeng. Saat ini, ia tidak ingin melihat wajah wanita itu dulu. Hatinya merasa sakit membayangkan jika Ajeng masih memikirkan Radi, atau mungkin masih mencintai suaminya itu.
"Kau kenapa, Mas? Apa aku ada salah?" tanya Ajeng. Nada suaranya terdengar panik.
Deg
Cakra tersenyum miris, untuk apa Ajeng mengejarnya jika wanita itu sendiri tidak tahu apa kesalahannya. Mungkin benar jika ada yang mengatakan jika Ajeng tidak bersalah, karena ini hanyalah bentuk dari keegoisan Cakra yang tidak ingin jika wanita yang dicintainya memikirkan pria lain.
"Mas!" Ajeng yang tidak mendapat jawaban, coba menggoyang pelan lengan pria itu. "Ada apa, Mas? Tolong katakan padaku, aku tidak akan mengerti jika kau tidak mengatakannya."
Deg
"Aku rasa saat ini kau membutuhkan waktu untuk sendiri. Renungkanlah apa yang menjadi keinginan hatimu. Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku jika hatimu tidak menginginkannya."
Deg
Ajeng mematung mendengar perkataan Cakra. Saat pria itu melangkah pergi, ia tidak lagi mengejarnya lagi.
.......
Cakra merebahkan kepalanya pada stir kemudi. Saat ini pria itu benar-benar galau. Ia pikir hubungannya dan Ajeng akan menjadi semakin jelas setelah wanita itu memutuskan untuk berpisah dari suaminya, tapi ternyata semua tidak semulus yang dipikirkannya.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, Cakra tidak ingin kehilangan Ajeng dan Dira. Ia sangat mencintai wanita itu dan menyayangi anak perempuan yang telah dilahirkannya.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Cakra menghantuk-hantukkan kepalanya pada stir kemudi. Otaknya jadi kacau.
__ADS_1
Tak ingin terlalu berlarut memikirkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, Cakra memutuskan untuk mengemudikan mobilnya kembali pulang.
.......
Ajeng duduk merenung seorang diri di dalam kamarnya. Ia masih memikirkan ucapan Cakra yang tetiba memintanya untuk memikirkan ulang hubungan mereka. Apa sebenarnya yang telah terjadi, kenapa pria itu sampai berpikir hal yang demikian. Ajeng sungguh tidak tahu.
"Apa karena belakangan ini aku terlalu banyak diam hingga tanpa sadar mengabaikan keberadaan mas Cakra?" gumam Ajeng.
Ajeng sadar, belakangan ini ia banyak diam karena memikirkan putrinya yang masih harus dirawat di rumah sakit. Selain itu, masalah Maya yang mengandung anak Radi juga jadi beban pikirannya.
Jujur saja, wanita itu sama sekali tidak terima jika anaknya akan memiliki seorang saudara yang lahir dari rahim wanita jahat seperti Maya. Sungguh... ia tidak ikhlas. Hari-harinya sibuk memikirkan dua hal tersebut sampai-sampai tidak sadar jika telah mengabaikan Cakra yang selalu setia berada di sampingnya.
"Mas Cakra, maafkan aku..." lirih Ajeng. Rasa bersalah membuat hatinya tak tenang.
Drrt... drrtt... drrtt...
Tak lama kemudian, ponsel yang berada di samping tubuh Ajeng bergetar. Wanita itu melirik siapa orang yang menghubunginya.
"Bang Robi?"
Tanpa banyak berpikir, Ajeng segera mengangkat panggilan itu.
"Ya, Bang. Ada apa?" sapa Ajeng.
"_______________"
"APA?" Ponsel yang ada dalam genggaman Ajeng langsung jatuh meluncur. Air mata wanita itu merebak seketika.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...