2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 29. Kecurigaan Radi


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Radi dan Reyhan telah sampai di kediaman mereka setelah sebelumnya mengantarkan Dira ke rumah megah keluarga Adibrata. Reyhan menyeret kopernya masuk ke dalam rumah. Di dalam, ibu dan adiknya sudah menanti kepulangannya.


"Aku pulang, Bunda..." ucap Reyhan ketika melihat Rina berdiri di ruang tamu menyambut kedatangannya. Pemuda itu menghampiri ibundanya lalu menyalaminya dengan takzim.


"Bagaimana liburannya, Nak. Menyenangkan?" tanya Rina.


Reyhan mengangguk pelan. Ia menikmati liburannya, cuma... suasana hatinya sedang kurang baik saat ini.


"Mas, mana oleh-olehnya?" tanya Rayyan tak sabaran. Tangannya bahkan sudah menengadah minta diisi.


Reyhan membuka koper dan mengeluarkan beberapa bungkusan dari dalamnya.


"Asyik..." Rayyan bersorak. Ia mengambil semua hadiah itu dan membawanya ke meja. Ia ingin membukanya satu- persatu.


"Yah, Bun, aku ke kamar dulu, ya. Tubuhku rasanya capek sekali..." pamit Reyhan.


"Iya, Nak. Istirahatlah!" angguk Rina.


Tinggallah Radi dan Rina. Pria itu langsung menghampiri sang istri dan mengecup singkat bibirnya.


"Mas!" protes Rina pelan. "Ada Rayyan, tuh." Matanya melirik ke arah si bungsu yang tengah bersemangat membuka oleh-olehnya.


"Dia tidak akan menyadarinya, sayang..." Radi tersenyum miring. Ia ingin kembali mengerjai istrinya, namun... suara panggilan dari Rayyan mengacaukan rencananya.


"Ayah, Bunda, lihat ini!" panggil si bungsu antusias.


"Kamu temani Rayyan, mas ingin menemui Reyhan sebentar," bisik Radi.


"Iya, Mas."


Pasutri itu membubarkan diri. Radi menuju kamar si sulung sedangkan Rina menemani si bungsu yang kini sudah sibuk memakan camilan khas Labuan Bajo yang dibawa kakaknya.


.......


Radi mengetuk pintu kamar Reyhan. Ia masuk setelah mendengar suara yang mempersilakannya masuk. Di dalam, ia melihat Reyhan baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


"Nak, kamu tidak lapar?" tanya Radi. Ia mendudukkan diri di sebelah Reyhan, di atas kasur.


"Belum lapar, Yah. Nanti aja..." jawab Reyhan.


"Ayah ingin bertanya sesuatu padamu, Rey..." Wajah Radi mulai serius.


"Ada apa, Yah?" tanya Reyhan, menatap wajah ayahnya yang nampak kaku.

__ADS_1


"Kamu kenal dengan Lingga?" Radi memulai sesi interogasinya.


"Iya, dia anaknya Om Satria, kan? Memangnya ada apa ayah menanyakan tentang dia?" Reyhan penasaran karena tiba-tiba ayahnya membicarakan tentang Lingga.


"Di bandara tadi, ayah lihat kalau dia dekat dengan adikmu. Apa mereka menjalin suatu hubungan?" tanya Radi hati-hati.


Reyhan yang sudah tahu jawabannya, memilih untuk tidak langsung menjawab.


"Memangnya kenapa kalau mereka menjalin hubungan? Tidak ada yang salah, kan?" pancing Reyhan. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Radi.


Radi terkesiap. Memang tidak ada salahnya jika Dira dan Lingga menjalin hubungan walaupun mereka sepupu jauh, hanya saja... jika hubungan mereka sudah terjalin serius, tentu hal itu akan melibatkan keluarga kedua belah pihak, dan jujur saja... Radi malas berurusan dengan Maya. Meski tidak ada lagi dendam, tapi kalau untuk terlibat dalam suatu hubungan, rasanya ia keberatan.


"Y-ya tidak apa-apa. Ayah hanya bertanya karena tadi melihat mereka begitu dekat layaknya pasangan kekasih"


Mendengar jawaban Radi yang sedikit gugup, Reyhan Yakin jika ayahnya itu tengah menyembunyikan sesuatu.


"Kalau untuk itu, aku kurang tahu, Yah. Coba tanyakan saja langsung pada Dira." Reyhan memilih jalan aman, lebih baik Dira sendiri yang memberitahukan semuanya pada Radi. Ia takut salah mengambil langkah.


"Oh begitu, ya sudahlah. Sebaiknya ayah keluar dulu biar kamu bisa beristirahat." Radi bangkit. Ia menepuk sejenak pundak Reyhan baru setelah itu melangkah pergi.


