2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
May I Kiss You?


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Di sebuah cafe, duduk dua orang wanita cantik berbeda usia. Satunya menggunakan kerudung, dan yang lainnya tidak.


"Terima kasih, May. Kau sudah mau memenuhi permintaan ibu untuk bertemu," ucap wanita berkerundung moca yang tak lain adalah Bu Maryam-ibunya Fadhil.


"Iya, Bu. Lagi pula di rumah saya tidak punya pekerjaan, jadi memiliki waktu luang yang cukup banyak." Sebenarnya Maya punya pekerjaan yaitu berjualan online, cuma dia baru saja merintis usahanya itu dan belum terlalu sibuk.


"Oh, ya. Anakmu sudah bisa apa, May?" Bu Maryam kembali membuka obrolan. Dia tidak ingin terburu-buru untuk mengatakan maksud sebenarnya dari pertemuan di siang hari ini.


Maya menunduk dan memperhatikan putranya yang sedang memakan biskuit bayi di pangkuan. Wanita itu tersenyum melihat betapa lahapnya Lingga makan sampai mulut dan pipinya berlepotan. Beberapa detik kemudian, ia kembali memandang lawan bicaranya.


"Lingga sudah bisa berdiri, Bu. Ia juga mulai belajar berjalan sambil berpegangan pada dinding atau tepi perabotan. Selain itu ia sangat suka mengoceh." Maya menyampaikan perkembangan sang anak dengan perasaan bahagia.


"Hebat ya, Kei saja dulu bisa berjalan ketika berumur 14 bulan, dia sedikit terlambat." Bu Maryam mengenang kembali masa keemasan cucu kesayangannya.


"Setiap anak perkembangannya berbeda, Bu."


"Iya, kau betul, Nak." Bu Maryam mengangguk. Wanita itu masih mencari kata untuk mengawali niat hatinya.


"Sudah, sayang? Kita bersihkan dulu mulut dan tanganmu, ya?" Maya mengambil tisu basah dari dalam tasnya, kemudian membersihkan wajah dan tangan Lingga yang kotor karena biskuit yang tadi dimakannya.


"Cu..." Setelah wajahnya bersih, bayi itu langsung menunjuk ke arah botol susunya yang ada di atas meja. (Susu)


"Ini, sayang. Hati-hati minumnya, ya!" Maya memberikam botol berisi susu itu pada Lingga.


Melihat interaksi hangat antara ibu dan anak itu membuat bu Maryam semakin yakin untuk menjadikan Maya sebagai ibu sambung bagi Kei.


"May, sebenarnya ada yang ingin ibu bicarakan padamu." Tak ingin mengulur waktu lagi, bu Maryam memutuskan untuk menyampaikan maksud hatinya mengajak Maya bertemu.


Maya memperhatikan lawan bicaranya serius, ia merasa penasaran sekaligus was-was. "A-ada apa ya, Bu?"


"Apa kau mau merawat cucuku, May?"


"Maksud Ibu, Kei?" tanya Maya memastikan.


"Ya, Kei adalah cucuku satu-satunya."


Maya tampak berpikir. "Maksudnya merawat Kei bagaimana ya, Bu? Apa Ibu meminta saya untuk menjadi baby sitternya cucu ibu?"


Bu Maryam menggeleng. "Bukan baby sitter, tapi merawatnya sebagai seorang ibu."


Deg


"A-apa?" Maya kaget. "Ibu?" ulangnya tak yakin.


"Iya, ibu mau kau menjadi ibunya Kei, May." Bu Maryam meraih sebelah tangan Maya yang ada di atas meja dan menggenggamnya.


"Ta-tapi kenapa harus saya, Bu? Memangnya mama Kei ke mana?"

__ADS_1


Bu Maryam tertunduk sedih. "Kei sudah kehilangan ibunya sehari setelah ia dilahirkan ke dunia ini."


Deg


Maya menganga, ia tidak tahu jika ternyata ibunya Kei sudah meninggal. Pantas saja waktu itu Kei memintanya untuk menjadi ibunya.


"Bagaimana May, kau mau, kan?" Bu Maryam menatap Maya dengan mata teduh penuh pengharapan.


"Menjadi ibunya Kei, aku bersedia Bu. Lagi pula dia anak yang manis dan ceria. Ku rasa tidak akan sulit untuk menjaga dan merawatnya."


Bu Maryam tersenyum lega. "Kau serius kan, May?"


"Iya, Bu." Maya menjawab yakin. Ia ingin memberikan kasih sayang seorang ibu pada Kei, kasihan gadis kecil itu tak pernah mendapatkannya semenjak terlahir ke dunia ini.


"Terima kasih banyak, May. Kau sangat baik, ibu sangat bahagia jika kau bisa menjadi bagian dari kami."


"Hm?" Maya sedikit bingung mendengar kata terakhir yang diucapkan bu Maryam, ia ingin bertanya, tapi Lingga yang berada di pangkuannya mulai merengek.


"May, ibu akan memberitahukan hal ini pada Fadhil nanti," ucap bu Maryam.


