
...🌷Selamat Membaca🌷...
Sesuai kesepakatan yang telah diambil tiga hari lalu, hari ini Cakra akan memperkenalkan Ajeng pada keluarganya. Semalam ia sudah mengabarkan hal ini pada ayah juga ibunya. Walau sebenarnya Ajeng menolak karena belum siap, tapi Cakra sedikit memaksa, hingga akhirnya wanita itu pasrah.
Mobil Cakra memasuki gerbang kediaman mewah keluarga Adibrata . Ajeng yang duduk di sebelah kursi kemudi sudah gelisah sedari awal keberangkatan, dan sekarang setelah sampai, ia menjadi semakin gugup. Cakra yang menyadari hal tersebut, memilih menggenggam tangan wanita itu dan menenangkannya.
"Tenanglah! Semua pasti akan baik-baik saja." Cakra memberikan senyuman tipis, berharap Ajeng yakin bahwa semua akan baik dan berjalan sesuai yang mereka inginkan.
"Iya, Mas." Ajeng memaksakan senyum. Ini pertama kali baginya bertemu dengan calon mertua. Saat menikah dengan Radi, ia hanya pergi berziarah dan meminta restu ke makam kedua orang tua Radi. Namun sekarang, ia harus berhadapan langsung. Apakah orang tua Cakra akan menerima janda beranak satu seperti dirinya? Padahal, duda matang dan mapan seperti Cakra pasti banyak digilai oleh gadis-gadis di luar sana.
"Ayo sekarang kita masuk!"
Asyik melamun, Ajeng tak sadar jika kini Cakra sudah membukakan pintu mobil untuknya. Dengan berat hati, ia keluar dari kendaraan roda empat itu. Jantung Ajeng bertalu-talu begitu melangkahkan kakinya menuju pintu masuk.
"Biar aku yang menggendong Dira." Setelah memencet bel, Cakra mengambil alih bayi montok itu dari gendongan sang ibu. Ia kasihan melihat Ajeng yang gugup dengan tubuh sedikit bergetar.
Cklek
Pintu ukir kayu bergaya klasik itu terbuka. Ajeng menghela napas lega begitu tahu jika yang muncul adalah seorang pelayan, bukan calon ibu mertuanya.
"Di mana ayah dan ibu?" tanya Cakra.
"Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu di ruang tengah, Tuan muda." Pelayan wanita itu memberitahu.
"Ayo, sayang." Tangan kanan Cakra menggenggam tangan Ajeng, sementara sebelahnya lagi menggendong Dira. Ia membawa dua orang terkasihnya itu menuju ruang tengah. Kegugupan Ajeng dirasakan betul oleh Cakra, genggaman tangan wanita itu terasa kuat di tangannya.
"Selamat siang, Ayah... Ibu." Sesampainya di ruang tengah, Cakra segera memberi salam. Dua orang yang tengah duduk berbincang di atas sofa itu lantas berdiri menyambut kedatangan putra bungsu dan calon menantu mereka.
"Kau sudah datang, Nak." Ayah Cakra-Guntur menyapa.
"Iya. Ayah, Ibu, perkenalkan ini Ajeng, calon istriku." Cakra memperkenalkan Ajeng pada kedua orang tuanya.
Ajeng mencoba tersenyum. "Om, Tante... perkenalkan saya Ajeng." Wanita itu mendekat pada orang tua Cakra dan menyalami mereka dengan takzim. Setelah itu, Ajeng kembali berdiri di samping kekasihnya.
__ADS_1
Guntur tampak tersenyum tipis melihat kesopanan Ajeng. Ia berpikir jika sang anak tidak salah pilih calon istri.
Ibunya Cakra-Tyas perlahan mendekat. Kini ia sudah berdiri tepat di depan Ajeng. Ia memperhatikan calon mantu yang dibawa anaknya itu dengan teliti, dari atas ke bawah, ke atas lagi dan berhenti tepat pada wajahnya.
Ajeng yang ditatap sedemikian rupa oleh ibunya Cakra pun menjadi salah tingkah. "Apakah ada yang salah? Apa bajuku tidak bagus atau tatanan rambutku yang aneh?" pikirnya.
Tyas melihat wanita yang berdiri di samping putranya. Cantik, sangat cantik malah walau terlihat tidak memakai riasan wajah yang berlebihan. Penampilannya sederhana dan terkesan anggun. Midi dress polos berlengan panjang membalut tubuhnya yang indah. Rambut panjangnya dikepang satu lalu disampirkan ke bahu kanan.