Setelah pintu tertutup, Reyhan merebahkan dirinya di kasur. Matanya belum mengantuk, jadi ia memutuskan untuk bermain ponsel. Ia membuka sebuah aplikasi sosial media ternama yang banyak digunakan orang saat ini.


Saat menggulir layarnya semakin ke bawah, Reyhan menemukan sebuah postingan dari akunnya Yura. Mata laki-laki itu langsung meredup dengan wajah muram.


Bagaimana tidak, di postingan terbaru Yura, ia mengunggah foto bersama Jordan. Bule tampan itu terlihat merangkul bahu Yura. Jarak keduanya sangat dekat. Hati Reyhan seketika panas melihatnya, terlebih ketika membaca caption manis yang ditulis Yura, membuatnya berdecak.


"Ternyata benar-benar sudah move on, ya..." lirihnya.


Lihatlah, betapa manisnya senyuman Yura di foto. Orang-orang tidak akan tahu bahwa sebenarnya gadis itu baru saja ditolak cintanya.


"Arghh... menyebalkan!" Reyhan mematikan ponsel dan melemparkannya ke kasur.


"Sebaiknya aku tidur, untuk apa memikirkan hal itu."


...****************...


Kehebohan terjadi di kediaman Adibrata, si kembar berebutan oleh-oleh yang dibawa kakak mereka.


"Ini buat gue, lo 'kan cowok, buat apa pakai gelang segala!" Arsyi merebut gelang dari kayu cendana berbentuk tasbih dari tangan Arsha.


"Ih, apaan sih. Gue yang nemu duluan, berarti ini buat gue!" Arsha kembali merebut gelang itu, bahkan mulai memakainya.


"Kak, lihat!" Arsyi yang kalah memilih mengadu pada Dira.


Dira menghela napas pelan. "Maaf ya, kakak cuma beli satu, kakak pikir nggak bakal ada yang suka gelang itu."

__ADS_1


"Sudahlah, adik-adikmu memang begitu. Tiada hari tanpa bertengkar." Tyas menengahi.


"Dek, ini ada dua set aksesori mutiara yang bagus lo." Dira menyodorkan satu setnya pada Arsyi yang merajuk.


"Hm..." Arsyi mengambilnya dengan kesal. Dalam hati, ia tidak suka aksesori yang terlalu feminin, tapi apa boleh buat, ia tidak ingin membuat kecewa sang kakak yang sudah tulus membelikannya.


"Perhiasan emak-emak memang lebih cocok untuk lo!" ledek Arsha.


"Berisik!" jerit Arsyi.


"Daripada bertengkar terus, lebih baik pakai kaos ini. Biar sama dan sehati!" Eya yang muak melihat perdebatan kedua adiknya, melempar dua helai kaos Chomabee dengan desain dan warna yang sama pada Arsha dan Arsyi.


"Ogah!" tolak si kembar serentak.


"Padahal kakak sengaja membelikan kaos kembar buat kalian, karena mama sering mengidam melihat kalian memakai baju yang sama..." ucap Dira dibuat sedih.


"I-iya, bakal aku coba, Kak." Tak ada pilihan lain, si kembar terpaksa mencoba kaos bertuliskan Labuan Bajo dan bergambarkan Komodo itu.


Sementara Ajeng tak terpengaruh dengan kehebohan yang dibuat anak-anaknya, saat ini ia tengah fokus menikmati Banana Cake khas Labuan Bajo yang sangat enak.


"Ada yang mau kopi?" Cakra berjalan ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi robusta khas Manggarai. Pertama melihat ada kopi di bungkusan yang dibawa putrinya, ia tak sabar untuk mencoba kopi yang terkenal akan kelezatannya itu. Kopi khas manggarai memiliki tingkat kafein yang rendah jika dibanding dengan jenis kopi lainnya sehingga rasa dari kopi ini tidak terlalu pahit ketika diminum.


"Aku mau coba sedikit, Mas," pinta Ajeng.


"Aku juga mau, Pa!" Arsha segera berlari menghampiri ayahnya.


"Ini buatmu, biar papa dan mama secangkir berdua," ujar Cakra. Ia duduk di samping istrinya dan menyerahkan secangkir kopi yang dibawanya.


Ajeng menyeruput kopi panas itu perlahan. "Hm... enak, Mas. Kopinya sama sekali tidak pahit."


Cakra meminum kopi yang disodorkan istrinya. "Kamu benar, Sayang."


Ajeng menyeruput kopinya sekali lagi, sebelum menyerahkannya pada Cakra.


"Dihabiskan kopinya, Mas, biar nanti malam kuat begadangnya," bisik Ajeng merayu.


Bisikan Ajeng membut Cakra tersedak. "Sayang..." keluhnya.


"Maaf, Papa..."


...Bersambung...


Jangan lupa like, vote dan comment 🙏🏻


Terima kasih sudah membaca 🤗

__ADS_1


__ADS_2