"Iya, Bu." Maya menjawab cepat, saat ini ia sibuk menenangkan Lingga yang meronta minta turun.


"Syukurlah... Maya sudah bersedia, tinggal meyakinkan Fadhil saja," batin wanita tua berkerudung itu.


.......


"Uan!" Radi yang baru pulang setelah lelah bekerja seharian di kantor disambut oleh anaknya Rina. Balita itu berlari ke arahnya ketika pintu rumah terbuka. (Tuan)


"Ain!" katanya sembari menunjukkan mobil-mobilan hadiah dari Radi semalam. (Main)


"Nanti ya, Nak. Sekarang om mau bersih-bersih dulu." Radi mengusap pelan kepala Reyhan kemudian bangkit dan meninggalkan balita itu di tempatnya.


"Hehe..." Balita itu tertawa cengengesan. Ia menyentuh kepalanya yang tadi diusap majikan sang ibu. "Uan aik," ucapnya. (Tuan baik)


.... ...


Saat makan malam, Radi meminta Maya dan anaknya untuk ikut makan bersama di meja makan. Rasanya begitu sepi jika ia harus menyantap makanannya seorang diri.


"Buna, au ayul!" pinta Reyhan. Ia menunjuk ke arah mangkuk sub bening. (Bunda, mau sayur)


"Iya, Nak." Rina mengambil sup berisi irisan kentang, wortel san brokoli. Reyhan sangat suka dengan sayur-sayuran. Maklum, saat di kampung dia lebih sering memakan pangan sederhana yang menjadi hasil pertanian warga setempat.


"Anakmu pintar sekali, May!" puji Radi. Ia begitu senang ketika melihat anak kecil yang lahap makan tanpa harus memilih-milih makanan. Pria itu jadi teringat momen saat di mana ia hidup di panti dulu. Walaupun sering makan makanan sederhana, tapi ia dan anak-anak di sana selalu makan dengan lahap. Ah... rasanya sudah lama ia tak berkunjung ke sana.


"Terima kasih, Tuan." Rina kembali menyuapi Reyhan. Ia akan makan setelah anaknya itu kenyang. Begitulah seorang ibu.


.......


"Sayang, besok kita cari cincin, ya?" ajak Cakra setelah mereka selesai makan malam. Kini mereka tengah bersantai di ruang tengah. Cakra memang suka meghabiskan waktunya di rumah Ajeng, ia pulang ke rumahnya saat akan tidur saja.

__ADS_1


"Apa tidak terlalu cepat, Mas?" tanya Ajeng.


"Waktu sudah terlalu sempit loh, apalagi nanti pasti ibu akan membawamu ke butik untuk menjahit baju untuk pertunangan kita," jawab Cakra.


"Mas, apa pertunangan kita harus ada pestanya, ya?"


"Kenapa, apa kau tidak ingin ada pesta?" Cakra menatap dalam mata kekasihnya.


"Entahlah, Mas. Ini adalah pernikahan kedua kita. Aku merasa sedikit malu kalau harus mengadakan pesta." Wanita itu menyampaikan isi hatinya.


"Tenang saja, ini bukan pesta besar, kok. Aku sudah mengatakannya pada ibu. Kita hanya akan mengundang kerabat dan sahabat terdekat saja," jelas Cakra.


Ajeng menghela napas lega. "Oh, kalau begitu tidak apa-apa, Mas."


"Pesta pernikahan kita nanti harus meriah ya, sayang?" canda Cakra.


Ajeng merengut. "Malu, Mas. Masa janda sama duda menikah harus pesta besar segala. Apa tidak terlalu berlebihan?"


"Tidak, kau harus menjadi ratu dihari bahagia kita." Cakra mencolek dagu Ajeng, jahil.


"Ih, Mas!"


"Jeng, bolehkah aku menciummu?"


Deg


"A-apa?" Ajeng menelan ludah saat menatap mata Cakra yang memandangnya lekat. Kemudian pandangannya turun ke bibir pria itu yang berwarna merah muda, terlihat sehat karena tidak merokok.


Tidak mendapatkan jawaban, Cakra langsung mendekatkan wajahnya pada Ajeng. Spontan, wanita itu memejamkan matanya.


1 detik... 2 detik... 3 detik...


Jantung Ajeng sudah berdetak tak karuan menunggu sentuhan bibir Cakra di bibirnya, tapi setelah menunggu beberapa detik, hal itu tidak terjadi juga. Ia lantas membuka mata.


"Hahaha, kenapa bibirnya monyong seperti itu, sayang?" Cakra tertawa melihat wajah Ajeng yang menggemaskan.


"Ish, Mas Cakra!" Ajeng yang kesal karena Cakra mengerjainya pun langsung saja memukul-mukul lengan pria itu. "Kau membuatku kesal, Mas. Awas ya!"


Cup


Ajeng mematung saat Cakra mencuri satu kecupan di bibirnya. Pipi wanita itu perlahan berubah warna menjadi merah muda.


"Mas- hmph..."


Cakra membungkam Ajeng dengan ciuman panjang. Ingat, hanya ciuman saja.


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment

__ADS_1


Terima kasih😊


__ADS_2