
...🌷Selamat Membaca🌷...
Setelah mengudara selama lebih dari dua setengah jam, akhirnya Dira dan yang lainnya sampai di Bandara Labuan Bajo. Untuk sampai di penginapan yang telah mereka pilih, harus berkendara terlebih dahulu sejauh satu kilometeran.
Sampailah mereka di sebuah hotel di tepi laut yang mengusung tema ala Santorini yang bangunannya didominasi oleh warna biru dan putih. Hotel yang baru beroperasi selama dua tahun itu begitu menarik perhatian bagi kawula muda karena tempatnya yang menarik dan sangat cocok menjadi background untuk berfoto. Selain hotelnya yang unik, pemandangan laut lepas yang biru juga sangat menyejukkan mata.
Hotel yang bernama Loccal Collection ini mempunyai beragam fasilitas yang bisa dinikmati. Ada infinity pool dengan pemandangan laut lepas, ada Mimpi Lounge untuk spot bersantai sambil melihat laut, dan ada Teras Langit untuk yang ingin mencoba privat dinner.
"Wow... gue memberikan applause untuk Luna yang sudah menemukan hotel menarik ini." Gio bertepuk tangan heboh begitu sampai di depan hotel. Ia tidak menyangka jika mereka akan menghabiskan liburan di tempat yang indah seperti ini.
Mendengar pujian Gio, Luna merasa sangat bangga. Seharian penuh ia browsing di internet untuk mencari hotel terbaik dan lihat, inilah hasilnya. Semua orang terlihat puas.
"Yank, aku sudah nggak sabar untuk berfoto ria di setiap sudut hotel ini," bisik Hanna pada Gio.
Mereka memasuki lobby hotel dan menuju resepsionis untuk memberitahukan kedatangan. Sebelumnya, Luna sudah memesan kamar terlebih dahulu secara online. Dua kamar bertipe villa, dan satu villanya terdapat dua kamar tidur dengan satu ranjang king size dan dua single bed. Tentu saja villa laki-laki dan perempuan akan dipisah.
"Ah... capek banget!" Sampainya di dalam kamar, Luna langsung melemparkan tubuhnya di atas kasur king size yang empuk. Lama duduk di atas pesawat membuat tubuhnya sedikit pegal.
"Hotelnya bagus ya, Dek. Kamarnya juga kelihatan nyaman banget. Lihatlah! Dari jendela kita bisa melihat laut yang jernih," ucap Yura yang sudah berdiri di depan jendela, membelakangi Luna.
Luna langsung menegakkan tubuh begitu mendengar Yura berujar. Ia merasa sedikit canggung karena harus satu kamar dengan kakak dari kekasihnya. Walaupun pernah beberapa kali bertemu, tapi mereka tidak terlalu dekat.
"I-iya, Kak." Luna berjalan menghampiri Yura dan ikut melihat pemandangan yang sama. Air laut yang jernih ditimpa cahaya matahari begitu menyilaukan mata, mereka seperti melihat kristal bertaburan di atas air. Sungguh sangat indah.
"Aku terkejut begitu tahu kalau kakak akan ikut liburan bersama kami," kata Luna.
"Kenapa, kamu keberatan karena ada kakak di sini?" Yura memicing menatap kekasih adiknya.
Deg
"Eh? Ng-nggak kok, Kak. Justru aku merasa senang karena liburan ini menjadi semakin ramai," jawab Luna jujur.
"Hm..." Yura menatap Luna lekat.
Luna yang diperhatikan seperti itu merasa gugup dengan jantung yang sudah tak karuan. Dia mencoba memaksakan senyum.
"Hahaha..." Melihat wajah Luna yang lucu, Yura tak bisa menahan tawanya. "Santai saja, Dek! Kakak cuma bercanda."
__ADS_1
"Eh?" Luna melongo melihat Yura menertawakan dirinya.
"Tenang saja! Kakak tidak akan mengawasimu dan Yovan. Kakak percaya pada kalian berdua. Kakak percaya bahwa kalian tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang, sekalipun tempat ini suasananya sangat mendukung untuk melakukan hal tersebut," lanjut Yura.
"Kakak..." Luna terharu. Memang, pergi liburan seperti ini, apalagi bersama kekasih memang rawan untuk melakukan kesalahan-kesalahan seperti itu. Luna dan Yovan pun tak pernah melakukan hal yang lebih selain ciuman, dan ciuman mereka pun hanya berupa kecupan, belum sampai pada tahap yang berlebihan. Yovan sangat menjaga Luna, hingga ia membatasi aktivitas fisik di antara mereka berdua.
"Oh ya, kakak dan Kak Reyhan ada hubungan apa? Apa kalian menjalin suatu hubungan?" Luna penasaran. Ia pernah mendengar dari Yovan jika kakaknya itu jomlo dari lahir, melihatnya bersama seorang lelaki, tentu menimbulkan sebuah pertanyaan.
