
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Tente mau tidak jadi mama Kei?"
Deg
"Apa?!"
Dua orang dewasa di sana terkejut mendengar permintaan polos si gadis kecil.
"Sayang, tidak boleh bicara seperti itu!" tegur sang ayah.
"Kenapa? Aku mau punya mama, Pa. Aku tuh suka iri kalau melihat temanku ke sekolah diantar sama mamanya. Aku mau seperti itu juga!"
"Tapi sayang..."
"Papa jahat!" Kei merajuk. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ayah.
Maya hanya berdiri canggung melihat perdebatan ayah dan anak itu. Ia ingin pamit, tapi merasa tak enak hati.
"Bu Maya, maafkan ucapan anak saya..." kata pria yang berprofesi sebagai polisi itu.
"Tidak apa-apa kok, Pak. Saya mengerti, Kei masih anak-anak."
"Terima kasih."
"Hem, kalau begitu saya pamit ya, Pak. Anak saya sudah menunggu."
"Ya..."
Sebelum pergi, Maya tak lupa berpamitan juga pada Kei yang masih merajuk.
"Kei, tante pergi dulu ya. Sampai jumpa." Ia mengusap pelan kepala itu.
"Huaa, Papa...." Setelah kepergian Maya, Kei pun menjerit. Susah payah sang ayah menenangkannya.
"Papa jahat, Kei benci Papa..." Gadis kecil itu meronta-ronta di gendongan ayahnya. Tangan kecilnya turut memukul-mukul tubuh keras ayahnya itu.
"Fadhil!" Seorang wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh menghampiri Kei dan ayahnya.
"Ibu..."
"Kei kenapa, Nak?" tanya wanita itu pada putranya yang bernama Fadhil.
"Biasa, Bu. Merajuk..." jawab Fadhil.
"Ya sudah, biar ibu yang membujuknya."
Wanita itu mengambil alih Kei dari gendongan ayahnya. "Kau makanlah dulu, biar ibu yang jaga anakmu."
"Ya, Bu."
__ADS_1
Pak polisi bernama Fadhil Alfarendra itu menuruti ucapan ibunya. Ia menuju ruang pesta dan langsung mengambil makanan di meja prasmanan dan membawanya ke sebuah meja kosong.
Sembari menikmati makanan, mata Fadhil tak lepas memandang ke sebuah meja dimana di sana berkumpul beberapa orang yang dikenalnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Radi, Maya, Ajeng dan Cakra.
"Syukurlah hubungan mereka baik-baik saja," gumam Fadhil.
Di kantor ia pernah mendengar permasalahan yang sedang dialami Maya. Wanita itu ditahan karena telah mencelakai istri dari pria selingkuhannya yang tengah hamil besar. Eh... tak disangka orang-orang yang dulunya berseteru kini sudah saling berbaikan dengan duduk bersama di satu meja.
.......
Ajeng dan Cakra pamit pulang terlebih dahulu karena kasihan pada Dira yang sudah tertidur. Tak lupa mereka mengucapkan selamat pada pengantin yang berbahagia.
"Semoga kalian lekas menyusul," do'a Silvia yang langsung diamini oleh keduanya.
Tak lama setelah pasangan itu pamit, Radi juga memutuskan untuk pulang. Ia berpamitan pada keluarga bibinya dan juga pada Satria, sepupunya.
"Semoga kau cepat mendapatkan gantinya, Bro! Hidup sendiri itu tak enak," ledek Satria seraya mendo'akan.
"Aku bukan kau yang terbiasa dikelilingi para wanita." Radi balas meledek. Dua orang pria dewasa itu tertawa.
Silvia menyenggol lengan suaminya. "Mulai sekarang hanya aku wanitamu satu-satunya. Awas kalau ada yang lain!" ancamnya.
"Iya, sayang... tapi kalau nanti kau melahirkan anak perempuan, maka akan lain ceritanya."
"Ish, kalau itu aku juga tahu."
Radi memilih undur diri, kemesraan pasangan baru itu membuatnya teringat kenangan di saat ia dan Ajeng menikah dulu. Ah... sudahlah. Rasanya menyesakkan dada.
Maya yang ditinggal sendiri akhirnya memilih untuk pulang. Sebelum itu, ia pamit kepada Satria dan keluarganya.