Tangan Tyas terangkat. Ajeng langsung memejamkan mata, ia menyangka jika ibunya Cakra akan menamparnya karena telah lancang berhubungan dengan sang putra, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Wanita tua yang masih terlihat menawan diusianya itu, mengelus kepala Ajeng dengan lembut.
"Kau cantik sekali, Nak. Pantas saja putraku menyukaimu," ucapnya.
Deg
"Eh?" Ajeng membuka mata, ia melihat jika saat ini Tyas tengah tersenyum ke arahnya. Dan seketika itu pula, ia mendesah lega. Apa yang ia takutkan ternyata tidak terjadi.
"Ibu, aku mencintai Ajeng bukan karena fisik semata, tapi karena kepribadian dan juga hatinya," bantah Cakra yang merasa kurang senang dengan anggapan sang ibu. Ia bukan pria mata keranjang yang menyukai wanita hanya karena cantiknya wajah dan indahnya fisik saja.
"Iya-iya, ibu paham." Tyas menggeleng pelan mendengar protesan putranya.
Ajeng duduk tepat di samping Cakra sementara di seberangnya ada Guntur dan Tyas. Mereka saling berhadapan.
"Cakra, apa itu calon cucuku?" tanya Guntur tiba-tiba. Pria tua itu sedari tadi sudah memandang bayi gembil yang ada di gendongan Cakra. Ia merasa gemas dan sudah tak sabar untuk menggendongnya.
Mereka semua serentak menoleh pada Dira yang tengah sibuk bermain dengan mainan di tangannya. "Iya Ayah, dia adalah putrinya Ajeng, namanya Dira. Sebentar lagi dia akan menjadi anakku dan juga cucu kalian," jawab Cakra.
"Cantik sekali, apa ayah boleh menggendongnya?" pinta Guntur penuh harap.
Cakra melirik sekilas pada Ajeng, karena bagaimanapun juga Dira tetaplah putri Ajeng dan atas seizin wanita itulah baru ia bisa membiarkan orang lain menyentuh anaknya.
Ajeng tersenyum dan mengangguk. Cakra langsung memberikan Dira pada Guntur setelah mendapat persetujuan dari Ajeng.
"Bu lihat, cucu kita sangat cantik," ucap Guntur pada istrinya. Tangannya tak henti menimang Dira.
__ADS_1
Tyas mengambil tangan mungil Dira dan menggengamnya lembut. "Iya, Ayah. Dia cantik sekali persis seperti ibunya," sahut Tyas sembari memandang kagum pada bayi perempuan itu.
"Hai, Dira. Ini nenek, sayang..." Tyas memperkenalkan diri.
"Dan ini kakek..." Guntur tak mau kalah.
Bayi itu memandang dengan mata bulatnya dua orang yang sedang mengajaknya bicara.
"Yah, gantian dong! Ibu juga mau menggendong cucu ibu," protes Tyas.
Guntur merengut. "Ibu ini, ayah kan belum puas bermain bersama cucu ayah."
"Gantian, Yah!"
Mendengar rengekan istrinya, terpaksa Guntur memberikan Dira kepada istrinya.
"Ibu dan ayah ini ada-ada saja." Cakra geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua orang tuanya.
"Makanya berikan kami cucu yang banyak, jadi ayah dan ibu tidak akan berebut lagi!" kata Guntur dan ditimpali Tyas dengan anggukannya.
"Siap!" jawab Cakra mantap.
Ajeng begitu terharu melihat interaksi kedua orang tua Cakra terhadap putrinya. Ia beruntung karena sekarang Dira memiliki kakek dan nenek dan bisa merasakan kasih sayang dari keduanya. Baik orang tua Ajeng maupun Radi, mereka semua sudah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa. Jadi, hanya orang tua Cakra lah yang bisa memiliki peran sebagai kakek dan nenek untuk Dira, tak ada yang lain.
Cakra mengusap punggung Ajeng saat dilihatnya wanita itu mengusap air matanya yang jatuh di pipi. Kekasihnya ini memang sangat mudah sekali tersentuh hatinya.
"Semuanya baik-baik saja, tak ada lagi yang perlu kau khawatirkan. Aku bersamamu dan Dira. Aku mencintai kalian berdua." Cakra berbisik.
"Terima kasih, Mas."
Hari ini Ajeng merasa sangat bahagia.
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih😊