Yura tertunduk mendengar pertanyaan Luna. "Hm... kakak menyukainya, Dek. Tapi... Sepertinya dia tidak menyukai kakak."
"Hah? Kalau dia tidak menyukai kakak, lalu mengapa dia membawa kakak pergi liburan?" pekik Luna tak percaya.
"Saat tahu bahwa dia akan pergi liburan karena diminta sang ayah untuk menjaga adiknya, kakak bersikeras untuk ikut. Dia tidak mengajak, kakak yang memaksa walau di awal dia tidak ingin kakak ikut." Bahu Yura turun, ia mendadak lesu.
"Hm... Sabar ya, Kak. Suatu saat Kak Reyhan pasti akan menyadari ketulusan kakak." Luna hanya bisa mengusap pelan punggung kakaknya Yovan.
"Semoga ya, Dek."
Yura memandang jauh ke depan. Di momen liburan ini, ia sudah bertekad untuk menyatakan perasaannya pada Reyhan. Jika ditolak, maka ia akan mencoba move on. Berat jika harus menyimpan perasaan ini terlalu lama.
"Gue nggak nyangka kalau kakak lo adalah pacar kakaknya Yovan. Dunia ternyata sesempit ini, ya?" celetuk Hanna begitu mereka selesai dengan kegiatannya.
"Hm... gue juga baru tahu kalau ternyata Mas Reyhan punya pacar. Dia orangnya sedikit tertutup, jadi gue sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya."
"Hm... bisa saja, lagi pula lo 'kan nggak serumah sama dia."
"Lo benar." Dira merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk. Dira langsung bangkit dan menyambar ponselnya yang ada di atas meja kecil di depan TV. Ternyata yang menelepon adalah ibunya.
Ajeng menanyakan apakah Dira sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat atau belum. Lalu, wanita hamil itu juga memberikan pesan untuk kesekian kalinya pada sang putri. Berada jauh dari rumah tentu membuat diri Ajeng yang seorang ibu menjadi cemas.
"Iya, Ma. Aku akan mengingat semua pesan mama. Jadi, jangan khawatir. Jangan banyak pikiran juga, nanti adik dalam perut mama juga ikut gelisah," jawab Dira.
Dira meletakkan kembali ponselnya setelah sambungan terputus. Tapi, tak sampai satu menit, ponsel itu kembali berbunyi. Kali ini ada pesan yang masuk. Ia lantas mengeceknya.
Beloved❣️
Bee, nanti kita jalan-jalan di tepi pantai, ya? Sembari menunggu sunset?
__ADS_1
Setelah membaca pesan dari Lingga, Dira langsung bersemangat dan segera membalasnya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit. Saatnya bersiap-siap.
"Han, gue mandi duluan, ya? Soalonya mau jalan-jalan sama Lingga." Setelah mengatakan itu, Dira melesat ke kamar mandi.
Mengetahui jika Dira akan jalan-jalan sore bersama kekasihnya, Hanna tidak mau ketinggalan. Ia langsung menghubungi Gio.
Di kamar laki-laki, Lingga yang berdiri di depan jendela tersenyum saat mendapatkan balasan pesan dari Dira. Ia hendak bersiap-siap, namun... teman satu kamarnya tiba-tiba berucap.
"Kamu ada hubungan apa sama Dira?" tanya Reyhan.
Deg
Jantung Reyhan berdegup kencang mendapat pertanyaan seperti itu dari kakak kekasihnya. Ia dan Dira sudah berjanji untuk merahasiakan hubungan mereka. Apakah ia harus berbohong kali ini?
"Kamu pacarnya?" tebak Reyhan karena Lingga tak kunjung menjawab. "Kalau nggak salah, kamu anaknya Om Satria, kan? Sekali lagi Reyhan bertanya.
"I-iya, Mas." Lingga mengangguk.
Reyhan menatap Lingga lekat. "Iya kalau kamu pacarnya Dira, atau iya kamu anaknya Om Satria?"
"Dua-duanya..."
Ups
Lingga tidak sadar kalau jawaban jujur itu keluar dengan cepat dari mulutnya.
"Hm, jaga adikku baik-baik. Jika sekali kamu sakiti dia, maka jangan salahkan aku jika kau akan babak belur di tanganku!" ancam Reyhan.
Lingga menelan ludah susah payah.
"Iya, Mas."
Obrolan berakhir, Reyhan memilih keluar menuju teras dan mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sana. Menikmati pemandangan yang menyegarkan mata.
...Bersambung...
Terima kasih sudah membaca 😊
Jangan lupa Vote, Comment dan Follow 🙏🏻
__ADS_1