"Ah, iya Pak." Maya sedikit kesusahan saat membawa tasnya dan juga tas perlengkapan Lingga, sementara ia harus menggendong sang anak.
"Biar saya bantu." Fadhil mengambil alih tas perlengkapan Lingga. "Pulang naik apa?" tanyanya.
"Saya akan cari taksi, Pak."
"Bagaimana kalau saya antar saja, kebetulan kami juga mau pulang," tawar Fadhil.
Maya terdiam, memikirkan. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Lingga pun sepertinya sudah mengantuk. "Baiklah, maaf merepotkanmu." Ia menerima tawaran itu.
"Tidak perlu sungkan."
Fadhil dan Maya berjalan ke parkiran. Di sana seorang wanita paruh baya yang merupakan ibunya Fadhil sudah menunggu di samping mobil.
"Kenapa lama sekali sih, Nak. Ini Kei sudah mengantuk katanya," ucap ibunya Fadhil.
"Maaf, Bu."
"Tente cantik!" Kei yang sedari tadi bersandar manja di pelukan sang nenek langsung menegakkan tubuh saat melihat kedatangan Maya. Bocah yang tadi katanya mengantuk itu, matanya kembali segar.
"Hai, Kei..." sapa Maya canggung.
__ADS_1
Ibu Fadhil memperhatikan Maya dengan seksama. Kalau ia tidak salah ingat, Maya adalah ibu dari anak pertamanya Satria. Kebetulan nyonya Asti dan ibunya Fadhil yang bermama Maryam itu berteman. Jadi tadi mereka sempat bercerita.
"Bu, tidak apa-apa kan kalau kita mengantarkan Maya terlebih dahulu? Kasihan kalau harus pulang naik taksi."
Bu Maryam mengangguk. "Iya, tidak apa-apa. Kalau begitu ayo kita jalan, nanti terlalu malam."
Mereka memasuki mobil. Fadhil dan ibunya duduk di depan sementara Maya di belakang bersama anaknya dan juga Kei.
"Tente cantik, adik kecil ini siapa?" celoteh Kei. Ia melihat Lingga yang tertidur di pangkuan Maya.
"Adik kecil ini namanya Lingga, sayang. Dia adalah anak tante." Maya menjawab.
"Anak tante ganteng, pasti papanya juga ganteng," kata Kei ceria.
"Iya sayang..." Maya mengangguk.
Bu Maryam memperhatikan interaksi antara Maya dan cucunya. Baru kali ini ia melihat Kei bisa begitu akrab dengan seorang wanita dewasa. Apakah ini pertanda? Wanita itu kemudian melirik ke samping, tepat pada putranya.
"Semoga saja, sudah terlalu lama Fadhil menduda. Ia membutuhkan sosok istri yang bisa mendampingi dan Kei juga membutuhkan sosok ibu yang baik, sepertinya Maya cocok, apalagi dia juga belum menikah," pikir Bu Maryam.
.......
Mobil Radi sampai di pelataran rumahnya. Ia terheran saat melihat asisten rumah tangganya, siapa lagi kalau bukan Rina, tengah berjalan mondar-mandir di atas teras.
"Ada apa, ya?" Buru-buru Radi keluar dari mobil dan sedikit berlari menghampiri Rina.
"Tuan!" Rina memekik saat melihat kedatangan Radi.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Radi melirik ke arah rumahnya. Ia pikir ada pencuri yang masuk.
"Tuan, izinkan saya pulang ke kampung malam ini!" pinta Rina panik.
"Tapi kenapa, ada apa?" Radi yang melihat kepanikan Rina pun ikut panik.
"Saya harus pulang, Tuan. Izinkan saya!" Air mata Rina sudah membanjiri pipinya.
"Y-ya, baiklah."
"Kalau begitu saya pamit, Tuan." Rina segera menyambar tas berisi pakaian yang sudah sedari tadi dipersiapkannya.
"Kau mau pulang naik apa?" tanya Radi.
"Saya akan ke terminal dan mencari bis."
Radi melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah setengah sepuluh malam. Apakah masih ada bis jam segini?
"Aku akan mengantarmu."
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
__ADS_1
Makasih udah baca😊
.......